Salahkah Menjadi Janda

Salahkah Menjadi Janda
Penolakan Zayn


__ADS_3

Jika disekolah four Z sedang menuju kelasnya masing-masing. Berbeda dengan twins Z yang ada di mainson, mereka menjalani pelajaran-pelajaran anak seusianya. Tapi yang ada mereka berdua merasa bosan dan tidak semangat untuk mengerjakan nya.


"Tuan Muda, kenapa soalnya tidak dikerjakan?" tanya guru private nya pada Zayn.


Zayn hanya diam saja, tanpa berniat menjawab pertanyaan dari gurunya. Dia langsung bangkit dari duduknya berlalu tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


Ini adalah guru yang kesekian kalinya untuk Zayn, semuanya mengundurkan diri karena sikap Zayn yang tidak banyak bicara dan juga susah untuk beradaptasi.


"Huh, kenapa aku menerima murid sepertinya" gumam guru baru Zayn.


Sedangkan Zico santai saja mengerjakan tugas nya. Dia memang cuek tapi tidak seperti Zayn yang sangat dingin dan datar, apa lagi jika sudah seperti ini hanya Daddy dan Mommy nya saja yang bisa membujuk Zayn.


"Tuan Muda, apa Tuan Muda Z akan ganti guru lagi?" tanya guru Zico yang sudah tau sifat keduanya.


Zico hanya mengangkat kedua bahunya seolah berkata "Aku tidak tau".


"Tuan Muda, apa anda tidak keberatan jika Tuan Muda Z bergabung dengan anda?" tanya gurunya lagi meminta persetujuan.


"Coba saja jika anda bisa" ucapnya sambil menyeringai.


"Baiklah" jawab sang guru menyerah.


Sedangkan yang dibicarakan malah bersantai ditepi kolam renang. Dia menatap kedepan dengan pandangan yang sangat tajam. Ketajaman matanya melebihi tajamnya mata seekor elang.


"Anda sedang apa Tuan Muda?" tanya Zico yang ikut duduk disamping nya.


Zayn hanya menarik sudut bibirnya saja. Dia tidak menjawab pertanyaan dari abang nya. Zayn sudah tau jika yang menghampirinya adalah Zico, tidak perlu menoleh untuk tau.


Dengan suara langkah nya saja Zayn sudah tau siapa yang datang mendekatinya.


"Kamu mau bergabung dengan ku untuk belajar? kulihat kamu tidak menyukai gurumu" tawar Zico yang tau bagaimana sifat dan karakter Zayn.


Zayn langsung bangkit dari duduknya, dia mengulurkan tangannya pada Zico. Lalu sedikit menarik sudut bibirnya. Zico menyambut uluran tangan adiknya dan mereka berdua masuk kedalam mainson lagi.


Guru yang sebelumnya mengajari Zayn berdiri dihadapan Zico dan Zayn. Dia membungkukan badannya memberi hormat pada kedua Tuan Muda Z, Zayn tidak bergeming sedikitpun.


"Kami akan belajar bersama, anda bisa pergi sekarang" ucap Zico dengan datarnya.


"Tapi Tuan Muda" guru itu ingin protes, tapi setelah menatap mata Zayn yang mengerikan menurutnya langsung saja bungkam.

__ADS_1


"Baik Tuan Muda Z" ucapnya sambil menunduk dan pergi.


"Zayn, kau tidak bisa seperti ini terus. Kamu tidak mungkin hanya diam, kamu bukan master limbad yang tidak mau bicara" ucap Zico sambil meledek adiknya.


Zayn hanya menggelengkan kepalanya mendengar candaan garing dari abang nya. Dia berlalu pergi begitu saja dari sisi Zico.


"Ish, anak itu. Dia itu mirip siapa sih sebenarnya?" gumam Zico pada dirinya sendiri.


"Dia seperti Daddy Surya bang" jawab seorang wanita cantik yang berdiri dibelakang nya.


"Mom, sejak kapan Mommy ada disini?" tanya Zico yang terkejut melihat Mommy nya ada disebelahnya.


"Sejak kalian ada disini" jawab Vita sambil tersenyum.


"Kenapa lagi dengan Zayn? Apa dia membuat ulah lagi?" tanya Vita penuh selidik menatap putranya.


"Seperti yang Mommy tau" jawab Zico tanpa ekspresi.


"Mom, apa maksud Mommy dengan mirip dengan Dad Surya? Apa semuanya mirip dengan Zayn?" tanya Zico penasaran.


"Iya, sangat mirip. Jika wajah kalian semua juga mirip tapi Zayn lebih dominan, dari wajah dan juga sifatnya semuanya sama. Tidak ada yang berbeda sedikitpun, terkadang Mommy seperti melihat Daddy Surya didiri Zayn. Mommy bahkan menyangka jika Zayn adalah Daddy Surya" jawab Vita sambil tersenyum dan memandang menerawang kedepan.


"Siapa yang tidak merindukan nya bang, abang juga kan? Walau kita punya Dad Louis. Tetap saja itu tidak bisa menggantikan kerinduan kalian pada Dad Surya bukan? Tapi kerinduan itu akan terobati dengan kita mendo'akan dan juga menyayangi Dad Louis. Dia adalah Daddy panutan kita semua" jawab Vita masih memandang kedepan dan tersenyum.


Ternyata tidak jauh dari sana Louis dan juga Zayn sedang memandangi mereka berdua. Louis merasa semua yang dikatakan oleh Vita memang benar2 adanya. Mau seberapa pun kasih sayang nya, dan mau bagaimana pun Louis pada mereka. Tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Surya Pratama dihati istri dan anak-anaknya.


"Apa Daddy merasa kecewa dengan semua jawaban Mommy?" tanya Zayn pada Louis.


"Tidak, justru yang diucapkan Mommy kalian sangat benar. Daddy memang tidak akan bisa menggantikan posisi Daddy kandung kalian bukan? Daddy tetap Daddy sambung kalian. Tapi Daddy sangat menyayangi dan juga sangat mencintai kalian semua. Kalian adalah prioritas utama bagi Daddy" jawab Louis sambil menampilkan senyuman tipis dibibirnya.


"Dad, walaupun Daddy bukan Daddy kandung ku. Aku lebih suka sama Daddy, karena aku tidak mengenal dan melihat Dad Surya" ucap Zayn dengan nada dingin dan datarnya.


"Ya, Daddy tau itu" jawab Louis sambil menampilkan senyuman smirks nya.


Zayn melangkahkan kakinya menuju tempat latihan nya, diikuti oleh Louis dibelakngnya.


"Sekarang apa yang ingin kamu lakukan boy?" tanya Louis setelah sampai didalam ruang latihan.


"Seperti yang akan Daddy lihat" jawab Zayn sambil mengangkat sebuah tongkat kayu.

__ADS_1


Zayn mengarahkan tingkat nya pada Louis. Tentu Louis melayani nya dengan baik, Zayn benar-benar semangat untuk melakukannya. Bahkan tidak segan-segan untuk memu*ul Louis dengan pu*ulan yang sangat keras.


"Kamu semakin hebat boy, lanjutkan" ucap Louis yang sudah merasa kelelahan menghadapi Zayn yang sangat cekatan.


"Thank you Dad" jawab Zayn sambil mengatur nafasnya.


"Mau latihan apa lagi?" tanya Louis memperhatikan Zayn yang sangat tangguh diusianya yang masih kecil.


.


"Mom, kemana Zayn?" tanya Zico yang baru menyadari jika adiknya tidak ada.


"Kemana lagi jika dia sudah bosan dengan pelajaran?" Vita balik bertanya.


"Ruang latihan" jawab Zico, lalu membiarkan Mommy nya sendiri.


"Anak itu, tidak abang tidak adik sama saja. Selalu ngeloyor begitu saja" gerutu Vita yang menatap punggung putranya yang semakin menjauh.


Pada saat sedang memandangi punggung putranya, Vita didatangi oleh seorang guru yang tadi ditolak oleh Zayn.


"Permisi Nyonya, saya guru baru yang Tuan Muda kecil tidak terima. Saya sudah mencoba semampu saya, tapi tetap saja saya ditolak juga Nyonya" ucapnya sambil menundukan wajahnya.


"Maaf Pak, putra saya memang seperti itu. Anda boleh pergi sekarang, soal pembayaran saya sudah mentransfer uangnya langsung direkening anda. Anda bisa langsung mengeceknya" ucap Vita merasa bersalah pada guru private yang dia sewa.


Lagi-lagi Zayn menolaknya, dia tidak mau sembarang orang yang mengajarinya. Tapi dia akan selalu menurut dengan semua pengaturan dari Daddy nya.


"Kalau begitu saya permisi Nyonya" ucap guru private itu undur diri. Vita hanya mengangguk kan kepalanya saja.


"Huh, anak itu. Mau sampai kapan dia seperti ini, semua orang yang akan mengajarinya pasti akan mengundurkan diri sebelum melakukan pekerjaan hingga selesai" gumam Vita sambil bangkit dari duduknya.


Dia melangkahkan kakinya menuju dapur, dia ingin memasak makan siang untuk suaminya dan juga anak-anak nya.


"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya kepala pelayan saat Vita memasuki dapur.


"Saya ingin memasak hari ini. Jangan melarang saya!" jawab Vita sambil memberi ancaman pada kepala pelayan nya.


"Maaf Nyonya, tapi... " belum sempat melanjutkan ucapannya, sudah dipotong lebih dulu oleh Vita.


"Saya tidak menerima penolakan! Jika masih melarang saya, maka kamu bisa mengundurkan diri kamu sekarang juga!" tegasnya sambil melangkahkan kakinya meninggalkan kepala pelayan yang sudah ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2