
EPS 45 RATU GENG!
Saat kau lelah mengejarnya, berhentilah sejenak. Ambil nafasmu dan nikmati apa yang kau punya sekarang. Please, bulan berhentilah mengejarnya dan jadikan aku mataharimu.
Berdasarkan berbagai informasi yang di dapatkan, akhirnya aparat kepolisian menangkap Kimah, pemilik warung makan ‘Yu Kimah’. Dia diduga ikut terlibat dalam tindak perampokan dan kekerasan yang dilakukan oleh kang Misman, si pelaku utama. Perempuan bertubuh gempal itu ditahan di tahanan khusus wanita Polresta. Kang Misman sendiri sampai hari ini masih menghilang, entah kemana.
Mendengar berita penahanan itu, Marlon dan Melin langsung menemuinya. Erizal juga ikut menemani. Ternyata sudah banyak orang yang mengantri untuk bertemu dengan Kimah. Tetu saja sebagian besar dari mereka adalah anak buah kang Misman dan orang-orang yang pernah merasakan buah kebaikannya. Rata-rata dari mereka tetap mendukung Kimah dan menyerahkan segala keputusan kepadanya.
“Siapa dia?” tanya Kimah, matanya menatap tajam ke arah Erizal yang tak dikenalnya.
“Oh, ini temanku Erizal, dari Padang Sumatera Barat. Aku pernah menceriterakannya kepadamu,” sahut Marlon.
Kimah mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia ingat Marlon pernah menceriterakan kisah perjalanannya di pesawat saat berkenalan dan bersahabat dengan Erizal. Tapi tetap saja dia meminta Erizal untuk menjauh karena ada beberapa hal penting yang akan dia bicarakan dengan Marlon dan Melin. Dan itu bersifat rahasia.
__ADS_1
“Mohon maaf, tapi kau harus pergi menjauh karena aku ingin membahas urusan keluarga dengan anak-anakku,” ujarnya beralasan.
Erizal mengangguk tanda mengerti. Lalu di berjalan menuju ruang tunggu di depan. Membiarkan sahabatnya berbicara dengan serius dengan perempuan asing yang dianggapnya sebagai ibu angkat. Namun dari kejauhan pandangannya tak pernah lepas mengawasi Marlon. Rupanya dia khawatir dengan keselamatannya.
“Aku ingin kalian mengurusi pekerjaan dan tugas-tugas yang ditinggalkan kang Misman. Banyak anak-anak yang mencari hidup dan penghasilan dari pekerjaan mereka di sekitar Bandara. Sekarang mereka sedang resah dengan menghilangnya kang Misman. Mereka merasa tidak ada lagi yang akan menjadi pelindung mereka.”
“Apa maksudmu ibu?” tanya Melin.
Kimah terdiam sejenah, mencoba mencari kata yang tepat.
“Emh, jadi begini. Aku sudah berbicara dengan anak-anak buah kang Misman tentang siapa yang akan menjadi pemimpin mereka. Setelah kang Misman pergi, Aku ditahan, maka harus ada orang baru yang mampu menyatukan dan mengendalikan mereka dari rumah kita yang mereka anggap sebagai markas kelompok kang Misman.” ujar Kimah lagi.
__ADS_1
Kimah menghentikan kata-katanya kembali. Lalu menarik nafas panjang.
“Lalu aku beralasan, siapapun yang menggantikan kang Misman, harus tinggal di rumah itu dan memiliki banyak waktu utuk mengatasi berbagai macam permasalahan. Karena itulah, aku menunjuk Melin untuk menjadi ketua kelompok Misman untuk sementara.”
Gadis cantik bermata sipit tampak terperangah. Menjadi ketua geng Misman? Tidak, tidak, tidak, batinnya sambil menggelengkan kepalanya.
“Tidak ibu, aku tidak akan melakukannya sendirian.”
“Aturan di geng Misman, tidak boleh menolak perintah pimpinan tertinggi. Lagipula aku sudah lama menilaimu. Hanya kau sekarang yang mampu menjalankan tanggung-jawab kang Misman. Dan penujukkanmu sebagai ratu di kelompok kita sudah disetujui oleh teman-teman lainnya.”
Melin tertegun. Kalau bukan karena rasa hutang budinya dengan Kimah, pasti dia akan menolaknya.
“Kau tidak sendirian Melin, tapi dibantu oleh Marlon.”
__ADS_1
Melin langsung menengok ke arah Marlon, yang juga nampak terkejut mendengarnya.
“Kalian berdua akan bahu membahu menjalankan bisnis ini!”