SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 23 KESEMPATAN UNTUK PERGI


__ADS_3

EPS 23 KESEMPATAN UNTUK PERGI


Miliki dirimu, adalah sesuatu yang tak sanggup aku lakukan. Meski luka menganga, dan darah mengalir, terlalu jauh untuk kugapai. Kau adalah mimpi yang selalu menari di ujung tidurku. Menebarkan benih anggun jiwamu, tanpa mau memetik buah cintaku. Malam-malamku bagai malam yang tak berbintang, meski tiada cahaya bulan. Semua terasa kosong dan hampa. Yang tertinggal hanyalah sekuntum rindu.



Mungkin hanya ini kesempatan untuk pergi. Lari dari dunia yang mengancam dan siap melukai jiwa dan raga. Pikiran Melin langsung berputar. Sesaat kemudian terdengar derap langkah kaki mendekati kamarnya. Pasti lelaki sangar dan dokter yang akan meneriksa keadaannya, batinnya.



Tok! Tok! Tok! Tok!


Srrghh!



Pintu kayu yang cukup tebal itu terdengar di geser. Wajah laki-laki sangar itu muncul dari balik pintu.


“Dokter Sam sudah datang nyonya,” katanya.


Nyonya mudanya hanya menganggukkan kepalanya. Lalu tangannya memberi pertanda agar dokter itu dipersilahkan masuk.



“Selamat pagi, Nona Wu.”


“Selamat pagi, Dokter Sam.”



Seorang laki-laki separuh baya, nampak terlihat bersih dan tampan. Berkulit putih, memakai setelahan kemeja lengan panjang berwarna biru muda dan celana panjang berwarna krem. Tidak ada seragam kebesaran berwarna putih seperti yang biasanya dipakai para dokter di rumah sakit. Namun dia membawa kotak peralatan berwarna hitam. Sebuah stethoskop berwarna hitam menjuntai dari lehernya sampai ke dalam saku bajunya.



“Dimana pasienku?”


Wu Lie tidak menjawab secara langsung. Hanya matanya yang mengerling ke arah tempat tidur dimana tubuh Melin berada. Dengan langkah tenang, dokter Sam segera menghampirinya.


“Hm, masih begitu muda,” batinnya.



Dengan cekatan dokter Sam memeriksa kondisi Melin. Terutama tanda-tanda vitalnya, napas, jantung, denyut nadi dan suhu tubuh. Beberapa kali ujung jarinya menekan-nekan perut Melin. Saat dia hendak mengangkat tangannya, mendadak tangan Melin memegang lengannya dari balik selimut. Cengeramannya begitu kuat. Tidak ada yang melihatnya kecuali dokter Sam dan Melin sendiri.



Dokter Sam tertegun. Ditatapnya wajah Melin dalam-dalam. Matanya masih terpejam, tapi dia tahu kalau gadis itu sebenarnya sudah sadar. Hm, nampaknya gadis ini hendak meminta bantuannya. Ada tanda-tanda kekerasan di kulit lehernya yang jenjang.



“Ada apa dokter Sam? Kenapa anda begitu tegang?” tanya Wu Lie tiba-tiba.


Wajah dokter Sam terlihat kaget. Tapi dia cepat menguasai dirinya.


“Eh, ehm, nampaknya gadis ini mengalami trauma. Ada warna merah melingkar di garis lehernya. Mungkin salah satu anak buahmu telah berbuat berlebihan kepadanya.”


“Apa?” Wu Lie nampak terkejut. “Apakah dia baik-baik saja?”

__ADS_1


Dokter Sam menggelengkan kepalanya.


“Dia harus menjalani perawatan khusus di rumah sakit.”



Wu Lie menggeleng cepat.


“Tidak! Dia tidak boleh ke rumah sakit. Aku tidak ingin mendapatkan masalah apapun.”


Dokter Sam terdiam. Dia membiarkan Wu Lie untuk berpikir sendiri.


“Bagaimana dokter? Apa kau punya saran?” ujarnya kemudian.


“Aku punya teman yang memiliki sebuah klinik kesehatan. Milik pribadi. Bawa gadis itu kesana. Kerahasiannya dijamin aman,” sahut dokter Sam sambil memberikan sebuah kartu nama. “Ini nama klinik dan alamatnya. Katakan saja ini rekomendasi dariku.”



Wu Lie menerima kartu nama itu sedikit ragu. Namun saat ini dia tidak punya pilihan. Bagimanapun dia harus menyelamatkan Melin.


“Kalau begitu aku pamit dulu,” ujar dokter Sam. “Ini beberapa obat dan vitamin yang harus diminum gadis itu.”



Setelah itu dokter Sam melangkah pergi. Meninggalkan Wu Lie yang mendadak menjadi marah. Wajahnya terlihat sangat gusar.



“Manto!” suaranya melengking tinggi.




Plak! Plak! Plak!


“Tolol! Goblok! Gila!”



Tangan lembut itu bergerak begitu cepat dan kuat. Bahkan kepala Manto yang besar itu sampai teruntai-untai kesana kemari. Nampak darah mengalir dari hidungnya. Lalu lutut perempuan itu menghantam cepat ke arah ulu hati. Tubuh Manto yang tinggi besar sampai membungkuk sambil memegang dadanya yang terasa mau meledak. Di susul pukulan hook kanan ke arah dagunya, membuat lelaki perkasa itu terlempar ke belakang.



Bug!


Ugh!


Heyaa!


Bug!


Arrgh!


Brak! Prang! Krompyang!


__ADS_1


Tubuh besarnya membentur tembok dengan keras. Sebuah cermin yang tergantung di dinding itu langsung jatuh mengenai kepalanya lalu jatuh remuk berserakan di atas lantai.


“A..ampun nyonya,” ujar Manto dengan wajah sangat kesakitan.



Dibalik perangainya yang lembut dan menggoda, ternyata Wu Lie adalah ahli bela diri. Dia adalah pemegang sabuk hitam Dan IV karate. Dia juga menguasai kung fu dan tae kwon do. Sambil tersenyum sinis, Wu Lie mendekati tubuh Manto yang tergeletak di lantai. Lalu sepatu merahnya yang berhak tinggi menginjak kepala laki-laki itu dengan keras.



“Kau tahu Manto. Aku sudah membayar mahal untuk membeli gadis itu. Dan kau seenaknya saja mencekik lehernya?” ujar Wu Lie kesal.


Aarrgh!


Manto meraung kesakitan. Beberapa pengawal Wu Lie langsung masuk ke dalam kamar. Perempuan itu memberi pertanda agar mereka membawa tubuh Manto keluar kamar.



“Habisi dia!” ujarnya.


“Siap nyonya!” ujar pengawal yang tubuhnya paling besar.



Para pengawal itu menyeret tubuh Manto keluatr kamar. Laki-laki berwajah sangar itu masih terdengar berteriak minta ampun kepada Wu Lie. Namun beberapa saat kemudian suaranya hilang tak terdengar lagi. Rupanya para pengawal Wu Lie telah melaksanakan tugas dari nyonya mudanya dengan cepat dan tuntas.


***


Mobil SUV hitam itu melaju cepat membelah jalanan kota yang cukup sepi di tengah malam. Di belakangnya juga ada sebuah mobil lagi yang mengikutinya dengan cepat. Mereka adalah para pengawal Wu Lie yang sedang membawa tubuh Melin ke sebuah klinik milik temannya dokter Sam. Satu mobil membawa tubuh Melin bersama dua orang pengawal dan satu suster, mobil satunya berisi para pengawal. Ternyata klinik itu terletak cukup tersembunyi di luar kota,



Namun di sebuah pertigaan, tiba-tiba sebuah truk pasir muncul dan memotong jalan mobil yang ada dibelakangnya. Lalu mendadak truk itu mematikan mesinnya.


“Ciiit!” mobil yang berisi para pengawal tak sempat menghentikan kendaraannya.



Brak!



Mobil itu menabrak bak truk yang berisi pasir. Karena benturan yang keras, pintu bak truknya sampai terbuka. Lima kubik pasir yang ada di dalamnya langsung tumpah mengubur mobil para pengawal itu. Dengan susah payah mereka mencoba untuk keluar dari dalam mobil, tapi pintunya macet dan sulit di buka.



Arrggh!



Sementara mobil SUV yang membawa tubuh Melin terus melaju. Mungkin supirnya tidak melihat apa yang terjadi dengan mobil pengawalnya. Setelah melaju cukup jauh, baru dia menyadari ada sesuatu yang aneh.


“Eh, kemana mobil para pengawal kita?” katanya kepada teman yang duduk di sampingnya.



Temannya juga terlihat bingung.

__ADS_1


“Sebaiknya kita menepi dulu. Biar aku hubungi mereka,” ujarnya sambil mengambil ponselnya yang terletak di atas dashboard.


__ADS_2