
EPS 56 MENGUNGKAP KATA-KATA
Misteri menciptakan rasa ingin tahu, dan rasa ingin tahu adalah dasar keinginan manusia untuk mempelajari dan memahami.
Malam semakin larut. Melin masih menunggu dengan gelisah di luar pintu masuk tempat parkir. Berkali-kali gadis itu membuang pandangannya, mencari AKP Wildan, perwira polisi yang dikenalnya. Marlon berdiri di belakangnya dengan sikap siaga. Kedua tangannya di letakkan di pinggang, sedangkan kedua kakinya berdiri mengangkang, pandangan matanya lurus menembus kegelapan. Sementara Erizal hanya duduk tenang di atas trotoar sambil menundukkan kepalanya.
“Apa pak Wildan ada di dalam pak?” tanya Melin pada polisi yang menjaga TKP.
Polisi itu menggelengkan kepalanya.
“Belum. Pak Wildan tadi masih mengikuti rapat dengan Kapolres bersama beberapa perwira lainnya.”
Melin menghentakkan kaki kanannya ke tanah. Kemudian berjalan mondar mandir di depan Marlon.
“Duduklah Melin. Sudah ada polisi di sini. Semuanya pasti akan baik-baik saja,” kata Erizal dengan suara pelan.
Melin menghampiri Erizal, lalu duduk di samping pemuda itu.
“Aku hanya mengkhawatirkan Ballan,” katanya. “Kenapa hanya dia yang dipanggil masuk?”
“Karena dia adalah saksi utama yang melihat kejadian itu. Mungkin juga polisi khawatir kalau kita masuk beramai-ramai malah akan mengaburkan barang bukti dan saksi.”
Melin terdiam. Dalam hatinya membenarkan kata-kata Erizal.
“Huh. Ballan saja yang ceroboh. Mau-maunya dia dititipin barang sama orang yang tak dikenal,” sungut Marlon.
“Kita tidak bisa menyalahkan Ballan sepenuhnya. Yang namanya tukang parkir ya memang sering dititipin barang sama orang yang tak dikenal,” sahut Erizal.
Huft! Marlon menghempaskan nafas lebih keras. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, wajahnya terlihat sangat marah. Tanpa sadar dia menendang kaleng susu yang ada di depannya. Kaleng itu melayang lalu jatuh dengan keras di atas aspal.
“Klontang!”
Suara kaleng terbentur aspal lalu menggelinding diatasnya menarik perhatian orang-orang yang ada disitu. Beberapa penjaga langsung mengacungkan senjatanya, Wajh-wajah mereka terlihat waspada. Melin dan Erizal bahkan sampai tersentak saking terlejutnya.
“Apa itu!” bentak salah satu polisi.
Melin langsung bangkit berdiri. Kedua telapak tangannya dikatupkan di depan dada.
“Maaf pak! Hanya suara kaleng yang ketendang tanpa sengaja,” ujar Melin.
__ADS_1
Polisi-polisi itu menyarungkan senjatanya kembali. Melin langsung membalikkan tubuhnya. Matanya tajam memandang Marlon.
“Apa yang kau lakukan Marlon? Kau ingin membunuh kita semua?” ucapnya dengan suara bergetar.
Marlon terdiam. Erizal ikut bangkit lalu merangkul sahabatnya.
“Apa yang sedang kau pikirkan saudaraku? Kenapa kau mendadak begitu marah?”
Marlon masih terdiam. Tiba-tiba ada dari arah barat ada mobil yang melaju tenang, lalu berbelok ke tempat parkir. Sinar yang berasal dari lampu mobilnya membuat tempat itu menjadi benderang untuk beberapa saat. Melin dan kedua sahabatnya menggunakan tangan kanannya untuk melindungi pandangannya yang menjadi silau. Lalu mobil itu berhenti tepat di depan mereka. Begitu mesin mobil dimatikan, suasana kembali gelap dan sepi.
Kreek! Bret!
Pintu mobil dibuka, lalu di tutup kembali. Seorang laki-laki muda turun dari mobil, lalu menghampiri mereka.
“Melin,” ucap laki-laki itu.
“Pak Wildan,” sahut Melin.
Mereka bertiga langsung menyalami laki-laki itu dan mencium punggung tangannya.
“Sudah lama menunggu ya?” tanya AKP Wildan Prakoso, komandan Satuan Narkotika Polres kota.
Melin hanya menganggukkan kepalanya.
“Ballan masih di dalam?” tanya pak Wildan lagi.
“Maaf pak, apa yang terjadi dengan Ballan?” tanya Melin penasaran.
Pak Wildan tersenyum.
“Hanya proses pemeriksaan biasa, sesuai prosesdur penyidikan. Sebentar lagi juga dia akan keluar.”
Mendengar kata-kata pak Wildan, hati Melin menjadi lega. Dan benar saja, beberapa saat kemudian mereka melihat Ballan berjalan keluar tempat parkir diikuti beberapa orang polisi. Mungkin mereka adalah penyidik kepolisian yang dimaksud pak Wildan tadi, kata Melin dalam hati. Ballan terlihat baik-baik saja, meski sekilas wajahnya terlihat pucat.
“Ballan” teriak Melin.
Ballan melihat Melin, Marlon dan Erizal masih ada di tempat itu menjadi ikut lega. Sementara ketiga polisi itu langsung menghampiri pak Wildan.
“Selamat malam Ndan!” sapa Aipda Erwin sambil memberikan salam hormat.
“Selamat malam. Apa semua baik-baik saja?” tanya pak Wildan.
“Siap! Ada beberapa informasi penting yang kita dapatkan malam ini ndan.”
“Bagus!”
__ADS_1
Kemudian pak Wildan memanggil Melin dan teman-temannya.
“Sebaiknya kalian pulang saja. Kalau ada informasi yang penting, tolong kalian beritahu kami,” ujar pak Wildan. “Terimaksih Melin, dan kalian semua.”
“Sama-sama pak,” sahut geng Misman bersamaan.
Satu persatu mereka menyalami pak Wildan, sebelum kemudian pergi meninggalkan tempat parkir, kembali ke markas. Pak Wildan dan Erwin memperhatikan kepergian mereka sampai hilang dari pandangan.
“Baru kali ini aku menjumpai ketua geng jalanan adalah perempuan,” gumam pak Wildan.
“Betul Ndan. Sejak Misman pergi, tingkat kejahatan di wilayah kita menurun drastis. Rupanya kehadiran Melin membuat mereka menjadi orang-orang yang lebih baik,” sahut Erwin.
Pak Wildan tersenyum. Lalu berjalan masuk ke area parkir diikuti ketiga orang anak buahnya.
***
Sesampainya di markas Misman, mereka berkumpul kembali. Rupanya persoalan itu mampu mengusir rasa kantuk yang mencoba menyerang mereka. Dengan tenang Ballan menceriterakan tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Aipda Erwin. Dari kronologis kejadian, sampai perihal orang-orang yang sekarang memegang pimpinan geng Misman. Melin dan kedua sahabatnya hanya terdiam mendengar cerita Ballan. Mereka juga tidak menangkap maksud pertanyaan-pertanyaan penyidik itu.
“Anehnya terakhir dia menanyakan kepadaku, diantara Banardi, Upe dan Andreas siapa yang paling rajin dan aku percaya. Dan siapa yang paling malas dan paling tidak aku percayai,” kata Ballan.
“Kau jawab apa?” tanya Marlon masih dengan nada yang ketus.
“Aku bilang saja yang paling rajin dan paling aku percaya Banardi, yang paling malas Upe dan yang paling tidak bisa dipercaya adalah Andreas,” jawab Ballan.
Mereka terdiam kembali. Mencoba mengungkap misteri dari pertanyaan penyidik itu.
“Bagaimana menurutmu Marlon?” tanya Melin.
“Mudah ditebak. Polisi pasti sekarang sedang mencari Andreas, karena berdasarkan jawaban Ballan, dia adalah orang yang paling pantas di curigai,” sahut Marlon.
Melin mengalihkan pandangannya kepada Erizal.
“Pandangan Marlon cukup masuk akal. Kalau hanya menangkap mentah-mentah kata-kata Ballan, Andreas adalah terduga utama yang menyembunyikan barang misterius itu. Apalagi aku tadi tidak melihat Andreas menghadiri pertemuan kita,” sahut Erizal.
Melin mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi keningnya nampak mengerut, tanda dia sedang bertanya-tanya dalam hatinya.
“Apa maksud kata-katamu Erizal. Apa kau mempunyai dugaan lain? Siapa?”
“Menurutku, selain Andreas, Banardi juga pantas dicurigai.”
__ADS_1
Mendengar kata-kata Erizal, semuanya langsung tersentak kaget. Banardi pelakunya? Bagaimana bisa? Marlon memandang wajah sahabatnya dalam-dalam. Entah apa yang ada dalam pikiran Erizal, dia tidak bisa menebaknya. Seperti juga dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Melin saat ini.