
"Anda akan menjadi benar-benar gila ketika menyadari anda telah melakukan hal gila demi seseorang atas nama cinta"
.
.
.
Mike berusaha melupakan semua pikiran yang mengganggunya seharian - memikirkan Tania yang sama sekali tidak memberikan kabar padanya untuk bertemu, memikirkan Mega yang akan kembali dan memintanya untuk menjemputnya di bandara.
Ia berusaha keras mencari cara agar ia bisa menyelesaikan persoalannya dengan Mega, menjelaskan bahwa ia tidak bisa menerima Mega untuk menjadi kekasihnya.
Mike tahu ia melakukan ini bukan karena ia telah jatuh cinta pada Tania tapi karena ia memang tidak mau menjadikan Mega kekasihnya. Ia hanya ingin Mega akan mencintai dia sebagai sahabat, sebagai saudaranya.
Memikirkan ini membuatnya kelelahan hingga tertidur. Mike lupa apa yang ia pikirkan terakhir sebelum akhirnya ia tertidur pulas. Benar-benar melelahkan dan membingungkan.
Mike tersadar dari tidurnya lalu membuka matanya menyadari hari sudah pagi. Dengan cepat ia meraih handphone, menyalakan dan melirik jam. Mike kaget bukan main ketika menyadari waktu sudah pukul tujuh lebih sepuluh menit.
"Astaga, aku harus ke bandara menjemput Mega," gumamnya sambil beranjak bangun dari ranjang. Dengan cepat Mike meraih handuk lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Secepat kilat membersihan dirinya.
Setelah itu Mike dengan cepat berpakaian lalu buru-buru keluar dari kamar menuju parkir sepeda motornya. Mike buru-buru menyalakan motornya lalu membiarkan mesinnya dipanaskan beberapa menit.
"Aku tidak boleh terlambat karena Mega tidak bisa menghubungiku. Handphonenya masih ada bersamaku," Mike bergumam dalam hati sambil merogoh ke dalam saku kantongnya mengecek handphone Mega, memastikan bahwa sudah ia isi di dalam saku celananya. Mike bergegas pergi dan melaju bersama sepeda motornya.
*****
"Kamu terlambat, aku sudah hampir satu jam menunggu disini," kata Mega ketus setelah Mike datang dan berdiri di hadapannya. Wajahnya cemberut bukan main.
__ADS_1
Mega menenteng sebuah tas koper miliknya. Mike melirik jam tangan dan menyadari ia memang sudah terlambat.
"Maaf menunggu. Tadi aku terjebak macet," katanya pelan setelah menyapanya. Mega hanya diam memandangi Mike. Tampak jelas kekesalan di wajahnya.
Mike meraih kopernya, dan berjalan terlebih dahulu diikuti Mega menuju parkiran. Dia membisu tidak mengatakan apa-apa.
"Semoga ia sadar bahwa aku pasti marah dengan kelakuan gilanya beberapa minggu lalu sebelum ia pergi ke kampungnya. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan hal segila itu ?" Mike tak habis-habisnya memikirkan hal itu.
*****
Mike mengehentikan sepeda motornya tepat di depan kost Mega. Mega mengangkat koper dari pangkuannya lalu turun dari motor.
Mega masih diam. Tidak mengatakan apa-apa. Mega belum mengatakan apa-apa sepanjang perjalanan karena Mike juga tidak mengatakan apa-apa.
"Ingin sekali aku langsung memarahinya, menyerangnya dengan beberapa kalimat umpatanku atas perbuatan konyolnya yang membohongiku. Tapi aku tidak mau memulai duluan. Aku menunggu sampai dia yang berbicara terlebih dahulu," umpat Mike dalam hatinya.
"Terima kasih sudah menjemputku," kata Mega tiba-tiba sambil tersenyum setelah turun dari motor. Mike membalas senyum Mega. Mike melihat dengan jelas di matanya ada ketakutan bahwa Mike akan memarahinya.
Mike menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar Mega. Mega meletakkan kopernya ke lantai lalu memandangi Mike.
"Maaf, sudah merepotkanmu," kata Mega santai tidak menggubris soal ucapan Mike tentang kebohongannya.
"Aku ingin kamu mengatakan sesuatu soal ide gilamu itu Mega," kata Mike geram dengan nada sedikit tinggi ketika Mega hendak mengeluarkan kunci kamarnya dari dalam tasnya. Mega menghentikan gerakan tangannya seketika lalu memandang Mike lekat.
"Aku pikir kamu tahu jawabannya, Mike. Aku tidak ingin mengatakan apa-apa," kata Mega tegas sambil melotot ke arah Mike. Jantungnya berdegup kencang seketika.
"Oh ya. Aku harap kamu tidak lupa membawanya," kata Mega lagi sambil menyodorkan tangan kanannya ke arah Mike dengan telapak tangan terbuka meminta sesuatu pada Mike. Mike hanya diam menatapnya tajam.
__ADS_1
"Aku tidak suka dengan ide gilamu...."
"Aku memang sudah gila setelah menyadari bahwa aku mencintaimu, Mike," sambung Mega cepat memotong pembicaraan Mike. Jantung Mike semakin kencang berdegup. Ia mematung. Tatapan Mike tajam menyoroti mata Mega. Mike melihat jelas mata Mega yang menggambarkan seluruh isi hatinya.
Mike perlahan merogohkan tangan kirinya ke dalam saku celana dan mengeluarkan handphone Mega lalu memberikan padanya. Mike masih tetap diam, tidak mau melanjutkan perkataannya lagi. Mike tahu bahwa ia tidak akan menyelesaikan persoalan karena Mega yakin dengan setiap keputusannya.
Mega membuka pintu kamarnya setelah handphonenya telah Mike letakkan di atas tangannya. Dengan cepat ia memasukkan kopernya ke dalam kamar.
"Terima kasih sudah menjemput dan mengantarku. Maaf, tidak bisa menyuruhmu masuk," kata Mega pelan. Kali ini tidak ada senyuman di wajahnya. Mike memang tidak bisa masuk ke dalam kamar Mega karena di kostnya, tamu selain gadis hanya berhenti di depan pintu kamar.
Mike hanya diam menatapnya kosong. Mike melangkah pergi meninggalkan kamar kost setelah Mega menutup pintu kamarnya.
Pikirannya kembali kacau. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Meminta penjelasan mengenai ide gila Mega pun sudah seperti ini jadinya, bagaimana jika ia sekali lagi harus mengatakan semuanya bahwa ia tidak mencintainya ? Bagaimana jika ia tahu Mike telah jatuh cinta pada gadis lain ?
"Haruskah ada cinta segitiga antara aku, Mega dan Tania ? Apakah aku salah jika menolak cintanya meskipun aku tahu ia telah berusaha sekerasnya untuk mendapatkan cintaku ? Atau aku paksakan saja untuk menerima cintanya ?"
Ahh, lagi-lagi Mike terjebak disini - pada rasa yang membuatnya ingin mati saja. Tak mau lagi memaksakan diri untuk terus berada dalam rasa ini - rasa untuk terus menolak namun takut melukai perasaan Mega.
"Tidak. Aku harus bisa. Aku harus bisa menyelesaikan ini. Aku harus bisa menjelaskan pada Mega dengan baik-baik bahwa aku tidak bisa mencintainya sebagai kekasihku. Toh dia akan merasa lebih sakit apabila kelak ia menyadari bahwa aku menerimanya karena keterpaksaan, sesungguhnya tak ada sama sekali rasa cintaku padanya sebagai seorang kekasih."
Mike terdiam sejenak di depan sepeda motornya. Kedua tangannya meremas kasar rambutnya, memukul kepalanya sendiri seperti orang gila.
"Tuhan, bantu aku," gumamnya penuh harap dalam hatinya sambil melaju pergi mengendarai sepeda motor meninggalkan kediaman Mega.
Lagi-lagi urusan cintalah yang mengganggu Mike kini. Antara Mega dan Tania. Antara cinta dan persahabatan. Itu sungguh-sungguh menyeretnya ke sebuah pojok dan disana pilihan-pilihan itu menghimpitnya, berusaha merebut ruang sempit yang sedang ia tempati.
🌹Pembaca yang budiman. Terima kasih sudah membaca karyaku. Mohon dukungannya untuk like, komentar untuk perbaikan dan jangan lupa vote.
__ADS_1
Jagalah kesehatan, stay home dan patuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah selama masa pandemi ini.
Tuhan memberkati.🌹