
Louis merasa bersalah telah melukai perasaan wanita yang bisa mengalihkan pandangan nya. Louis tidak tau harus berbuat apa.
"Maaf jika ucapan saya menyinggung perasaan anda. Sebenarnya saja juga hanya menebak saja, setiap saya melihat anda seperti ada sesuatu yang menarik saya untuk bisa dekat dengan anda. Saya benar-benar minta maaf, hungguh saya tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan anda" ucap Louis bersungguh-sungguh.
Vita hanya diam, pandangannya seakan-akan kosong. Seperti tubuh tanpa jiwa, seolah-olah dia sangat-sangat tidak baik.
"Dengar, liahat saya. Demi tuhan, saya tidak mau anda bersedih. Saya memang tidak tau masalah anda, tapi setidaknya berbagi" ucapnya sepontan tangannya menggenggam tangan Vita. Tangan yang sangat dingin.
Air matanya seolah-olah tidak bisa berhenti, dia seperti melihat sosok mendiang suaminya. Ada perasaan nyaman, entah perasaan apa. Vita tidak tau itu apa.
Vita hanya bisa diam menerima perlakuan dari seorang pria yang pernah menolongnya dan dekat dengan anak-anak nya.
Louis langsung mendekatkan duduknya supaya bisa menenangkan, Louis juga menghapus air mata Vita yang deras mengalir dipipinya.
Vita hanya bisa diam. Dia tidak menolak atau mengiyakan tindakan Louis.
"Maaf, saya tidak bermaksud kurang ajar. Saya hanya reflek" ucap Louis yang baru sadar jika dia sedang menangkup kedua pipi Vita, hampir saja dia mencium Vita yang hanya diam saja.
Vita langsung tersadar bahwa dia melakukan kesalahan, dia masih begitu dekat dengan Louis. Vita ingin beranjak dari duduknya, tapi tangannya ditahan oleh Louis.
"I'm so sorry, aku tidak bermaksud untuk menyentuh anda lagi. Tapi tolong jangan diam seperti ini, saya lebih suka anda bicara dengan sinis atau marah sekali pun. Please jangan seperti ini, ini sangat menyiksa saya" jelas Louis panjang lebar.
Vita masih diam seribu bahasa, dia tidak mau bicara sepatah kata pun. Vita masih syok dengan dirinya sendiri, mengapa dia bisa dengan mudahnya disentuh oleh seorang laki-laki.
Jika saja Louis tidak sadar lebih dulu, mungkin akan ada kesalahan yang lebih besar lagi.
Tapi untung saja Allah masih melindungi nya dari segala dosa. Apa lagi setatus nya yang seorang janda. Yang selalu dicap sebagai pelakor dan janda gatel itu sudah seperti melekat pada dirinya.
"Saya harus kembali kekamar, ini sudah sangat larut" ucap Vita sambil meninggalkan Louis yang sedang memandanginya berjalan semakin menjauh.
"Apa yang terjadi pada diriku ini. Mengapa sikapku tadi seperti seorang pria Casanova" Louis mengacak-ngacak rambutnya, dia merasa aneh dengan dirinya jika sedang berdekatan dengan Vita.
__ADS_1
.
Setelah masuk kedalam kamar nya Vita langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dia merasa sudah kotor, karena dia sudah disentuh oleh orang yang bukan mahrom nya.
"Kenapa aku jadi serendah ini... Julukan sebagai janda gatel itu benar, Mas maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga marwah ku, aku benar-benar sangat ceroboh dan juga bodoh" gumam Vita sambil menggosok semua badannya didalam bathtub. Apa lagi dibagian wajah dan tangannya dia gosok hingga memerah kulitnya.
Ditengah malam Vita menangis didalam kamar madi hotel yang dia tempati. Dia begitu menyalahkan diri sendiri, apa lagi jika ada yang melihat kejadian itu. Pasti akan banyak yang menghujat dirinya.
Sudah lebih dari tiga puluh menit Vita mengurung diri didalam kamar mandi. Bahkan dia sudah kedinginan, bibirnya saja sampai pucat karena kedinginan.
.
Berbeda dengan Vita. Louis meyakinkan dirinya bahwa dia menyukainya, wanita sederhana tapi menyimpan luka begitu besar.
Louis semakin tertantang untuk segera bisa memilikinya sebagai wanita nya untuk selamanya. Tapi apa itu mungkin? dia harus berusaha supaya membuat wanita cantik itu miliknya.
Louis akan berusaha menyentuh hatinya terlebih dahulu, seperti mendekati anak-anak nya mungkin.
Memang ya, jika seseorang sedang dilanda firus cinta akan sangat berbeda dari dirinya sendiri. Bahkan bisa berubah drastis.
Louis selalu memikirkan apa yang akan ia lakukan esok hari saat bertemu dengan wanita pujaan nya. Dan juga calon anak-anak nya kelak.
Anak-anak nya, Louis mambayangkan jika dia akan memiliki keluarga dan... Dan anak-anak, sungguh sangat indah sepertinya.
Louis tidak berhenti tersenyum-senyum mambayangkan nya saja, apa lagi bisa menjadi nyata. Akan sangat membahagiakan bukan.
.
Satu bulan kemudian...
Waktu berlalu begitu cepat, sudah satu bulan semenjak kejadian dihotel waktu itu. Vita sangat menutup dirinya dari siapa pun yang mencoba mendekatinya.
__ADS_1
Mau itu sebagai partner kerja saja, atau bukan selalu menjaga jarak. Apa lagi tuduhan Sofia yang sangat membuatnya lebih tidak terbuka.
"Pagi Bu, hari ini jadwal Ibu tidak ada rapat. Hanya menandatangani berkas saja, ini yang perlu Ibu tandatangani" ucap Nindi sambil membawa setumpuk berkas yang sangat banyak.
"Terimakasih Nin. Ehh, kenapa dengan wajahmu? Apa kamu sakit? wajahmu pucat sekali" tanya Vita sambil beranjak dari duduknya.
"Saya tidak kenapa-kenapa kok Bu, hanya sedikit mual saja" jawab Nindi sambil memijit pangkal hidungnya.
"Mual? apa kamu sudah.... " Vita tidak melanjutkan ucapan nya.
"Tidak tau Bu, memangnya apa hubungan nya mual dengan saya sudah hamil?" jawab Nindi sambil bertanya.
"Kenapa kamu menjadi tidak peka sih Nin? apa kamu belum telat datang bulan?" tanya Vita lagi penasaran.
"Tidak Bu, saya baru saja datang bulan beberapa hari yang lalu" jawab Nindi sangat lemas.
"Ya sudah, lebih baik kamu pulang dan istirahat dirumah. Jangan memaksakan diri seperti ini Nin, saya masih bisa kok mengurus semuanya. Lagi pula kan masih ada sekertaris. Jadi kamu bisa pulang sekarang" jelas Vita panjang lebar.
"Baik Bu, dan terimakasih" jawab Nindi, dia langsung keluar ruangan kerja Vita.
Vita menelpon Nando supaya menjemput Nindi, dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada asisten kepercayaan nya.
Setelah Vita menghubungi Nando, dan Nando langsung bergegas menuju Pratama group Vita langsung menghubungi rumahnya.
"Halo, Assalamualaikum Bi. Saya hari ini akan pulang sore mungkin Bi, jadi saya tolong titip anak-anak ya Bi. Tadi saya telpon Mama tidak aktif, apa Mama baik-baik saja Bi?" ucap Vita pada salah satu asisten rumahtangga yang bekerja padanya.
"Wa'alaikum Salam nyonya. Iya, saya akan menjaga Nona muda dan Tuan muda nyonya. Kalau nyonya besar... Nyonya sedang tidak sehat nyah, sejak tadi bilang sakit kepala. Mungkin sekarang sedang istirahat soalnya tadi habis minum obat nyah" Jelas Bibi disebrang sana.
"Ya Allah Bi, kenapa bibi tidak bilang ke saya jika Mama sakit. Sebenarnya Mama sakit apa sih Bi? Mama tidak mau cerita sama saya?" tanya Vita.
"Saya tidak tau nyonya, nyonya besar hanya bilang pusing biasa saja nyah" Jawab Bi Sumi.
__ADS_1
"Ya sudah Bi, nanti jika ada apa-apa tolong langsung telpon saya ya Bi" ucap Vita sebelum mematikan panggilan ponselnya.