
Sofia benar-benar merasa sangat frustasi, karena dia sudah berusaha untuk bisa bertemu dengan Rudi, Mantan suaminya. Dia sudah kesana kemari untuk mencarinya, tali tetap saja tidak bisa bertemu.
"Kemana dia sebenarnya? Kenapa sekarang susah sekali ditemui, bahkan ponselnya saja tidak bisa dihubungi. Apa dia benar-benar sudah tidak ada rasa lagi padaku? Dia benar-benar tega, aku sudah memberikan segalanya. Tapi ini balasan nya" gerutu Sofia, sambil menendang ban mobilnya.
Sofia akhirnya pulang kerumah yang dulu ia tempati dengan Rudi. Dia yakin Rudi pasti akan pulang, dia kan tidak punya tempat tinggal lagi selain dirumah ini.
Sofia seperti biasa, selalu bersikap angkuh dan juga selalu meremehkan. Bahkan setiap pelayan yang bekerja padanya pasti merasa tidak nyaman dan tidak betah. Tapi maukahmau bagaimana lagi, jika mereka memutuskan untuk keluar. Maka gajinya tidak akan turun, karena Sofia selalu menahan semua gaji pelayan yang bekerja dirumahnya.
"Nyonya, apa Nyonya membutuhkan sesuatu?" tanya pelayan yang bekerja paling lama.
"Aku hanya ingin kamu diam, aku sedang pusing!" jawabnya dengan melangkahkan kakinya menuju kamar utama.
.
Jika Sofia sedang sibuk mencari dirinya, berbeda dengan Rudi sekarang. Dia sedang bersemangat untuk bertemu dengan CEO Pratama group untuk kedua kalinya untuk melihat bahan-bahan yang akan digunakan untuk pembangunan sebuah perumahan.
Rudi sedang harap-harap cemas, semoga saja memang ia bisa meyakinkan CEO Pratama group yang sekarang ini.
Rudi sekarang sudah tahu, mengapa CEO nya bisa digantikan. Dan sekarang Rudi berusaha ingin meraih masa depannya, memajukan perusahaan nya yang baru berdiri ini.
Tak berapa lama mereka bertemu, Rudi mengarahkan langsung untuk menuju proses perbuatan bahan-bahan dasar nya.
"Apa saya bisa melihat langsung pembuatannya?" tanya Nando.
"Silahkan Pak, semoga memang seperti yang Bapak inginkan. Karena bagi kami kualitas terbaik yang utama, dan kepuasan pelanggan adalah prioritas utama bagi perusahaan kami ini Pak" jelas Rudi mengarahkan Nando supaya bisa melihat-lihat.
"Bagus, semuanya memang bahan-bahan yang berkualitas tinggi semua. Apa anda tidak merasa rugi dengan mematok harga segitu? Jika saya menggunakan jasa perusahaan lain akan mematok lebih besar dari yang anda berikan" ucap Nando.
Nando takut mereka akan mempermainkan nya, saat dia melihat semuanya berkualitas bagus. Tapi nanti saat barangnya dikirim malah kualitas yang abal-abal. Jadi Nando tidak mau abmil resiko.
__ADS_1
"Kami sengaja melakukannya memang Pak, walau keuntungan kecil tapi kami akan memberikan kepuasan pagi para klien kami. Apa lagi anda adalah klien pertama bagi perusahaan saya, saya tidak mau membohongi atau menipu perusahaan yang sudah memakai produk dari kami Pak. Sebelumnya saya memang marger dengan perusahaan milik Ayah saya sendiri, dan Ayah saya selalu mendukung saya dan menerapkan keuntungan kecil tapi terus mengalir" jelas Rudi panjang lebar, dia mengatakan dengan sangat jujur.
"Bagus jika memang itu yang anda inginkan, lagi pula jika bahan-bahan ini memang bagus maka EDC.CORP juga akan melakukan kerjasama dengan anda juga" ucap Nando sambil melangkahkan kakinya keluar dari pabrik pembuatan bahan pokok gangunan.
"Benarkah Pak? Terimakasih banyak, terimakasih" ucap Rudi sambil membungkukan badannya berkali-kali karena sangat berterimakasih pada Nando yang akan merekomendasikan perusahaan nya pada perusahaan besar lainnya.
.
Jika Nando dan Rudi sudah menjalin kerjasama dengan baik. Maka berbeda dengan Nindi yang sekarang sudah tidak bekerja lagi, dia sedang datang mengunjungi kediaman Edison.
Dimana sekarang mainson yang tadinya sangat sepi dan jarang dikunjungi oleh Tuan nya, sekarang ramai berkat kehadiran seorang wanita dan juga anak-anaknya yang sudah bisa merubah Tuan nya yang dingin dan kaku menjadi lebih hangat.
"Selamat pagi menjelang siang semuanya" ucap Nindi sambil membawa beberapa paper bag dikediaman tangannya.
"Pagi Nin, gimana kandunganmu sekarang?" jawab Vita sambil bertanya pada Nindi.
"Seperti yang Ibu lihat, perutku sudah seperti balon" ucap Nindi sambil mengusap perut buncitnya sendiri.
"Sembarangan aja kalo ngomong, ini itu baru menginjak tujuh bulan. Masa dibilang sudah mau brojol" protes Nindi.
"Habisnya sudah kelihatan besar banget, dan lagi kaya hamil kembar. Atau jangan-jangan memang" jawab Vita sambil menerka-nerka.
"Yup, bener banget. Aku hamil kembar, walau hanya dua sih. Tapi ini sangat membuatku dan Nando sangat bahagia, ternyata bukan hanya satu baby. Tapi dua sekaligus" jelasnya sambil mengangkat kedua jarinya.
"Maaf Nyonya ini minuman dan camilan nya" ucap kepala pelayan membungkuk hormat.
"Kenapa tidak dari tadi, saya kan sudah kehausan sejak tadi" bukan Vita yang menjawab melainkan Nindi yang selalu bisa membuat orang geleng kepala.
"Ngomong-ngomong mainson sebesar ini sepi banget, kemana anak-anak Ku?" tanya Nindi sambil menyerahkan pandangannya kesana kemari.
__ADS_1
"Mereka sedang main ditaman belakang, ya seperti ini suasana setiap hari" jawab Vita sambil menunjuk pintu belakang yang terbuka lebar.
"Oh. Bu, apa Ibu bahagia sekarang?" tanya Nindi.
"Maaf bukan bermaksud untuk ikut campur masalah pribadi anda, tapi aku hanya ingin bisa melihat anda dan anak-anak bahagia itu saja" jelas Nindi, dia tidak mau jika Vita salah faham nantinya.
"Alhamdulilah saya bahagia Nin, saya ternyata masih diberikan kesempatan untuk merasakan kebahagiaan seperti ini lagi. Bisa merasakan mendapatkan perhatian dan juga anak-anak mendapatkan sosok seorang Daddy juga. Ternyata Allah sangat baik padaku Nin" jawab Vita sambil tersenyum dan matanya berkaca-kaca.
"Syukurlah jika Ibu bahagia, saya juga ikut senang melihatnya. Saya baru tahu kenapa Nando selalu bilang jika aku harus mengunjungi tetangga baru ku. Awalnya aku sangat malas, tapi ya mau bagaimana lagi. Ternyata tetangga baruku adalah mantan big Bos ku sendiri" ucap Nindi sambil menaik turunkan alisnya.
"Kamu ini, sudah hampir mau punya dua baby masih saja konyol" Vita memukul lengan Nindi gemas.
Saat mereka sedang berbincang-bincang dari arah belakang Louis dan anak-anaknya sedang mengendap-endap, mereka ingin mengejutkan Mommy nya yang sedang fokus berbicara dengan Nindi. Dan...
Dor....
Ucap mereka semua mengagetkan Vita secara bersamaan, tentu saja Vita sangat terkejut. Nindi yang melihat keterkejutan Vita tertawa terbahak-bahak.
"Dad" ucap Vita sambil menatap tajam Louis, karena Vita tau yang merencanakan ini pasti Louis.
"Sorry Mom" jawab Louis sambil memegan kedua telinganya, diikuti oleh semuanya anak-anaknya.
Lalu mereka semua tertawa bersama, terkecuali twins datar. Siapa lagi jika bukan Zico dan Zayn, mereka memang sudah mau bergabung dengan yang lainnya, tapi mereka berdua selalu diam saja. Tapi walau bagaimana pun mereka berdua sudah menerima Louis sebagai Daddy nya sekarang.
Apa lagi sejak awal six Z memang sudah sangat welcome pada Louis, apa lagi sejak pindah ke mainson Zico dan Zayn sudah dibelikan alat canggih masing-masing satu. Tapi tetap selalu diawasi dan dibimbing oleh Louis langsung.
"Kalian boleh main bersama, ingat tidak boleh bertengkar. Daddy mau bicara dengan Mommy, oke" ucap Louis menyuruh anak-anaknya bermain diruangan yang sudah dipersiapkan untuk arena bermain anak-anak.
"Terimakasih Tuan, anda sudah menggantikan tugas saya menjaga amanah dari mendiang Tuan Surya dan juga Nyonya Sila. Saya sangat bersyukur bisa melihat senyum dan tawa bahagia dari Ibu dan anak-anak yang selalu merasa was-was akan adanya hari esok. Tapi sekarang mereka bisa ceria dan mengekspresikan diri mereka, tidak seperti sebelumnya. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak Tuan" ucap Nindi sambil berkaca-kaca.
__ADS_1
"Itu sudah menjadi hak dan kewajiban saya sebagai kepala keluarga, melihat mereka bahagia sudah bisa membuat saya juga bahagia. Jadi tidak perlu khawatir" jawab Louis sambil merangkul pundak Vita dari belakang.
Karena posisi Vita masih duduk disofa ruangan keluarga. Nindi dibuat terpukau akan sikap Louis pada Vita, Nindi merasa sangat bahagia melihat keluarga ini bahagia juga.