
Zoya mengajak adik nya untuk belajar bersama diruangan keluarga saja. Tapi saat akan mengerjakan tiba-tiba Zio datang bikin rusuh.
"Hai kak" ucap Zio yang langsung duduk disamping Zoya.
"Zio, bisa tidak mengganggu" ucap Zoya yang sedang mengajari Zia.
"Aku tidak mengganggu, aku hanya memperhatikan saja" jawab Zio dengan santainya dan masih mengganggu juga.
"Abang Zio!" ucap Zoya sudah sangat marah.
Pasalnya Zio sudah membuat minuman yang dibuat pelayan malah ditumpahkan begitu saja pada buku-buku pelajaran mereka, dan parahnya tidak ada yang tidak basah.
"I'm sorry, really sorry kak" ucap Zio dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia benar-benar sangat merasa bersalah pada kakak dan adiknya.
"Huh, sudahlah. Semua sudah terjadi, mau bagaimana lagi kan" ucap Zoya sambil memperhatikan semua buku yang sudah basah kuyup.
Lalu pandangan nya tertuju pada Zia yang sudah menangis, mungkin dia sudah menulis banyak akhirnya malah basah.
"Zia, masih bisa menulis lagi kan? Nanti kakak bantu" tanya Zoya yang menenangkan adik nya yang sudah menangis.
Zio menghampiri Zia juga. Dia mencoba untuk minta maaf pada adiknya, dia sangat merasa bersalah. Karena kecerobohan nya dia membuat adik nya menangis.
"Zia, abang minta maaf. Nanti biar abang bantu buat menulis lagi ya? Tapi maafkan abang" ucap Zio yang sudah berada didekat Zia.
Zia bukan nya menjawab malah langsung memberi bogeman mentah pada Zio yang sudah membuatnya sangat kesal.
"Mau membantu apa? Abang juga masih banyak tugas dari guru, masih bilang mau membantu. Cih" ucap Zia dengan sangat kesal dan juga berdecih dihadapan Zio lalu menginjak kaki nya.
Zio hanya meringis kesakitan akibat dapat bogeman dari Zia dan kaki nya juga diinjak lumayan keras. Zio sebenar nya ingin marah, tapi memang dia yang salah sih.
Saat sedang ribut-ribut diruang keluarga Zayd datang membawa beberapa camilan kesukaan nya, ingin ikut bergabung dengan ketiga saudara nya.
Zayd heran kenapa abang nya malah meringis seperti kesakitan. Hingga dia melihat kekacauan yang ada diatas meja, Zayd bisa menyimpulkan jika abang nya yang satu ini pasti membuat ulah.
"Abang kenapa tertawa?" tanya Zayd tiba-tiba tanpa rasa bersalah lalu duduk sambil memakan camilan nya.
"Aku kesakitan Zayd, bukan tertawa" jawab Zio dengan nada yang ditekan.
"Oh, aku kira sedang tertawa senang melihat ini semua" ucap Zayd menunjuk meja yang berantakan.
Lalu Zico dan Zayn juga ikut bergabung dengan yang lainnya. Mereka berdua juga heran melihat saudara nya yang lain. Ada yang menangis, ada yang meringis kesakitan dan ada juga yang sedang makan dengan tenang nya.
__ADS_1
Zico dan Zayn saling pandang lalu saling mengedikkan bahunya masing-masing. Mereka ikut melihat kenapa semua nya terjadi. Dan sudah dipastikan jika yang membuat masalah pasti Zio.
"Abang..." ucap Zia langsung memeluk tubuh Zico dan mengadukan apa yang terjadi padanya.
Zico memandang Zio dengan tatapan tajam nya, lalu dia menyuruh Zia untuk tenang dan tidak boleh menangis.
"Kau tenaganglah, nanti abang bantu buatkan kembali. Sekarang ambil buku-buku baru mu kesini" ucap Zico sambil terus memeluk dan mengusap punggung adiknya.
Zia menurut dan segera pergi untuk mengambil buku baru nya. Sedangkan Zio sedang ketakutan karena ditatap tajam oleh abang dan juga adiknya yang super dingin itu.
"Sekarang, kau juga ambil buku-buku mu. Dan belajar bersama sekarang juga" ucap Zico pada Zio dengan sangat tegas dan tidak bisa dibantah.
Zio juga pergi mengambil buku-buku nya yang ada dikamar nya sambil menggerutu sepanjang jalan menuju lantai atas. Membuat Zico dan Zayn menggelengkan kepala nya.
"Zayd, kenap kau tidak ikut belajar juga?" tanya Zico yang melihat Zayd sedang memakan berbagai camilan nya.
"Aku sudah mengerjakan nya tadi sebelum turun kesini. Dan juga sudah abang Z yang membantu ku" jawab Zayd dengan mulut penuh nya.
Zayn hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah adik bungsu nya itu. Sedangkan Zico menghembuskan nafasnya kasar melihat adik-adik nya yang seperti itu.
Zoya juga tidak jauh berbeda dengan Zico dan Zayn yang sudah pusing menghadapi ketiga adiknya yang suka bertengkar tapi juga sering membuat mereka semua tertawa bersama.
.
Jika kamar nya tidak dipasang peredam suara mungkin semua penghuni mainson akan mendengar suara-suara astral yang terdengar dari kamar utama tersebut.
"Dad, aku akan sampai" ucap Vita yang sedang dalam kungkungan Louis.
"Bersama honey" ucap Louis sambil mengera*g panjang dan menggulingkan diri disamping Vita.
"Thank you honey" ucap Louis saat sudah melepas penyatuan nya.
Vita hanya tersenyum lalu memejamkan matanya, dia sudah sangat kelelahan menghadapi naf*u dari Louis.
Mereka berdua malah terlelap bersama dengan saling memeluk satu sama lain. Mereka berdua tertidur hingga hari menjelang malam. Dan mereka berdua terbangun karena ada yang mengetuk pintu kamar.
"Mom, Dad. Apa kalian tidak akan ikut makan malam bersama?" teriak Zoya membangunkan kedua orang tua nya.
"Mom, Dad. Ayo cepat!" ucap Zayd sambil menggedor-gedor pintu kamar utama.
Sedangkan didalam kamar sudah panik. Karena saat melihat jam sudah menunjuk kan pukul 7 malam. Mereka berdua langsung berlari untuk membersihkan diri mereka berdua.
__ADS_1
Sebelum masuk kamar mandi Louis membuka pintu kamar nya dulu supaya anak-anak nya berhenti berteriak dan menggedor pintu kamar.
"Daddy sudah bangun, jadi berhenti berteriak" ucap Louis saat menyembulkan kepala nya dibalik pintu.
"Dad, kau membuatku malu" ucap Zoya yang melihat penampilan Louis yang hanya memakai boxer saja, tidak memakai penutup lain.
"Oh benarkah?" ucap Louis lalu melihat dirinya sendiri lalu masuk dan menutup pintu kamar kembali lalu segera berlari menuju kamar mandi untuk menyusul Vita.
"Kenapa Dad? Kenapa berlarian seperti itu" tanya Vita yang sedang membilas tubuh nya dibawah kucuran shower.
"Aku menemui anak-anak dengan penampilan seperti ini honey" jawab Louis dengan pandangan sedih dan lesu nya.
"What! Kau memakai ini saja menemui anak-anak?" tanya Vita lagi memastikan jika pendengaran nya salah.
Dan ternyata dia tidak salah mendengar karena Louis mengangguk dan mengiyakan ucapan Vita. Vita menepuk keningnya sendiri dan langsung menyuruh suami nya untuk segera mandi dan langsung bergabung dengan anak-anak untuk makan malam bersama.
"Dad, cepatlah dan ini pakaian mu" ucap Vita saat mengambilkan pakaian untuk Louis kenakan.
"Thank you honey" jawab Louis saat menerima pakaian nya dan segera mengenakan nya sebelum istrinya marah kembali.
Sedangkan diluar anak-anak sedang tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Daddy nya yang jika tidur tidak mengenakan pakaian nya.
Zoya yang melihat nya menjadi malu sendiri. Pasalnya dia memang sering melihat Zio juga sama seperti itu, jika tidur tidak mau mengenakan pakaian.
"Kak, kau jangan memikirkan nya terus, bisa-bisa kakak akan seperti ini" ucap Zayd yang masih menggoda kakak tertua nya.
"Kau diamlah" ucap Zoya sambil melangkah pergi dari Zayd. Dia sudah tidak bisa berlama-lama berada didekat adik bungsunya yang selalu menggoda nya.
Zayd masih tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kakak nya yang sudah sangat malu itu. Dan saat sedang tertawa Zayd dikejutkan oleh kedatangan Zio dari belakang nya.
"Kenapa kau tertawa seperti itu?" tanya Zio penasaran.
"Mau tahu saja apa mau tahu banget... " ucap Zayd menggoda abang nya.
"Mau tahu banged... " jawab Zio memperlihatkan wajah berbinar nya dan juga puppy eyes nya.
"Mari ku beri tahu" ucap Zayd mendekatkan wajah nya untuk berbisik ditelinga Zio.
Zio dengan patuh nya menunduk kan kepala nya dan Zayd membisikan...
"Kamu nayea, kamu bertanyea-tanyea" ucap Zayd dan secepat kilat dia melesat lari menuju ruang makan menemui yang lain nya.
__ADS_1
Pada saat bersamaan juga Vita dan Louis sudah keluar dari kamar untuk bergabung dengan anak-anak nya. Mereka berdua masih heran melihat wajah Zio yang kesal dan wajah Zayd yang terlihat sedang menahan tawa nya.