Salahkah Menjadi Janda

Salahkah Menjadi Janda
Antusias


__ADS_3

Walau perasaannya tidak karuan Vita tetap tersenyum untuk anak-anak nya, dia tidak mau melihat anak-anak nya ikut bersedih juga. Biarlah dia simpan dalam hati saja.


"Mommy" Mereka semua menghampirinya, Vita langsung berjongkok untuk bisa menyambut mereka dan memeluknya.


"Apa, sudah sangat merindukan Mommy? hmm" tanya Vita sambil menaik turunkan alisnya dan juga tersenyum.


"Ya, kami sangat merindukan Mommy. Apa kami boleh bermain dengan Mommy?" tanya mereka antusias.


Terkecuali Zico dan Zayn. Mereka berdua tidak seperti yang lainnya, mereka berdua sangat datar dan dingin. Mereka berdua adalah fotocopy dari seorang Surya Pratama.


"Ayo kita bermain. Tapi sebelum itu Mommy harus mandi dan berganti pakaian dulu, Mommy habis dari rumah sakit. Pasti banyak kuman yang menempel" jelas Vita sambil mengusap kepala anak-anak nya satu persatu.


Vita melangkahkan kakinya menuju kamar utama untuk segera membersihkan dirinya. Vita berjalan sambil menangis, dia masih memikirkan bagaimana keadaan Mama Sila. Dia belum siap jika harus ditinggalkan.


Tapi dia harus ikhlas menerima ketentuan Allah, dia tidak mungkin menyalahkan takdir. Apa lagi menyalahkan Allah yang menciptakan. Vita tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan, dia harus kuat seperti yang bik Sumi bilang tadi.


.


Tidak jauh juga dengan Vita. Nindi juga merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Vita, Nindi tidak boleh egois. Dia harus selalu bahagia demi calon baby yang masih ada didalam rahimnya.


Nando selalu mencoba supaya Nindi bisa melupakan sejenak kesedihan yang dirasakan oleh Vita, seperti mengajak jalan, berburu kuliner, dan masih banyak lagi. Bahkan Nando meminta cuti selama beberapa hari pada Louis. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada istri dan baby nya.


"Sayang, sepertinya itu enak deh" ucap Nindi sambil melihat makanan yang sedang dimakan oleh food flogger yang ada ditelevisi.


"Apa kamu mau itu juga?" tanya Nando antusias mendengar keinginan istri tercinta.


"Iya, sepertinya air liurku sudah menetes" jawab Nindi dengan semangat.


Dengan semangat empat lima, Nando segera memesaan makanan tersebut dari resto yang sesuai dengan yang dimakan oleh food flogger itu.


"Sudah selesai, apa ada yang lain selain makanan yang ada disitu. Hmm?" tanya Nando supaya tidak ada yang terlewatkan.


"Emmm, sepertinya sudah itu saja. Tapi jika aku menginginkan yang lain jangan menggerutu" jawabnya sambil tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.

__ADS_1


"Iya, tapi harus dihabiskan. Jangan seperti sebelum-sebelumnya jika aku yang harus menghabiskan nya" jelas Nando tidak mau sampai sakit perut, karena dia disuruh menghabiskan makanan yang sangat banyak itu. Sedangkan istrinya hanya mencicipinya saja, bahkan dengan sangat santainya Nindi bilang jika baby menginginkan jika Papi nya lah yang harus memakannya. Alhasil, dia semalaman sakit perut dan tidak bisa tidur.


Nindi hanya mengangguk patuh. Tak lama kemudian pesanan mereka sampai, lebih tepatnya pesanan Nindi. Karena Nindi yang menginginkan makanan itu.


"Ayo sayang, habiskan. Kelihatan nya memang sangat enak, boleh aku memintanya juga?" tanya Nando yang menelan ari liurnya sendiri mandangi istrinya makan dengan lahap.


"Boleh, sini aku suapin. Ini benar-benar sangat nikmat" ucap Nindi sambil menyodorkan sesendok makanan.


"Bagaimana, enak kan?" tanya Nindi sambil menaik turunkan alisnya. Dan juga mengedipkan sebelah matanya.


"Iya, ini sangat lezat. Apa lagi dari suapan istri tercinta" jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya juga menggoda Nindi yang sedang makan dan sesekali menyuapi nya juga.


Mereka benar-benar menikmati waktu mereka berdua, apa lagi mereka sudah pindah dari apartment yang mereka tempati sebelumnya.


Sekarang mereka sudah ada diperumahan elite tidak jauh dari rumah Vita, itu juga hadiah dari Louis. Itu adalah kado pernikahan untuk mereka, apa lagi Nando adalah asisten pribadi nya yang sangat berkompeten dalam bekerja. Jadi Louis memberikan sebuah rumah mewah untuk pasangan pengantin baru tempati.


Setelah selesai makan Nindi langsung mengantuk. Tidak lama kemudian Nindi tertidur sambil memeluk Nando suaminya. Semenjak Nindi hamil, dia tidak akan bisa tidur jika tidak memeluk suaminya.


Setelah Nindi benar-benar pulas tidurnya Nando langsung melanjutkan pekerjaan nya yang tadi ditunda karena menemani istrinya makan dan menidurkan nya juga. Nando sangat berkompeten dalam urusan pekerjaan, maka dari itu Louis sangat percaya padanya.


Nando beranjak dari duduknya menuju pintu kamarnya, ternyata yang mengetuk pintu adalah asisten rumahtangga nya.


"Maaf Tuan, dibawah ada Tuan Louis ingin bertemu" ucap asisten rumahtangga yang bernama bik Murti.


"Terimakasih bik. Saya akan turun, tolong bibik jaga istri saya. Saya takut dia bangun dan mencari saya" jawab Nando dan menyuruh bik Marni supaya menjaga istrinya didalam yang sedang tidur, sebelum berjalan menuju ruang tamu.


"Tuan, ada apa Tuan sampai datang kemari?" tanya Nando sambil ikut duduk disalah satu sofa yang ada diruang tamu.


"Saya hanya ingin mengantarkan ini, kamu harus memeriksa semuanya dengan teliti. Sepertinya ada beberapa pemegang saham yang ingin menggulingkan ku, jadi saya minta kamu urus semuanya. Saya sudah menandai semuanya, kamu tinggal eksekusi" jelas Louis, dia tidak mau terjun langsung. Dia lebih suka dengan menggunakan Nando sebagai perisainya.


"Baik Tuan, akan segera saya laksanakan. Apa Tuan tidak kerumah nyonya Vita? Kabar yang saya dengar beliau sudah pulang dan sedang ada ditaman kota" ucap Nando mantap dan memberi informasi bahwa Vita dan anak-anak nya sedang bermain bersama.


"Saya sudah tau, saya memberikan ini dulu padamu. Supaya kamu bergerak cepat dibandingkan dengan dua pecundang itu, jika kamu merasa kesulitan maka beli saham mereka dengan sangat rendah jika tidak mengakuinya" ucap Louis sambil menampilkan senyum mengerikan nya.

__ADS_1


"Baik Tuan, semuanya akan beres sesuai yang anda inginkan. Tapi... Bagaimana dengan Pratama group? Apa kita akan diam saja? Sepertinya semenjak Nindi dan nyonya Vita tidak datang kekantor banyak tikus-tikus yang berkeliaran dan menggigiti kulit Pratama group" jelas Nando panjang lebar.


"Kamu urus bagaimana baiknya, saya tidak mau para tikus-tikus itu berbuat semuanya. Mereka harus bisa kamu selesaikan dengan rapi, jika perlu tekan dan hancurkan hingga keakarnya" ucap Louis masih menampilkan senyuman mengerikan.


Jika Louis Edison sudah berbicara seperti itu, maka tidak akan ada yang boleh selamat dari jeratan seorang Louis Edison. Karena bagi Louis siapa-siapa yang mengganggu orang-orang terdekatnya.


Jadi dibalik layar Pratama group juga ada campur tangan seorang Louis Edison. Bagi Louis menjaga nama baik itu sangat penting, makanya dia selalu menjaga nama baik seorang Vita Ayla. Wanita yang sudah membuatnya resah.


Nando akan mempelajari semua berkas yang diberikan oleh Louis padanya. Sebelumnya juga Louis sudah pergi beberapa detik yang lalu, karena seorang Louis tidak pernah ada yang tau kapan dia akan datang dan kapan dia akan pergi.


Dia seperti jelangkung, datang tak diundang pulang pun tak diantar. Jadi bagi Nando itu sudah biasa, makanya Nando tidak kaget lagi. Jangankan orang lain, seorang Nando saja tidak tau kapan Louis akan datang kembali.


.


Louis mengendarai mobilnya menuju taman kota. Dimana, disana sudah ada Vita dan anak-anak nya sedang bermain disana.


Louis melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Vita dan anak-anak nya sedang bermain bersama. Louis langsung saja bergabung tanpa diajak, Zoya dan Zia yang memang sudah sangat akrab dengan Louis langsung menghampiri pria itu dan mengajaknya bermain bersama.


Ternyata Vita tidak membawa semua anak-anak yang, pasti Zico dan Zayn yang tidak pernah mau ikut ketempat yang ramai. Mereka berdua lebih suka diam dirumah memainkan komputer nya masing-masing.


Ya, mereka sudah diperbolehkan menggunakan komputer walau dibatasi. Apa lagi mereka berdua ternyata sangat ahli dalam kodingan, mereka sangat pintar. Bahkan Vita saja kalah oleh keahlian kedua putranya itu.


Tapi tetap, Vita tidak mengijinkan mereka melakukan lebih jauh lagi. Mereka tetap dibatasi oleh Vita, bahkan Vita selalu memantau mereka berdua.


"Hai uncle" sapa Zoya dan Zia sambil melambaikan tangannya.


"Hai juga, apa uncle boleh bergabung dengan kalian?" tanya Louis sambil tersenyum.


"Boleh, kita bisa bermain bola bersama-sama" ucap Zio dan diangguki oleh Zoya, Zia dan Zayd.


Mereka semua menikmati permainan mereka, tak lama kemudian Vita mengajak anak-anaknya supaya berhenti bermain dulu. Dia ingin berbicara dengan Louis tentang permintaan Mama Sila tadi pagi.


"Kakak, abang. Berhenti dulu main nya, kalian harus minum dan istirahat dulu" ucap Vita pada anak-anaknya.

__ADS_1


Mereka kompak berlarian menuju Mommy nya dan mengambil minuman masing-masing.


"Kalian istirahat dulu oke, Mommy mau berbicara dengan uncle dulu" ucap Vita pada anak-anaknya.


__ADS_2