SAHABAT ANAK BANGSA

SAHABAT ANAK BANGSA
EPS 41PENGGEREBEKAN


__ADS_3

EPS 41 PENGGEREBEKAN


Malam begitu gelap dan sepi. Menjelang pagi, hawa yang dingin dan hujan yang baru saja berhenti, membuat orang-orang enggan keluar rumah. Bulan muncul kembali setelah beberapa saat tersembunyi dibalik awan hitam. Cahaya putihnya yang mengenai butir-buir air, dibiaskan menjadi spectrum berbagai macam warna cahaya pelangi. Indah sekali.



Beberapa orang bertubuh tegap terlihat turun dari mobil SUV warna hitam. Mereka berjalan mengendap-endap melewati lorong yang cukup gelap. Dengan tangan memegang senjata yang sudah terkokang, mereka terlihat waspada. Di ujung lorong, dari dalam kerimbunan pohon. muncul seseorang memakai jaket kulit menyambut mereka. Rupanya orang ini adalah intel yang mengintai dan orang-orang yang baru datang adalah petugas kepolisian.



“Bagaimana keadaannya Ro?” tanya Ipda Erwin kepada intel polisi tadi.


“Sasaran baru pulang ke rumah tadi jam dua ndan,” sahut sang intel.


“Baik,” ujar Ipda Erwin, “Kalau begitu kita jalankan rencana A. Kepung seluruh rumah dari segala arah. Toto dan Ikhda masuk lewat belakang.”


“Siap!” sahut mereka serentak.



Lalu dengan cepat mereka bergerak ke setiap sudut rumah. Mereka tidak ingin ada celah sedikitpun untuk orang yang menjadi sasaran melarikan diri, Ipda Erwin memimpin langsung jalannya penggerebekan malam ini. Dengan dikawal dua orang anak buahnya, dia mengetuk pintu depan sebuah rumah yang cukup terpencil di ujung gang.



Dug! Dug! Dug!



“Misman buka pintunya!” seru Ipda Erwin sambil menggedor daun pintu cukup keras.


Tidak ada sahutan. Ipda Erwin mengulangi lagi kalimatnya agar orang yang berada di dalam rumah untuk membuka pintu. Setelah ditunggu beberapa saat, akhirnya pintu di buka. Seorang perempuan muda keluar dari dalam rumah. Wajahnya terlihat kaget saat melihat orang-orang asing yang ada di depan pintu rumahnya.

__ADS_1



“Si..siapa kalian?” tanya Kimah.


“Maaf bu kami dari kepolisian. Ini surat tugas penangkapan saudara Misman.”


“Memang kang Misman salah apa pak?”


“Dia terlibat kasus perampokan dan penculikan.”


“Ta..tapi pak…”



Belum selesai Kimah berbicara, tiba-tiba terdengar langkah kaki berlari ke arah belakang rumah. Dua orang polisi yang berdiri di belakang Ipda Erwin langsung melompat memburu.




Di pukulnya tengkuk orang itu hingga jatuh pingsan. Petugas yang lain segera melakukan penangkapan dan penggeledahan. Seorang laki-laki muda dan seorang gadis remaja digelandang dari dalam kamar. Lampu ruangan dinyalakan. Kelihatan semua wajah-wajah penghuni rumah itu. Namun ketika salah satu polisi memeriksa laki-laki yang pingsan tadi dia nampak terkejut.



“Mohon ijin meginformasikan Ndan. Kelihatannya orang ini bukan Misman,” ujarnya.


Komandan muda itu segera memeriksa dengan seksama. Dan dia yakin kalau orang itu bukanlah buronan yang mereka cari.


“Ambilkan aku air segayung,” katanya.


Salah satu anak buahnya segera memberikan botol berisi air mineral dua liter. Setelah membuka botolnya, airnya disiramkan ke wajah orang itu.

__ADS_1



Byur!


Hap! Hap!



Orang itu langsung bangun gelagapan karena tidak bisa bernafas.


“Siapa kamu?” tanya komandan.


“Saya Kuncoro pak.”


“Kenapa kamu disini?”


“Di suruh kang Misman untuk tidur di rumah ini setelah jualan habis pak. Kebetulan saya dagang bakso di sekitar bandara.”



“Lalu Mismannya mana?”


Kuncoro menggelengkan kepalanya dan mengatakan tidak tahu. Dia hanya takut kepada Misman, sehingga bersedia menggantikan preman bandara itu.


“Lalu siapa kalian?”tanya Ipda Erwin kepada pemuda dan gadis tadi.


“Aku Marlon Isier dan ini adikku Melin.”



“Baik,” kata komandan. “Kalian semua ikut kami ke kantor polisi untuk menalami permasalahan ini.

__ADS_1


__ADS_2