
Apa yang akan Vita lakukan, dia benar-benar sangat terkejut akan sikap Louis barusan. Dia bilang jangan menampilkan wajah menggemaskan? Apanya yang menggemaskan, yang ada dia itu sedang syok dan juga kaget.
"Maksud anda apa? kenapa bicara seperti itu. Bukankah saya sudah bilang jika saya tidak bisa menerima anda" jelas Vita dengan gugup.
Louis berbalik untuk mendekatinya kembali. "Kamu bukan tidak menerima, tapi belum menerimaku. Aku akan membuatmu bisa menerimaku dengan caraku" ucap Louis sambil berbisik didepan telinganya, bahkan pipi Louis hampir menyentuh pipinya.
Jika ada yang masuk dan melihat adegan itu, pasti akan salah faham. Mereka pasti mengira jika Louis dan juga Vita sedang berciumann. Karena posisi mereka terlihat sangat intim.
Louis menyeringai, dia tau bahwa wanita didepannya sedang terkejut. Apa lagi dia terlihat menegak kan badannya, dia pasti sedang tegang karena diperlakukan seperti ini.
"Tidak perlu tegang, kamu hanya harus selalu siap menerima apapun dariku. Jangan merasa tertekan, oke" ucap Louis sambil mengusap pipi Vita dengan sangat lembut.
Tentu saja pipi Vita merona seperti tomat mateng, mendapatkan perlakuan manis seperti itu oleh seorang Louis.
Vita benar-benar diam membeku, lidahnya juga terasa kelu, dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan perlakuan yang sangat manis dan juga lembut. Sisi lain dari Vita menyuruhnya supaya menerima apapun yang diberikan Louis padanya. Tapi disisi yang lain lagi dia harus menolak dan menjaga jarak darinya.
Apa yang akan Vita lakukan, apa yang dia putuskan. Perasaannya mengatakan bahwa dia merasa nyaman dan bahagia berada dekat dengan Louis. Tapi dia takut untuk memulainya, dia takut akan merasakan sakit lagi. Disaat dia sedang sangat menyayangi dan juga memberikan sepenuh hatinya, dia akan ditinggalkan untuk yang kesekian kalinya. Itu benar-benar sangat membuatnya berfikir keras supaya dia tidak salah mengambil keputusan. Apa lagi ini menyangkut kehidupan nya juga masa depan nya juga anak-anak.
Vita segera tersadar akan dilemanya perasaan dia, Vita segera melepaskan tangan Louis yang masih mengusap kepalanya yang tertutup hijab. Dia tidak boleh memberikan harapan atau memberi peluang untuk hatinya supaya baper atas perlakuan manis dari Louis.
"Maaf, saya mau istirahat lagi. Kepala saya terasa sakit, jadi bisakah anda keluar dari sini?" tanya Vita, seraya mengusir dengan tidak langsung. Nada bicara Vita juga selalu formal, tidak pernah menggunakan panggilan aku, kamu. Tapi selalu dengan saya dan anda.
"Baiklah, saya akan pergi dari sini. Istirahat lah, supaya cepat pulih kembali. Kasihan anak-anak sangat merindukan Mommy nya" jawab Louis seraya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan rawat Vita.
__ADS_1
Setelah Louis menutup pintu, Vita meneteskan air matanya. Dia tidak tau tentang perasaannya sendiri, dia selalu membuat dinding yang sangat tinggi untuk membatasi hatinya supaya tidak akan ada seseorang yang bisa meraihnya.
Tetapi dia sendiri yang tersiksa akan itu semua. Dia hanya ingin seperti ini terus, menjaga dan membesarkan anak-anak nya hingga dewasa dan menemukan jodohnya kelak. Ia tidak menginginkan yang lain lagi, kebahagiaan dia hanya bisa melihat anak-anak nya bahagia. Dia juga akan bahagia, jadi dia memutuskan tidak ingin pendamping lagi dalam hidupnya.
Vita bukannya istirahat setelah kepergian Louis malah menuju ICU tempat perawatan Mama Sila, Mama Sila sempat drop beberapa saat yang lalu. Vita sedih melihat keadaan Mama Sila seperti itu, dia begitu tidak menyangka jika Mama nya mengidap komplikasi yang sudah sangat parah.
Hanya do'a yang dia panjatkan untuk kesembuhan sang Mama, Selama ini Mama Sila tidak pernah mengeluh sakit atau bagaimana. Atau mungkin menyembunyikan nya dari Vita supaya Vita tidak semakin terpuruk.
Tapi apa itu benar? Yang ada Vita sekarang menyalahkan diri sendiri atas ketidak tahuan nya atas sakitnya Mama Sila. Dia merasa gagal menjadi seorang anak, mengapa bisa dia tidak tau jika Mama nya selama ini menahan sakit.
Benar-benar anak yang sangat tidak baik menurutnya. Vita benar-benar berada dititik yang paling rendah jika sekarang Mama nya juga akan pergi. Walau bukan Mama kandungnya, walaupun hanya Mama mertua saja. Baginya yang sudah sebatang kara dan tidak memiliki siapa pun lagi dia sangat bersyukur masih bisa memiliki seorang Mama yang sangat menyayangi nya.
"Ma, Mama harus kuat. Mama harus sembuh melawan sakit Mama, jangan menyerah Ma, aku masih sangat membutuhkan Mama sebagai sandaran, masih butuh pelukan hangat Mama, masih menginginkan Mama marah jika aku berbuat kesalahan, aku... Aku sangat membutuhkan itu semua Ma, aku mohon Mama kuat, Mama sehat" ucap Vita sambil menggenggam tangan Mama Sila sambil sesekali menciumi punggung tangannya.
"Mama, baik-baik saja nak. Mama minta maaf sudah membuat kamu sedih, Mama sangat menyayangi kamu. Kamu harus bisa menjaga cucu-cucu Mama dengan baik. Mama tidak tau waktu Mama sampai kapan, karena Mama sudah melihat Surya dan juga Papa nya ada disini untuk menjemput Mama." ucap Mama Sila sambil tersenyum.
"Mama, jangan bicara seperti itu Ma. Mama pasti sembuh, Mama pasti bisa ikut merawat cucu-cucu Mama" jawab Vita sambil terisak perih.
"Mama, Mama rasa waktu Mama sudah sangat dekat nak. Mama hanya minta satu hal padamu, berbahagia lah, raih kebahagiaan kamu. Jangan pernah membuat dinding pembatas untuk setiap pria yang dekat dengan kamu. Hancurkan dinding itu, biarkan dia masuk, jangan menyiksa perasaan kamu sendiri" jelas Mama Sila lagi.
"Mama, ingin bertemu dengan pria yang selalu ada dibelakang kamu nak. Dimana dia? Mama mau bicara padanya. Supaya Mama bisa tenang meninggalkan kamu pada orang yang tepat" ucapnya lagi.
Vita hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia sudah tidak bisa mengeluarkan suaranya. Yang ada dia hanya menangis dan memeluk Mama Sila dengan erat.
__ADS_1
"Mama istirahat lagi ya Ma, nanti jika sudah waktunya menjenguk lagi aku akan membawanya untuk Mama. Mama harus kuat" ucap Vita sambil mencium kening Mama Sila.
Mama Sila hanya mengangguk samar, dia mencoba memejamkan matanya kembali. Dia hanya ingin menitipkan Vita pada pria yang tepat nantinya, semoga saja pilihan nya tepat. Mama Sila seperti melihat Surya ada pada diri Louis Edison.
.
Vita berjalan dengan gontai, dia berjalan seperti terseok-seok. Bagaikan tidak ada tujuan nya, Vita melangkahkan kakinya menuju parkiran dimana mobil nya berada.
Vita memutuskan untuk pulang dulu, nanti setelah waktu menjenguk pasien ICU diperbolehkan maka Vita akan datang lagi bersama dengan Louis.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit Vita sudah sampai didepan rumah utama. Dia disambut oleh asisten rumahtangga dan juga anak-anak nya.
Mereka semua menyambut kehadiran Vita dengan wajah kesedihan nya masing-masing. Bagi bik Sumi yang sudah sangat mengenal Vita dan keluarga ini sangat sedih menyaksikan majikan nya sedang dalam masalah seperti ini.
"Selamat datang nyonya" ucap bik Sumi menyambut kedatangan sang majikan.
"Bik" Vita tidak mengucapkan apapun, dia langsung menghambur dan memeluk bik Sumi. Dia menangis kembali dalam pelukan bik Sumi.
"Semua pasti baik-baik saja, kita hanya bisa mendo'akan saja. Masih ada bibik disini, juga anak-anak masih sangat membutuhkan nyonya" ucap bik Sumi sambil mengusap punggung Vita yang bergetar.
"Sekarang kita masuk, kasihan anak-anak sudah menunggu sejak tadi. Hapus air matanya, dan tersenyum lah" ucapnya lagi sambil ikut tersenyum walaupun seperti dipaksakan.
Vita memasuki rumahnya dengan merangkul bik Sumi, dia mencoba tersenyum walau sangat sakit.
__ADS_1