
Louis masih ragu untuk mengatakan nya, dia tidak tau harus bilang apa pada Vita. Dia takut salah bicara, yang akhirnya membuat hubungan nya dengan Vita bukannya membaik atau semakin dekat malah semakin senggang.
Vita masih menunggu Louis bicara, sudah beberapa menit mereka hanya saling diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan baik itu Vita maupun Louis itu sendiri.
"Apa anda tidak jadi bicara?" tanya Vita ahirnya.
"Begini. Pertama tolong jangan memanggil dengan sebutan saya dan anda. Kedua aku ingin kita semakin dekat layaknya suami istri pada umumnya. Dan yang terakhir, aku tidak akan memaksa atau memintanya lebih dulu jika kamu memang belum siap. Mungkin ini terdengar konyol bagi kamu, aku akan mencoba membuatmu bisa menerimaku dengan sepenuh hati kamu bahwa aku suamimu. Aku juga mau bilang jika aku sangat-sangat mencintaimu dari awal kita bertemu. Maaf aku sempat mencari informasi tentang kamu dan kehidupan kamu" ucap Louis panjang lebar.
Vita hanya mendengarkan saja setiap kata yang keluar dari mulut Louis.
"Apa kamu bersedia menerimaku yang banyak kekurangan ini? Aku tidak bisa berjanji tidak akan membuatmu menangis, tapi aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia, sekarang dan seterusnya. Mungkin kamu menyangka jika aku ini hanya membual atau memang pria yang pandai merayu wanita. Ini adalah kata-kata yang aku ucapkan dari hatiku, sama sekali ini bukan bualan semata. Jika kamu memang belum yakin akan aku dan pernikahan ini, biarkan aku bisa merasakan kebahagiaan walau hanya sekejap" ucapnya lagi.
Baru kali ini seorang Louis Edison menundukkan kepalanya pada seseorang, apa lagi orang itu adalah perempuan. Baru kali ini seorang Louis Edison mengutarakan perasaannya terhadap lawan jenis, karena Louis sangat menutup dirinya untuk didekati oleh orang lain.
Louis adalah seorang yang pemilih, dia akan merasa tidak nyaman jika berada dengan orang asing. Apa lagi dengan mahluk yang bernama wanita, dia sangat menjauhi nya. Tapi berbeda dengan Vita, sejak pertama bertemu dua sama sekali tidak merasa risih berdekatan dengannya.
Tapi dia selalu menunjukan sikap cuek dan dinginnya jika bertemu dengan Vita. Entah sebenarnya apa yang terjadi dengan Louis yang bisa bersikap manis dan perhatian terhadap seorang janda yang mempunyai banyak anak.
"Sejak awal saya menerima anda, maaf. Maksud ku, kamu. Aku sudah menata hati dan fikiran ku hanya untuk suamiku, jadi jangan bicara tentang menerimanya aku atau tidaknya. Aku hanya minta satu hal, bersabar lah untuk meraih hatiku. Karena ini begitu mendadak bagiku, mungkin jika sikapku dingin atau cuek. Tolong ingatkan aku, karena aku harus beradaptasi dengan keadaan yang baru ini" ucap Vita memaparkan perasaannya yang sudah terlalu nyaman sendiri, sekarang sudah punya pendamping kembali.
"Seperti yang aku katakan tadi, jika aku akan berusaha meraih hati kamu. Menghancurkan dinding pembatas yang kamu buat untuk semua pria, termasuk aku kan?" tanya Louis dengan senyuman dibibirnya. Yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Vita.
__ADS_1
"Lebih baik kita istirahat, lihat. Jam sekarang sudah menunjukan pukul 11:30 sebentar lagi tengah malam" ajak Louis untuk istirahat.
Vita langsung merebahkan badannya, lalu menarik selimut yang ada dibawah kakinya. Louis juga merebahkan badannya didekat istrinya, sebenarnya dia ingin memeluk tubuh Vita. Tapi dia tidak mau membuat Vita tidak nyaman atas permintaan nya.
Jadi Louis tidur terlentang menatap langit-langit kamar, lalu dia memiringkan tubuhnya untuk bisa melihat wajah wanita yang sudah mengisi penuh hatinya. Lalu tangannya terulur menyentuh wajah yang begitu terlihat sangat lelah dan menyimpan banyak luka.
"Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia, aku mau kita membesarkan anak-anak kita dengan penuh kasih sayang. Aku sangat bahagia bisa memiliki kamu disisiku, aku sangat mencintai kamu melebihi cinta pada diriku sendiri" ucapannya sambil membelai dari kepala sampai kebibir.
Lalu Louis memberanikan diri untuk mencium kening Vita dengan sangat lembut. Louis juga memeluknya perlahan, lalu menelusupkan kepala Vita dalam dadanya yang bidang.
Sebenarnya sejak tadi Vita belum tidur, dia bisa mendengar setiap kata yang terucap oleh Louis. Vita tidak bisa membendung air matanya.
Tidak terasa tangan Vita terulur untuk membalas pelukan Louis. Dalam tidurnya Louis berpelukan dengan Vita dan saling mengungkapkan perasaannya masing-masing. Louis semakin mengeratkan pelukan nya pada Vita.
Vita merasa nyaman dalam pelukan Louis, tak lama kemudian Vita juga mengarungi mimpi bersama dengan Louis.
.
Berbeda dengan pengantin baru yang baru memulai semuanya dan saling menerima satu sama lainnya.
Nindi sedang ngidam menginginkan makanan yang membuat Nando frustasi, pasalnya Nindi menginginkan bika ambon yang dibeli langsung dari Medan. Sedangkan jarak Jakarta dengan Medan sangat jauh, belum lagi dia hanya diberi waktu satu jam saja untuk membeli bika ambon tersebut.
__ADS_1
Akhirnya Nando memutuskan pergi ketoko kue langganan nya untuk membuatkan bika ambon sekarang juga. Toh Nindi tidak akan tahu jika dia tidak ke Medan.
Untungnya pemilik toko kue itu mau membuatkan nya, karena mereka sudah berteman lama dengan Nando. Jadi dia tidak masalah jika hanya membuatkan bika ambon saja.
"Ya sudah, aku mau keluar dulu membeli apa yang kamu inginkan" ucap Nando sambil meraih kunci mobil dan juga dompetnya yang ia letakkan diatas nakas.
Nindi hanya mengangguk patuh, dia menunggu suaminya membeli bika ambon yang dia pesan. Dia terus mengusap perutnya yang masih datar, lalu tersenyum sendiri. Dia tidak menyangka jika dia secepat itu bisa mengandung.
Bahkan Nindi tidak terfikirkan untuk menikah, karena Nindi selama ini tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun juga. Bertemu Nando juga selalu berantem dan berdebat, mereka berdua tidak pernah akur jika bertemu. Tapi karena kekuatan jodoh dan takdir makanya mereka berdua bisa menikah dan sekarang Nindi sedang mengandung benih dari Nando, suami yang sangat dia cintai dan sayangi sepenuh hatinya.
Nando sudah sampai didepan toko kue temannya, dia langsung saja membawanya. Nando memberikan beberapa lembar uang berwarna merah. Dia inginkan segera memberikan pesanan istrinya itu.
Begitu Nando sampai dirumah Nindi benar-benar sangat antusias menyambut kedatangan Nando yang membawa kotak kue yang lumayan besar berada ditangan nya.
"Terimakasih Papi" ucap Nindi sambil membawa kotak kue itu tak lupa Nindi mencium pipi Nando lalu melarikan diri menuju ruang makan membawa bika ambon.
Nando yang menyaksikan sikap Nindi yang seperti ini hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, tapi dia bahagia. Karena anak dalam kandungan istrinya sangat suka makan tidak menimbulkan mual dan muntah untuk Nindi.
Saat Nando sudah sampai diruang makan, Nando sangat terkejut melihat Nindi memakan bika ambon nya dengan sangat lahap sekali. Bahkan hampir habis setengahnya, Nando sampai-sampai menelan slivanya beberapa kali.
Istrinya ini jika sudah memesan makanan yang dia inginkan akhir-akhir ini akan dihabiskan, tidak seperti awal-awal kehamilannya dulu. Yang sering membeli makanan cuman hanya mencicipinya saja, selebihnya dia yang harus menghabiskan semua makanan yang dipesan oleh Nindi. Jika tidak maka Nindi akan menangis histeris.
__ADS_1