
Rina memang benar-benar sadgirl, dia menjadi sangat pendiam dan juga tertutup saat ini. Setiap bertemu dengan teman-temannya juga tidak rame seperti biasanya. Bahkan Eric sampai bingung akan sikap Rina yang sekarang.
"Eh Rin, kenapa loe berubah sih? Kemana gesrek dan juga konyol nya seorang Rina Adisti? Apa dia sudah bermetamorfosis menjadi alim dan lugu seperti ini?" tanya Eric yang memang teman paling dekat dengan Rina.
"Gue lagi galau Ric, loe malah bikin mood gue makin terjun bebas. Untung saja gue titinggal nunggu masa wisuda gue saja, jika tidak maka tamat lah riwayat gue" jawab Rina dengan sangat lesu.
"Loe kenapa lagi? Loe udah punya cowo, terus loe ditinggalin lagi? Makanya loe udah jadi sadgirl gini?" tanya Eric lagi.
Dia benar-benar tidak habis fikir dengan kisah percintaannya Rina yang sangat buruk ini. Apa lagi dia sudah dikhianati dan juga dibohongi dengan sangat menyakitkan.
"Mana ada gue punya cowok! Gue nggak tahu kenapa sama diri gue sendiri, gue melihat cowok yang sering ketemu nggak sengaja sama gue dan malah pertemuan yang selalu tidak pernah akur itu" jawab Rina sambil menatap kedepan sana.
"Maksud loe, loe sudah naksir sama tuh cowok? Apa gimana sih, gue nggak ngerti" ucap Eric yang menggaruk-garuk kepala nya bingung.
"Ish loe itu bikin gue kesel aja" ucap Rina sambil menoyor kepala Eric.
"Maka nya jelasin Marimar" ucap Eric juga membalas toyoran Rina.
Huh
Terdengar Rina menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar. Dia ingin menceritakan apa yang terjadi pada teman baik nya ini.
"Begini, gue tadi ketemu cowok yang mungkin memang usianya tidak terlalu jauh mungkin sama kita, dia sering banget tiba-tiba muncul saat gue sedang sedih atau kesal. Tapi tadi gue lihat ternyata dia sudah memiliki keluarga, gue nggak tahu kenapa sama diri gue sendiri yang sedih melihat dia sudah mempunyai keluarga. Apa mungkin gue cemburu? Tapi masa gue bisa cemburu sama orang yang selalu bikin gue kesel dan juga marah" ucap Rina dengan panjang kali lebar kali tinggi kali luas.
Eric hanya mengerjap-ngerjapkan mata nya mendengarkan penjelasan dari Rina yang membuat nya menjadi cengo sendiri.
"Maksud loe, loe suka sama laki orang? Eh marimar, denger ya. Loe emang pernah dikhianati, tapi loe jangan jadi pelakor juga kali! Loe nggak kasihan apa sama anak bininya, sampe loe tega berbuat seperti itu?." ucap Eric yang rada emosi mendengar ucapan Rina yang diluar nalar.
"Eh, Ferguson. Siapa yang bilang gue mau jadi pelakor hah! Loe kalo ngomong kagak suka pake Bismilah. Gue juga kagak tahu sama perasaan gue, kenapa gue jadi seperti ini. Gue juga sadar diri kali, masa gue mau nyakitin perasaan cewek lain. Sedangkan gue sendiri juga tahu sakitnya orang dikhianati itu seperti apa" jawab Rina sambil menggelepak kepala Eric lumayan keras dan dia tertunduk lesu.
"Sorry Rin, bukan maksud gue kayak gitu sama loe. Gue cuman nggak mau sampe loe nekad malah melakukan yang enggak-enggak karena loe pernah sakit hati karena dikhianati oleh cowok bre*gsek itu malah loe nekad" ucap Eric yang merasa bersalah pada teman baik nya ini.
__ADS_1
"It's okay Ric, mungkin bukan hanya loe yang berfikiran seperti itu sama gue. Mungkin jika orang lain tahu juga akan beranggapan sama kayak loe dengan menyangka gue jadi pelakor" gumam Rina sambil menundukan wajahnya.
Mungkin ucapan nya tidak terdengar oleh Eric, karena Rina berbicara sangat pelan. Tapi ternyata Eric mendengar nya dan menarik Rina kedalam pelukannya.
Eric tahu Rina sedang buruh sandaran disaat dia sedang seperti ini. Mungkin bagi orang lain Rina lebay atau apa karena dia sudah lama ditinggalin cowok nya tapi sampe sekarang masih saja sadgirl.
Padahal jika Rina mau, dia juga ingin segera bangkit dan segera move on. Tapi nyata nya tidak semudah yang kita bayangkan, apa lagi dia mungkin sudah menaruh hatinya sangat dalam pada sosok pria yang sudah lama dia cintai dan sayangi.
"Sudahlah, jika memang dia jodoh loe dia bakalan didekeketin buat loe Rin. Gue selalu mendo'akan yang terbaik buat loe, semoga loe mendapatkan cowok yang baik dan bertanggung jawab. Bukan hanya buat loe sakit hati kayak gini" ucap Eric yang masih memeluk Rina sambil mengusap punggung nya.
Ternyata tidak jauh dari Rina dan Eric duduk ad'a seseorang yang sedang memperhatikan mereka berdua yang sedang berpelukan dari jauh. Dia merasa ada tangan tak kasar mata yang meremas hatinya.
Terasa sangat menyakitkan melihat nya seperti itu. Beradegan mesra ditempat umum.
"Cih, dasar gadis bar-bar. Ternyata dia sudah punya kekasih ternyata. Tapi kenapa seperti nya aku sakit melihat nya? Ah, sudah lah. Ngapain aku memikirkan nya" gumam Rudi yang masih melihat nya.
Ternyata yang melihat adegan itu adalah Rudi. Dia juga merasakan apa yang Rina rasakan. Merasa sakit saat dia berdekatan dengan orang lain.
"Kenapa aku jadi seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Kenapa kaki ku melangkah kesini dan melihat yang membuat ku merasa sakit" imam Rudi masih belum mengerti akan perasaan nya.
Sedangkan Rina masih berada dalam pelukan Eric teman baik nya. Rina juga masih menangis, dia menangisi nasib nya sendiri yang sangat menyedihkan.
"Sudah Rin, loe harus bisa bangkit dan berusaha buat move on. Loe juga berhak mendapatkan kebahagiaan loe sendiri, jangan berlarut-larut dalam kesedihan yang membuat loe semakin mengerikan dimata gue" ucap Eric mencoba menghibur teman nya ini.
"Ish, loe itu sudah buat gue tenang dan nyaman loe langsung menghempaskan gue jadi seperti ini" gerutu Rina sambil memukul lengan Eric lumayan keras.
"Ish, sakit tahu! Gue kan bener. Loe itu harus move on, gue ngeri melihat loe yang aneh seperti ini. Ini bukan seperti loe banget" ucap Eric protes karena dia dipukul begitu saja dan meninggalkan rasa kebas dilengan nya.
"Loe bilang gue aneh!" tanya Rina sambil melototkan matanya tidak terima akan ucapan teman nya satu ini.
"Ampun Rin, ampun" ucap Eric yang memohon supaya Rina tidak memukuli nya.
__ADS_1
Setelah saling kejar dan saling mengejek satu sama lain, mereka tertawa bersama. Mereka berdua bisa melepaskan penat yang ada dihati dan fikiran mereka. Terutama Rina yang memang sedang galau.
"Thanks ya Ric, loe emang teman gue yang paling baik sedunia" ucap Rina sambil berteriak dan tersenyum padanya.
"Giliran gini aja loe bilang gue baik sedunia, giliran nggak kayak gini loe bilang gue nggak solidaritas" gerutu Eric yang tidak terima dengan ucapan Rina.
Rina hanya nyengir kuda, dia merasa bersyukur karena dia masih memiliki seorang teman yang baik seperti Eric. Dia memang lelaki tampan dan juga anak dari keluarga yang berada. Tapi dia tidak pilih-pilih teman.
"Oh iya Rin, tadi gue liat ada cowok yang memperhatikan kita" ucap Eric yang merasa seperti ada yang memperhatikan mereka berdua.
"Siapa? Dimana?" tanya Rina sambil celingukan mencari keberadaan seseorang itu.
"Tadi Marimar. Gue kan bilang tadi" jawab Eric sambil menoyor kepala Rina.
"Ish, gue kan nanya" ucap Rina sambil mengerucutkan bibirnya.
"Eh, gue balik sekarang ya. Gue lupa, sudah ada janji sama nyokap gue buat nganterin dia nyalon" ucap Eric yang baru ingat jika dia sudah berjanji ingin menemani Ibunya.
"Oke deh, eh tapi. Louis jangan ngikut nyalon ya, gue takut loe bukan Eric lagi tapi Erica" ucap Rina sambil meledek Eric.
"Enak saja. Gue cowok tulen dan nggak gemulai juga kali" ucapan protes Eric yang diledek jadi gemulai.
"Kali aja loe pindah haluan. Hahaha" ucap Rina sambil tergelak keras.
Mereka berdua tertawa bersama, dan juga saling meledek satu sama lain. Dan Eric pergi untuk menjemput Ibunya, sedangkan Rina masih duduk sendiri ditaman.
Dia benar-benar merasa sangat sedih dan juga entah apa yang dia rasakan sekarang. Semua perasaan nya campur aduk.
.
Ditempat lain Rudi sedang sama tidak karuan perasaan nya. Dia tidak tahu kenapa dia seperti ini, ada apa sebenarnya dengan diri dan perasaan nya.
__ADS_1
Rudi benar-benar tidak habis fikir dengan rasa yang sangat sulit untuk mengerti.
"Ada apa sama aku? Kenapa aku kepikiran terus dengan gadis bar-bar itu. Ada apa sebenarnya?" gumam nya sambil mengacak-ngacak rambutnya frustasi.