SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 32 SEDIKIT PENYESALAN


__ADS_3

EPS 32 SEDIKIT PENYESALAN


Aku merasa lahir di tempat yang salah. Apakah benar selama ini waktu yang aku jalani? Menggenggam rindu pada sesuatu yang tak mungkin aku miliki. Menjalani hidup dengan cinta yang tak bersambut. Membiarkan helai nafasmu menghembus lembut kulitku. Hingga rasa ini kian lekat, semakin rapat menyentuh setiap geliat.



Melin keluar dari stasiun. Nampak lalu lalang orang dengan dunianya masing-masing. Mata indahnya berputar mengamati keadaan. Ternyata banyak kios-kios pedagang yang tertata rapi. Dengan wajah ramah mereka menawarkan barang dagangannya masing-masing. Kaki kecilnya berjalan menghampiri kios pedagang pakaian yang paling besar. Ada banyak kaos dan souvenir, semua bertuliskan sama, Yogya Istimewa.



“Mau beli baju, dek,” salah satu pelayan mendekali Melin.


Melin memandang gadis pelayan itu, lalu tersenyum menganggukkan kepalanya.


“Ini ada kaos seratus ribu dapat tiga, ada juga celana jin limapuluh ribuan, celana-celana pendek juga ada. Silahkan pilih sendiri,” sambut pelayan itu lagi.


“Kalau beli dua berapa?”


“Tujuh puluh lima ribu.”

__ADS_1



Tujuh puluh lima ribu? batin Melin, akh lebih baik beli tiga sekalian. Lalu dia mengambil tiga buah kaos pilihannya. Dia juga membeli kaos dalam, dan pakaian lainnya.


“Semuanya tigaratus dua puluh lima ribu,” ujar pemilik kios.



Melin menyerahkan semua uangnya yang tersisa, kemudian dapat kembalian tujuhpuluh lima ribu. Ah, lumayan bisa untuk bertahan hidup. Lalu dia membeli sebungkus nasi kucing dan air putih. Ternyata harga makanan di warung angkringan tergolong murah. Dengan uang tiga ribu saja dia sudah bisa makan nasi dan lauknya.



‘Malam ini aku tidur di stasiun saja,’ batinnya.




‘Ternyata mandi di sini lebih mahal daripada harga makanan. Mandi saja harus bayar sepuluh ribu,’ batinnya sambil tersenyum sendiri.

__ADS_1



Lalu dia duduk, membuka nasi kucing yang baru dibelinya. Tiga suapan saja, nasi itu sudah amblas ke dalam perutnya. Ternyata dia lapar sekali, tapi cukuplah nasi itu untuk mengganjal perutnya. Air putihnya yang di bungkus plastik hanya diminum separuhnya, sisanya di gantung di sandaran kursi.



Selesai makan, Melin membaringkan tubuhnya. Pikirannya terus berputar. Dia sudah berada di tempat yang sama sekali tidak dikenalnya. Dan dia tahu, dia harus mengandalkan dirnya sendiri untuk bertahan. Dia tidak punya siapa-siapa, tidak punya tempat tinggal, bahkan uang pun dia sudah tidak punya. Hanya tersisa beberapa puluh ribu saja.



‘Aku harus kuat. Air mata adalah sesuatu yag tidak berguna saat ini. Lebih baik berpikir bagaimana caranya agar aku bisa bertahan hidup di kota ini,” batinnya.



Mendadak dia teringat dengan kartu nama yang diberikan dokter Ryan kepadanya. Diambilnya kartu nama tadi dan dibacanya dengan seksama. Ada alamat lengkap dan nomor telepon. Membaca itu semua, hatinya menjadi kuat. Paling tidak dia memiliki orang yang bisa dihubungi manakala keadaannya benar-benar terjepit.



“Kenapa aku tidak mengikutinya saja ya?” gumamnya.

__ADS_1



Ada sedikit penyesalan di dalam hatinya. Kenapa dia tidak bersikap jujur saja tadi ya? Dokter muda yang baik hati itu pasti mau menolongnya. Paling tidak dia akan merasa terlindungi. Melin menutup matanya, mengantarkan tubunya yang penat ke alam mimpinya. Dan terlihat ada senyum kecil tersungging di sudut bibirnya.


__ADS_2