Salahkah Menjadi Janda

Salahkah Menjadi Janda
Butuh waktu sendiri


__ADS_3

Louis tidak sadar jika dia malah mengikuti Vita dan anak-anak nya. Dia melangkahkan kakinya sama dengan mereka, Louis juga memasuki lift yang sama juga.


Louis seperti tidak bisa jauh-jauh dari mereka. Louis seperti sedang terhipnotis oleh kedua gadis kecil yang sangat menggemaskan itu.


"Uncle menginap disini juga?" tanya Zoya yang memang gampang akrab dengan siapapun.


"Ya, uncle juga berada satuantai dengan kalian semua" Jawab Louis masih dengan wajah datarnya.


"Benarkah uncle?" sekarang yang bertanya Zia yang sejak tadi memperhatikannya.


"Ia princess, apa kalian tidak tau juga. Jika pemilik hotel ini adalah teman uncle?" tanya Louis lagi.


Ini adalah rekor berbicara yang sangat bagus bagi Louis, Louis yang selama ini selalu bersikap arrogant dan juga dingin. Bicara juga seperlunya saja.


Jadi jika ini dijadikan sebagai ajang pencarian bakat akan mendapatkan hadiah. Karena Louis berbicara lebiih dari dua kata.


"Kami sudah sampai uncle, kamar uncle yang mana? " tanya Zoya.


"Kamar uncle sebelah kiri dari sini" jawab Louis menunjuk kearah kiri dari lift.


"Kita satu arah uncle" sekarang giliran Zia yang menjawab.


"Oh, benarkah?" tanya Louis sambil mensejajarkan tingginya dengan dua gadis kecil itu.


"Emm" ucap Zoya dan Zia bersama-sama.


"Oke my princess, mari uncle antar sampai didepan kamar. Karena kita satu arah, hmm" Louis berbicara menawarkan bantuannya.


"Oke uncle" jawab mereka.


Mereka sudah sampai didepan kamar yang ditempati oleh Vita dan anak-anak nya. Mereka semua pamitan pada Louis.


"Kita sudah sampai uncle" ucap Zoya menunjuk kamar mereka.


"Oh, kita bertetengga" jawab Louis.

__ADS_1


"Memangnya kamar uncle yang mana?" tanya mereka penasaran. Karena seingatnya kamar kanan dan kiri dari kamarnya berada adalah kamar Oma dan para pengasuh mereka.


"Ini kamar uncle" jawab Louis sambil menunjuk kamar yang ada didepan kamar yang ditempati mereka.


"Benarkah uncle? Jika begitu kita bertetangga" ucap Zoya sambil tersenyum sangat manis.


"Sekarang kita harus masuk sayang, ini sudah sangat larut" Vita menyela ucapan kedua putrinya yang akan berlama-lama baerbasa-basi dengan lelaki dihadapan nya saat ini.


"Oke Mom. Dah uncle" ucap Zoya dan Zia berpamitan pada Louis.


"Dah princess" jawab Louis yang melangkahkan kakinya menuju arah kamarnya.


.


"Sayang, apa kalian sudah sedekat itu dengan uncle yang tadi?" tanya Vita sesudah mereka masuk dan berganti pakaian.


"Emm, tidak juga Mom" jawab mereka berdua.


"Mommy tidak melarang kalian supaya tidak boleh dekat dengan seseorang, tapi kalian harus selalu hati-hati. Apa lagi kalian baru bertemu, oke" Vita masih memberi pengertian, bahwa kita tidak boleh terlalu dekat dengan orang asing.


"Iya sayang, Mommy bangga pada kalian semua" ucap Vita sambil memeluk anak-anak nya.


"Oke, sekarang kita bobo sudah malam" Vita mengajak anak-anaknya berbaring diranjang king size yang ada dikamar hotel itu.


Setelah memastikan anak-anak nya sudah tidur lelap, Vita keluar kamar untuk memesan minuman hangat. Vita merasa hari ini begitu melelahkan, apa lagi pada siang hari tadi sempat syok mengetahui Zoya dan Zia tidak ada. Dan lagi bertemu dua parasit yang membuat mood nya hancur.


Vita sedang duduk didalam resto yang masih didalam hotel. Vita memesan coklat panas untuk menghilangkan penat didalam fikiran nya.


Saat sedang menikmati minuman nya ada seseorang tiba-tiba sudah duduk dihadapan nya. Vita tidak terkejut, dia hanya diam dan membuang pandangannya keluar jendela yang memperlihatkan cahaya lampu perkotaan.


"Seorang wanita tidak baik keluar pada saat tengah malam seperti ini. Apa tidak takut akan ada orang jahat?" tanya seorang pria yang sudah beberapa kali bertemu. Walaupun pertemuannya tidak secara baik-baik dan sengaja juga.


Vita hanya diam saja menanggapinya, ia tetap menikmati minuman nya tanpa menghiraukan orang yang sedang duduk didepannya.


"Apa anda tidak memiliki pendengaran yang bagus? Sampai-sampai ada seseorang yang mengajak bicara saja tidak ditanggapi" tanya Louis lagi, ya yang duduk dihadapan nya adalah Louis Edison. Pria yang sudah beberapa kali bertemu.

__ADS_1


"Saya tidak berkewajiban untuk menjawab pertanyaan anda bukan?" jawaban Vita sudah mewakili, jika dia tidak mau ada yang mengganggu ketenangan nya.


"Memang tidak berkewajiban, tapi apa salahnya menjawab? Bukankah seorang wanita itu harus ramah dan juga sopan?" tanyanya lagi.


Vita hanya diam, dia tidak mau merusak mood nya lagi dengan derdebat dengan seseorang lagi. Lagi pula pria dihadapan nya sudah baik padanya dan juga kedua putrinya.


"Thank you, anda sudah mau menolong putri saya tadi siang. Dan juga menolong saya tentunya" ucap Vita masih memasang wajah datarnya.


"Saya sudah banyak berhutang pada anda" lanjutnya lagi.


"It's okay, saya melakukannya bukan karena ingin balas budi saja. Saya hanya perasaan dengan seorang wanita yang selalu memasang wajah datar tapi sebenarnya dia menyimpan luka yang sangat besar" jawaban panjang lebar dari Louis.


"Dari mana anda tau? Apa anda seorang cenayang, yang bisa mengetahui isi fikiran seseorang?" tanya Vita dengan senyuman sinis.


"Saya memang bukan cenayang atau apalah itu namanya, yang jelas saya melihat didalam matanya. Matanya menyiratkan kesedihan, luka dan tekanan. Apa itu benar?" tanya Louis semakin menebak terlalu dalam.


Membuat Vita merasa tidak nyaman berada disatu meja yang sama dengan Louis, Louis menebak dengan benar semuanya. Walaupun Vita selalu tersenyum dengan anak-anak nya. Dia tidak bisa melepaskan kesedihan nya.


Vita merasa gagal dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya. Vita merasa semua bebannya semakin besar, apa lagi jika salah satu anaknya menanyakan akan keberadaan sang Daddy, Vita akan selalu menjawab jika Daddy mereka sudah ada disurga.


Vita tidak sadar jika dia meneteskan air matanya. Disinilah Vita berada, dia akan menjadi sangat rapuh jika ada seseorang yang mengungkit kesedihan nya yang katanya terlihat didalam matanya.


Vita benar-benar tidak bisa mengontrol perasaannya jika ada yang tau akan kesedihan hatinya. Vita merasa dengan memasang wajah datar tidak akan ada yang tau kesedihan yang selama dua tahun ini dia sembunyikan.


"Mengapa anda menangis? Anda tidak seharusnya menangis seperti ini" ucap Louis, dia merasa bingung melihat seseorang yang selalu terlihat tangguh dan juga angkuh bisa menangis.


"Anda sudah sangat membuat saya seperti ini. Anda yang mengingatkan akan luka yang saya punya, anda seolah orang yang tidak pernah memiliki luka itu sendiri. Waw! Anda sangat hebat, anda seolah tidak tau mengapa seseorang bisa menangis" ucapan Vita sangat menohok bagi Louis. Sebenarnya Louis berbicara seperti itu ingin dekat saja dengannya, bukan malah menyakiti perasaan wanita yang sebenarnya sangat rapuh itu.


.


.


Apa Louis akan bisa membuat Vita merasa nyaman? atau mungkin sebaliknya?


yuk ikuti terus kisah mereka. Author tidak akan pernah bosan untuk mengingatkan supaya para reader meninggalkan komentarnya, like, vote dan hadiah... juga subscribe supaya tau up selanjutnya...

__ADS_1


terimakasih 🤗


__ADS_2