SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 25 JALAN SETAPAK


__ADS_3

EPS 25 JALAN SETAPAK


Menggenggam hatimu dalam sekuntum rindu. Karena desah nafas yang pernah ku dengar, begitu indah mengalun di ruang hatiku. Menikmatimu dalam pandang degup kekaguman, dari jarak yang tak kau ketahui. Memberi jeda pada hatimu yang belum bisa menghilangkan luka. Hilangkan segala mimpimu, lalu lihatlah aku. Jangan pernah berharap pada apa yang kau inginkan. Karena Tuhan lebih tahu apa yang kau butuhkan.



“Ah!”



Melin menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Hampir saja dia berteriak karena kegirangan. Dari puncak sebuah pohon besar, dia dapat melihat daru kejauhan, cahaya kecil-kecil yang berderet dan tersebar di sepanjang lembah. Seperti bintang-bintang yang terhampar di langit yang hitam. Dan cahaya itu berasal dari lampu-lampu rumah dan bangunan yang tersebar di sebuah kota.



“Akhirnya,” batinnya sambil tersenyum lega.



Untuk beberapa lama dia duduk terpaku, mengamati hamparan cahaya itu. Menikmati kegembiraan hatinya yang sedikit berubah. Bagaimanapun ada perasaan lega yang merayapi hatinya, walaupun bukan berarti permasalahannya sudah terpecahkan. Tapi dia merasakan ada harapan baru untuk menyelamatkan diri. Paling tidak dia bisa mendapatkan pertolongan dari orang-orang yang tinggal di sana.



Pikirannya mulai menerawang kembali. Memikirkan langkah-langkah yang harus dia ambil. Dengan seksama dia memperhatikan arah kota itu. Dari pohon tempat dia berdiri, kota itu ada disebelah kanannya. Berarti dia besok harus berjalan ke arah kanan dari posisi dia sekarang. Walaupun cahaya-cahaya itu jelas terlihat, tapi dia sadar semua itu berasal dari tempat yang cukup jauh di luar hutan.



“Aku harus berjalan perlahan sekarang juga. Mumpung cahaya-cahaya itu belum hilang,” batinnya.



Melin bergegas turun ke bawah. Setelah itu dia memeriksa barang-barang yang masih bisa di pakai di dalam tasnya. Semuanya basah, dan tidak mungkin lagi dipakai. Gadis itu membuang senter dan kain selimut yang basah. Untung kue kering yang dia bawa masih terbungkus rapat. Bisa dimakan sebelum pergi. Lalu dengan korek gasnya dia mulai berjalan ke arah kanan dari pohon itu.



Setiap limapuluh langkah dia berhenti, lalu naik ke atas pohon. Memandang ke arah hamparan cahaya tadi. Untuk memastikan dia tak salah arah. Setelah itu turun dan berjalan lagi. Gadis itu terus melakukannya berulang-ulang. Walaupun cukup menguras tenaganya, tapi dia tetap melakukannya. Bagaimanapun dia harus sampai ke kota yang dia tuju saat ini.



“Allohuakbar Allohuakbar!”

__ADS_1



Tiba-tiba terdengar suara adzan berkumandang. Walaupun bukan orang muslim, tapi Melin tahu, suara indah itu adalah panggilan untuk kaum muslim menunaikan sholat shubuh. Itu artinya hari sudah pagi, dan sebentar lagi cahaya matahari akan datang menyinari bumi. Melin sekali lagi naik ke atas pohon. Dia melihat lampu-lampu masih menyala, walaupun sudah ada beberapa yang dimatikan.



Dan dia terus berjalan sampai dia menemukan jalan setapak di pinggir hutan. Wajahnya langsung berubah terlihat semringah.


“Kalau ada jalan setapak, berarti aku sudah dekat dengan perkampungan. Sebaiknya aku mencari tempat istirahat sambil menunggu orang lewat,” batinnya.



Lalu dia berjalan menyusuri jalan setapak itu menuruni bukit. Lalu dia menemukan tugu dari batu di ujung jalan itu. Di bawah tugu ada gelondongan kayu yang cukup besar, mungkin biasa digunakan orang-orang untuk duduk atau beristirahat. Melin tersenyum sendiri. Direbahannya tubuhnya di atas batang kayu itu. Heh, rasanya enak sekali, setelah semalaman tidur dalam keadaan duduk. Tak berapa lama suara dengkurnya terdengar lembut.



Hrr…


***


“Neng! Bangun neng!”




“Neng! Bangun neng! Sudah siang, pamali,” kata laki-laki itu lagi.


Perlahan kedua mata gadis itu terbuka. Wajahnya terlihat bingung. Yang pertama dia lihat tentu saja wajah bapak itu yang tersenyum ramah. Lalu pandangannya berputar, kearah pepohonan dan garis-garis cahaya yang melewati celah-celah dedaunan. Tubuhnya terasa lemah dan lapar. Dia mulai mengumpulkan kesadarannya.


“Neng! Ayo bangun, sudah siang. Lihat matahari sudah tinggi.”


Melin menggerakkan tubuhnya. Perlahan dia bangkit dan duduk. Dipandanginya bapak tua itu dalam-dalam.


“Maaf pak, boleh aku minta minum?” katanya.


“Apa? Minum?” sahut bapak itu. “Ehm, aku tidak membawanya. Tapi sebentar lagi istriku datang membawakan makanan dan minuman. Kau sabar ya?”


Melin menganggukkan kepalanya. Melihat pakaiannya, mungkin bapak ini adalah petani atau orang yang biasa mencari kayu bakar di hutan.

__ADS_1


“Ehm, bapak sedang mencari kayu bakar?”


Lelaki itu menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Aku seorang penyadap getah pohon pinus,” katanya kemudian.


Melin mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu terdiam. Pandangannya berputar menatap pepohonan di sekitarnya. Berbeda dengan hutan yang dia lewati tadi malam yang banyak terdapat pohon-pohon kayu keras yang besar-besar dan tinggi, pohon disekitarnya didominasi pohon pinus. Ada guratan pada kulit pepohonan itu, juga mangkuk-mangkuk kecil untuk menampung getah yang mengalir dari guratan-guratan itu.


“Kenapa kamu tidur di sini? Kamu pergi tanpa sepengetahuan orang tuamu?” tanya lelaki itu setelah beberapa saat.


Melin menggelengkan kepalanya, membantah kata-kata laki-laki tua itu. Tapi dia juga bingung menjelaskan keberadaannya di tempat itu. Apa dia harus jujur menceriterakan semuanya kepada laki-laki yang baru dikenalnya itu? Bagaimana kalau kemudian dia mengajaknya ke kantor polisi untuk melaporkan para penjahat yang telah menyekapnya? Tidak, tidak, tidak. Dia tidak boleh berurusan dengan polisi saat ini.


“Sebenarnya aku mau pergi ke kota pak, tapi aku tersesat.”


Lelaki tua itu mengernyitkan keningnya.


“Tersesat di hutan ini? Memangnya rumahmu di mana?”


“Hah?” ditanya begitu, Melin malah kebingungan. “Rumahku? Oh, ehmm..rumahku ada di dalam hutan ini.”


“Rumahmu ada di dalam hutan? Benarkah?” ujar lelaki tua itu seperti tak percaya.


Melin berpikir cepat. Dia harus mengalihkan pembicaraan agar lelaki tua ini tidak mencurigainya. Tiba dia melihat kaos lengan pendek yang di pakae lelaki itu. Ada gambar emotikon cinta dan tulisan Bandung di dada laki-laki itu. Hm, rasanya dia masih bisa tertolong.


“Pak, tahu letaknya kota Bandung?”


Lelaki itu menganggukkan kepalanya.


“Tentu saja aku tahu. Kau hendak pergi ke sana?”


Melin mengangguk cepat.


“Kau tinggal pergi ke kota. Lalu naik bis atau kereta api ke Bandung.”


“Memang jauh dari sini?”


“Ya. Cukup jauh neng, setengah hari perjalanan.”


Melin terdiam. Dalam hatinya dia tersenyum. Ah dia berhasil mengalihkan pembicaraan laki-laki itu sehingga tidak lagi curiga kepadanya.

__ADS_1


“Pergilah kau ke ujung jalan ini. Kau akan sampai ke sebuah sungai. Naiklah rakit atau perahu untuk menyeberang. Setelah itu kau bisa langsung ke kota naik ojek atau angkutan umum ke terminal atau stasium kereta api.”


__ADS_2