
Vita hanya diam saja, dia tidak menjawab pertanyaan Mama nya. Dia sebenarnya sudah merasa nyaman dengan Louis, tapi juga masih ragu untuk melangkah lebih jauh lagi.
Bagi Vita menikah sekali seumur hidup, tapi ini... Ini sangat membuatnya menjadi dilema. Dia mau menolaknya, tapi dia juga segan pada Mama Sila yang sudah menyayangi nya seperti putri kandungnya sendiri. Walaupun dia adalah seorang menantu.
"Bagaimana nak?" tanya Mama Sila.
"Tolong, ini adalah permintaan terakhir Mama sama kamu. Mama ingin melihat kamu menikah, Mama ingin melihat kamu ada yang menjaganya dan mendampingi kamu sayang. Setelah kamu menikah, Mama akan tenang meninggalkan kalian" ucap Mama Sila, walau rada tidak jelas ucapannya.
Vita hanya mengangguk saja, dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Dia tidak mau menghambat kepergian Mama Sila jika memang sudah waktunya.
"Nak Louis sudah melihatnya kan? jika Vita sudah setuju, maka segera lah menikah. Jika tidak keberatan menikah disini, dihadapan Mama" ucap Mama Sila pada Louis.
Louis langsung keluar untuk bertemu dokter dan mengurus pernikahan nya, dia juga memanggil seorang Ustadt untuk menikahkan nya.
Pernikahan sakral yang hanya dihadiri oleh beberapa dokter dan perawat juga Ustadt yang akan menikahkan nya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Vita Ayla binti almarhum Bapak Hamdan dengan emas kawin cincin berlian dan uang senilai duaratus delapan puluh lima juta dolar dibayar tunai" ucap Louis dengan satu kali tarikan nafas saja.
"Bagaimana para saksi, sah...?" tanya seorang Ustadt.
Sah
Sah
Jawab mereka yang ada didalam ruangan ICU, tidak lama kemudian terdengar bunyi yang sangat nyaring.
Tiiitttt....
Tiiitttt....
"Mama, Ma" ucap Vita ingin menghampiri brangkar Mama Sila, tapi dicegah oleh dokter.
"Sebaiknya anda keluar dulu. Biar kami memeriksanya" jelas salah satu dokter.
Louis memapah Vita yang baru saja sah menjadi istrinya. Louis langsung memeluk Vita yang diam mematung didepan ruang ICU. Tidak lama kemudian dokter keluar dan memberitahu kabar, bahwa Mama Sila sudah pergi.
Vita langsung tidak sadarkan diri mendengar kabar kematian Mama Sila. Wanita hebat dan sangat penyayang itu sudah pergi untuk selamanya.
"Sayang" ucap Louis menggendong tubuh istrinya.
dokter dan tim medis yang lain membantu membawa jenazah Mama Sila kekediaman Pratama untuk segera dimakamkan. Rumah duka sudah dipenuhi oleh para pelayat yang datang, bahkan banyak karangan bunga yang berjejer dihalaman sampai kejalan.
Vita masih tidak sadarkan diri, dia masih berada didalam kamar utama. Louis mengurus semuanya dengan baik, bahkan dia juga menenangkan anak-anak nya.
__ADS_1
Pada saat akan memakamkan Mama Sila, Vita bangun dari pingsannya. Vita bersikeras ingin mengantarkan Mama Sila ketempat peristirahatan terakhirnya.
Vita yang sangat lemah dirangkul oleh Louis. Bahkan banyak yang menggunjing nya, bisa-bisanya dia diam saja saat seorang pria merangkulnya dengan sangat mesra.
Louis sudah mengurus pernikahan nya secara negara juga, dia nanti bisa membungkam mulut-mulut yang menggunjing istrinya.
Setelah pemakaman Mama Sila selesai. Vita dan juga anak-anak nya tidak langsung pulang, anak-anak merangkul Mommy nya. Mereka mencoba menguatkan sang Mommy.
Apa lagi Zico dan Zayn yang paling terdepan memeluk Mommy nya. Mereka benar-benar saling menguatkan satu sama lain nya. Walaupun mereka masih anak-anak dan juga masih sangat kecil untuk mengerti keadaan yang sebenarnya. Tapi mereka tidak bertanya sedikit pun pada orang.
Mereka benar-benar baersikap dewasa, disaat anak-anak seusianya masih segala ingin tahunya. Berbeda dengan six Z yang hanya menangis dalam diam dan saling menguatkan.
Louis membawa anak dan istrinya pulang kekediaman Pratama, ternyata disana masih banyak orang yang berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa.
Louis menyuruh istrinya untuk istirahat, begitu pula dengan anak-anak nya juga. Dia tidak mau jika mereka harus sakit, Louis juga menyuruh orang kepercayaan nya selain Nando untuk mengurus semuanya.
.
Malam harinya dikediaman Pratama masih dalam suasana berkabung. Louis mencoba menghibuar anak-anak nya terlebih dahulu, ternyata anak-anak masih sangat mudah untuk bisa melupakan kejadian tadi sore.
Setelah anak-anak nya sudah tidur semua Louis memutuskan untuk segera menghibur istrinya. Wanita yang baru beberapa jam menjadi miliknya, walaupun Louis yakin jika istrinya belum bisa menerimanya sepenuhnya. Tapi dia yakin jika istrinya tidak akan membuatnya kecewa.
Cklek
Vita kaget, karena Louis masuk kedalam kamar secara tiba-tiba. Apa lagi vita hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya dan satu handuk lagi melilit rambutnya.
Louis juga kaget melihat pemandangan yang Indah didepan nya, ternyata istrinya sangat cantik. Kulitnya yang putih mulus, juga sangat ****.
Sebenarnya sisi liar Louis sudah bangun, tapi dia mencoba meredamnya. Dia tidak mau jika istrinya merasa takut dan tidak nyaman.
"Maaf, saya tidak bermaksud. Saya akan keluar" ucap Louis segera membalikkan badannya.
"Tunggu. Anda tidak perlu keluar, saya yang seharusnya meminta maaf. Karena saya belum bisa menjadi istri anda yang baik" jawab Vita.
Sebenarnya dia malu dilihat oleh seorang pria disaat sedang seperti ini. Tidak menggunakan pakain, tapi dia sadar. Pria yang ada dihadapan nya saat ini adalah suaminya, jadi tidak masalah jika dia melihatnya.
Makanya Vita menahan langkah Louis yang ingin meninggalkan kamarnya. Louis langsung berbalik dan menghampirinya.
"Saya tau, anda belum siap menerima semua ini. Saya juga tidak akan memaksa anda, saya kesini sebenarnya ingin menghibur anda" ucap Louis masih berdiri ditempatnya semula.
"Iya, anda benar. Saya memang belum bisa menerima kepergian Mama saya, bukan pernikahan. Bagi saya pernikahan adalah ikatan yang sah dan juga suci. Saya tidak mau mempermainkan sebuah pernikahan" jawab Vita masih berdiri juga.
"Apa kita akan membuat perjanjian atau apa?" tanya Louis sambil mendekati Vita.
__ADS_1
Vita hanya diam saja, dia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Louis padanya. Ternyata Louis tidak melakukan apapun, dia juga masih canggung.
Setelah Vita selesai berpakaian dan duduk didepan meja riasnya untuk mengeringkan rambutnya. Hedrayer yang sedang dipegang Vita diminta oleh Louis.
"Biar saya saja yang mengeringkan" ucap Louis.
Vita hanya diam memperhatikan Louis yang sedang mengeringkan rambutnya dan juga menyisiri. Louis menelan slivanya dengan sangat kasar, dia melihat leher jenjang dan putih mulus milik istrinya. Ingin rasanya Louis menyusuri leher itu.
Untung saja otak warasnya masih bekerja jika tidak mungkin dia akan melakukan kesalahan dengan memaksakan kehendaknya pada Vita.
"Ini sudah kering" ucap Vita membuyarkan lamunan Louis.
"Ah, iya" ucap Louis gugup.
"Terimakasih sudah membantu saya mengeringkan rambut saya" ucap Vita lagi.
"Iya, saya sangat suka melihat rambut anda yang hitam dan tebal" jawab Louis menghilangkan fikiran kotor nya.
Vita sudah merebahkan badannya diatas kasur king size nya. Vita merasa heran dengan sikap Louis yang aneh, dia bahkan banyak diam.
"Apa anda akan berdiri disitu hingga pagi? Apa anda tidak merasa lelah? Jika sudah merasa lelah istirahat lah. Disini masih muat untuk tidur berdua" ucap Vita sambil menggelengkan kepalanya, tidak mengerti akan sikap Louis.
Louis menghampiri Vita yang sudah merebahkan badannya, Louis sebenarnya ingin bicara serius.
"Boleh kita bicara?" tanya Louis saat sudah mendudukan dirinya ditepi tempat tidur, tepat disebelah Vita.
Vita langsung bangun dan duduk disebelah Louis dan menatap wajahnya. Ada gurat lelah diwajahnya, Vita merasa sangat bersalah. Karena dia sudah menarik pria ini masuk dalam kehidupan nya.
"Silahkan, anda mau bicara apa?" tanya Vita.
.
.
.
Sebenarnya Louis mau bicara apa ya sama Vita?
Next bab selanjutnya ya...
Ikuti terus kisah mereka berdua...
Salam sayanggggg dari otor.... Eyak 💃💃
__ADS_1