
Setelah melakukan yang iya iya. Vita dan juga Louis segera pulang, karena sudah lebih dari satu minggu mereka meninggalkan anak-anak karena Vita masuk rumah sakit.
Vita memang tidak mau membuat anak-anaknya sedih mengetahui jika dia sedang terluka. Lebih tepatnya dilukai.
Setelah menempuh perjalanan lumayan panjang mereka sampai didepan mainson. Dan bertepatan dengan anak-anak yang sedang bermain ditaman pada sore hari itu.
"Assalamualaikum" ucap Vita menghampiri anak-anak nya yang sedang bermain.
"Wa'alaikum salam" jawab mereka semua bersama-sama menyambut kedatangan Mommy dan Daddy nya.
Mereka semua langsung memeluk tubuh Vita dengan sangat erat, melepaskan rasa rindunya pada sang Mommy.
"Ehm, hanya Mommy saja nih yang dipeluk?" ucap Louis sambil berdehem keras.
Mereka seperti dikomado, langsung berpindah memeluk Louis. Daddy nya yang mereka rindukan juga.
"Oh my god. Kalian ini" ucap Louis sambil memeluk tubuh anak-anak nya dalam satu dekapan.
"Udah Daddy, kami tidak bisa bernafas" ucap Zoya.
"Really my princess?" tanya Louis sambil mengeratkan pelukannya.
"Daddy no.... " ucap Zayd yang tubuhnya paling gemuk semakin tidak bisa bergerak.
"Oke oke... Daddy akan melepaskan kalian, tapi... Kiss dulu" Louis memberi sebuah penawaran.
"Oke, tapi lepaskan dulu" ucap Zoya.
Louis perlahan melepaskan pelukannya, Zoya lebih dulu mencium pipi Louis. Disusul oleh Zia, Zio dan yang terakhir Zayd. Dia paling lama menciumnya dan juga langsung digendong oleh Daddy nya.
Vita yang melihat interaksi seperti itu sangat bahagia. Ternyata Louis tidak hanya mencintainya saja, melainkan mencintai anak-anak nya juga.
'Mas Surya, kamu bisa melihatnya kan? jika anak-anak sangat menyayangi Daddy barunya. Daddy yang bisa menerima dan juga menyayanginya seperti darah dagingnya sendiri. Aku berjanji tidak akan membiarkan mereka melupakanmu, mereka akan tetap mengingatmu dalam setiap sujudnya' ucap Vita dalam hati, sambil menatap senyuman mengembang dari anak-anak nya.
"Mom, ayo masuk" ajak Zio yang melihat Mommy nya malah diam mematung.
Zio menggandeng tangan Mommy nya untuk masuk kedalam mainson. Didalam sudah heboh oleh anak-anak, Louis sangat merindukan suasana seperti ini. Selalu ramai oleh canda tawa anak-anak nya.
"Honey, kamu harus istirahat dulu. Ingat, jangan banyak melakukan apapun" ucap Louis memperingati Vita yang terkadang suka melakukan pekerjaan yang dilarang.
"Iya Dad, aku akan kekamar dulu" jawab Vita sambil melangkah menuju kamarnya.
"Dad, apa Mommy sedang sakit?" tanya Zoya yang sedikit banyak tau akan sesuatu.
__ADS_1
"No princess, Mommy hanya merasa jet lag saja. Setelah istirahat akan lebih baik" jawab Louis memberi penjelasan pada Zoya.
Zoya adalah anak yang cerdas dan juga selalu ingin tahu. Jika menurutnya penjelasan atau jawaban dari pertanyaan nya tidak sesuai, maka dia akan selalu bertanya hingga jawaban yang dia terima masuk akal menurutnya.
"Oh, oke. Apa Daddy tidak jet lag juga? Bukankah habis perjalanan jauh?" tanya Zoya kembali.
"Daddy kan kuat, masa merasakan jet lag. Kan tidak sesuai dengan Daddy yang so handsome ini" jawab Louis sambil menaik turunkan alisnya.
"Idihhh, Daddy narsis" ucap Zoya sambil tersenyum menatap wajah Louis yang sedang menggodanya.
"Benarkah? My princess Zia apa benar Daddy yang handsome ini narsis?" tanya Louis sambil menampilkan puppy eyes nya.
"No, Daddy sangat handsome. Aku mau punya suami seperti Daddy" jawab Zia dengan polosnya.
"Oh, thank you sweetie. My little princess Daddy" ucap Louis mengedipkan sebelah matanya.
"Zi, kau itu masih sangat kecil. Mengapa menggoda Daddy?" ucap Zoya menarik tangan Zia yang sedang menggenggam tangan Louis sangat erat.
Louis yang melihat semua itu tergelak sangat keras. Dia merasa sangat lucu pada tingkah menggemaskan dari kedua putrinya.
"Semoga mereka tidak cepat tumbuh dewasa. Supaya aku selalu menyaksikan tingkah menggemaskan mereka" gumam Louis setelah tertawa.
Louis menuju kamar Zico dan Zayn, kedua hacker ciliknya entah sedang apa. Mereka berdua tidak menyambut kedatangan nya dan juga Mommy nya.
Walau anak-anak nya masih kecil, Louis selalu meminta izin dulu sebelum memasuki kamar anak-anaknya. Jadi walau hanya anak-anak sambung, Louis memperlakukan mereka semua istimewa.
"Masuk saja Dad" jawab Zico.
"Thank you boy" ucap Louis.
"Bagaimana keadaan Mommy sekarang Dad? Apa sudah lebih baik?" tanya Zayn to the point.
"Ya, Mommy sudah lebih baik. Mommy kalian tidak mau dirawat lebih lama lagi, katanya sangat merindukan kalian semua" jelas Louis sambil menghembuskan nafasnya sedikit kasar.
Louis memang tidak bisa membohongi kedua putranya ini. Karena sebelum Louis berbicara, mereka berdua sudah tau semuanya. Termasuk dunianya yang dulu sudah Louis tinggalkan.
"Thank you Dad" ucap Zayn, dia bangkit dari duduknya lalu memeluk kaki panjang Louis.
"Sama-sama boy" jawab Louis sambil mengangkat tubuh Zayn kedalam gendongan nya.
"No Dad, aku sudah besar. Jadi jangan menggendong ku seperti anak lecil" ucap Zayn meronta ingin diturunkan.
"Kamu memang masih kecil boy" jawab Louis sambil menurunkan Zayn dari gendongan nya.
__ADS_1
Zico dan Zayn tidak menjawab ucapan Louis. Mereka kembali melihat layar monitor nya kembali tanpa menghiraukan Louis yang masih berdiri melihatnya.
"Kalian sedang melihat apa? Apa Daddy tidak boleh melihatnya juga?" tanya Louis memperhatikan kedua putranya yang sedang sibuk memandangi layar monitor didepan nya.
"Boleh Dad" jawab mereka berdua sangat kompak.
Louis hanya mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya "Apa" pada mereka berdua.
"Dad, kami sedang menyempurnakan malware protection milik EDC.CORP and Pratama group" jawab Zayn memperlihatkan penemuannya.
"Good boy, Daddy bangga pada kalian berdua. Lanjutkan, Daddy akan selalu mendukung kalian jika masih dalam tahapan normal. Jika melebihi itu, atau Daddy tau jika kalian malah menanam virus. Maka Daddy sendiri yang akan melawan kalian" ucap Louis memuji kinerja anak-anak nya. Juga memberi peringatkan, supaya anak-anak nya tidak melewati apa yang sudah ditentukan olehnya.
"Thank you Dad. Kami tidak akan mengecewakan mu Dad. Daddy sudah membebaskan kami berdua untuk melakukan apa yang kami inginkan, so kami tidak akan mengecewakan mu Dad" jawab Zico mewakili adiknya yang memang tidak banyak bicara.
"Good boy, Daddy percaya semuanya pada kalian" ucap Louis sambil mengusap kepala Zico dan Zayn bersama-sama.
Mereka menghabiskan waktu dengan memperkuat dan juga memberikan skil menggunakan benda canggih itu. Louis juga sudah mengajari kedua putranya bela diri juga menggunakan senjata. Tentunya tanpa selengetahuan Vita. Jika istrinya tau maka, bersiaplah mendapatkan akibatnya.
"Bagaimana dengan latihan bela diri kalian? Sudah ada peningkatan?" tanya Louis mengalihkan pandangan mereka berdua dari layar monitor.
"Kami sudah bisa menggunakan pisau kecil Dad" jawab Zico.
"Benarkah? Apa kalian bisa membuktikan nya dihadapan Daddy?" tanya Louis memberi tantangan.
"Bisa" jawab mereka kompak.
Mereka beranjak dari duduknya menuju pintu. Zayn mengunci pintunya, supaya tidak ada yang melihatnya. Zico dan Zayn melakukan penyerangan pada Louis dengan tangan kosong.
Louis menangkis semua serangan sambil memberikan arahan pada mereka berdua.
"Gerakan kalian masih kaku, lenturkan kembali" ucap Louis sambil menyerang mereka balik.
"Jika ada lawan yang lebih tangguh, kalian harus waspada dari segala arah. Jangan terfokuskan pada satu titik saja" ucapnya lagi sambil terus menyerang.
"Gunakan senjata kalian" ucap Louis.
"No Dad, kami tidak mau melukaimu" jawab Zico yang masih ragu-ragu.
"Kenapa? Apa kalian belum bisa mengontrol emosi kalian?" tanya Louis, dijawab anggukan oleh keduanya.
"Baiklah, latihan cukup sampai disini. Tingkatkan kemampuan kalian" tegas Louis pada mereka berdua.
"Yes Dad" jawab Zico dan Zayn kompak.
__ADS_1
"Sekarang kita temui Mommy. Dia pasti sudah menunggu kalian" ajak Louis sambil merapikan penampilannya, juga penampilan anak-anak nya.