
Dua minggu kemudian
Dirumah Nando sedang dibuat pusing pagi-pagi akan ulah Nindi. Nindi bilang perutnya sakit dan disaat Nando mulai panik, takut istrinya akan melahirkan. Tiba-tiba Nindi bilang sudah tidak sakit lagi.
Jadi untuk hari ini Nando tidak pergi kekantor, dia ingin menemani Nindi dirumah.
"Saya hari ini tidak masuk, kamu handle semuanya. Dan reschedule semuanya" ucap Nando pada sekertarisnya.
Nando lalu mematikan panggilan nya sepihak, lalu menghampiri Nindi yang sedang meringis menahan sakit.
"Sayang, kamu pipis?" tanya Nando yang melihat ada air yang keluar dari sela pahanya Nindi.
"Aku nggak pipis, mungkin anak-anak kita mau keluar" jawab Nindi.
"Oke, kita kerumah sakit sekarang" ucap Nando sambil memegang tangan Nindi dan membawanya kedalam mobil.
Tidak lupa Nando menyuruh seorang pelayan untuk ikut dan membawakan perlengkapan Nindi dan kedua baby nya.
Nando mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, dia tidak mau terjadi apa-apa terhadap istri dan anak-anaknya.
Setelah menempuh waktu sepuluh menit mereka sudah sampai, padahal jika perjalanan biasa menempuh duapuluh sampai duapuluh lima menitan. Karena Nando membawa mobilnya seperti orang kesetanan makanya dalam waktu sepuluh menit sampai.
Untungnya lagi jalanan sepi dan tidak dihadang lampu merah, jadi Nando langsung menggendong Nindi masuk kedalam rumah sakit. Dibantu oleh dua perawat yang sedang bertugas.
Nindi dibawa keruangan bersalin langsung, karena pembukaan sudah hampir sempurna.
"Bagaimana keadaan istri dan anak-anak saya dok?" tanya Nando.
"Kami akan segera membantu persalinan istri anda Pak, jadi mari ikut saya kedalam ruang bersalin" ucap dokter yang menangani persalinan Nindi.
"Sayang kamu pasti bisa. Kamu adalah wanita kuat" ucap Nando memberikan semangat pada Nindi sambil menggenggam tangan Nindi sebelah kiri.
"Bu, ikuti intruksi saya ya. Jika baby nya mengajak keluar ibu ngede* ya, tapi Ibu jangan mengangkat pinggu*nya ya. Supaya tidak terlalu besar robeknya" jelas dokter wanita itu.
Nindi hanya mengangguk saja, tidak lama kemudian ada dorongan dari dalam perutnya untuk mengajak keluar.
Setelah cukup lama Nindi merasakan ada dorongan kuat, langsung saja Nindi mengejan dan tidak lama terdengar lah suara bayi lahir dengan sangat kencang.
Oe Oe Oe Oe..
"Selamat Pak Buk bayinya laki-laki, lengkap dan tidak kekurangan satu apapun" jelas dokter.
"Terimakasih sayang, dia sangat lucu dan sangat menggemaskan" ucap Nando sambil menciumi kening Nindi.
__ADS_1
Nindi tidak menjawab. Tiba-tiba rasa mulasnya datang lagi, tidak seperti bayi yang pertama. Ini sangat cepat, bahkan Nindi tidak mengejan dengan sekuat tenaga.
"Selamat, bayi kedua perempuan" ucap dokter sambil memperlihatkan bayi kedua pada Nindi dan Nando.
Lalu dua bayi kembar itu langsung dibersihkan dan meminta Nando supaya segera mengadzaninya. Nando mengikuti langkah suster yang membawa dua bayinya setelah pamit pada Nindi.
Dokter membersihkan luka Nindi dan menjahitnya, Nindi yang kelelahan tertidur lelap. Bahkan dia tidak sadar jika dia sudah dipindahkan kedalam ruang perawatan.
Nando sudah mengadzani anak-anaknya lalu membiarkan anak-anaknya berada diruangan bayi dulu. Nando menuju ruang perawatan VIP, dimana Nindi dirawat sekarang.
Setelah sampai Nando melihat Nindi masih terlelap dengan sangat nyenyaknya. Nando tidak mau mengganggu istirahat istrinya yang sudah berjuang untuk melahirkan buah hati mereka berdua.
"Terimakasih sayang. Kamu adalah wanita yang hebat dan kuat, terimakasih sudah berjuang melahirkan anak-anak ku. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu" ucap Nando lalu mencium kening Nindi dengan sangat lama.
Lalu Nando menghubungi Tuan nya, bahwa dia sekarang sudah menjadi seorang Ayah. Saat Nando sedang menghubungi Louis ternyata Nindi sudah bangun, Nindi ingin minum.
Nando yang melihatnya langsung saja meletakkan ponselnya begitu saja dan menghampiri Nindi yang sudah bangun.
"Kamu membutuhkan sesuatu sayang?" tanya Nando.
"Aku mau minum" jawab Nindi, lalu Nando membantu Nindi supaya bisa duduk dengan nyaman. Dengan cara mengatur brangkar yang digunakan Nindi.
"Terimakasih Pi" ucap Nindi, Nando yang dipanggil seperti itu tentu saja sangat senang bukan kepalang, dia malah mendaratkan ciuman diseluruh wajah istrinya.
"Iya, kamu Papi dan aku Mami" jelas Nindi.
Tak lama kemudian datang dua orang perawat sambil mendorong dua bok bayi. Tentu saja didalamnya ada kedua bayi Nindi.
"Apa ASInya sudah keluar Bu?" tanya seorang perawat.
"Kayaknya sudah sus, walau masih sedikit" jawab Nindi.
"Itu sudah bagus Bu, nanti lebih baik Ibu pompa saja ASInya supaya jika bayi Ibu sedang ingin meminum ASI bersamaan maka sudah ada stok" jelas susternya lagi.
"Baik sus" jawab Nindi.
"Apa disini ada alatnya sus? jika ada tolong ambilkan, supaya istri saya bisa mengeluarkan ASI nya" tanya Nando pada suster tersebut.
Lalu suster tersebut undur diri dan akan mengambil pesanan mereka. Nando sama sekali tidak mau beranjak sedikitpun dari Nindi.
"Sayang, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk kedua baby kita?" tanya Nando antusias.
Karena dia ingin istrinya lah yang memberi nama. Dan dia akan menambahkan namanya pada nama melakang putra dan putrinya.
__ADS_1
"Aku mau ngasih nama yang laki-laki, dia Alexander dan yang perempuan Alexandra. Bagaimana, bagus tidak?" tanya Nindi sambil memandanginya kedua buah hatinya.
"Nama yang indah sayang, berarti Alexander Permana dan Alexandra Permana? Nama yang sangat sesuai untuk mereka berdua. Jadi Papi akan memanggil kakak Alex dan adik Lexa" ucap Nando sambil menoel-noel pipi gembul baby Lexa.
"Iya, nama yang bagus" jawab Nindi dengan senyuman dibibirnya.
.
Jika dirumah sakit Nando sangat juga Nindi sedang berbahagia. Berbeda dengan Louis yang sedang menggerutu kesal. Bagaimana tidak kesal coba, tadi Nando menghubunginya bahwa Nindi sudah melahirkan dengan selamat. Kedua bayinya juga selamat.
Yang membuat Louis menggerutu adalah, Nando memutuskan sambungan teloponnya sepihak dan tidak mengucapkan apapun.
"Kamu kenapa Dad? Mukanya kusut banget kaya baju belum disetrika aja" tanya Vita yang baru masuk kedalam ruang kerja Louis yang ada didalam mainson.
"Aku sedang kesal honey" jawab Louis sambil memeluk pinggang istrinya yang sedang membawa nampan berisi minuman untuk dirinya.
"Kesal kenapa?" tanya Vita lagi sambil meletakkan nampan tersebut diatas meja.
"Nando, dia sudah membuatku kesal. Dia tadi menelponku, dia bilang jika Nindi sudah melahirkan dengan selamat. Kedua bayinya juga sehat, tapi yang membuatku kesal. Kenapa dia memutuskan sambungan teloponnya begitu saja, apa dia ingin segera dipecat!" ucap Louis dengan masih menggerutu.
"Apa Dad? Nindi sudah melahirkan?" tanya Vita.
"Iya honey" jawab Louis sambil menganguk.
"Dirumah sakit mana? Kita harus menjenguknya Dad, sekarang. Ya sekarang kita kerumah sakit untuk menjenguk Nindi dan kedua bayinya" ucap Vita antusias lalu menarik Louis keluar dari ruangan kerjanya.
"Honey tunggu dulu. Kita akan kesana, tapi nanti setelah Zoya pulang sekolah. Oke, kasihan jika hanya dia yang tidak ikut" jelas Louis menghentikan langkah kaki Vita.
"Oh iya juga. Kenapa aku bisa lupa begini? Ya sudah sebentar lagi kan Zoya pulang Dad, aku dan anak-anak akan bersiap. Supaya menghemat waktu kita langsung kerumah sakit setelah menjemput Zoya" ucap Vita sambil melangkahkan kakinya menuju ruangan bermain anak-anaknya.
"Baiklah, aku juga akan menanyakan pada Nando dia berada dirumah sakit mana" jawab Louis sambil menghela nafasnya kasar.
"Seperti itulah wanita, jika sedang menginginkan sesuatu. Pasti tidak bisa dicegah" gumam Louis mengikuti langkah Vita.
Vita benar-benar membuat heboh seisi mainson, apa lagi anak-anak. Mereka juga tidak kalah hebohnya. Mereka semua sudah tidak sabar untuk melihat adik bayi, bahkan mereka sudah memperebutkan nya sejak masih didalam mainson.
Louis hanya dibuat menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak mau ambil pusing. Inilah yang dia inginkan, mempunyai banyak anak. Supaya mainson nya menjadi ramai, dan sekarang sudah tercapai. Bukan hanya ramai tapi juga heboh.
Louis sangat bersyukur bisa melihat dan menyaksikan anak-anaknya tumbuh, walau bukan darah dagingnya sendiri. Tapi Louis sangat menyayanginya dengan sepenuh hati, bahkan dia sengat memanjakannya. Louis tidak membeda-bedakan mereka semua.
Tapi Louis lebih dekat dengan dua princess nya, karena Louis sangat menyukai anak perempuan yang baginya sangat menggemaskan.
Tapi jika soal masalah belajar Louis lebih suka dengan Zico dan Zayn, mereka berdua sudah sangat mahir menggunakan komputer dan juga menguasai kodingan. Jika Zio dan Zayd, mereka juga sama pintarnya. Tapi benar-benar harus sabar menghadapi sikapnya, mereka berdua sangat usil dan juga tidak bisa diam.
__ADS_1