
Louis begitu terkejut melihat Zayn yang Setengah berbaring lemah diatas ranjang nya. Apa lagi dengan posisi sedang disuapi oleh Vita.
"Apa yang terjadi? Mengapa tidak ada yang memberi tau Daddy?" tanya Louis pada semua orang yang ada didalam kamar Zayn.
"Oh god. Come on Dad, sejak tadi kami ada disini dan sedang melihat kondisi Z. Daddy dari mana saja?" gerutu Zio yang tidak habis fikir dengan sikap Louis yang kadang suka diluar kebiasaan nya.
"Sorry, Daddy memang sedang berada diruang kerja" jawab Louis sambil mengatur nafasnya karena habis berlari.
"It's okay Dad, aku tidak apa-apa. Mereka saja yang terlalu berlebihan" ucap Zayn setelah selesai menghabiskan bubur ayam yang diberikan oleh Mommy nya langsung.
"Kamu ini Z, sudah sakit juga masih saja seperti tidak sakit" gerutu Vita sambil memberikan obat untuk putranya.
"No Mom, itu sangat pahit" ucap Zayn sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
Ya Zayn memang sangat susah jika sudah disuruh minumm obat. Mau itu manis sekali pun tetap tidak mau. Maka dari itu Vita harus extra sabar untuk membuat Zayn bisa meminum obatnya.
"Ini tidak pahit, ini kan obat sirup Z" ucap Vita sambil menyodorkan sendok obat kedepan mulutnya.
Dan mau tidak mau Zayn menerima dan menelan obat itu. Tak lama kemudian Zayn berlari menuju kamar mandi, dia langsung muntah-muntah setelah minum obat.
"Anak itu, sejak dulu pasti seperti itu. Untung saja tidak ada penyakit yang mau dekat dengan nya. Jika ada sudah pasti akan sangat pusing menghadapi nya" gumam Vita sambil beranjak menyusul Zayn yang masih berada didalam kamar mandi.
"No Mom, ini sangat menjijikan. Mommy jangan kesini" ucap Zayn saat Vita memedati nya untuk membantu memijat tengkuknya.
"Apa yang menjijikan? Tidak ada yang menjijikan dari anak sendiri" jawab Vita sambil tersenyum dan memijat tengkuk Zayn dengan pijatan lembut.
"Sudah lebih baik?" tanya Vita melihat Zayn yang berdiri tegak kembali.
Zayn hanya mengangguk kan kepalanya saja, dia lalu melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya kembali. Rasanya seluruh badan nya sangat lemas dan tidak memiliki tenaga.
"Istilahat lah. Mommy dan yang lainnya akan menjaga abang Z disini" ucap Vita sambil membenarkan selimut ditubuh Zayn.
Zayn hanya mengangguk dan memejamkan matanya. Dia benar-benar sangat lelah dan juga lemas, dia tidak mau menolak jika semuanya berada didalam kamarnya.
.
Jika Zayn sedang demam maka berbeda dengan twins A yang sekarang sedang bermain bersama. Sekarang Lexa tidak jahil lagi. Dia juga sudah ceria seperti sedia kala.
"Kalian sedang apa? Apa Mami mengganggu kalian?" tanya Nindi pada kedua anaknya.
__ADS_1
"Tidak Mi" jawab mereka kompak.
"Oh iya, Mami mau menjenguk abang Z. Kata Mommy Vita dia sedang demam" ucap Nindi dengan hati-hatil, takut Lexa akan ketakutan saat dia bilang Z.
"Benarkah Mi?" tanya Lexa terdengar panik dari suara dan juga ekspresi wajahnya.
Sangat diluar ekspetasi Nindi. Karena Nindi takut jika Lexa akan merasa ketakutan bahkan sampai menangis. Tapi yang dia dapatkan berbeda dari Lexa.
"Iya, Mami baru saja mendapatkan kabarnya" jelas Nindi dengan senyuman dibibirnya.
"Ya sudah kita jenguk bang Z" ucap Alex yang sudah berdiri.
Walau mereka berdua tidak dekat dengan Zayn, tapi mereka sudah menganggap jika mereka adalah keluarga nya. Jadi mereka akan sangat khawatir jika salah satu dari six Z sakit.
"Ya sudah, kita bersiap untuk segera kesana" jawab Nindi sambil menuntun kedua anaknya untuk segera bersiap. Dengan dibantu oleh pengasuh mereka.
Nindi juga mengabari Nando jika dia akan ke mainson Edison untuk menjenguk Zayn yang sedang demam.
Nindi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang ramai lancar. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai didepan mainson Edison yang sangat luas dan megah.
"Assalamualaikum" ucap Nindi dan anak-anak nya saat memasuki mainson.
Pak Man menyambutnya dengan ramah juga mengarahkan untuk menuju kamar Tuan Muda Z.
Nindi memasuki kamar Zayn yang memang sengaja tidak ditutup supaya tidak menimbulkan berisik. Begitu pula anak-anak yang sudah keluar. Karena mereka sudah bosan karena hanya diam saja.
Seperti biasa, berbeda dengan Zico yang memang lebih suka ketenangan dan juga suasana sepi. Dia sedang asik saja membaca buku yang dia sukai.
"Hai Nin, sampe repot-repot datang kesini" ucap Vita merasa tidak enak melihat Nindi datang kesini untuk menjenguk Zayn.
"Sama sekali tidak repot buk. Saya malah senang bisa berkunjung kemari lagi" jawab Nindi sambil berpelukan dan cipika cipiki dengan Vita.
"Apa Lexa tidak apa-apa jika berada disini?" tanya Vita merasa tidak enak pada Nindi.
"Lexa sudah sembuh. Justru dia yang sangat antusias ingin kemari, dia juga yang menyiapkan ini untuk Zayn" jawab Nindi sambil memperlihatkan bingkisan yang dia bawa dari rumah.
"Alhamdulilah jika Lexa sudah sembuh. Aku bersyukur sekali Nin, aku sempat merasa takut jika Lexa akan trauma dengan sangat lama. Tapi Alhamdulilah saja tidak" ucap Vita dengan sangat tulus.
Nindi hanya tersenyum menanggapi ucapan Vita yang sangat mengkhawatirkan kondisi Lexa. Dia jadi mengingat masalalu nya yang kelam lagi.
__ADS_1
"Sampe repot-repot bawa bingkisan juga buat Zayn" ucap Vita lagi sambil menerima paper bag dari Nindi.
"Sama sekali tidak repot buk, justru Lexa sangat bersemangat membuatkan ini untuk Zayn" jawab Nindi yang sudah duduk didekat Zayn.
Nindi juga mengusap kepala Zayn dengan sangat lembut. Dia sudah sangat sayang dengan Zayn sejak dulu, apa lagi sifat dan juga wajahnya sangat mirip dengan mendiang Tuan Surya Pratama.
.
Jika Nindi dan kedua anak-anak nya sedang berkunjung. Berbeda dengan Rudi yang selalu disibukkan dengan pekerjaan nya yang berada dikota K.
Dia sedang memantau pekerjaan yang berada dilapangan. Dia tidak mau mengecewakan klien yang sudah mempercayakan proyekn pada perusahaan nya.
Dia sedang membangun sebuah pabrik baru yang dibawah kepemimpinan dari WJ CORP. Pada saat yang bersamaan dia bisa bertemu langsung dengan putra semata wayang nya Tuan Wijaya Kusuma.
"Selamat siang Pak. Senang bisa bertemu langsung dengan anda" ucap Rudi sambil membungkukan badannya memberi hormat.
"Siang, saya juga berterimakasih pada anda. Karena anda menyanggupi semua keinginan saya dalam proyek ini" jawab Danu Wijaya Kusuma. Yang kerap disapa dengan panggilan Tuan Muda.
"Perusahaan saya malah sangat tersanjung Tuan, bisa bekerjasama dengan perusahaan besar seperti WJ CORP" ucap Rudi lagi.
Rudi terus menjelaskan semua infastruktur yang dia gunakan dan semuanya berkualitas nomor satu. Jadi tidak akan pernah mengecewakan pelanggannya.
Cukup lama mereka berkeliling lokasi pembangunan pabrik baru WJ CORP. Hingga mereka harus berhenti saat ponsel Danu berdering. Cukup lama juga Danu menerima telpon, Rudi dengan setia menunggu nya hingga selesai berbicara dengan orang disebrang sana.
"Apa ada masalah Tuan Muda?" tanya Rudi dengan hati-hatil, takut Danu merasa tersinggung akan pertanyaan nya.
"Tidak, tadi adalah istri saya yang menghubungi. Dia berpesan jika akan pulang harus membelikan Sesuatu" jawab Danu dengan senyuman tipis.
Bahkan saking tipis nya Rudi tidak tau jika Danu baru saja tersenyum. Rudi hanya mengangguk kan kepalanya saja, dia tidak banyak bicara lagi.
Cukup lama juga mereka berdua hingga sudah waktunya untuk makan siang. Rudi mengajak Danu untuk makan siang bersama, karena dia tidak tau bisa bertemu kembali dengan Danu. Orang yang sangat sibuk dan susah untuk ditemui.
"Sudah waktunya untuk makan siang Tuan Muda, apa anda bersedia makan siang bersama saya? Saya ingin menjamu anda" ucap Rudi sambil melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Maaf, untuk saat ini saya tidak bisa. Mungkin lain kali, karena saya sudah berjanji dengan istri saya akan makan siang dirumah bersama" tolak Danu dengan ramah.
Ternyata Danu menolak ajakan nya untuk makan siang bersama. Karena Danu sudah berjanji tidak makan siang bersama istrinya dirumah.
"Baiklah tidak apa-apa Tuan Muda, saya mengerti. Maaf jika saya lancang" ucap Rudi sambil membungkukan badannya. Danu hanya mengangguk menanggapi ucapan dari Rudi.
__ADS_1