
EPS 12 KEPERGIAN MARLIN
Kubidik hatimu dengan panah dewa Amor, ujungnya yang tajam akan menembus dadamu. Menebarkan puisi cinta lewat degup jantungmu, mengisi urat-urat dan denyut nadimu, merasuk ke dalam pembuluh darah. Meresap dan memenuhi setiap sisi ruang hatimu. Hingga kau terkapar dan tak berdaya, dalam pelukan seorang Arjuna, ….. sepertiku.
Siang itu udara sangat panas dan lembab. Matahari seperti membakar tanpa ampun. Langit begitu cerah, tak berawan, seperti kain putih yang yang dicelup cairan pewarna biru. Binatang-binatang di hutan enggan keluar dari sarangnya. Mereka merasa lebih nyaman tiduran di dalam tanah, atau bersembunyi di balik lebatnya dedaunan hutan. Hanya kupu-kupu yang masih lincah menari hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya.
Setelah mendapat izin dari papa dan mamanya, Marlin tampak bersemangat sekali. Sejak semalam dia sudah mengemasi segala sesuatu yang akan di bawanya. Barang-barang pribadinya sudah di masukkan ke dalam tas rangselnya. Kemarin Marama sudah mengingatkan untuk tidak membawa barang-barang terlalu banyak. Sebab hanya akan menyulitkan nanti di perjalanan yang menempuh darat, air dan udara.
“Semua kebutuhanmu sudah di persiapkan di mess olahraga. Kalau nanti ada yang kurang, nanti aku belikan saja di Wamena,” ujar Marama.
Marlin hanya mengangguk-angguk menerima instruksi dari pelatihnya. Lalu Marama memberikan kertas berisi catatan barang apa saja yang bisa dibawa.
“Tidak usah bawa ubi, daging babi, sayuran, buah, busur, panah, kapak batu dan lainnya,” sambungnya saat dia melihat Neles Ibo mempersiapkan semuanya. “Kau tidak akan kekurangan makanan di sana.”
“Bolehkah aku membawwa jimatku?” ujar Marlin sambil mempelihatkan kalung dari anyaman kulit pohon ulin yang dikeringkan, dan di tengahnya tergantung gigi kanguru sebagai liontinnya.
Marama memandang sejenak. Lalu tersenyum sambil mengangguk.
“Ya, Marlin. Kau boleh membawanya.”
Marlin tersenyum lega. Kalung ini adalah hadiah dari Nene Yoteni, sebagai pelindung sekaligus pengingat Marlin kepada keluarga.
“Terimakasih, pak Marama.”
Paman Lukas menolong membawa barang-barang Marama dan dokter Hendra. Di luar, beberapa anggota keluarga suku Ibo sudah bersiap untuk membawanya ke perahu yang akan melintasi danau Bira. Itu merupakan jalan pintas menuju landasan helikopter, daripada berjalan memutari danau lewat jalan darat. Disamping memakan waktu, medannya juga sangat sulit untuk ditempuh dengan berjalan kaki.
__ADS_1
Marlin di beri baju. Celana panjang berkolor, kaus, dan jaket bertuliskan ‘PB PERPANI Kabupaten Jayawijaya.’ Terlihat sekali Marlin tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya. Apalagi memakau baju tebal di saat cuaca panas begini. Tapi Marama memaksanya, katanya dia harus mulai mengenal organisasi panahan di Indonesia. Akhirnya Marlin mengalah, dia bersedia memakai kaosnya saja. Marlon hanya tertawa melihatnya.
Tentu saja penampilan Marlin dianggap aneh oleh orang-orang suku Ibo. Apalagi mereka yang selalu bertelanjang kemana-kemana. Pakain kebesaran mereka adalah jalinan kulit kayu yang menutupi bagian bawah perut, hiasan bulu burung Emu yang tersemat di kepala, juga beberapa tulang binatang yang di tusukkan ke jaringan lunak di hidung, bibir dan telinga. Beberapa dari mereka bahkan memegang-megang kaos dan celana yang dipakai Marlin.
“Kau tampak berbeda Marlin,” ujar Marlon.
“Iya. Kau terlihat gagah seperti pak Marama,” sambung Martinus, teman masa kecilnya.
Mereka semua tertawa. Hanya mama Perpetua yang terlihat muram. Air matanya terus saja mengalir. Walaupun bibirnya mengatakan sudah merelakan, tapi hantinya tetap saja bersedih. Bagaimanapun dia masih merasa Marlin terlalu kecil untuk berpisah dengan keluarganya. Disamping usianya belum genap limabelas tahun, sifatnya juga masih kekanak-kanakkan. Berbeda dengan Marlon yang lebih dewasa.
Mereka mengantar kepergian Marlin sampai ke batas hutan. Selanjutnya rombongan mulai berjalan menyusuri jalan setapak menuju anjungan perahu di danau Bira. Marlon juga ikut mengantar saudara kembarnya itu. Beberapa saat kemudian mereka sampai ke anjungan perahu yang terbuat dari beberapa balok kayu yang ditata berjejer-jejer. Dua buah perahu bermesin sudah siap di anjungan dengan mesin menyala.
Paman Lukas dan Marlon serta beberapa pria membantu memasukkan barang-barang ke dalam perahu. Lalu mereka duduk di atas kayu yang di pasang melintang seperti palang. Selain sebagai tempat duduk, palang itu juga berfungsi sebagai pegangan. Satu perahu diisi tujuh orang termasuk pengemudinya. Sedangkan perahu lainnya diisi dengan barang-barang. Pak Marama juga memilih ikut perahu kedua di belakang barang-barang.
Hari begitu cerah dan panas. Angin yang berhembus sejuk mendinginkan kulit. Marlon menyentuk permukaan air danau dengan ujung tangannya. Airnya memercik ke belakang, membasahi wajah dan rambut Marlin serta paman Lukas yang duduk di belakangnya. Semua orang tertawa melihatnya.
__ADS_1
“Hahaha… kau nakal sekali Marlon,” teriak mereka.
Ujung perahu yang mengerucut seperti membelah permukaan danau. Melewati beberapa perkampungan dan anjungan lainnya di tepi danau. Sebelum akhirnya memasuki hutan yang lebat dan begitu panjang. Mereka harus semakin berhati-hati. Disamping permukaan danau semakin menyempit, banyak dahan pohon-pohon besar yang menjorok ke tengah danau. Kadang mereka harus membungkukkan tubuhnya, khawatir tersangkut.
Matahari hampir sepenggalah, waktu mereka akhirnya sampai di tempat yang terbuka. Perahu-perahu itu berhentu di sebuah tanah yang berumput. Mereka langsung mengemasi barang-barangnya dari atas perahu dan berjalan menyusuri jalan setapak. Setelah melewati sebuah bukit kecil, mereka menjumpai sebuah tanah yang cukup datar dan lapang. Itulah tempat landasan dimana helikopter yang menjemput sudah menunggu mereka.
Marlon dan Marlin memandang pesawat terbang kecil dengan tatapan kagum. Seperti terpesona, mereka bahkan tidak bisa berkata-kata. Seumur hidup mereka baru sekali ini melihat kendaraan besi yang berbentuk seperti capung itu. Kepalanya dikelilingi kaca berbentu bulat, dan ekornya panjang miring ke atas. Baling-balingnya yang panjang berputar cepat, menimbulkan badai angin yang berhembus sangat kuat.
Orang-orang mengikat barang-barang dalam bagasi di kedua sisi luar helikopter. Disusul dokter Hendra, Marlin dan pak Marama. Setelah mengecek semuanya, Paman Lukas memberi tanda semua aman dan pesawat boleh tinggal landas. Pesawatpun terbang mengangkasa perlahan, sebelum kemudian melesat melewati danau menuju kota Wamena. Marlon, paman Lukas dan dua orang suku Ibo melambaikan tangannya kepada Marlin.
“Hati-hati Marlin! Jaga dirimu!” teriak Marlon.
Marlin tidak menjawab teriakan kakaknya, mungkin tidak terdengar karena suara gemuruh mesin helikopter. Dia hanya mengacungkan jempol, lalu membalas melambaikan tangannya. Pesawat kecil itu terus terbang menjauh. Marlon terus melihatnya sampai pesawat itu menjadi titik kecil dan menghilang dari pandangan.
“Sudah Marlon. Ayo kita pulang. Pemilik perahu sudah menunggu kita,” ujar paman Lukas sambil menggamit punggung Marlon.
__ADS_1
Marlon menganggukkan kepalanya, lalu berbalik mengikuti pamannya.