SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 8 MATA AIR SUNGAI BALIEM


__ADS_3

EPS 8 MATA AIR SUNGAI BALIEM


Seekor burung kecil terperangkap di jaring laba-laba. Tubuhnya bergerak meronta berusaha untuk membebaskan dirinya. Namun semakin dia meronta, semakin kuat tali-tali yang laba-laba menjeratnya. Saat di tak kuasa lagi untuk berupaya, datanglah sang laba-laba menghampirinya. Jangan salahkan aku, kau sendiri yang menjebak dirimu di rumahku, katanya sebelum menyuntikkan racun yang membuat sang burung kecil tak bernafas lagi.



Sudah berhari-hari Marlon dan Marlin mengitari hutan larangan. Mereka berjalan tanpa petunjuk arah dan tidak berbekal pengetahuan yang cukup. Sebenarnya kaki-kaki mereka pernah menjelajah sampai kemari, tapi mereka belum pernah masuk ke dalamnya. Hutan terakhir di batas Nemangkawi Ninggok, atau puncak Jayawijaya yang selalu tertutup salju itu, begitu gelap dan penuh kesan mistis.


Mereka seperti terjebak dalam permainan alam yang membingungkan. Mereka juga tidak tahu dimana anggrek hitam keeamasan itu tumbuh. Marlon dan Marlin bahkan baru pernah mendengar ada anggrek berwarna hitam keemasan. Tapi tekad yang kuat demi mendapatkan obat bagi kesembuhan sang kakak membuat mereka tidak mau menyerah.


Marlin menghentikan lahgkahnya, lalu duduk di atas dahan pohon Matoa yang tumbuh rendah hampir menyentuh tanah. Buahnya yang sudah menghitam menandakan kalau isinya sudah matang. Rasanya sangat manis seperti rambutan. Di raihnya beberapa buah itu dengan tangan kanannya. Tapi Marlon menggamitnya.


“Jangan sembarangan memetik buah di hutan ini. Mintalah pada penjaga pohon ini terlebih dahulu.”


Marlin mengurungkan niatnya. Dia teringat dengan kakak dan kedua bibinya yang terkena kutukan penjaga hutan karena merusak pohon bintangur di dalam hutan. Akhirnya dia hanya diam sambil membayangkan keleatan buah Matoa itu. Hm, padahal perutnya sudah lapar dan haus.


Matoa (Pometia pinnata) adalah buah khas Papua, tergolong pohon besar dengan tinggi rata-rata delapanbelas meter dengan diameter rata-rata maksimum seratus sentimeter . Umumnya berbuah sekali dalam setahun. Berbunga pada bulan Juli sampai Oktober dan berbuah tiga atau empat bulan kemudian. Tumbuh baik pada daerah yang kondisi tanahnya kering (tidak tergenang) dengan lapisan tanah yang tebal.


“Bagaimana ini kak? Sudah berhari-hari kita berputar-putar di hutan ini, tapi tidak menemukan bunga naggrek hitamkeeamasan,” ujarnya kemudian.



Marlon terdiam. Dia terus berpikir bagaimana cara menemukan anggrek itu. Sia-sia saja mereka berjalan berputar-putar tanpa tahu arah dan tujuan. Pasti ada jalan untuk menemukan bunga itu kalau memang ada.



“Coba kau pikir Marlin, dimana biasanya makhluk yang berwarna hitam itu hidup?” tanya Marlon.


“Biasanya makhluk yang hidup di dalam kegelapan, karena mereka beradaptasi dengan lingkungan yang membentuknya,” sahut Marlin.



Marlon tersenyum.

__ADS_1


“Betul sekali.”


“Kenapa kau menanyakan hal itu?”


“Seperti katamu, kemungkinan besar anggrek hitam itu tumbuh di tempat gelap. Dia bersianar karena bayangan sinar yang dipantulkannya.”


“Sinar? Sinar matahari maksudmu?”


“Sinar apapun, bisa juga cahaya api.”



Marlin mengangguk-anggukkan kepalanya. Rupanya dia mulai memahami jalan pikiran kakaknya.


“Lalu apa yang akan kita lakukan, kak?”


“Kita telusuri hulu sungai Baliem. Mata airnya pasti berada di dalam kegelapan hutan ini.”




“Apa kau siap melakukannya?” tanya Marlon seolah bisa membaca pikiran adiknya.


“Tentu saja aku siap, kak,” katanya sambil mengangguk cepat.



Marlon ikut berdiri tegak memandang kegelapan hutan. Sikapnya begitu gagah tanpa ada rasa takut sedikitpun. Pantang baginya untuk mundur sebelum tugas terselesaikan. Dia mengikat kepalanya dengan tali yang dianyam dari serat kulit pohon melinjo yang telah dikeringkan. Dia juga menggenggam erat busur dan anak panahnya dengan sikap penuh kewaspadaan.



Bagi suku Dani, busur dan panah menjadi salah harta yang berharga. Mereka menggunakannya untuk berburu, mempertahankan diri ataupun untuk membalas dendam. Ukuran busur disesuaikan dengan pemakainya. Busur laki-laki lebih panjang setengah yard dari tinggi badannya. Busur dibuat dari kayu keras dan diberi tali dari bambu.

__ADS_1


Ujung anak panah terbuat dari tiga bahan utama: bamboo, kayu dan tulang. Zehai, ujung anak panah yang terbuat dari kayu, digunakan untuk memanah hewan kecil dan burung. Bagai, ujung anak panah yang terbuat dari bambu, digunakan untuk membidik babi hutan dan burung unta. Yang terakhir adalah Fai, ujung anak panah yang terbuat dari tulang kanguru, di buat untuk membunuh manusaia.


***


Marlon dan Marlin berjalan beriringan terus merasuk ke dalam hutan. Angin semilir terasa sejuk begitu memasuki kawasan hutan bagian dalam. Pepohonan besar dan semak-semak yang rimbun seakan menelan tubuh mereka dalam kegelapannya. Hanya harapan menyembuhkan kakak yang masih menuntun kaki mereka. Tiba-tiba mereka merasakan kaki-kaki mereka menjadi basah. Juga terdngar gemercik air yang mengalir.



“Rupanya kita sudah sampai di hulu sungai Baliem, kak,” bisik Marlin.



Marlon menganggukkan kepalanya. Lalu tangan kanannya memberi tanda agar Marlin terus mengikutinya sambil waspada. Dia juga mengeluarkan kalung berisi batu mustika milik Iles Mowa yang diberikan kepada Nene Yoteni. Kata Nene batu dalam kalung itu akan bersinar di dalam kegelapan. Namun mereka belum masuk ke dalam hutan yang paling gelap. Mereka masih melihat garis-garis cahaya matahari yang menembus celah-celah diantara dedaunan hutan yang rimbun.



“Hugh! Bau apa ini kak?” ujar Marlin hampir muntah.



Setelah beberapa lama menyusuri aliran air jauh ke dalam hutan, tiba-tiba mereka mencium bau yang sangat busuk menusuk hidung. Kedua bocah kembar itu langsung menutup indera pernafasannya. Sebagai anak Papua mereka langsung itu kalau bau busuk itu pasti berasal dari bangkai hewan besar yang mati beberapa hari yang lalu.



“Sepertinya bau bangkai. Tapi kakak tidak tahu bangkai apa, disini keadaan benar-benar gelap,” katanya sambil kakinya meraba-raba dasar sungai yang rata.



Baru saja dia selesai mengucapkan kata-kata itu, tiba-tiba batu yang berada di kalung itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Sinar itu memancar menerangi setiap sudut hutan. Membuat segalanya terlihat dengan jelas. Pohon-pohon kayu keras yang menjulang tinggi mengepung mereka. Dan apa yang mereka lihat di depan mereka sungguh sangat mengagetkan. Mata kedua bocah kembar itu sampai terbelalak takjub melihatnya.



Di ujung hulu sungai ada gundukan tanah menyerupai pulau kecil. Ditengahnya ada sebuah kolam yang berisi air yang sangat jernih. Air dari kolam itu mengalir keluar dari celah-celah batu yang mengelilinginya. Rupanya inilah mata air sungai Baliem yang sangat termasyhur itu. Pantas saja jarang ada manusia yang berani datang kesini, karena tempat ini begitu gelap.

__ADS_1


Dan kegelapan selalu menghadirkan misteri, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi didalam kegelapannya.


__ADS_2