
EPS 34 EFEK LUAR BIASA
Jangan tanyakan mengapa aku begitu marah pada diriku sendiri. Tak bisa jelaskan semua dengan kata-kata. Karena hatiku terlanjur lara, menyesali sesuatu yang sudah aku lewati. Dan aku tak bisa kembali. Aku mencintaimu tanpa alasan, dan aku terpaksa meninggalkanmu karena suatu alasan. Karena hati memang kadang sulit untuk di mengerti.
Misman yang baru datang bermaksud untuk menyambangi kakaknya Darsim di markasnya, sebuah bangunan kosong tak berpenghuni. Namun belum juga di mengucapkan salam, dia sudah berjumpa dengan kakaknya di depan rumah. Darsim terlihat tergesa-gesa. Setela berbasa-basi sejenak, kemudian dia meyuruh adiknya untuk masuk ke dalam.
“Kulanuwun Kang,” sapa Misman.
Darsim sedikit terkejut melihat bayangan tubuh tinggi besar muncul dari kegelapan. Tapi dia langsung mengenali suaranya.
“Monggo. Eh, Misman? Kau kah itu?”
“Iya kang, ini aku, Misman adikmu.”
Darsim tersenyum lalu dipeluknya tubuh adiknya itu. Kalau dia adalah preman penguasa wilayah stasiun kota, maka adiknya adalah preman yang menguasai wilayah bandara. Sebenarnya mereka adalah tiga bersaudara. Adik bungsu mereka adalah kapten Sarjono, perwira polisi yang berdinas di Polda Daerah Istimewa Yogyakarta. Ibu mereka adalah mbok Sumi, preman perempuan yang menguasai wilayah terminal kota.
__ADS_1
“Kelihatannya kau hendak pergi?” tanya Misman.
“Iya. Aku baru saja merampok seorang anak perempuan. Wajahnya sih mirip orang kaya, tapi ternyata dia tidak punya uang sama sekali.”
“Maksudmu, dompetnya kosong?”
Darsim menganggukkan kepalanya. Lalu dia mengambil beberapa dompet hasil pekerjaannya hari ini. Salah satunya diserahkan kepada adiknya.
“Ini dompetnya. Periksalah sendiri!”
“Hm, pasti kang Darsim hendak menjualnya kepada Tante Ernie pengepul gadis-gadis cantik hasil penculikan, perampokan ataupun gadis yang melarikan diri dari rumah dan memilih hidup di jalanan, batinnya. Gadis-gadis itu kemudian di suruh foto telanjang satu persatu. Dicetak menjadi sebuah album. Setelah itu dia akan menawarkan mereka kepada laki-laki hidung belang yang suka berpetualang di malam hari untuk melampiaskan hasratnya.
__ADS_1
Setelah kepergian kakaknya, Misman segera masuk ke dalam. Namun baru saja dia melangkahkan kakinya di dalam rumah itu, dia disajikan pemandangan yang tak di duga. Dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat Narno, anak buah kakaknya. sedang membelai-belai wajah gadis korbannya yang terkulai di atas lantai. Seketuka darah premannya langsung naik ke ujung kepalanya.
“Berani kau menyentuh tubuhnya, akan aku cincang kau menjadi berkedel!”
Narno terloncat kaget. Kepalanya langsug menengok ke belakang. Tampak seorang laki-laki berperawakan tinggi besar, membawa pedang katana miliknya. Pedang itu perlahan terlihat penuh dengan cahaya kematian. Siap menebas siapapun yang dikendaki pemiliknya.
“Kang Misman? Kau…kau…ada disini?”
Misman tidak mempedulikan kata-kata Narno. Dia berjalan tegak menghampiri tubuh Melin. Setelah itu menengok ke arah Narno yang terlihat merinding ketakutan.
“Pengkhianat! Kau memang pantas mati!”
Misman segera mencabut pedang katana yang melingkar dipinggangnya. Pedang yang terbuat dari baja murni, berbentuk tipis memanjang dan sangat lentur, sehingga bisa ditekuk melingkari pinggangnya seperti sabuk. Pedangnya langsung dicabut dan siap menebas.
Tubuh Misnan kokoh berdiri bagai gunungan karang di tengah ombak. wajahnya gelap dan dingin serta penuh amarah. Dia siap bertarung satu lawan satu dalam pertarungan hidup dan mati.
"Maju dan hadapi aku!"
__ADS_1
“Ampun kang. Aku hanya khilaf saja.”
Tubuh Narno langsung menggigil, nyalinya menciut. Sebagai orang yang hidup di jalanan, dia tahu benar siapa Misman. Apabila preman penguasa bandara itu sudah mencabut pedangnya, berarti malaikat maut menyertainya. Dan dia tidak pernah gagal mengeksekusi musuh-musihnya. Sekali tebas akan menimbulkan efek yag luar biasa bagi mereka.