
EPS 3 TANAMAN OBAT
Siang itu sangat panas. Musim kemarau yang begitu panjang begitu menyiksa. Matahari bersinar dengan teriknya, seperti membakar kulit. Menguji daya tahan para petani yang sedang bekerja keras di ladang di sudut lembah Baliem. Keringat mereka begitu deras mengalir membasahi tubuh mereka yang legam.
Namun mereka nampak tidak perduli. Mereka tetap bekerja dengan giat menanam ubi dan sayur mayur. Dipimpin oleh papa Neles Ibo sebagai kepala sukunya, mereka terus bekerja mengolah tanah warisan para leluhur mereka.. Neles Ibo memeriksa ladang yang akan ditanami ubi. Pandangannya berputar mengitari ladang mereka dengan seksama, Sesekali tanganya bergeraj membersihkan ranting dan rumput liar yang masih tumbuh.
“Kalau tanahnya sudah bersih dari rumput-rumput, segera tanam batang-batang ubi di dalamnya,” kata Neles Ibo.
Kemudian para papa mengambil tugal dari kayu untuk menggali tanah yang akan ditanami ubi. Sedangkan para mama memasukkan batang pohon ubi yang sudah dipotong-potong pendek ke dalam lubang-lubang itu. Satu persatu batang-batang ubi itu dimasukkan ke dalam lubang , dan dengan kaki-kakinya para mama menimbunnya kembali dengan tanah. Diinjaknya dengan keras agar batang pohon ubi itu dapat tegak berdiri dan tidak mudah roboh.
Marlon dan Marlin berjalan menuju ladang di bukit Ersberg sambil membawa beberapa ikat ubi bakar dan sayur buah merah yang baru matang. Mereka juga membawa potongan daging bakar yang ditusuk dengan sebilah kayu. Dibawah sebuah pohon yang cukup besar dan rimbun mereka menata makanan untuk para papa dan mama yang bekerja diladang.
“Para papa dan mama pasti sudah sangat lapar,” ujar Marlin.
Setelah selesai menata makanan mereka beristirahat tiduran di bawah pohon itu.
“Eh Marlon, lihatlah pohon ini sudah berbuah,” kata Marlin sambil melihat ke atas.
“Wah, benar. Banyak sekali buahnya,” sahut Marlon dengan pandangan berbinar.
Marlon dan Marlin memandangi buah yang tergantung di ranting-ranting pohon itu dengan seksama. Sepintas dilihat, bentuk buahnya mirip jambu air hijau, bawahnya bulat dengan ujung yang mengerucut. Sepertinya manis dan segar. Pasti enak kalau di makan di waktu siang panas begini, batinnya.
“Kita ambil yuk?” ujar Marlin.
“Biar aku yang naik. Kau pergilah ke ladang. Tugasmu memanggil para papa dan para mama untuk makan siang. Sudah disiapkan semua,” sahut Marlon.
Lalu dengan sigap Marlon memanjat pohon besar itu. Kaki dan tangannya yang kurus nampak lekat memeluk batang pohon itu. Lalu bergerak lincah dari dahan ke dahan sampai dia mendapatkan dahan yang banyak buahnya. Diambilnya setangkai buah asing itu dan dijatuhkannya ke tanah yang kering. Lalu dia mengambil satu tangkai lainnya yang menurutnya sudah cukup matang.
__ADS_1
Brug! Brug!
Sementara itu Marlin memanggil para papa dan mama untuk beristirahat dan makan siang.
“Makanan dan minuman sudah siap papa,” kata Marlin kepada ayahnya.
“Ya. Terimakasih nak,” sahut Neles Ibo.
Di usapnya dahi putera bugsunya itu. Setelah itu dia mengajak semua orang untuk beristirahat sambil menikmati makan siang.
“Ayo! Semua makan dulu!”
Mereka pun berkumpul di bawah pohon besar itu untuk menikmati ubi dan daging bakar serta sayur buah merah yang lezat. Masakan Pepertua memang terkenal kelezatannya. Semua orang di suku Dani mengenal Pepertua karena masakannya.
“Eh Marlin, dimana saudaramu Marlon?” tanya Neles Ibo.
“Aku di atas pohon ayah!”
Semua orang pun mendongak ke atas. Mereka melihat si Marlon sedang bergelayutan diantara dahan-dahan pohon. Ditangannya dia memegang dua tangkai buah yang baru pernah dilihatnya. Sambil duduk di sebuah dahan besar, Marlon membelah salah satu buah itu. Di bagian luar kulitnya memiliki serabut, sementara di dalam ada tempurung kecil, seperti biji, berlendir, dan berwarna putih. Ukurannya sebesar genggaman tangan orang dewasa.
ko
“Untuk apa kau petik buah itu Marlon?” tanya ayah.
“Kelihatannya segar dan enak untuk dimakan ayah,” jawab Marlon.
Neles Ibo dan orang-orang lainnya tersenyum. Lalu dia menyuruh puteranya untuk turun. Dengan tiga loncatan, tubuh kurus dan hitam itu mendarat dengan entengnya di depan kepala suku mereka Neles Ibo. Lalu Neles Ibo mengambi buah yang sudah dikupas dari tangan Marlon.
__ADS_1
“Buah ini namanya Rabon Pi. Tidak bisa dimakan, lebih bagus untuk obat mata, khususnya yang terkena rabun jauh atau pun rabun dekat,” kata ayah Neles.
“Jadi buah ini tidak bisa dimakan papa?”
“Tidak, Karena buah ini beracun. Saat muda kulit buahnya berwarna muda, tapi kalau sudah tua kulitnya akan berubah menjadi kecokelatan dan mengering,” kata ayah. “Kau simpan saja buah itu siapa tahu ada yang membutuhkan.”
Marlon menganggukkan kepalanya. Ternyata di bumi Papua banyak sekali tanaman langka yang mengandung obat. Hatinya jadi tertarik untuk bertanya tentang tanaman-tanaman obat yang tumbuh di tanah kelahirannya itu. Dan dia yakin khasiat obat-oabatan alami itu tidak kalah dengan obat-obat yang mengandung bahan makanan.
***
Sore harinya mereka pulang dari ladang dengan membawa sayuran hasil panen untuk makan malam. Beberapa orang papa pergi ke hutan untuk berburu sedangkan sebagian mama pergi sungai untuk mencari kepiting, ikan ataupun udang. Di Papua makanan mudah didapat. Kepiting yang di kota harganya mahal, di Papua tinggal mengambil di sungai atau telaga di pedalaman. Ikan dan udangnya juga besar-besar. Begitulah kekayaan alam Papua.
Pepertua menyambut kepulangan keluarganya dan mengajak para mama untuk memasak di dapur Ebai. Para papa menuju honai untuk beristirahat dan menyiapkan senjata untuk berburu besok. Pepertua melihat Marlon dan Marlin membawa beberapa ikat buah Rabon Pi.
“Eh, untuk apa kalian bawa-bawa buah Rabon Pi?”
“Untuk disimpan, kata papa siapa tahu ada yang membutuhkan,” jawab Marlin.
“Kalau begitu kasihkan kepada Nene Yoteni, dia kan sudah tua dan penglihatannya sudah berkurang,” ujar Pepertua.
“Bagaimana caranya mama?” tanya Marlon penuh semangat.
“Peras airnya lalu teteskan ke dalam mata Nenemu. Lakukan pagi dan sore sebelum tidur. Biar rabunnya sembuh,” sahut Pepertua.
Rabon Pi adalah buah asli yang hanya ada di daratan Papua. Buahnya terdiri dari kulit yang berserabut dengan benang sari berwarna merah muda. Senyawa aktif yang terkandung di dalam biji buah ini dapat digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit mata. Karena itulah banyak orang menyebut Rabon Pi sebagai buah sakti dari Papua.
Buah dan biji Rabon Pi memiliki kandungan asam galat dan asam hidrosianat. Senyawa aktif dalam biji buah ini yang diperkirakan kuat memiliki dampak penyembuhan dalam pengobatan berbagai penyakit mata yakni dari kelompok saponin.
__ADS_1
Marlon dan Marlin segera berlari menemui Nene yang sedang duduk di samping Ebei. Mereka meminta Nene untuk tiduran di atas anyaman daun buah merah. Lalu Marlon meneteskan saripati buah Rabon Pi di atas mata Nene. Setiap mata dua kali tetesan. Nene Yoteni mengerjap-ngerjapkan matanya. Mungkin karena terasa perih. Namun mulutnya tersenyum karena kedua cucunya sangat memperhatikan dan menyayanginya.