
EPS 42 SELAMATKAN AYAH!
Bulan tak pernah bercanda, dia hanya diam menerangi. Tapi itu cukup mengundang keceriaan di muka bumi. Membuat anak-anak bernyanyi dan menari di tengah halaman, penggembala bersenandung di tengah padang, dan para pujangga melantunkan syair pujian di tengah kegalauan. Karena sinar bulan mengungkap banyak hal di kegelapan. Yang lebih penting, menunjukkan wajah cantikmu di payung sinarmu.
“Selamatkan ayah, Marlon,” bisik Melin kepada Marlon.
Ayah adalah sebutan Melin untuk kang Misman. Setelah mengenal segala kebaikan lelaki sangar yang selalu melindunginya, kini dia memanggilnya ayah. Dia merasa berhutang budi dan juga merasakan kasih sayang yang tulus dari yu Kimah dan kang Misman. Mereka memang jarang bercanda dan mengajaknya bicara, tapi sikap mereka membuatnya nyaman, seperti di rumahnya sendiri.
“Tolong selamatkan ayah Marlon,” bisik Melin sekali lagi.
Kali ini kedua tangannya mencengkeram lengan pemuda itu. Ada getaran kecemasan dan kekhawatiran yang dirasakannya. Ah, Melin betul-betul mencemaskan keselamatan ‘ayahnya’.
“Kenapa kau diam?” desak Melin.
“Apa yang harus aku lakukan?” hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Marlon.
__ADS_1
Marlon menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah Melin, gadis non Papua pertama yang dikenalnya selama hidupnya. Menurutnya, Melin sangat cantik, dan dia tak kuasa menolak permintaan majah yang memelas itu.
“Lakukan apa saja, yang penting selamatkan ayah!” ujar Melin dengan nada meninggi.
Marlon terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. Sesaat keduanya terdiam, bermain dengan pikirannya masing-masing. Duduk terpekur di sebuah ruangan kantor polisi yang cukup sunyi. Komandan polisi mengatakan mereka akan dimintai keterangan sebagai saksi. Entah apa yang nanti akan dikatakannya, walaupun dia tahu kang Misman memang seorang perampok.
Tiba-tiba pintu terbuka. Marlon dan Melin langsung menengok. Seorang polisi dan seorang pemuda masuk ke dalam ruangan. Suasana cukup lengang dan tidak ada orang lain. Marlon mengenali polisi itu sebagai komandan yang tadi memimpin penggerebekan di rumah kang Misman. Sementara pemuda yang satunya..hah. itu kan …?
“Hai Marlon!”
“Erizal!”
Marlon langsung bangkit dari duduknya, menghampiri Erizal lalu memeluknya erat-erat.
“Bagaimana keadaanmu? dan dimana kau tinggal?” berondong Erizal.
__ADS_1
Hah? Marlon tergagap. Tiba-tiba dia teringat pesan Melin untuk menyelamatkan kang Misman. Bagaimanapun aku harus pura-pura bahagia biar mereka tidak tahu kalau dia adalah korban penculikan Misman. Dahinya berkerut, mencoba mencari kata-kata yang terbaik, tapi rasanya pikirannya menjadi buntu. Lalu dia bangkit berdiri.
“Sabar dong Zal. Biarkan aku pipis dulu,” ujar Marlon..
Erizal terlihat penasaran. Kenapa Marlon sepertinya santai saja seperti tidak terjadi apa-apa? batinnya.
“Marlon, kau baik-baik saja kan? Aku betul-betul mencemaskanmu.” ujar Erizal.
“I..iya, nanti aku ceritakan semua. Tapi sekarang izinkan aku ke belakang ya?” sahut Marlon.
Erizal hanya menganggukkan kepalanya. Marlon langsung berjalan cepat menuju kamar mandi di sebelah dapur. Setelah masuk ke kamar mandi, dia malah berdiri menyandarkan tubuhnya di pintu yang tertutup. Menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dalam satu alunan yang panjang. Hufffftt….
“Aku harus membuat kebohongan untuk menyelamatkan Misman. Tapi kebohongan apa?” batinnya.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
“Marlon, kenapa kau lama sekali di dalam kamar mandi? Kamu baik-baik saja kan?” terdengar suara Erizal di luar dengan nada cemas.