SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 15 TIBA DI JOGJA


__ADS_3

EPS 15 TIBA DI JOGJA


Menjadi sesuatu atau membentuk sesuatu bukanlah hal yang mudah. Membutuhkan kerja keras, pengorbanan dan proses yang panjang dan berliku. Kadang menyakitkan karena apa yang kita dapatkan tak sebanding dengan apa yang kita lakukan. Tapi lebih membosankan apabila kita hanya memandang. Yang tak membutuhkan jalan keluar. Hanya berusaha mengerti dan menilai, baik dan buruknya. Tapi sesungguhnya tidak mendapatkan apa-apa.


Setelah perdebatan yang panjang, antara Lukas Ibo dan panglima perang kelompok Deo, tidak menemukan titik temu. Suasana semakin tak terkendali. Para pria mulai menghentak-hentakkan kakinya di atas tanah. Lalu meneriakkan kata-kata aneh secara berulang-ulang, menyanyikan lagu perang. Melakukan gerakan melingkar, mundur menjauh lalu kembali maju hingga jarak mereka tinggal satu meter. Oou wa! Oou wa! Oou wa!


Mendadak alam menunjukkan sisi magisnya. Dari atas pepohonan tiba-tiba turun kabut putih yang sangat tebal, menyelubungi tubuh-tubuh yang sedang berseteru itu. Orang-orang tidak bisa lagi melihat dengan leluasa. Tubuh mereka terus bergerak sambil menarik anak panah pada tali busurnya. Dan diantara kabt putih yang menutupi pandangan mata, mereka mulai saling melesatkan anak panahnya ke arah musuh-musuhnya.


“Clap! Clap! Clap!”


“Arrgh!”


“Awh!”


Dan sesaat kemudian, jerit kesakitan mulai terdengar disana-sini. Suara mengaduh dan tubuh-tubuh yang jatuh menghunjam ke bumi. Wajah-wajah mereka terlihat kosong, kaku dan tak kenal takut. Darah yang tertumpah, keringat yang mengalir deras, napas yang keras menghempas. Kematian hanyalah akhir dari satu episode kehidupan, dan mereka akan mendaki pada episode selanjutnya, hidup bersama para leluhurnya di angkasa.


Satu jam kemudian, suasana menjadi hening. Tak ada lagi jerit kesakitan, tak ada lagi suara yang mengaduh. Darah memang masih menetes, keringat membasahi tubuh-tubuh yang masih hidup. Sunyi, hanya desah nafas yang terdengar cepat memburu. Wajah-wajah yang lelah dan putus asa, saling menunduk penuh kekalahan. Tak ada lagi dendam dan amarah. Semua sudah terlampiaskan dalam pertempuran, walau tak ada pemenangnya.


Dengan penuh kesedihan, para tamu membawa saudara-saudaranya yang mati dan yang terluka, kembali ke rumah mereka. Membawa kembali busur yang kehabisan anak panahnya dengan genggaman yang erat. Melunasi hutang mereka bahwa darah harus dibayar dengan darah, kematian juga harus di balas dengan kematian. Selesai sudah. Tak ada lagi dendam dan amarah yang berkelanjutan.



Sedangkan tuan rumah juga melakukan hal yang hampir sama. Membawa mayat-mayat saudaranya dan mengumpulkannya dalam satu rumah. Melantunkan tembang sunyi tentang kesedihan akan kehilangan saudara. Dan diantara mereka, Neles Ibo, sang kepala suku, duduk terdiam diatas batu. Hanya memandang semuanya. Dia memang tidak ikut bertempur, tapi hatinya penuh dengan luka.



Bukan pemandangan indah yang pantas dilihat. Ketika kabut putih akhirnya menghilang, terlihat wajah-wajah yang berdarah terkena panah. Seluruh penduduk desa menatap dengan pandangan nanar dan tubuh gemetar. Tak ada satupun yang bersuara, mereka hanya terdiam dengan pikirannya sendiri. Hanya Manamakrdi dan Marlon yang terlihat sibuk, mereka mulai membakar rotan dan mengikat kaki dan tangan yang terluka.



Ini pasti tidak akan menjadi konflik yang terakhir. Kali ini yang berperang adalah orang-orang Deo yang jauh dari balik kedalaman hutan dan suku Ibo. Mungkin lain waktu suku Mowa dan Mek. Namun bisa saja terjadi perang besar yang melibatkan beberapa suku. Dan semua ini sungguh melelahkan…


***

__ADS_1


“Peperangan demi peperangan telah mengurangi jumlah para pria di Papua yang harus mati dalam keadaan sia-sia. Banyak orang yang sudah lelah dengan peperangan dan menginginkan kehidupan yang damai. Tapi banyak juga yang masih menganggap peperangan adalah jalan hidup mereka, dengan menganggap tidak ada suku lainnya yang hidup di hutan kecuali mereka sendiri,” ujar Marlon dengan nada sedih.



Erizal masih terpaku mendengar cerita sahabat barunya itu. Tanpa dia sadari bulu-bulu halus di pembuluh kulitnya berdiri. Dia masih merasa takjub dan merinding.



“Karena alasan itukah papamu mengirim kamu ke Jawa?”


Marlon menganggukkan kepalanya.


“Ya. Sudah lama sekali papa mengharapkan ada kehidupan yang damai diantara suku-suku dan kelompok-kelompok di lembah Baliem. Tapi seperti kau lihat, merubah tradisi membutuhkan pengorbanan besar dan waktu yang tidak sedikit. Dia sadar, dia tidak mungkin dapat mewujudkan impiannya sekarang. Makanya dia mengirimku ke Jawa untuk belajar.”



“Papamu ingin kau menjadi dokter?”


Marlon menganggukkan kepalanya.



“Kalau begitu kau harus berusaha keras memenuhi harapan papamu. Kau harus menjadi dokter dan kembali ke kampung halamanmu untuk merubah semuanya.”


Marlon tersenyum.


“Terimakasih kawan. Berjanjilah kita akan selalu bersama, berjuang untuk meraih semua cita-cita dan harapan orang tua kita.”



Pesawat Garuda yang mereka naiki akhirnya mendarat di Bandara Adisucipto, Jogjakarta. Marlon dan Erizal turun bersama, lalu mengambil barang-barang mereka. Kedua sahabat baru itu saling bergandengan tangan, seperti tak mau kehilangan satu sama lain. Walaupun kebingungan terlihat keduanya berusaha tetap tenang. Duduk di sebuah bangku kosong sambil memikirkan langkah selanjutnya.


__ADS_1


Siang itu suasana di bandara Adisucipto begitu sibuk. Pesawat-pesawat besar silih berganti landing dan take off dari dalam dan luar negeri. Bandara Adisucipto merupakan bandara terbesar sekaligus tersibuk yang ada di Jogjakarta dan Jawa Tengah. Bagaimana tidak, lokasinya yang ada di dekat kota menjadikan bandara ini selalu ramai pengunjung.



Marlon dan Erizal menemukan diri mereka malah kesepian di sudut ruang tunggu atau dikenal dengan sebutan Airport Lounge. Ruangan tersebut didesain dengan sangat nyaman dan dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung seperti free WiFi serta berbagai makanan dalam sistem buffet ataupun all you can eat. Tapi mereka hanya diam mematung, tak tahu apa yang harus dilakukan.



Di amatinya orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Seperti mesin yang bergerak dengan alur yang tidak beraturan, mereka menyibukkan dirinya tanpa kata-kata. Tidak ada saling tegur dan menebar senyum, layaknya keramahan orang Indonesia saat saling bertemu di jalanan. Yang tidak hilir mudikpun hanya duduk diam sambil memainkan jari-jenarinya diatas papan ponselnya.



“Erizal…” bisik Marlon.


Erizal melirik sahabatnya tanpa menjawab panggilan itu.


“Aku kepingin pipis.”


Erizal masih terdiam. Pandangannya memutar ke setiap sudut ruangan besar itu.


“Aku juga. Tapi mau pipis dimana?”



Marlon juga terdiam. Huh, ternyata masih lebih enak tinggal di hutan, dia bisa pipis dimana saja. Banyak tempat tersembunyi yang bisa dia gunakan tanpa takut terlihat orang. Namun akhirnya ujung mata Erial berhasil menemukan ruanan kecil itu.



“Marlon, ayo ikut aku.”


“Hah? Kemana?”


“Ketempat kita bisa pipis dan membasuh muka.”

__ADS_1



Erizal menggandeng tangan Marlon dan bergegas mengajaknya pergi ke toilet umum.


__ADS_2