
EPS 27 PENYEBERANGAN
Waktu berlalu mengantar senja. Dalam temaram warna cahaya jingga para pujangga. Melagukan bait-bait kidung kidung pujian kesempurnaan para dewa. Maafkan aku atas segala kabut jiwa. Hingga kau terluka dalam tiupan takdir sangkakala. Meski kau tahu pengorbanan yang telah aku lakukan. Karena cinta bukan sekedar kata-kata indah, namun butuh ruang dan waktu. Cinta bisa datang tapi kemudian menghilang tanpa kita duga.
Melin berjalan bergegas menyusuri jalan setapak menuruni sebuah bukit. Semakin ke bawah alam semakin terbuka. Tidak ada lagi pohon-pohon berbatang besar yang menjulang tinggi. Sinar matahari mulai terasa panas membakar tubuhnya. Setelah tertidur dan makan serta minuman pemberian suami isteri penyadap getah piniu tadi, tubuhnya terasa segar kembali. Tenaganya sedikit pulih, dan dia mulai merasakan kegembiraan.
Ternyata ujung jalan itu adalah sebuah sungai yang cukup tenang dan dalam. Melin tidak peduli dia sekarang berada. Selama masih ada manusia yang terlihat, maka dia akan merasa aman. Beberapa orang terlihat berdiri di atas balok-balok kayu yang di tata berjajar, seperti sebuah dermaga kecil. Mereka menunggu perahu penyeberang yang masih ada di tepian sungai yang satunya lagi.
__ADS_1
Sungai itu bukanlah sungai yang besar, namun butuh keberanian tinggi untuk menyeberanginya tanpa peralatan apapun. Dan satu-satunya alat penyeberangan yang ada adalah sebuah perahu kecil yang terbuat dari kayu. Perahu itu dihubungkan dengan tali yang cukup besar dan terbentang dari satu tepian ke tepian lainnya. Dengan memegang tali itu, si tukang perahu tinggal mengarahkan laju perahunya untuk menyeberang.
Perahu itu menampung sekitar tujuh orang saja. Begitu sampai ditepian, mereka langsung turun di dermaga kecil dan memberikan uang dua ribu rupiah kepada si tukang perahu. Setelah semua penumpang turun, para penumpang lainnya segera naik dengan tujuan sebaliknya. Melin menunggu semua orang naik sebelum dia melangkah masuk ke dalam perahu. Si tukang perahu memeganti tangannya yang gemetar ketika melangkahkan kakinya.
“Jangan melompat. Nanti perahunya terdorong dan kau akan jatuh ke sungai.”
“Baru pertama kali naik perahu ya dik?” tanya seorang pemuda saat gadis duduk di papan yang dipasang melintang difungsikan sebagai tempat duduk.
__ADS_1
“Iya,” jawabnya.
“Kau bukan orang sini?” tanya si pemuda itu lagi.
Lagi-lagi Melin menganggukkan kepalanya. Terlihat si pemuda berusaha lebih akrab dengan Melin. Dia terus bertanya banyak hal, tapi Melin hanya diam saja. Sesekali saja dia mengangguk atau menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia tidak terlalu suka di tanya orang-orang. Karena pertanyaan-pertanyaan mereka membuatnya bingung untuk menjawabnya, karena cederung sangat pribadi.
“Kau tinggal dimana?” tanya pemuda itu lagi.
Tapi Melin memejamkan matanya dan pura-pura tidur. Untunglah perjalanan menyeberang sungai itu tidak butuh waktu lama. Begitu perahu sampai di dermaga berikutnya, gadis itu bergegas turun dan buru-buru pergi. Sesuai petunjuk bapak penyadap getah Pinus, dia harus terus berjalan melewati perkampungan dan menemukan jalan besar. Dari situ dia tinggal menaiki angkot jurusan terminal atau stasiun kereta.
__ADS_1
Begitu naik dari sungai, Melin melihat hamparan sawah yang terbentang luas dengan warna-warna yang menghidupkan hati. Ada hijau muda, hijau tua, kuning padi yang siap dipanen. Ada juga warna cokelat tanah dan hitam dari sisa pembakaran jerami. Gadis itu berdiri sejenak, ingatannya melayang ke kampung halamannya. Ah, sedang apa papa, mama dan adik-adiknya saat ini?