
Ternyata Vita memang belum siap jika harus menyerahkan itu pada Louis sekarang. Nyatanya disaat Louis akan melakukan nya, Vita malah tegang dan merasa panik. Jadilah Louis bermain solo, karena dia sudah berjanji tidak akan pernah memaksakannya jika memang Vita belum siap.
Sebenarnya Vita sangat merasa bersalah pada Louis, karena dia belum bisa menerima Louis dengan sepenuh hatinya. Tapi walau hatinya menerima, jika tubuhnya belum bisa, mau bagaimana lagi. Dia juga tidak menginginkan semua ini.
"Mas, maafkan aku" ucap Vita. Merarasa bersalah pada Louis. Saat Louis sudah keluar dari kamar mandi.
"Tidak apa honey, semuanya butuh proses. Jadi jangan merasa bersalah oke, ini sudah peningkatan yang sangat bagus. Karena kamu mau memulainya" ucap Louis sambil menggoda istrinya.
Vita merasa malu dengan apa yang sudah dia lakukan tadi, apa lagi diperjelas oleh Louis. Semakin bertambah malu saja, bahkan wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Sudah sangat merah.
Louis semakin semangat untuk menggoda Vita yang sudah memerah karena malu. Louis semakin gemas melihatnya, dia langsung memeluk Vita seraya merebahkan diri diranjang king size nya.
Mereka berdua berpelukan bersama dan mengarungi mimpi bersama. Hingga pagi menjelang, seperti biasa sebelum subuh sudah bangun untuk melaksanakan sholat subuh.
"Mau kemana?" tanya Louis sambil memeluk dan menelusupkan wajahnya diceruk leher Vita.
"Aku mau menyiapkan sarapan untuk kita" jawab Vita sambil mengusap kepala Louis seperti pada anaknya saja.
"Aku sudah membayar koki terkenal dan sangat mahal tentunya. Kenapa kamu masih repot-repot juga, hmm. Aku masih menginginkan seperti ini, sangat nyaman" ucap Louis semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa memang seperti ini pemilik dari EDC.CORP? Melebihi Zio dan Zayd" jawab Vita sambil tersenyum mengejek.
"Biarkan saja, sama istri sendiri ini. Asalkan jangan dengan istri orang saja" ucap Louis sambil menggigit kecil pundak Vita saking gemas.
Terang saja Vita langsung memekik kesakitan akibat ulah suaminya. "Mas kamu ini seperti drakula saja" ucap Vita sambil menyingkirkan kepala Louis dari lehernya.
Pagi ini mereka habiskan dengan berbincang sambil bercanda berdua, hingga waktu sarapan tiba. Mereka membersihkan tubuhnya bergantian.
"Mas, bagaimana dengan pakaian ku. Aku kan tidak membawa baju ganti" ucap Vita setelah selesai mandi.
Louis membawa Vita menuju ruangan walk in closet dikamarnya, mata Vita terbelalak melihat jajaran baju yang begitu banyak. Dari yang kasual sampai yang glamour ada didalam lemari yang berjajar rapi. Bukan hanya pakaian saja, bahkan sepatu dan juga tas sudah berjajar dengan rapi.
__ADS_1
"Mas, kapan kamu menyiapkan semuanya ini?" tanya Vita sambil berdecak kagum.
"Sejak lama" jawab Louis sambil memeluk pinggang istrinya dari belakang.
"Sekarang bersiaplah, aku sudah menyiapkan kejutan selanjutnya" ucap Louis sebelum dia meninggalkan ruangan walk in closet.
Vita segera berganti pakaian dengan yang biasa saja, gamis syar'i yang membalut tubuhnya sangat cantik.
Waktu sedang berjalan menuju ruang makan Vita kaget melihat anak-anak nya sudah duduk melingkar dimeja makan.
Vita langsung mempercepat jalannya untuk menghampiri anak-anaknya. Vita sudah sangat merindukan anak-anak nya langsung menciumi satu persatu anak-anak nya.
"Kalian semua kapan datang kesini? Mommy benar-benar sangat merindukan kalian semua" ucap Vita sambil menunduk anak-anak nya satu persatu.
"Tadi pagi kami sudah dijemput oleh uncle yang itu" jawab Zoya sambil menunjuk seorang pria kekar yang sedang berdiri tidak jauh dari meja makan.
"Oh, benarkah? Mommy merindukan kalian" ucap Vita masih menciumi seluruh wajah anak-anak nya bergantian.
"Oh, oke-oke" jawab Vita lalu mendudukan dirinya disamping Louis yang tidak pernah lepas dari senyumannya melihat interaksi Vita dan anak-anak nya. Yang sekarang anak-anak nya juga.
.
Disaat Vita dan Louis sedang menikmati waktu mereka bersama. Berbeda dengan Rudi yang sedang mengurus proses perceraian nya dengan Sofia, dia sedang menjalani mediasi yang sama sekali dia tidak mau datang sama sekali. Yang datang hanya pengacaranya saja.
Rudi sama sekali sudah tidak mau berurusan dengan Sofia lagi. Dia benar-benar sudah sangat muak dengan semua yang dia lakukan didepan umum.
Sidang perceraian nya akan dimajukan, karena Rudi sudah tidak mau berurusan lebih jauh lagi dengan Sofia atau keluarganya yang selalu memberikan keterangan palsu.
"Pak, sidang akan berlangsung besok pagi. Apa anda akan hadir? Kalau menurut saya, lebih baik tidak hadir. Supaya prosesnya semakin cepat" ucap sang pengacara.
"Bapak urus saja semuanya, jika mereka meminta harta gono gini berikan saja sesuai yang saya jelaskan pada anda. Jika mereka menginginkan lebih, jelaskan jika semua yang saya miliki hanya sebatas itu. Karena yang selama ini saya kelola semuanya adalah milik kedua orang tua saya. Jika masih tidak percaya juga berikan semua bukti-buktinya" jelas Rudi sudah tidak mau lagi berurusan langsung.
__ADS_1
"Baik Pak, saya akan urus semuanya sesuai yang anda inginkan. Semoga semuanya dilancarkan sampai benar-benar sesuai yang anda inginkan, saya permisi Pak" ucap sang pengacara untuk pergi.
Setelah kepergian pengacaranya, Rudi segera menyibukkan dirinya dengan semua pekerjaan nya. Dia tidak mau terlalu memikirkan proses perceraian dia dengan Sofia.
Rudi akan melakukan pengajuan proposal untuk kedua kalinya pada perusahaan Pratama group.
"Semoga saja bisa diterima. Ini demi kemajuan pasangan ku sendiri yang sedang mulai merintis" gumamnya.
Rudi beranjak dari duduknya untuk mengajukan kerjasama ini langsung pada CEO Pratama group. Dia tidak mau semuanya menjadi kacau lagi. Dia sudah membuat janji temu dengan CEO Pratama group di gedung Pratama group saja.
Supaya kejadian waktu itu tidak terulang kembali. Dia tidak mau mempermalukan Vita kembali, sebenarnya Rudi merasa malu untuk menemuinya. Tapi perusahaan nya memang sangat membutuhkan kerjasama dengan Pratama group.
Jika dia mengajukan kerjasama pada perusahaan lain, jelas saja mereka tidak mau. Karena keuntungan kerjasama ini sangat kecil, lagi pula perusahaan ini baru berdiri dan belum banyak yang mengenal dan menggunakan jasanya.
Rudi melangkahkan kakinya menuju mobilnya, dia akan menuju Pratama group sekarang juga. Lebih baik dia yang menunggu dari pada dia yang ditunggu.
setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, Rudi sudah sampai didepan gedung Pratama group yang tidak begitu besar dan tinggi. Tapi Pratama group sudah melakukan kerjasama dengan berbagai perusahaan besar lainnya, salah satunya adalah EDC.CORP yang sudah bekerjasama hampir satu tahun ini.
Jadi apa salahnya jika dia harus bekerjasana dengan Pratama group. Dengan seperti itu perusahaan nya yang baru berdiri ini bisa dikenal oleh perusahaan besar lainnya.
"Permisi, saya Rudi dari perusahaan XX sudah membuat janji temu dengan CEO Pratama group ini. Apa sekarang saya bisa langsung menemui beliau?" tanya Rudi pada resepsionis tersebut.
"Sebentar ya Pak, saya tanyakan dulu pada sekertaris nya. Mohon tunggu disebelah sana" jawab resepsionis tersebut, lalu mengarahkan Rudi untuk menunggu.
"Terimakasih" ucap Rudi sambil duduk menunggu. Dia dengan sabar menunggu untuk bertemu sang CEO.
Rudi belum tahu jika CEO Pratama group sudah ganti, dia masih berharap Vita mau menerima tawaran kerjasama nya ini.
Rudi menunggu lumayan lama. Mungkin sudah satu jam lebih, tapi belum ada tanda-tanda jika dia diijinkan untuk bertemu dengan CEO Pratama group.
Rudi kembali menghampiri resepsionis yang tadi. Apa lagi ini sebentar lagi akan waktunya makan siang. Jadi Rudi ingin memastikan kembali, sebelum dia tidak bisa bertemu langsung.
__ADS_1