
Louis hanya mengedikkan bahunya seperti mengatakan "Aku tidak tau".
"Kenapa diam Dad? Aku sangat khawatir pada mereka. Mereka pasti mencariku" ucap Vita sambil memegang tangan Louis.
"Tenang honey, aku sudah menjelaskan pada mereka. Dan mereka mengerti, jadi. Jangan berfikiran yang macam-macam, oke" jawab Louis menenangkan istrinya.
"Baiklah, tapi benar kan?" tanya Vita dijawab anggukan oleh Louis.
"Sekarang istirahat lah honey, kamu harus banyak istirahat. Supaya lukamu cepat pulih" ucap Louis sambil mengusap pipi Vita dengan lembut.
Vita hanya mengangguk, dia juga mencoba memejamkan matanya. Tak lama kemudian Vita tidur lelap.
Louis menghubungi Dion untuk menanyakan wanita yang sudah mencelakai Vita, istrinya.
"Bagaimana dengan wanita itu?" tanya Louis.
"Dia masih belum sadarkan diri Tuan" jawab Dion disebrang sana.
"Urus semuanya sesuai dengan yang saya katakan tadi, buat semuanya seperti sebuah perampokan juga pele*ehan" jelas Louis lagi.
"Siap Tuan" jawab Dion.
Setelah selesai menghubungi Dion, Louis menghembuskan nafasnya kasar. Dia sebenarnya ingin melepaskan diri dari dunianya yang dulu, tapi apa boleh buat. Ada orang yang sudah mengusiknya, maka dia akan membalasnya dengan berkali-kali lipat sakitnya.
Louis yang dulu bisa melakukan apapun, dari membunuh seseorang dengan sangat sadis dan juga mengerikan.
Tapi dalam beberapa tahun semenjak dia mengalami kecelakaan, Louis meninggalkan kebiasaan buruknya. Hingga dipertemukan dengan Vita, istrinya.
"Aku akan melindungi kalian semua, jika ada yang menyakiti kalian semua walau hanya seujung kuku saja. Maka dia akan merasakan lebih dari yang kalian rasakan" gumam Louis sambil memandangi layar ponselnya yang menampilkan foto Vita dan anak-anak nya.
"Maafkan Daddy, Daddy akan menjadi monster untuk melindungi kalian semua tanpa terkecuali" gumamnya lagi sambil mengusap layar ponselnya.
.
Satu bulan kemudian.
__ADS_1
Jika Louis sedang merasakan seperti dulu lagi, disaat dia kembali seperti Louis yang tidak memiliki hati dan juga perasaan.
Berbeda dengan keluarga Nando dan juga Nindi. Seperti pagi ini, Nando yang akan berangkat kerja sampai tidak jadi. Karena baby Lexa tidak mau lepas dari dirinya.
Bahkan dengan pengasuhnya saja tidak mau, malah menangis sangat kencang. Dengan Maminya juga sama saja tidak mau, baby Lexa hanya akan tenang jika berada dipangkuan nya.
"Sayang, bagaimana ini? Aku harus kerja sekarang. Apa lagi aku sudah beberapa hari cuti. Aku tidak merasa tidak enak" ucap Nando merasa bingung.
"Iya sayang, sini. Baby Lexa sama Mami ya, Papi harus kerja dulu sayang, nanti jika Papi sudah pulang baby Lexa boleh sama Papi lagi ya" bujuk Nindi pada bayi berusia satu bulan lebih.
Ternyata bujukan Nindi berhasil, baby Lexa tidak menangis saat dipangku oleh Maminya. Nando langsung pamit, karena sudah siang.
"Sayang aku pergi ya, dah Assalamualaikum" ucap Nando sambil melangkah pergi.
"Wa'alaikum salam, hati-hati Pi" jawab Nindi.
"Huh, sayang... Kenapa sih setiap pagi kamu selalu membuat Papi merasa kesulitan hmm? Papi kan harus bekerja untuk kita, jadi jangan rewel. Oke" ucap Nindi mengajak bicara baby Lexa.
Begitulah setiap pagi akan ada drama jika Nando akan pergi kerja. Tapi tetap saja Nindi merasa kualahan menghadapi kedua bayi kembarnya.
"Nyonya, Tuan Muda kecil tidak mau minim ASI pakai dot" ucap pengasuhnya sambil menyerahkan satu botol ASI yang sudah dihangatkan.
"Sini biar sama saya" ucap Nindi,
Pengasuhnya langsung membertikan baby Alex pada Nindi, dan ternyata langsung diam bila Maminya yang memberi ASI. Walau dari botol sekalipun.
"Sayang, kenapa kalian sepertinya enggan dengan pengasuh kalian? Mami dan Papi sangat kualahan jika kalian tidak mau bersama pengasuh. Mami juga harus ini dan itu, jika kalian seperti ini terus bisa-bisa Mami akan stres" ucap Nindi seraya memberikannya ASI hingga tandas satu botol.
Baby Alex langsung terlelap, Nindi menidurkan baby Alex didalam bok bayi nya. Nindi akan segera mandi mumpung anak-anaknya sudah tertidur.
Terkadang Nindi merasa bersalah pada Nando, semenjak dia mempunyai bayi, dia tidak pernah mengurus dirinya. Jangankan berdandan cantik untuk suaminya, terkadang suaminya mau berangkat kerja saja Nindi belum mandi. Seperti tadi pagi.
Nindi juga merasakan takut, jika Nando merasa tidak betah dirumah bagaimana? Jika Nando akan mencari kesenangan diluaran sana bagaimana? Nindi bahkan sampai berfikiran macam-macam saat Nando berada jauh darinya.
Nindi merasakan was-was yang berlebihan. Padahal Nando jika sudah berada diperusahaan, jangankan bisa dekat dengan wanita. Dia setiap pagi hingga sore hanya berkutat dengan layar monitor dan juga tumpukan-tumpukan berkas.
__ADS_1
Bahkan jika makan siang pun selalu Nindi yang menyempatkan mengantarkan langsung untuk dirinya. Jadi mana ada waktu untuk berduaan dengan wanita lain.
Seperti sekarang, Nindi sudah sangat rapi ingin mengantarkan makan siang untuk suaminya. Dia sudah berdandan cantik untuk suaminya, dia bisa melakukan ini disaat anak-anaknya sedang tertidur.
"Assalamualaikum Pi" ucap Nindi begitu masuk kedalam ruangan kerja Nando.
"Wa'alaikum salam Mi, sini. Papi memang sudah sangat lapar" ucap Nando menyuruh istrinya mendekat seperti biasa.
Nindi mendekatinya dan duduk diatas pangkuan suaminya, lalu menyuapi makan siangnya hingga habis tak bersisa.
"Sayang, apa aku sudah boleh berbuka puasa hmm?" tanya Nando yang sudah lama menahanya.
"Maaf ya Pi, sebenarnya Papi sudah bisa berbuka semenjak kemarin. Maafkan aku sudah tidak bisa meluangkan waktunya buat kamu" ucap Nindi sambil menatap wajah Nando.
"Jika begitu aku boleh kan memintanya sekarang?" tanya Nando.
"Iya, makanya aku kesini lebih cepat. Karena ingin memberikan kejutan itu" jawab Nindi.
Tidak menunggu waktu lama Nando langsung mengeksekusi Nindi saat itu juga. Nindi dan Nando melakukan penyatuan pada siang hari itu untuk pertama kalinya saat setelah Nindi melahirkan.
Nando tidak henti-hentinya mengungkapkan terimakasih pada istrinya yang sudah membuatnya merasa puas. Apa lagi berbuka puasa pertama ini sama seperti waktu pertama menyentuh Nindi.
Nindi dan Nando langsung membersihkan dirinya didalam kamar mandi yang ada didalam ruang istirahatnya. Ternyata tidak hanya mandi saja, Nando mengulanginya lagi hingga kaki Nindi lemas seperti jeli.
"Pi, kaki aku lemas. Kamu ini seperti kesetanan saja, bagaimana caranya aku bisa pulang jika tidak bisa berjalan dengan baik" keluh Nindi yang memperlihatkan kedua kalinya yang bergetar.
"Maafkan aku sayang, aku sangat merindukan semuanya yang ada pada kamu. Aku tidak yakin jika berada dirumah akan bisa melakukan seperti sekarang ini" ucap Nando merasa bersalah karena dia sudah membuat istrinya menjadi lemas.
"Iya, aku juga minta maaf ya Pi. Karena aku tidak bisa membagi waktuku untuk kamu dan juga anak-anak. Aku selalu bersama anak-anak terus dibandingkan dengan kamu" ucap Nindi merasa bersalah juga.
"Hey, jangan bicara seperti ini. mereka kan juga anak-anakku juga, kamu juga kan tau. Jika mereka berdua juga terkadang selalu ingin bersama denganku terus. Jadi kita sama-sama menjaga mereka, oke" jelas Nando supaya Nindi jangan berfikiran macam-macam.
Nando hanya ingin Nindi dan juga anak-anak nya, tidak menginginkan yang lain lagi. Baginya, Nindi adalah wanita yang sempurna dan juga sangat bisa memanjakannya diatas ranjang.
Nando sangat bersyukur bisa memilikinya sebagai istrinya, apa lagi sekarang sudah memiliki dua baby sekali gus. Dari benih cintanya dengan Nindi. Wanita satu-satunya yang menerima dirinya apa adanya.
__ADS_1