
Sedangkan Sandra dan John sedang berdiskusi akan siapa sebenar nya yang membantu mereka. Pada saat yang sangat tepat, apa lagi mereka semua memakai topeng.
Semua nya tidak memperlihatkan wajah mereka. Seingat John tidak mengenal nya. Apa lagi mereka menggunakan topeng yang sama semua.
"Kenapa, apa yang kamu fikirkan?" tanya Sandra pada John.
"Orang yang membantu kita semua yang hampir saja terbunuh" jawab John dengan memikirkan kejadian berdarah tadi.
"Aku kira itu adalah orang-orang kita yang berada dalam kuasa Tuan" uacap Sandra masih belum mengerti dan percaya dengan yang tadi.
"Justru itu, aku akan bertanya langsung pada Tuan. Apa mungkin mereka memang benar-benar orang-orang nya Tuan. Jika bukan maka bersiaplah untuk menyelidiki nya" jelas John masih menerka-nerka.
"Baiklah jika begitu. Aku juga ingin tahu" ucap Sandra
Bukan hanya mereka berdua yang merasa heran dengan kedatangan para orang bertopeng itu. Louis juga sama, dia sedang memikirkan siapa mereka sebenar nya. Kawan atau lawan? Itu lah teka teki yang harus dia cari tahu.
Saat sedang memikirkan siapa orang-orang itu Louis dikejutkan oleh kedatangan Zayn yang datang dengan tenang nya memasuki ruangan Daddy nya.
"Apa aku mengganggu Daddy?" tanya Zayn dengan santai nya.
Zayn memang berpenampilan sangat culun, dia sejak kecil memang sudah harus memakai kacamata. Karena ada kelainan dengan kornea mata nya. Jadi mau tidak mau harus menggunakan kacamata, sebelum ada pendonor yang tepat untuk nya. Bahkan ukuran nya sangat tebal dan juga jadul, jadi tidak akan menyangka jika dia adalah anak paling genius dari seluruh saudara nya.
"Kenapa Z, ada yang bisa Daddy bantu untuk mu?" tanya Louis pada Zayn yang selalu membetulkan kacamata tebalnya yang kebesaran.
"No Dad, aku hanya mau memberikan ini untuk Daddy. Semoga Daddy mengerti dan tidak menyelidiki nya lebih jauh, jika tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan" jelas Zayn memberikan beberapa berkas, entah isinya apa.
"Maksud abang Z apa? Apa ini ada hubungan nya dengan kejadian kemarin?" tanya Louis yang masih penasaran.
"Kurang lebih seperti itu. Ingat pesan ku tadi Dad" jawab Zayn dan memberikan peringatkan juga.
"Baiklah akan Daddy usahakan tidak akan pernah mencari tahu nya" ucap Louis dan dia bertanya kembali. "Apa kamu merasa senang?".
"Thank you Dad" ucap Zayn langsung pergi dari ruangan kerja Daddy nya.
"Kau dari mana Z?" tanya Zico yang melihat Zayn baru keluar dari ruangan kerja Louis.
"Membertikan apa yang harus aku berikan" jawab Zayn terdengar ambigu.
"Oh, oke. Apa kau mau belajar bersama lagi?" tanya Zico yang memang akan belajar seperti sebelum nya.
__ADS_1
Mungkin guru nya saja yang berbeda, karena yang sebelum nya sudah menjadi korban kekera*an klan dari Daddy nya.
"Hmm" jawab Zayn dengan gumaman saja.
Mereka melangkahkan kaki nya menuju ruangan yang dikhususkan untuk mereka berdua belajar. Saat memasuki ruangan tersebut betapa terkejut nya mereka berdua. Ternyata guru mereka berdua sekarang adalah seorang wanita yang penampilan nya tidak berbeda jauh dengan Zayn.
"Selamat datang Tuan Muda, perkenalkan nama saya Mia" ucap guru tersebut memperkenalkan dirinya pada Zico dan Zayn. Dan sesekali membetulkan letak kacamata nya yang merosot dari hidung nya yang kecil.
Zico dan Zayn tidak menjawab ucapan guru baru mereka. Mereka langsung duduk dan membuka buku mereka masing-masing.
"Kita langsung mempelajari semua" Ucap guru yang bernama Mia itu, dan menerangkan semua nya.
Ternyata guru yang dipilih oleh Daddy nya sekarang tidak mengecewakan, apa lagi Zayn yang memang sangat sulit untuk merasa cocok dengan seseorang yang baru. Tapi dengan yang ini dia sudah merasa nyaman dan juga sepertinya sangat tepat untuk nya.
"Apa Tuan Muda berdua ada yang ingin ditanyakan?" tanya Mia pada Zico dan Zayn.
Zico mengangkat tangan nya ingin bertanya.
"Apa yang membuat anda yakin jika itu memang pelajaran untuk kami?" tanya Zico dengan tatapan tajam nya.
"Itu hanya menurut insting saya saja Tuan Muda. Karena saya tadinya ingin memberikan pelajaran sesuai dengan umur Tuan Muda. Tapi setelah melihat anda berdua saya akhirnya tidak memberikan sesuai dengan umur, tapi dengan kemampuan anda berdua. Maka dari itu saya memberikan soalan itu pada anda berdua" jawaban Miss Mia sangat jelas.
"Oke, apa yang anda dapatkan setelah tahu jika kami berdua tidak belajar seperti anak seusia kami?" tanya Zico lagi.
"Saya juga awalnya tidak mau menerima pekerjaan ini Tuan Muda, tapi karena saya sedang membutuhkan banyak uang maka nya saya terima tawaran pekerjaan ini Tuan Muda" jawab nya dengan sangat tegas dan lugas.
"Oh, hanya masalah uang rupanya" sinis Zayn yang akhirnya buka suara.
"Oke, lebih baik kita lanjutkan pelajaran nya. Karena saya tidak suka berlama-lama dengan orang asing" ucap Zayn lagi.
Dia memang tidak akan merasa nyaman dalam satu ruangan yang sama dengan orang asing. Apa lagi dia seorang perempuan, walau itu adalah orang yang sudah dewasa.
Tok
Tok
Tok
Ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar. Ternyata yang mengetuk pintu adalah Vita, dia ingin mengetahui bagaimana kedua putra nya sedang belajar.
__ADS_1
"Apa Mommy mengganggu waktu kalian berdua belajar?" tanya Vita yang sedang memperhatikan penampilan guru yang mengajari Zico dan Zayn.
Vita tidak bermaksud untuk merendahkan penampilan seseorang, tapi dia seperti melihat Zayn versi perempuan.
"Apa ada yang salah dengan penampilan saya Nyonya?" tanya Mia saat tahu jika Vita memandangi nya seperti heran dan terkesan merendahkan.
"Maaf, bukan saya bermaksud ingin merendahkan penampilan anda. Saya hanya seperti melihat putra saya jika dewasa nanti pada diri anda. Tapi anda versi perempuan" jelas Vita sambil memperlihatkan senyuman ramah nya.
"Oh, iya Nyonya. Maaf jika saya lancang berbicara tidak sopan pada anda" ucap Mia lalu dia membungkukan setengah badan nya.
"Lanjutkan sesi mengajar nya. Saya hanya ingin memperhatikan mereka berdua belajar" ucap Vita sambil duduk disofa yang tidak jauh dari mereka bertiga.
"Apa ada yang keberatan?" tanya Vita lagi pada ketiga nya.
Zico dan Zayn hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan Mia dia hanya diam saja dan dia langsung melanjutkan mengajar kembali.
Setelah sesi belajar selama kurang lebih dua jam selesai juga. Mereka berdua langsung membereskan semua buku-buku yang berada diatas meja mereka berdua.
Sedangkan Mia langsung undur diri. Dia tidak banyak mengatakan sesuatu, dia hanya pamit lalu pergi dari ruangan tempat belajar kedua Tuan Muda nya.
"Apa ada yang ingin Mommy tanyakan pada kami?" tanya Zico yang penasaran akan Mommy nya yang tidak seperti biasa nya.
"Mommy hanya ingin melihat kalian berdua, itu saja tidak lebih. Karena Mommy masih belum bisa melupakan kejadian kemarin, jadi Mommy ingin mendampingi kalian. Itu saja, tidak lebih" jelas Vita sambil tersenyum tapi mata nya berkaca-kaca.
"Mom, semua nya sudah berlalu. Mommy tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi" ucap Zico sambil mendekati Mommy nya dan memeluk nya.
"Mommy jangan berfikiran yang macam-macam, karena kami akan selalu bersama Mommy. Mommy jangan bersedih" sekarang giliran Zayn yang bicara.
Mereka bertiga berpelukan bersama. Ternyata interaksi mereka diperhatikan oleh Louis yang berdiri dibalik pintu yang tidak tertutup rapat. Louis juga ikut terharu menyaksikan kedekatan antara Ibu dan anak.
Louis tanpa sadar juga meneteskan air mata nya juga. Dia begitu terharu melihat nya, juga sangat bahagia bisa memiliki mereka sebagai keluarga nya. Situasi yang penuh haru juga disaksikan oleh anak-anak nya yang lain.
Four Z juga ikut masuk dan memeluk Mommy serta abang mereka yang sedang merayakan moment teletubies. Yaitu berpelukan.
"Tuan, kenapa anda tidak ikut bergabung juga dengan mereka semua?" tanya Nindi yang entah sejak kapan dia berada didekat Louis.
"Itu bukan urusan mu" jawab Louis ketus. Lalu dia melangkahkan kaki nya menuju ruangan lain.
Nindi merasa heran dengan sikap Louis yang aneh menurut nya. Nindi sampai menggaruk-garuk kepala nya bingung. Hingga dia dikagetkan oleh suara suami nya yang tiba-tiba sudah ada dibelakang nya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang?" tanya Nando pada Nindi yang sedang terbengong.
"Ish, kamu ini. Bikin kaget saja sih Pi" gerutu Nindi lalu memukuli Nando yang sedang berdiri menatapi nya bingung.