Salahkah Menjadi Janda

Salahkah Menjadi Janda
Terkejut? Tentu saja


__ADS_3

Mereka yang melihat sikembar tidak ada yang menangis, bahkan seorang dokter paruh baya menghampirinya. Dia ikut duduk bersama dengan six Z.


"Kenapa kalian semua menangis? Apa yang kalian tangisi?" tanya seorang dokter.


Mereka tidak ada yang menjawab. Mereka semua menunduk menahan tangisnya supaya tidak pecah, mereka tidak mau terlihat rapuh. Walau sebenarnya memang sangat rapuh.


"Kalian tau, jika kita berdo'a dengan tulus dan juga khusuk maka Allah akan mengabulkan nya. Mau itu sulit sekali pun bagi manusia, tapi bagi Allah akan sangat mudah" jelas dokter itu lagi.


Mereka mendongakkan kepala mereka bersamaan untuk bisa melihat sosok yang membuatnya merasa lebih tenang. Mereka menyadari, mereka hanya menangis saja tanpa berdo'a dengan khusuk.


"Boleh berkenalan?" tanya dokter itu lagi.


Six Z hanya mengangguk kan kepalanya tanda mengiyakan permintaan sang dokter.


"Oke, nama saya dokter Sanjaya. Kalian siapa?" tanya dokter Sanjaya yang kerap disapa dengan dokter Jaya.


"Nama saya Zoya, ini adik-adik saya. Zico, Zio, Zia, Zayn dan Zayd" Zoya memperkenalkan dirinya dan juga kelima adiknya.


"Wow, Six Z. Nama yang bagus, apa yang kalian minta pada Allah jika boleh kakek tau?" tanya dokter Jaya.


Dokter Jaya adalah dokter sepesialis dalam yang sedang menunggu masa pensiun nya, dokter Jaya melihat six Z seperti sedang melihat cucunya sendiri. Makanya dia menyebutkan dirinya sebagai kakek.


"Kami sedang menjenguk Oma, Oma sedang sakit. Kata uncle Oma sedang istirahat karena cape, terus bobo" jawab Zoya.


"Apa Oma kalian sudah lama sakitnya?" tanya dokter Jaya lagi.


"Emm" ucap Zoya sambil menganggukan kepalanya.


"Permisi. Maaf, saya harus membawa anak-anak saya pergi" ucap Louis yang mulai merasa tidak nyaman.


"Oh, silahkan. Maaf jika saya terlalu ikut campur" ucap dokter Jaya merasa tidak enak hati, karena baru pertama bertemu sudah menanyakan hal pribadi pada anak kecil pula.

__ADS_1


Louis tidak menjawab ucapan dokter Jaya, dia langsung pergi dari Mushola itu dengan menggendong Zayn dan Zayd ditangan kanan dan kirinya.


"Uncle, apa Mommy sudah bangun?" Tanya Zio, anak yang paling dekat dan paling manja pada Vita.


"Iya, Mommy sudah bangun. Mommy menanyakan kalian, mengapa kalian lama sekali" jelasnya sambil menuju ruangan rawat Vita.


"Assalamualaikum" ucap six Z dan juga Louis bersamaan.


Ternyata didalam Vita sedang sendirian, Nindi baru saja pulang karena kondisinya juga sedang kurang fit. Apa lagi ngidamnya Nindi sangat parah, jadi mau tidak mau Nindi harus pulang dan istirahat.


"Wa'alaikum Salam, kalian ada disini juga, hmm?" tanya Vita sambil beranjak dari tidurnya.


"Mom, kami sangat merindukan Mommy" ucap six Z sambil menghamburkan pelukannya pada sang Mommy.


"Kenapa kalian kesini? disini tidak baik untuk anak-anak. Disini banyak virus dan juga penyakit" jelas Vita, tidak mau anak-anak nya melihatnya rapuh.


"Mom, apa Mommy sakit?" tanya Zayd yang langsung duduk dipangkuan Vita. Sibungsu memang sangat manja pada nya.


"Mommy baik-baik saja, Mommy cuman pusing saja sedikit" jawab Vita sambil memeluk putra bungsunya.


"Mbak ada diluar, kami hanya ingin bersama uncle saja nggak mau bersama mbak" rajuk Zio yang memang kurang suka dengan pengasuhnya.


"Abang Zi nggak boleh ngomong kayak gitu, Mommy tidak pernah mengajari abang nggak sopan ya. Mommy tidak suka jika anak-anak Mommy seperti itu" Vita memperingati putranya supaya tidak seperti Zio yang sama sekali tidak menyukai pengasuhnya.


"Yes Mom, abang janji tidak akan mengulangi nya lagi" jawab Zio menganggukan kepalanya.


"Good boy, Mommy bangga pada abang. Ingat selalu pesan Mommy, jangan pernah membedakan seseorang dari ras, agama, dan uangnya. Kita tidak boleh pilah pilih, oke" jelas Vita masih menasehati Zio dan anak-anak yang lain.


.


Setelah berbicara dan juga menasehati anak-anak nya Vita meminta anak-anaknya supaya pulang bersama pengasuhnya. Karena Vita tidak mau jika anak-anaknya sakit karena disini banyak penyakit.

__ADS_1


"Terimakasih anda sudah menjaga anak-anak saya, saya tidak bisa memberikan apapun pada anda. Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih saja, terimakasih banyak" ucap Vita sambil membungkuk hormat pada Louis.


"Berikan hati kamu" jawab Louis spontan. Dengan tatapan teduhnya, lalu mendekati Vita yang masih belum percaya akan apa yang dia dengar.


"Maksud anda? Saya, bukan seorang gadis. Tapi saya seorang janda yang mempunyai banyak anak. Saya yakin diluaran sana masih banyak gadis atau wanita yang sempurna untuk bisa mendampingi anda" jelas Vita masih menundukkan kepalanya.


"Apa salahnya jika seorang janda? Apa seorang janda tidak boleh bahagia? Saya, tidak menginginkan seorang gadis ataupun wanita yang sempurna. Jika sesempurnaan itu hanya milik Allah saja. Jika banyaknya anak, justru saya sangat bahagia dan sangat bersyukur karena saya memang tidak bisa memiliki keturunan" jelas Louis panjang lebar, dia tidak malu mengakui apa kekurangan nya.


Vita begitu terkejut mendengar pengakuan dari Louis, dia juga baru tahu beberapa minggu yang lalu. Jika Louis bukanlah pria sembarangan, Vita baru tahu jika Louis Edison adalah pemilik dari EDC.CORP.


Seseorang yang tidak pernah muncul dipublik. Dia lebih suka dibelakang layar atau tidak mau menampilkan diri.


"Apa kamu bisa memberikan hati kamu walau tidak sepenuhnya, saya tau jika kamu masih sangat mencintai mendiang suamimu. Tapi tidak kah memberikan sebagian kecil saja, supaya saya bisa menjadi sandaran disaat kamu sedih dan terpuruk seperti sekarang. Bisa memberikan pundak saya untuk bersandar, bisa memberikan dada saya untuk bisa mengurangi beban berat yang ada didalam hati kamu. Apa saya bisa?" tanyanya dengan mata yang berkaca-kaca memandang mata sayu Vita yang hampir menangis.


"Saya tidak... Saya tidak bisa, ini begitu tiba-tiba. Saya tidak mungkin menjawabnya sekarang" jawab Vita sambil menunduk dan meneteskan air matanya.


"Oke, tapi izinkan saya bisa selalu dekat dengan anak-anak. Karena saya tidak mungkin bisa jauh-jauh dari mereka" jawab Louis sambil menampilkan senyuman dibibirnya, walau agak dipaksakan. Karena dia mendapatkan penolakan dari wanita yang sudah bisa menggoyahkan hatinya yang dingin, sedingin es.


Vita hanya mengangguk setuju dengan apa yang diinginkn oleh Louis, baginya berdekatan dengan anak-anak tidak lah masalah.


"Kalau begitu saya permisi dulu, kamu harus istirahat. Jangan terlalu banyak berfikir yang berat, supaya kesehatan kamu bisa cepat pulih kembali" ucapnya ingin melangkahkan kakinya keluar ruangan rawat Vita.


Belum sempat melangkahkan kakinya tangannya sudah dicekal oleh Vita, Louis sangat terkejut dan juga merasa bahagia. Dimana Vita untuk pertama kalinya menyentuhnya dan dengan kesadaran juga.


Louis sangat bahagia, bisa mendapatkan perlakuan manis dari wanita pujaan hatinya.


"Maaf, saya tidak bermaksud" ucap Vita merasa tidak enak dan langsung melepaskan genggaman tangan nya pada tangan Louis.


"Tidak masalah, saya justru senang. Secara tidak langsung anggota tubuh kamu merespon dengan baik padaku, walaupun tidak dengan hati tentunya" jawab Louis sambil menampilkan senyuman dibibirnya.


Vita menjadi salah tingkah, wajahnya juga memerah akibat menahan malu. Bagaimana bisa dia dengan sangat sadar memegang tangan Louis.

__ADS_1


"Jangan menampilkan wajah menggemaskan seperti itu. Jika tidak mau saya bawa langsung ke KUA" ucap Louis dengan seringai liciknya.


Tentu saja Vita sangat terkejut, bagaimana bisa pria yang terkenal sebagai pria tidak tersentuh. Bahkan dinginnya melebihi dinginnya kutub utara.


__ADS_2