Salahkah Menjadi Janda

Salahkah Menjadi Janda
Permintaan Mama Sila


__ADS_3

Vita mengajak Louis duduk disebuah bangku yang lumayan jauh dari anak-anaknya juga dari keramaian. Vita ingin menyampaikan permintaan Mama Sila tadi pagi.


"Apa yang ingin kamu bicarakan? Apa ini sangat-sangat serius, sampai-sampai kita harus duduk disini. Tempat yang lumayan agak sepi" tanya Louis.


"Iya, ini tentang Mama Sila. Mama ingin bertemu dengan anda, beliau bilang ingin membicarakan hal yang sangat penting" jawab Vita.


"Baiklah, kapan saya harus kesana?" tanya Louis lagi.


"Nanti sore, karena waktu menjenguk hanya sampai sore" jawab Vita.


"Oke, kamu kabari lagi saya jika sudah waktunya menjenguk. Saya akan siap" jelas Louis sambil beranjak dari duduknya.


"Tunggu" ucap Vita. Louis langsung mendudukan dirinya kembali.


"Emm, maaf saya dan keluarga saya selalu merepotkan anda. Jika anda sudah berbicara dengan Mama saya, saya janji tidak akan meminta bantuan anda lagi. Saya berjanji itu" jelas Vita sambil menatap kedepan.


"Apa anda yakin dengan ucapan anda? Karena saya tidak yakin jika anda tidak membutuhkan bantuan dari saya lagi" jawab Louis juga sama menatap kedepan.


Terdengar Vita menghela nafasnya lumayan berat. Dia sendiri juga tidak yakin bisa melakukan tanpa bantuan dari Louis Edison. Tapi dia tidak mau selalu bergantung pada orang lain. Harus digaris bawahi orang lain.


"Saya yakin anda sangat membutuhkan bantuan dari saya kedepannya. Anda tidak tau kan jika pemegang saham Pratama group ada yang ingin menggulingkan posisi anda sebagai CEO. Ada beberapa orang yang sudah terhasut oleh pemegang saham yang menginginkan posisi CEO yang anda diskusikan. Apa lagi dalam beberapa hari ini ada tidak datang dalam rapat direksi kemarin dan lagi Nindi juga tidak datang. Itu sangat berpengaruh dan menguntungkan bagi mereka" jelas loupanjang lebar dan menyerahkan selembar kertas yang sengaja dia bawa untuk dia serahkan pada Vita.


"Bacalah, setelah membaca semua itu anda akan tahu semuanya. Siapa saja yang terlibat dalam konspirasi itu" jelasnya lagi.


Vita terbelalak membaca kertas yang diberikan oleh Louis, dia begitu tidak menyangka jika ini lebih dari setengah yang terlihat, dan hanya beberapa orang yang masih mendukungnya.


Walaupun sahamnya di Pratama group 65% tapi jika semua orang menginginkan jabatannya dicopot akan tetap kalah, apa lagi ada seseorang yang sangat berpengaruh dalam Pratama group. Vita benar-benar dibuat syok setengah mati.


Padahal cobaan yang ini saja belum bisa teratasi, sekarang muncul kembali cobaan yang baru. Vita benar-benar frustasi saat ini, dia benar-benar membutuhkan sosok yang bisa menjaganya dan medampinginya.


Apa dia akan kuat menghadapinya satu persatu? Atau dia menyerah begitu saja. Jika dia menyerah apa yang akan didapatkan oleh anak-anaknya, itu adalah hak anak-anak nya. Dia harus bisa memperjuangkan nya, bagaimana pun caranya.

__ADS_1


"Apa yang akan anda lakukan? Apa akan tetap diam dan menunggu mereka menghancurkan anda? Atau memperjuangkan hak anda? Itu semua ada ditangan anda sendiri, saya sudah memberikan petunjuk supaya anda dengan tepat menanganinya" ucapan Louis sangat menohok hatinya, dia yang bukan siapa-siapa rela melakukan apapun untuk dirinya dan masa depannya kelak.


'Ya Allah, apa ini yang ingin Engkau tunjukkan padaku ya Allah? Jika memang benar, tolong dekatkanlah, tapi jika bukan dia. Maka jauhkanlah dia dari hamba. Hamba tidak bisa selalu bergantung padanya, hamba juga tidak mau menghalangi jodohnya kelak' Vita bermonolog dengan hati dan fikirannya sendiri.


"Hello, ada apa? Kenapa melamun?" tanya Louis sambil menjentikan jarinya didepan wajah Vita.


Tentu saja Vita terlonjak kaget, saat dia sedang larut dalam fikirannya tiba-tiba dikejutkan dengan jentikan jari yang lumayan keras.


"Tidak, saya tidak apa-apa" jawabnya sambil bangkit dari duduknya.


"Saya akan menghubungi anda jika sudah waktunya menjenguk Mama saya" ucapnya sambil melangkahkan kakinya menuju anak-anak yang sedang bermain.


Louis memandanginya tanpa berkedip, punggung yang sebenarnya sangat rapuh. Sebenarnya dia adalah tulang rusuk yang memaksakan diri sebagai tulang punggung, untuk menopang beban berat yang ada pada dirinya.


Ingin rasanya Louis memeluk dan membahagiakan nya, tapi itu semua tidak mungkin. Apa lagi sekarang dia semakin menjaga jarak padanya, itu semakin membuatnya sulit untuk menggapainya.


Louis hanya memandanginya saja dari jarak jauh, melihat senyuman indah yang menghiasi bibirnya yang tipis. Senyuman yang tidak dipaksakan, senyuman ketulusan, senyuman kebahagiaan. Apa mungkin dia bisa mendapatkan itu dari wanita pijaannya.


Entahlah, hanya Allah yang tahu. 'Ya Allah jika dia memang jodohku, tolong dekatkanlah dan buatlah dia mencintaiku seperti aku mencintainya. Tapi jika bukan, maka jodohkanlah dengan ku' do'a yang aneh dan terkesan memaksa. Tapi itulah seorang Louis Edison. Bisa bertingkah seperti kutub utara, bisa juga bertingkah konyol.


.


Dirumah sakit, lebih tepatnya diruangan ICU tempat Mama Sila dirawat sekarang. Mama Sila sempat kritis beberapa saat yang lalu, tim dokter menghubungi Vita untuk segera datang kerumah sakit. Dokter menegaskan jika pasiennya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.


Vita yang mendengar kabar yang mengejutkan langsung menuju rumah sakit. Dia sudah menyuruh anak-anak nya untuk pulang bersama pengasuhnya.


Vita menuju rumah sakit bersama Louis, Vita sangat terlihat cemas. Vita tak henti-hentinya berdo'a supaya Mama Sila baik-baik saja, dia belum siap jika harus ditinggalkan dengan cara seperti ini.


"Anda harus tenang Nona, jika anda terlihat panik seperti ini akan berpengaruh pada kesehatan Mama anda sendiri. Jadi anda harus relax" ucap Louis menahan tangan Vita sebelum memasuki ruangan ICU.


"Tenangkan diri anda dulu, tarik nafas lalu buang secara perlahan. Lakukan secara berulang-ulang, sampai anda relax" jelasnya lagi sambil memegang kedua bahu Vita.

__ADS_1


Setelah merasa lebih tenang dan relax Vita langsung masuk kedalam ruang ICU bersama dengan Louis, Vita benar-benar kaget melihat kondisi Mama Sila. Begitu banyak kabel yang menelekat ditubuhnya.


Vita langsung meneteskan air matanya melihatnya. Ternyata Mama Sila mendengar kedatangan Vita.


"Nak, sini nak. Mama mau bicara pada kalian berdua" ucap Mama Sila sambil terbata-bata.


Vita berjalan mendekati Mama Sila sambil meneteskan air matanya, Vita tidak bisa menahan lelehan air matanya.


"Ma, Mama pasti sembuh. Mama pasti kuat" ucap Vita sambil menggenggam tangan Mama Sila.


"Nak Louis, maukah kamu menjaga putri Mama yang cengeng ini?" tanya Mama Sila sambil tersenyum.


"Saya bersedia Ma, bahkan saya sudah mengutarakan niat baik saya pada putri Mama ini. Tapi dia menolaknya" jawab Louis dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Sayang, sebelum Mama pergi. Mama ingin melihat kamu menikah nak, Mama belum bisa tenang jika kamu belum ada yang menjaga. Kamu putri Mama, kamu berhak bahagia. Jadi Mama minta sebelum Mama pergi, Mama ingin melihat kamu menikah sayang" jelas Mama Sila sambil terbata-bata bicaranya.


"Mama bicara apa Ma, Mama pasti sembuh. Mama jangan bilang kayak gitu Ma" jawab Vita masih menangis.


"Nak Louis, kamu bersedia kan menikahi anak Mama sekarang juga. Mama takut Mama tidak bisa menyaksikan nya" tanya Mama Sila pada Louis yang berdiri disamping Vita.


"Saya bersedia jika putri Mama juga bersedia" jawab Louis dengan mantap.


"Bagaimana sayang? Kamu bersedia kan menikah dengan nak Louis?" tanya Mama Sila lagi.


.


.


Apakah Vita menerimanya?


Atau menolaknya?

__ADS_1


Yuk, ikuti terus kisah nya. Dan ramaikan setiap babnya dengan like, vote, komentar, dan hadiahnya...


jangan lupa subscribe juga ya, supaya tidak ketinggalan update nya 😉🤗


__ADS_2