
EPS 38 PENULIS PERJALANAN
Penulis perjalanan berkelana ke tempat-tempat yang belum terjamah. Melukis nuansa lewat tulisan. Yang dapat dinikmati oleh mereka yang selalu berpikir. Lewat kebeningan hati dan ketajaman nalar, kau larutkan seluruh daya untuk melahirkan karya terbaik. Dan itu akan membuatmu abadi sepanjang masa.
Malam sudah larut. Bulan purnama bersinar begitu terang dalam bentuknya yang bulat sempurna. Setelah sholat Isya, Erizal duduk termangu memandang bulan. Hatinya merasa begitu rindu kepada ibunya. Perjalanan hidupnya yang baru telah dimulai. Dan dia tidak pernah mengira akan menemui kesulitan seperti yang dia alami sekarang.
“Doakan selalu anakmu bundo, hanya doamu yang akan selalu menjagaku,” ucapnya sambil menatap wajah bulan.
Lalu dia mengambil kertas kosong dan ballpoint. Dia teringat kesukaan ibunya yang selalu menulis apapun yang dia alami hari itu. Kata bundo banyak pelajaran yang kita dapat dengan kita menuliskan setiap peristiwa yang kita alami sehari-hari. Paling tidak kita bisa berintropeksi manakala kita berbuat kesalahan dan merunutnya dari mana kesalahan itu berasal.
“Hari ini genap seminggu sudah aku tinggal di tempat ini. Aku bertemu dengan banyak orang yang masih saja menanyakan banyak hal, tapi mereka tidak pernah mempercayaiku. Belum ada kejelasan dari siapapun tentang apa yang harus aku lakukan atau apa yang akan mereka lakukan kepadaku. Ya, Alloh berikan aku jalan yang terang. Aku hanya mengharapkan yang terbaik dalam hidupku,” tulisnya.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam warokhmatullah.”
Erizal menutup korden jendela, lalu berjalan menghampiri pintu dan membukanya.
“Eh, kang Peno. Silahkan masuk kang.”
“Maaf Erizal, kau dipanggil bu Lina sekarang juga.”
“Ada apa bu Lina memanggilku malam-malam kang?”
Penjaga malan panti rehabilitasi Dinas Sosial DIY itu menggelengkan kepalanya lagi.
__ADS_1
“Aku juga tidak tahu, tapi kelihatannya penting. Cepatlah kau kesana, jangan biarkan bu Lina menungggu terlalu lama.”
Setelah menyampaikan pesannya, kang Peno membalikkan tubuhnya dan kembali ke ruang Satpam. Erizal segera mengganti kaosnya dengan baju muslim, memakai sarung, kemudian berjalan ke ruang kantor untuk menemui bu Lina. Lewat kaca jendela yang cukup besar dia dapat melihat Bu Lina masih mengerjakan sesuatu di balik mejanya. Remaja itu segera mengetuk pintu ruangannya.
Tok! Tok! Tok!
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam warokhmatullah. Masuklah Erizal,” sahut bu Lina ramah.
Dengan langkah ragu, Erizal berjalan memasuki ruangan besar itu. Bu Lina mempersilahkannya untuk duduk didepan mejanya. Erizal duduk dia atas kursi empuk dan baru itu. Tapi dia merasakan tempat duduk itu terasa penuh dengan duri. Hatinya menjadi gelisah, apalagi bu Lina mendiamkannya dan tidak segera mengatakan sesuatu.
“Maaf bu. A,…ada apa kau memanggilku kemari?”
Bu Lina meletakkan alat tulsnya, lalu tersenyum menatap wajah Elzar yang terlihat bingung
“Ada berita gembira yang perlu kau ketahui,” kata bu Lina
Eliar berdiri termangu. Berita genbira? Berita apa?
__ADS_1
“Ibu baru kepikiran tadi, makanya ibu langsung pergi menemui pihak keamanan Bandara. Ibu minta pihak keamanan memutar kembali CCTV selama peristiwa penculikan terhadap saudara Marlon,” ucapnya dengan nada yang lembut.
Hah? Erizal terperanjat. Tapi hatinya cukup senang, paling tidak ada harapan semua peristiwa ini akan terkuak. Dan dia bisa meemukan kembali harta-harta yang palig berharga dalam hidupnya, yaitu tulisan tangan ibunya yang tersimpan di dalam tas yang dibawa sahabatnya, Marlon Isier.