
EPS 37 DITANGKAP PETUGAS
Menjauh darimu tidak berarti bahwa aku ingin memutus tali persahabatan. Bukan pula karena rasa tidak suka, amarah atau dendam yang terpendam. Alasan terbesarku justeru karena aku tidak ingin merusak persahabatan yang selalu kau sucikan. Jujur saja, ada rasa yang tak biasa kala aku menatap bening matamu. Rasa yang bergemuruh dan membuatku luruh. Dan aku tidak tahu sampai kapan rasa ini akan terus tumbuh.
Setelah kehilangan Marlon tanpa jejak di bandara Adisucipto, Erizal segera melaporkannya kepada petugas keamanan bandara. Dia pun menjelaskan tentang identitasnya dan tujuannya datang ke Jogjakarta. Lalu kronologis dia berkenalan dengan Marlon dan kehilangan sahabatnya itu pagi ini. Dia pun menjawab semua pertanyaan petugas dengan jujur tanpa ditutup-tutupi.
Namun kedua petugas keamanan bandara itu seperti tidak memperhatikan jawaban Erizal. Mereka malah berbicara sendiri menggunakan bahasa Jawa, yang tidak dia mengerti. Cukup lama kedua petugas itu saling berbicara. Setelah itu mereka saling menganggukkan kepalanya. Salah satu petugas berjongkok di depan bocah itu. Tatapan matanya nampak dingin dan tegas.
“Kamu masih dibawah umur. Bagaimana mungkin kau bisa lolos dari pemeriksaan petugas bandara. Sekarang kau ikut kami,” ujar petugas yang lebih tua.
“Hah? I..ikut kemana pak?” Erizal semakin panik.
__ADS_1
“Kami akan mengantarkanmu ke Dinas Sosial, untuk menjalani rehabilitasi sebelum dipulangkan ke rumah orang tuamu di Padang,” ujar petugas yang muda.
Terlihat petugas yang lebih tua menghubungi seseorang lewat ponselnya.
“Din, ada anak yang tersesat di bandara dan tidak bisa pulang. Tolong kau antar dia ke Dinas Sosial.”
Erizal yang mendengar kata-kata petugas itu menjadi kaget. Dia berusaha meronta, tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melepaskan diri dari gemggaman tangan petugas keamanan itu. Tanpa terasa air matanya mulai meleleh.
Tapi kedua petugas itu tak bergeming. Dia menarik tangan Erizal keluar dari ruangan, kemudian dibawa keluar gedung itu. Sebuah mobil Jeep berwarna hitam berhenti tepat di depan mereka. Di depan kaca mobil ada tulisan “AIRPORT SECURITY.” Si Supir turun lalu membuka pintu belakang.
“Ayo cepat masuk ke dalam!” bentaknya kepada Erizal.
__ADS_1
Remaja malang itu tak kuasa melawan. Akhirnya dia menurut saja waktu dimasukkan ke dalam mobil. Sesaat kemudian, mobil itu melaju. Melesat meninggalkan bandara. Berlari cepat menuju tempat yang belum pernah dikunjungi Erizal sebelumnya. Tempat yang akan memberikan makna dan banyak cerita dalam hidupnya. Panti rehabilitasi milik Dinas Sosial provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
***
Sudah seminggu lamanya Erizal tinggal di panti rehabilitasi milik Dinas Sosial. Di tempat ini dia di karantina bersama beberapa orang yang senasib dengannya. Para petugas di panti ini memperlakukan mereka dengan sangat baik. Disamping mendapatkan makan dan tempat tidur, mereka juga mendapatkan bimbingan konseling. Salah satu petugas yang sering bercerita dengannya adalah bu Lina.
“Jadi kau sengaja pergi ke Jogjakarta untuk sekolah dengan seizin ibumu?” tanya bu Lina.
Erizal menganggukkan kepalanya.
“Betul bu. Aku memiliki surat-surat keterangan dan juga tulisan-tulisan berisi pesan-pesan dari ibuku. Tapi semua itu ada di dalam tas yang dibawa sahabatku Marlon.”
Bu Lina menatap wajah Erizal. Banyak anak-anak jalanan yang ditangkap petugas dinas sosial membuat cerita macam-macam agar mereka di bebaskan. Tapi wajah Erizal terlihat polos dan jujur, dan bu Lina tidak yakin pemuda iu sedang membohonginya.
__ADS_1
“Bagaimana caranya agar aku tahu kalau dia sedang tidak berbohong?” batinnya.