SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 24 SEBERKAS CAHAYA


__ADS_3

EPS 24 SEBERKAS CAHAYA


Mungkin ini salahku, membiarkanmu pergi. Disaat aku masih membutuhkan kehadiranmu. Di saat cinta masih bersemayam di dalam hatiku. Kemanapun aku pergi bayanganmu selalu menghantuiku. Aku tak bisa membuatmu hilang dari dari pikiranku. Seperti seberkas cahaya pada malam yang gelap dan sunyi, di sanalah aku harus menemuimu.



Mobil SUV hitam yang membawa tubuh Melin menepi. Sang pengawal yang duduk di samping supir segera meraih ponselnya. Dia ingin menghubungi mobil pengawal lain yang melaju di belakang mereka. Memastikan bahwa mereka dalam keadaan baik-baik saja. Namun baru saja dia mengangkat ponselnya, tiba-tiba perawat yang duduk di belakang menjaga Melin menggerakkan kedua tangannya dengan cepat.



Clap! Clap!



Dua buah jarum suntik berisi obat bius menancap di leher bagian belakang mereka. Obat bius itu meresap cepat ke dalam aliran darah keduanya. Tidak sampai lima detik, pengaruh obat bius itu langsung bekerja. Menghilangkan kesadaran mereka. Namun waktu yang lima detik itu dapat dimanfaatkan sang pengawal untuk mencabut pistolnya dan berbalik secara reflek menembak sang perawat.



Dor!


Akh!



Tembakan itu tepat mengenai dagu si perawat, dan tembus ke atas kepalanya. Tubuh perawat itu terlempar dengan keras menghantam bed yang ditiduri Melin. Gadis yang pura-pura pingsan itu langsung tersentak kaget, Melihat wajah si perawat yang berlumuran darah, dia langsung menjerit sekuatnya. Sesaat dia seperti histeris dan kehilangan kesadarannya. Digoyang-goyangnya tubuh perawat itu, tapi tak ada reaksi apapun.



“Pak bangun! Pak bangun!” teriaknya.



Setelah sekian lama, akhirnya dia berhasil menguasai dirinya. Dia sadar, perawat kepercayaan dokter Sam itu sudah meninggal. Perlahan dia mengamati keadaan sekitarnya. Supir dan sang pengawalnya terkulai lemas bersandar di jok tempat duduk. Obat bius dosis tinggi telah membuat mereka kehilangan kesadaarannya untuk waktu yang lama. Itu artinya hanya dia seorang yang masih sadar.



“Ini adalah kesempatanku untuk pergi,” batinnya.

__ADS_1



Dia melihat keluar lewat jendela mobil. Ternyata mereka berada di tengan jalan yang sangat sepi, mungkin mereka berada di tengah hutan. Karena pepohonan yang sangat tinggi di sepanjang jalan. Melin sama sekali tidak mengenal daerah ini. Yang dia tahu jalan ini pasti menuju klinik milik temannya dokter Sam. Dia memutuskan untuk mengikuti jalan ini. Namun sebelum pergi dia sempat menggeledah isi saku sang supir dan pengawal.



“Maaf, aku terpaksa mengambil ponsel dan uang kalian,” batinnya sambil memasukkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke dalam sakunya.



Dia membongkar ponsel mereka dan membuang kartu chip nya. Setelah itu menyusuri jalan beraspal itu ke searah dengan mobil yang masih menyala lampunya itu. Namun baru beberapa langkah dia mempunyai pikiran lain. Tanpa diduga di berbelok masuk ke dalam hutan dan memutuskan untuk mencari jalan sendiri. Dia tahu, para pengawal nona Wu pasti akan menyambangi klinik itu esok pagi.



“Lebih baik aku pergi mencari jalan sendiri. Aku punya sedikit uang untuk bekal perjalanan,” batinnya lagi.



Di balik lagi ke mobil dan membongkar isi bagasi mobilnya. Ada senter dan korek api, juga sebungkus roti kering yang sudah di buka plastiknya. Di belakang dia menemukan botol air mineral milik perawatnya yang masih utuh. Ah, untung Tuhan masih sayang kepadanya. Dia duduk sebentar dan memakan beberapa biscuit untuk mengganjal perutnya yang lapar. Pikirannya terus berputar mencari jalan terbaik untuk meninggalkan tempat ini.




Dia teringat kalau tadi mobil mereka melewati pertigaan di kanan jalan. Hm, berarti aku harus berjalan menembus hutan di sebelah kanan jalan. Aku yakin aku akan menemukan penduduk disana, batinnya. Setelah mengemasi barang-barang yang diambilnya ke dalam sebuah tas kecil, gadis yang mulai menginjak remaja itu mulai berjalan menembus kedalaman hutan yang sangat gelap.



Dengan berbekal senter yang dimilikinya dia terus berjalan. Namun harapannya untuk bertemu penduduk semakin menipis. Semakin jauh ke dalam hutan itu semakin gelap. Pohonnya semakin besar dan tinggi, dan tanahnya terasa basah. Bahkan dibeberapa tempat terendam air. Bunyi kecipak air terdengar setiap kali dia melompat berusaha menghindari genangan di bawah pepohonan.



“Ya Tuhan tolonglah aku,” batinnya lagi. “Ada dimana sebenarnya aku sekarang?”



Semakin lama kakinya terasa semakin dingin. Tubuhnya juga terasa sangat lelah. Jelas sekali dia butuh istirahat. Tapi dia takut para pengawal nona Wu sedang membuntutinya. Sampai akhirnya dia terpeleset dan terjatuh ke dalam kubangan yang cukup dalam. Tangannya dengan cepat meraih batang pohon di tengah kubangan itu dan memanjatnya. Semakin lama semakin tinggi, lalu dia duduk di atas sebuah dahan.

__ADS_1



“Hm, rasanya cukup nyaman di sini. Aku memang butuh istirahat,” batinnya.



Baju dan barang bawaannya basah semua. Senternya tidak bisa digunakan karena basah. Untungnya masih ada korek api gas yang masih bisa menyala. Dia mengambil tali dari dalam tas untuk mengikat tubuhnya di batang pohon. Diikatnya dengan kuat, sehingga bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Setelah itu dia duduk mengambil nafas panjang, menghilangkan pikiran-pikiran negatif, sebelum memejamkan matanya.



Hrrr…



Tidak berapa lama gadis itu pun terlelap dalam tidurnya. Sungguh dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan pengalaman hidup yang begitu tragis, miris dan menakutkan. Dan bayang-bayang itu terus menghantui hati dan pikiannya. Dalam mimpinya dia melihat tubuh papa, mama dan kedua adiknya yang terikat dan dikelilingi orang-orang jahat. Di antara mereka terlihat paman Han dan Teddy, dengan gigi menyeringai dan berdarah.



“Papa! Mama!” teriaknya.



Dia berusaha berlari untuk menyelamatkan mereka. Namun entah mengapa tubuhnya sendiri tak bisa digerakkan. Dia seperti terbelenggu dan terpaku pada sebuah tembok yang kokoh dan dingin. Hanya kedua tangannya yang terus menggapai-gapai ke udara dan bibirnya yang terus berteriak memanggil papa dan mamanya. Hingga akhirnya dia tersadar saat merasa tubuhnya merosot ke bawah.



“Ups!” dengan cepat kedua tangannya meraih dahan pohon itu untuk menahan tubuhnya.


“Ternyata aku hanya mimpi,” batinnya.



Hari masih gelap dan kesedihan yang merayap. Perlahan air mata mengalir membasahi kedua pipinya. Dia membiarkan air matanya terus mengalir, bahkan kemudian isaknya mulai terdengar. Gadis itu terus menangis hingga perasaannya terasa lega. Di usapnya kedua matanya dengan lengan bajunya. Dan tiba-tiba dia melihat sesuatu yang mengagetkannya.



Nun jauh di sana, di melihat kerlip cahaya di kegelapan. Diusap-usapnya matanya berkali-kali, seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Setelah yakin itu adalah seberkas cahaya, gadis itu segera melepas tali yang mengikat tubuhnya. Dengan cekatan tubuhnya yang ramping bergerak ke atas dahan yang lebih tinggi. Dan semakin tinggi dia menaiki batang pohon itu, semakin banyak cahaya yang terlihat oleh matanya.

__ADS_1



“Hah? Itu adalah sebuah kota!” jeritnya tak tertahan.


__ADS_2