
》》》》》》》
Aku menangis kencang, lebih kencang,dan semakin kencang dan akhirnya tangisku terhenti saat ada kedua tangan menggapaiku dan memelukku dengan erat dan berkata,
"Tenanglah, aku ada disini dan selalu bersamamu sampai kapanpun."
Suara yang berat itu meyakinkanku sekaligus menengangkan diriku dari beberapa cobaan yang sedang aku alami ini.
Aku pun berputar dan membalas pelukannya sambil mengatakan,
"Apakah kau benar-benar berjanji untuk tidak meninggalkanku dan selalu bersamaku salalu?" tanyaku kembali pada erwin.
"Tentu saja, karena aku sayang padamu." ucap erwin meyakinkanku.
Mendengar perkataan Erwin barusan, hatiku merasa lebih tenang dan nyaman. Dan suasana yang hangat itu seketika lenyap saat mama dan ayah datanf membawa koper yang berisikan semua pakaianku.
"Karena kau sudah tau kalau kau ini bukan anak kandungku, maka kau harus pindah dan tinggal dirumah kedua orang tua kandungmu! entah sudah bertemu atau belum, kau tetap harus pindah!! karena...karena namamu sudah ku coret dari kartu keluarga kami!!." perintah ibuku dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Ya! kau harus pergi karena semenjak hadirnya dirimu dalam keluarga kami, kebutuhan kami menjadi tidak tercukupi!" bentak ayah.
Hatiku kembali tak terima keadaan, pecah berkeping- keping dan hancur karena kedua orang yang selama ini ku sayangi, selalu bersamaku, dan baik kini menjadi dingin dan arogan seperti orang yang tidak saling mengenal. Sifat mereka berdua berubah 180° dari yang ku kenal.
"Ibu...Ayah...apa salahku..(menangis), mengapa kalian tetap memungutku walaupun aku bukanlah anak kandung kalian!?" (menangis menghampiri ibu dan ayah angkat) tanyaku.
"karena...karena ibuku meminta seorang cucu dan asal kau tau, aku tidak memungutmu tapi membelimu. kau paham!?" ucap ibu angkat sambi mendekatkan bibirnya ke telingaku dan mengucapkan kata- kata itu denga nada rendah.
Aku tertegun mendengar ucapan ibu yang begitu menyayat hati. Erwin yang sedari tadi mendengar pembicaraanku dan orang tuaku pun mulai ikut berbicara,
"Baiklah kalau itu maumu, aku juga sudah tak menginginkan anak ini lagi (acuh)" ucap ayah angkat fara.
Erwin menggenggam tanganku dan membawaku pulang,
"terimakasih karena telah membesarkan fara dengan baik, paman😒" ucap erwin sambil melewati kedua orang tua itu.
Aku tak bisa bicara lagi, aku pun pingsan dijalan rumah sakit.
__ADS_1
"Aishh,.. pake pingsan segala nih anak😥" ucap erwin menghela nafas, "Untungnya aku kuat, pasti fara kecapekan dan terlalu shyok tadi" tambah nya.
Erwin menggendongku dan membawaku masuk ke mobil dan segera pulang ke villa nya. Setelah sampai di villa, Andika segera memeriksa keadaan tubuhku karena selain pemilik perusahaan, dia juga berprofesi sebagai dokter umum dirumah sakit pamannya.
Andika mengatakan bahwa aku sedang demam tinggi. Gio yang mengetahui kalau aku sedang sakit demam pun berlari menuju kamarku dan berkata,
"Apakah kakak akan cepat sembuh?(khawatir)" tanya gio.
"Tenanglah, dia hanya demam biasa saja, kamu tak usah terlalu menghawatirkannya," ucap andika menenangkan gio.
"Sementara, dia istirahat dulu, nanti kalau dia bangun, aku akan membawakannya makan dan obat demam untuknya." ucap erwin.
"Ah! biarkan aku yang menunggu kakak sampai dia terbangun!, bang erwin tak usah menghawatirkannya." sela gio.
"Tapi..., yasudahlah, tolong jaga kak fara ya" ucap erwin.
"Tentu! karena kelak, dia adalah calon istriku dimasa depan nanti😏(yakin)" ucap gio
__ADS_1