SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 53 HIDUP ITU PILIHAN


__ADS_3

EPS 53 HIDUP ITU PILIHAN


Hidup adalah alternatif, dihadapkan pada banyak pilihan. Maka kenalilah dirimu, pahami kemampuanmu, cintai apa yang kau miliki, nikmati apa yang harus kau jalani. Dan jangan pernah bermimpi untuk menjadi orang lain yang kau anggap lebih gemilang. Baru kau akan mampu membuat pilihan yang terbaik dalam hidupmu.


Melin duduk tertegun di hadapan Yu Kimah. Dia masih tak mempercayai apa yang baru saja di dengarnya. Ibu angkatnya itu menyuruhnya untuk melanjutkan sekolah menggunakan uang warung? Bahkan meminta Karsim, penghuni baru rumah Misman yang belum dikenalnya, untuk melanjutkan sekolah juga. Terbuat dari apa hati ibu angkatnya itu?


“Apa maksudmu ibu? Aku tidak boleh melakukannya,” ucap Melin berusaha menolak secara halus.


“Kami sudah bersepakat, aku dan Erizal akan membantu biaya sekolah Melin ibu,” ujar Marlon menyela.



Yu Kimah menggelengkan kepalanya.


“Tidak Marlon. Emas yang kau bawa adalah amanah dari papamu untuk biaya hidup dan pendidikanmu. Ingat, untuk meraih gelar dokter membutuhkan biaya yang tidak sedikit.”


“Aku juga akan membantunya ibu. Uang dari Bundo lebih dari cukup kalau hanya untuk membiayai sekolahku,” kata Erizal.



“Ibu tetap tidak setuju. Kalian belum tahu kan berapa besar biaya sekolah di Jawa? Beda lo dibandingkan dengan di Papua, Kalimantan dan Sumatera.”


“Tapi kami juga akan bekerja ibu. Kami sudah berjanji untuk saling membantu sebagai saudara,” sambung Erizal.



“Ya. Dan kalian sudah melakukannya kan?” ujar Yu Kimah sambil tersenyum.


Melin, Marlon dan Erizal menatap wajah perempuan tambun itu tak mengerti.


“Kalian kan sudah bekerja menjaga warung ibu, bahkan membuat keuntungan yang berlipat. Kalian berhak untuk mendapatkan sebagian keuntungan itu untuk membantu biaya hidup kalian,” Yu Kimah menjelaskan panjang lebar.



“Tapi, bu…” Melin menyela. “Kami kan sudah hidup menumpang tidur dan makan di rumah ibu. Rasanya tak pantas kami terlalu membebankan kesusahan kami kepada ibu.”


“Sudah,” Yu Kimah memotong kata-katanya. “Jangan membantah kata-kataku. Jagalah warung dan rawatlah rumah kita, lanjutkan hidup kalian. Perjuangkan apa yang menjadi harapan dan cita-cita orang tuamu.”



Mendengar kata-kata ibu angkatnya, ketiganya langsung terdiam. Mata Melin kembali berkaca-kaca. Ditatapnya wajah Yu Kimah dalam-dalam. Dalam hidupnya yang masih begitu singkat, mungkin inilah orang yang menyayanginya dengan begitu tulus selain papa dan mamanya.



“Ibu…,” desisnya hampir tak terdengar.

__ADS_1


Yu Kimah kembali memeluk tubuh Melin. Dibelainya rambut hitam nan lebat itu.


“Kenapa ibu begitu baik kepada kami?” bisik Melin lagi.


“Hanya kalian yang ibu miliki sekarang. Hanya kepada kalian ibu bisa yakin dan percaya. Jadi, jangan pernah menganggap ibu sebagai orang lain. Apa yang ibu miliki kalian boleh menggunakannya.”



Yu Kimah melepaskan pelukannya. Lalu memandang wajah ketiga anak angkatnya itu secara bergantian. Setelah itu dia memberi pesan.


“Jagalah dan teruskan perjuangan kang Misman. Mungkin suamiku itu bukan orang yang baik, bahkan dijuluki sebagai penjahat oleh orang-orang di luar sana. Tapi dia tetaplah manusia yang memiliki hati yang lembut. Ada banyak sisi kebaikan di dalam dirinya. Mungkin hanya ibu yang tahu. Ayah angkatmu itu selalu menolong orang-orang yang terlantar di jalanan.”


Yu Kimah membuang pandangannya jauh ke depan. Bola matanya tak bergerak, tapi siapapun tahu, ada kerinduan yang begitu dalam terpendam disana. Ya, sudah hampir dua purnama kang Misman menghilang entah kemana. Menghindari kejaran aparat hukum atas apa yang telah dilakukannya. Dunia mereka memang hitam, tapi tetap saja mereka tidak kehilangan hak untuk menikmatinya. Walau sekejap.


***


Pada akhirnya mereka memilih jalan masing-masing sesuai cita-cita. Marlon mendaftar ke SMA Negeri. Sekolah yang cukup terkenal dan merupakan SMA favorit di Jogja. Dia berharap bisa masuk ke kelas IPA sehingga bisa melanjutkan kuliah jurusan kedokteran.



“Semangat sahabatku. Kau pasti bisa!” teriak Erizal sambil mengepalkan tangannya ke udara.


Marlon tersenyum mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Terimakasih ya atas dukunganmu.”


“Kau benar-benar ingin menjadi desainer, Melin?” tanya Erizal.


Melin mengangguk yakin. Lalu dia menunjukkan salah satu koleksi gambar rancangannya. Wajah Erizal dan Marlon seperti terkejut dan terpukau melihatnya.


“Bagaimana?” tanya Melin.


“Wow, indah sekali Melin. Seperti baju kebesaran para bidadari,” ujar Marlon.


“Betul Melin. Ini sangat menakjubkan. Ini rancanganmu sendiri kan?” tanya Erizal.


Melin menganggukkan kepalanya.


“Iya. Kau tidak percaya?”


“Hah? Tentu saja aku percaya. Masalahnya aku tidak menyangka kalau kau bisa menggambar sebagus ini. Seperti rancangan profesional,” sahut Erizal dengan mata takjub.


Melin tersenyum lagi. Di puji begitu dia jadi merasa malu. Ada rona merah menjalar di wajahnya yang bening sempurna.


“Kau sendiri mau mendaftar kemana Zal?”

__ADS_1


Erizal terdiam sejenak, lalu menarik nafas panjang.


“Sesuai pesan Bundo, aku akan menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Gontor.”


Melin tersenyum.


“Mengapa wajahmu terlihat sedih? Semangat Zal.”


“Aku tidak sedih. Hanya merasa enggan harus berpisah dengan kalian.”



Erizal menatap wajah Melin dalam-dalam. Wajah yang selama beberapa hari ini selalu datang dalam mimpi-mimpinya.


“Kau takut berjauhan dengan Marlon?” tanya Melin. “Kalian benar-benar sahabat sejati.”


Erizal tergagap mendengar kata-kata Melin.


“Eh, oh iya. Mungkin karena aku tidak ingin berjauhan dengan Marlon.”



Marlon malah tertawa. Ditepuknya pundak sahabatnya itu perlahan.


“Tenang kawan, aku pasti akan rajin mengunjungimu,” katanya.


Sesuai pesan Bundo, Erizal mendaftar ke Pondok Pesantren Cabang Gontor di kabupaten Magelang untuk belajar agama sekaligus belajar ilmu umum lainnya. Dia juga bercita-cita untuk mejadi dokter seperti Marlon. Karena itulah dia memilih Gontor karena di tempat ini dia juga bisa mendapatkan ijazah yang setara dengan ijazah SMA.


Sedangkan Karsim masuk ke SMP swasta. Jarak sekolahnya dekat dengan rumah mereka, sekitar lima ratus meter. Cukup sepuluh menit jalan kaki untuk mencapai sekolahnya. Kata Yu Kimah, Karsim jangan disekolahkan di tempat yang jauh. Takutnya pulangnya nyasar entah kemana.


“Habis kamunya pelupa sih, jadi gak boleh sekolah jauh-jauh,” ledek Marlon. “Takutnya pulangnya kamu nyasar kemana-mana.”


Karsim merenggut, wajahnya keliatan kesal.


“Kalian enak, berangkat dan pulang sekolah bisa naik angkutan umum. Sedangkan aku harus jalan kaki,” sungutnya.


Melihat wajah Karsim, mereka malah tertawa terbahak-bahak. Lalu Melin menggeser duduknya mendekati Karsim.


“Sudah. Jangan bersedih. Kakak janji, kita akan menabung. Nanti kalau sudah cukup, uangnya buat beli sepeda untuk kamu berangkat ke sekolah.”


Mata Karsim langsung berbinar.


“Benar? Kak Melin mau membelikan aku sepeda?”


Melin menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Hore!”


Karsim langsung melompat dan lari berputar-putar di dalam ruangan. Mereka pun kembali tertawa dengan riuhnya. Hahaha…


__ADS_2