
Louis benar-benar menyusul Vita masuk kedalam kamar mandi, betapa bahagianya Louis bisa melihat tubuh istrinya yang sedang berendam didalam bathtub yang dipenuhi busa sabun.
Louis juga langsung membuka seluruh pakaiannya hingga polos, lalu ikut masuk kedalam bathtub. Tentu saja Vita merasa kaget dan hampir saja beranjak keluar dari dalam bathtub. Tapi sebelumnya pinggang Vita sudah lebih dulu dipengang dan didudukan kembali.
"Biarkan seperti ini honey, ini sangat nyaman" ucap Louis semakin mengeratkan pelukannya, lalu menelusupkan wajahnya diceruk leher Vita.
"Tapi... " belum sempat Vita melanjutkan ucapannya, Louis sudah lebih dulu membalikkan badannya hingga mereka berdua berhadapan.
"Aku hanya ingin seperti ini, aku berjanji tidak akan berbuat lebih" ucap Louis sambil mengusap pipi Vita dengan lembut.
Louis juga menampilkan senyuman tipis dibibirnya. Walaupun hasra*nya sudah sangat tinggi, tapi dia tidak bisa memaksakannya. Dia ingin Vita merasa nyaman dan percaya padanya, jika dia bisa menahannya.
Vita merasa sangat bersalah, karena sudah beberapa kali menolaknya. Vita berfikir sampai kapan dia akan menolaknya, bukankah dia akan sangat berdosa karena menolak kewajibannya sebagai seorang istri.
"Lakukanlah, lakukan Dad. Aku sudah siap" ucap Vita sambil mengelus rahang kokoh suaminya, lalu menampilkan senyuman dibibirnya.
"Tidak, aku tidak akan melakukan jika kamu belum siap. Ini akan sangat menyakitkan, bukan hanya perasaan kamu saja honey. Aku juga merasakannya" ucapnya menolak, Louis yakin jika istrinya itu belum siap menyerahkan sesuatu yang sangat berharga dari dirinya.
"Mau sampai kapan Dad? Aku tidak mau banyak berdosa karena selalu menolaknya, karena cepat atau lambat aku harus memberikannya bukan? Jadi lakukanlah, tapi dengan hati-hati dan juga pelan" ucap Vita sambil berbisik.
"Benarkah boleh? Jika memang begitu aku tidak akan sungkan lagi" lalu Louis mengangkat tubuh Vita menuju shower untuk membersihkan sisa sabun yang menempel dibadan mereka berdua.
Louis membawa Vita menuju ranjang king size nya, lalu terjadilah apa yang seharusnya terjadi dengan pasangan suami istri itu.
Ternyata Louis seperti kesetanan, dia meminta lebih dari sekali. Jadilah Vita tumbang dan baru memejamkan matanya menjelang subuh. Badannya terasa lemas tidak bertenaga dan seperti remuk semua tulangnya. Apa lagi bagian sensitifnya sangat perih dan juga ngilu.
"I'm sorry honey. Aku terlalu bersemangat untuk berbuka puasa, sekarang kamu lanjutakan saja tidurnya. Aku akan menemani anak-anak untuk sarapan dulu" ucap Louis merasa bersalah, lalu mengecup kening dan bibir istrinya sekilas. Dia tidak mau jika dia khilaf lagi.
Vita hanya menjawab dengan anggukan kepala, rasanya tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Akhirnya Vita tertidur lagi dengan sangat pulas.
"Morning baby" ucap Louis yang baru saja menghampiri anak-anaknya untuk ikut sarapan bersama.
"Morning Dad" jawab mereka kompak.
"Dad, Mommy mana? Kenapa Mommy tidak ikut sarapan?" tanya Zoya.
__ADS_1
"Apa Mommy baik-baik saja?" sambung Zia.
"Apa Mommy sakit?" tanya Zio tidak mau kalah.
"Biasanya jika Mommy sakit, Mommy tidak ikut sarapan bersama. Jadi apa benar Mommy sakit?" Tanya Zayd yang sudah berkaca-kaca ingin menangis.
"Mommy hanya tidak enak badan, nanti setelah sarapan kita jenguk Mommy dan menyuruhnya untuk sarapan. Bagaimana?" ucap Louis memberi saran.
pernikahan Louis dan Vita memang sudah berjalan hampir tiga bulan, selama itu pula Vita tidak pernah sakit karena dia sudah tidak bekerja. Makanya anak-anak merasa panik mengetahui Mommy nya tidak enak badan.
Benar saja setelah sarapan mereka semua membawa sarapan dan beberapa buah juga obat, mereka semua cekatan melakukan tugasnya masing-masing.
Zoya seperti biasa mengatur adik-adiknya supaya melakukan tugasnya masing-masing. Zoya akan menyuapi, Zico dan Zio memijat kaki kanan dan kirinya. Zia dan Zayn memijat tangan, sedang sibungsu memijat kepalanya.
Melihat interaksi antara istri dan anak-anaknya Louis sangat bahagia, untungnya setelah solat subuh Louis sudah memakaikan pakaian Vita kembali jika tidak mungkin sekarang anak-anaknya akan tahu jika Vita tidak menggunakan sehelai benang pun.
"Jika tugas sudah kalian semua lakukan maka tugas Daddy apa?" tanya Louis pada anak-anaknya.
"Sampai lupa, Daddy menyiapkan obat buat Mommy" jelas Zoya yang hampir lupa akan kehadiran Daddy nya.
Sontak saja Vita langsung menatap Louis dengan tajam, karena ini adalah perbuatan suaminya yang tidak henti-hentinya membuat tanda kepemilikan nya. Louis yang ditatap tajam oleh Vita hanya bisa nyengir kuda, lalu memberi isyarat.
"I'm sorry" tanpa suara.
"Mommy tidak apa-apa, semalam Mommy tidak bisa tidur karena banyak serangga tadi malam. Makanya badan Mommy merah-merah" jelas Vita pada anak-anak nya.
Mereka semua hanya beroho ria, mereka semua percaya dengan penjelasan dari Mommy nya. Setelah Vita menghabiskan sarapannya Vita lanjut tidur kembali. Anak-anak juga sudah keluar dari kamar dan bermain ditemani oleh Daddy nya.
.
Hingga siang Vita merasa badannya sudah lebih baik, ternyata dia masih merasakan ngilu dan perih diarea sensitifnya. Vita juga kaget, ternyata ada sedikit bercak darah yang tertinggal disprei.
"Pantas saja sakit, ternyata berdarah lagi. Tapi kenapa bisa? Atau jangan-jangan miliknya itu... " Vita tidak melanjutkan ucapan nya. Dia malah bergidik ngeri sendiri.
Vita menggati sprei dengan yang baru, lalu menaruhnya dikeranjang cucian setelah menghilangkan noda darahnya. Vita benar-benar sangat kesulitan untuk berjalan, bahkan untuk duduk juga dia merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Dia segera berendam dengan ramuan obat yang bisa meredakan rasa sakit dan perihnya. Vita berendam cukup lama, setelah dirasa sudah tidak terlalu sakit maka dia langsung membasuhnya.
"Bagaimana caranya dia melakukannya, hingga milikku tidak berbentuk seperti ini" gerutu Vita sambil mengoleskan salep untuk lukanya.
"Honey, kamu sedang apa? Kenapa dilihati terus?" tanya Louis saat masuk kedalam kamarnya ternyata Vita sedang mengoleskan salep.
"Ini semua perbuatan kamu Dad, lihatlah dia sudah tidak berbentuk lagi" ucap Vita sambil akan mengoleskan salepnya.
"Sini biar aku saja honey" ucap Louis sambil merebut salep yang ada ditangan Vita.
Louis mengoleskan salepnya sambil meniupi bagian sensitive Vita.
"Maafkan aku honey, karena ulahku punyamu jadi seperti ini" ucap Louis setelah selesai mengolesi salep pada bagian sensitive Vita lalu menutupinya.
"Tidak apa Dad, nanti juga sembuh kembali. Aku akan rajin merendam milikku ini dengan ramuan khusus dan mengolesi dengan salep ini tentunya" ucap Vita sambil tersenyum.
"Aku jadi menginginkan nya honey" ucap Louis sambil menaik turunkan alisnya.
Pug
Vita memukul lengan Louis cukup keras, Louis hanya tergelak melihat tingkah menggemaskan Vita jika sedang marah. Apa lagi matanya sambil melotot tajam dan bibirnya mengerucut, ingin sekali Louis meluma*nya.
"Sekarang kita keluar, anak-anak sedang menunggu kita untuk makan siang bersama" ajak Louis menggandeng tangan Vita.
Vita menganggukan kepalanya tanda mengiyakan ucapan suaminya, mereka berdua bersama-sama berjalan menuju ruang makan sambil bergandengan tangan.
"Apa masih sangat sakit?" tanya Louis yang melihat cara berjalan Vita memaksakan berjalan dengan normal.
"Ini sudah lebih baik, karena aku sudah berendam cukup lama tadi" jawab Vita sambil mengerling nakal.
"Kamu ini" ucap Louis sambil mencubit hidung mancung Vita dengan gemas.
Mereka menikmati makan siang mereka bersama-sama. Louis tidak pernah mambayangkan akan mempunyai keluarga yang lengkap seperti ini, apa lagi setelah dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan dia tidak dapat memiliki keturunan.
Maka dari itu Louis sangat menutup diri dari publik, dia tidak mau ada yang menyukainya dan dia juga sama, apa lagi setelah mengetahui jika dia tidak bisa membuat istrinya hamil. Maka dia akan ditinggalkan. Tapi berbeda saat dia bertemu dengan Vita, seorang janda yang sudah memiliki anak dan juga wanita baik-baik tentunya.
__ADS_1
Dia tidak menunda-nunda lagi untuk melamarnya, dia tau diluaran sana pasti banyak yang menginginkan Vita menjadi pendamping nya. Semua kekhawatiran nya terjawab, dia mendapatkan saingan-saingan dari yang biasa hingga yang luar biasa. Tapi untungnya dia sudah dekat dengan anak-anak nya jadi tidak begitu sulit.