Salahkah Menjadi Janda

Salahkah Menjadi Janda
Kegaduhan dipagi hari twins A


__ADS_3

Louis sudah menyelesaikan sarapannya, sekarang tinggal mengantarkan anak-anak nya untuk bersekolah. Mereka berempat sudah bersiap untuk berangkat.


"Sudah siap semuanya?" tanya Louis pada anak-anak nya.


"Sudah sejak tadi Dad, Daddy saja yang lama" gerutu Zayd yang tadi sempat melihat Mommy dan Daddy bermesraan.


"I'm sorry boy, Daddy tidak akan mengulangi nya lagi" ucap Louis sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Whatever" jawab Zayd sambil berlalu menuju mobil yang terparkir indah dihalaman mainson.


Louis mengikuti langkah Zayd yang berlari menuju mobil, Louis hanya menggeleng melihat sikap putranya bungsunya ini.


Louis sudah duduk dibalik kemudi, lalu menyalakan mobilnya dan melesat lah mobil yang mengantarkan anak-anak nya kesekolah.


Setelah menempuh perjalanan kurang dari duapuluh menit, mereka sampai didepan gerbang sekolah.


"Sudah sampai, kalian hati-hati dan jangan nakal. Oke" ucap Louis setiap harinya sama.


"Oke Dad" jawab mereka semua kompak.


Louis membukakan pintu mobil untuk anak-anak nya. Lalu mereka berbaris untuk berpamitan dan juga mencium punggung tangan Daddy nya bergantian.


Louis melihat anak-anak nya berlarian menuju kelasnya masing-masing. Dia merasa terharu menyaksikan pertumbuhan mereka yang sangat cepat.


.


"Mami... Papi... Lexa gangguin aku terus" ucap seorang anak laki-laki berusia 4tahun yang sedang berlari memutari ruang tamu.


"Dasar cengeng, masa dikasih ulat mainan saja sudah kabur" sinis seorang anak perempuan berusia sama dengannya yang biasa dipanggil Lexa.


"Mami... hua...hua....." Alex menangis dengan sangat kencang memanggil Maminya.


"Astagfitullah, anak itu. Sehari saja tidak ribut-ribut apa tidak bisa" gerutu sang Mami yang tidak lain adalah Nindi.


"Ini memang keseharian mereka sayang" jawab suaminya, Nando.


"Tapi mereka itu sudah besar Pi, masih saja seperti itu" ucap Nindi sambil menghembuskan nafasnya kasar.


"Lama-lama aku bisa stres menghadapi mereka berdua" ujarnya sambil memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing.

__ADS_1


Nando hanya menggelengkan kepalanya. Dia juga sama, sebenarnya dia juga merasa pusing menghadapi kedua anak kembarnya yang selalu saja tidak pernah akur.


"Kenapa boy?" tanya Nando setelah menghampiri Alex yang sedang menangis.


"Lexa Pi, dia memberiku ulat" jawabnya sambil menunjuk Lexa yang masih memegangi ulatnya.


"Lexa" ucap Nando pada Lexa.


"Ini hanya mainan Pi, ini lihat" ujar Lexa yang memberikan mainannya pada Papinya.


"Alex, ini memang mainan. Bukan ulat sungguhan" ucap Nando sambil memperlihatkan pada Alex.


"Tetap saja aku geli Pi" jawab Alex yang bergidik ngeri.


"Dasar cengeng, penakut. weee" ucap Lexa sambil menjulurkan lidahnya meledek Alex.


"Papi" ucap Alex yang hampir menangis lagi.


Nando menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar. Dia benar-benar dibuat pusing oleh kedua anak-anak nya.


"Sudah dramanya. Sekarang kita sarapan, setelah itu berangkat sekolah!" tegur Nindi dengan nada tegasnya. Jika sudah mendengar suara tegas Maminya, maka tidak ada yang berani membantah.


"Ingat, kalian harus saling menjaga satu sama lain. Jangan seperti dirumah yang selalu berantem dan saling mengejek. Mami tidak mau mendengar jika kalian tidak akur" ucapan ultimatum dari Nindi setiap hari sebelum anak-anak nya berangkat sekolah.


"Iya Mi" jawab mereka berdua sangat kompak.


"Oke, salim dulu pada Mami" ucap Nando.


Mereka berdua salim pada Nindi dan mencium punggung tangannya. Begitu pula Nindi yang mencium punggung tangan Nando sebelum berangkat kerja, dibalas Nando dengan mencium kening Nindi.


Nando mengantarkan anak-anak nya kesekolah yang sama dengan four Z. Twins A sudah masuk TK digedung yang sama dengan four Z.


Ternyata Nando mengantarkan anak-anak bersamaan Louis akan melajukan mobilnya untuk kembali pulang.


Nando dan juga Louis terlibat obrolan ringan sebelum Nando melajukan mobilnya untuk bekerja. Begitu pula Louis yang pulang ke mainson nya.


.


Jika kehidupan Louis dan Nando sedang bahagia. Berbeda dengan Rudi yang masih asik dengan kesendirian nya. Perusahaan nya juga sudah maju pesat sekarang, berkat kerjasama pertamanya dengan Pratama group.

__ADS_1


Dan sekarang sudah diakui oleh beberapa perusahaan besar lainnya. Juga sudah merambah kepasar eropa.


"Kamu tidak ingin menikah kembali nak?" tanya Ibunya yang sekarang tinggal bersama dengan Rudi.


"Iya, Ayah dan Ibu sudah tua. Kami juga ingin mempunyai cucu, melihat kamu bahagia juga dengan keluarga kamu kelak" timpal sang Ayah.


"Rudi belum terfikirkan masalah itu bu, yah. Rudi mau mengembangkan usaha dulu, supaya lebih maju lagi" jelasnya supaya Ayah dan Ibu nya tidak memaksanya menikah kembali.


Rudi merasa takut akan kejadian masa lalu. Dia takut mendapatkan wanita yang salah untuk yang kedua kalinya. Jadi Rudi tidak ingin itu terjadi, jika memang sudah ada jodohnya Rudi tidak akan menolaknya. Mau dia seorang janda sekalipun, atau dia orang tidak mampu pun dia akan terima. Asalkan dia juga menerimanya apa adanya.


"Oh iya, Ayah Ibu. Rudi ada tugas dikota K untuk urusan proyek baru yang bekerjasama dengan perusahaan Rudi. Jadi besok Rudi akan terbang kesana untuk beberapa waktu" ucap Rudi pada kedua orang tua nya.


"Beberapa waktu? Jadi kamu tidak tau kapan kamu kembali?" tanya sang Ibu yang sudah berkaca-kaca.


"Iya bu, Rudi janji akan segera kembali jika pekerjaan nya sudah selesai" jawab Rudi sambil menggenggam tangan Ibunya.


"Tapi nak" belum sempat Ibunya melakukan protesnya sudah disela oleh suaminya.


"Sudahlah bu, biarkan saja. Dia sudah dewasa dan bisa menentukan jalan hidupnya, kita selaku orang tua hanya mengingatkan" sela Ayah.


"Baiklah, Ibu mengijinkan kamu pergi. Tapi kamu harus cepat kembali lagi" ucap Ibunya pasrah akan keputusan putra semata wayang nya.


"Terimakasih Bu, yah. Rudi akan segera kembali jika proyeknya sudah selesai. Rudi juga berjanji akan membawakan Ayah dan Ibu menantu yang sesuai dengan keinginan Ayah dan Ibu" jelas Rudi.


Sebenarnya dia belum yakin akan ucapannya yang terakhir. Tapi dia tidak mau membuat Ibunya bersedih karena memikirkan nya, jika dia menjanjikan akan membawa menantu mungkin saja Ibunya akan semangat.


Dan benar saja, Ibunya langsung tersenyum sumringah mendengar penjelasan dari putranya. Ibu mana yang tidak bahagia jika anaknya nanti akan pulang membawa calon menantunya.


"Ibu do'a kan semoga proyek kamu berjalan lancar dan cepat. Juga semoga kamu memang mendapatkan jodoh juga disana, Ibu selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu nak" ucap Ibunya sambil memeluk tubuh putra semata wayang nya.


"Terimakasih Bu, memang itu yang sangat aku butuhkan. Yaitu do'a dari seorang Ibu" jawab Rudi sambil mengeratkan pelukannya pada sang Ibu.


Ayahnya yang melihat juga meneteskan air matanya, melihat anak dan istrinya berpelukan erat. Apa lagi dengan diiringi tangisan haru dari keduanya.


Rudi beranjak dari duduknya untuk menyusun pakaikan dan juga perlengkapan yang harus dia siapkan, dia akan memulai semuanya dengan perusahaan yang baru saja dia ajak bergabung.


Perusahaan besar dan ternama dinegri ini, ini adalah kesempatan yang sangat besar baginya untuk memperluas jaringan nya kedepannya.


Rudi sudah optimis untuk bisa mengembangkan lagi usahanya. Apa lagi dengan bantuan dari do'a kedua orang tua nya. Itu sudah sangat cukup untuknya.

__ADS_1


__ADS_2