SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 41


__ADS_3

"Karena aku ingin dirimulah yang akan menjadi teman hidupku."


.


.


.


Mega tak peduli meskipun Kevin membisu kebingungan dengan pertanyaan yang ia katakan baru saja.


Entah, dada Kevin yang terlalu nyaman untuk kepala Mega ataukah hanya sebatas ingin memeluk saja dan tak mau memindahkan kepalanya. Namun yang pasti, pelukan Mega mewakili isi hatinya.


Kevin baru saja menciumi bibirnya. Dan untuk pertama kalinya, bibir Mega disentuh oleh bibir lelaki. Beberapa jam yang lalu lelaki itu menunjukan bahwa ia cemburu pada kedekatan Mega dan Mike, tapi tetap saja itu tak sedikitpun mengurangi perasaannya kepada Mega. Ia benar-benar telah mencintai Mega.


Dengan memeluk dan bertanya seperti itulah, Mega mengisyaratkan kepada Kevin bahwa ia menginginkan Kevin satu-satunya lelaki yang akan menemaninya, mulai hari ini sampai akhir hayat.


"Apakah kamu mengajakku untuk membicarakan hal seserius ini, Mega ?" tanya Kevin.


Mega sama sekali tak bergeming dan tiada tanda-tanda akan mengangkat kepalanya.


"Mega, kamu mendengar aku, bukan ? Apakah kamu berpikir aku akan meninggalkanmu ?" tanya Kevin lagi.


Kali ini pun Mega belum menjawab. Malahan, gadis itu meneteskan air matanya dan ia biarkan air matanya membasahi dada Kevin, kekasihnya.


Kevin semakin bingung. Tentu saja. Mega bertanya mengenai persetujuan keluarga, lalu memeluknya dan sekarang menangis di pelukannya.


Kevin melayangkan pandangannya sebentar pada meja dan menyadari Mega baru saja melihat foto keluarganya itu. Lalu dengan lembut, ia mendaratkan ciuman pada kepala kekasihnya itu. Lembut sekali.


"Mega, biarkan aku menjelaskannya padamu. Berhentilah menangis. Aku tak suka melihatmu seperti ini. Ayolah," rengek Kevin lembut. Ia mencoba mengangkat kepala kekasihnya namun Mega sendiri yang mengangkat kepalanya dan menatapnya tajam namun penuh arti.


"Aku tahu, Kevin. Kamu berasal dari keluarga berada. Aku hanya takut,,,," Mega menahan kalimatnya sejenak.


"Kalau kelak, orang tuamu tidak menerimaku. Keluarga biasa-biasa saja. Tak ada yang perlu dibanggakan...."

__ADS_1


"Hey, sayang,,,, " potong Kevin cepat. Ibu jarinya bergerak cepat dan mengusap lembut pipi Mega.


"Bukankah cinta tak memandang soal itu ? Aku ingin, kamu dan aku bersama-sama menyempurnakan itu. Percayalah padaku. Ayah dan ibuku tidak seperti itu. Percayalah padaku." Kevin mengedipkan sebelah matanya dan menebar seyumnya.


Mata Kevin menatap lembut mata Mega. Mega membalasnya. Dari sinar matanya, Kevin dapat menangkap rasa takut yang menguasai diri kekasihnya itu saat ini. Ia telah membiarkan bibirnya disentuh oleh lelaki yang ia cintai. Ia tak mau, setelah ini lelaki itu akan menduakan atau bahkan meninggalkan dirinya.


"Berjanjilah padaku, Kevin. Untuk pertama kali aku membiarkan seseorang menyentuhku dan kamu tentu tahu apa yang aku takutkan saat ini," kata Mega setelah lama diam.


"Aku ingin dirimu yang akan menjadi teman hidupku. Satu-satunya," lanjut Mega berpinta. Ia berusaha mengatakan semua itu setulus mungkin, setulus cintanya pada Kevin saat ini.


Ia pernah berjuang untuk mendapatkan cinta seseorang namun cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Kali ini, ia tak mau gagal lagi.


"Percayalah padaku, Mega," ucap Kevin pasti lalu memeluk dengan erat kekasihnya.


"Maaf tadi membuatmu cemburu. Aku memang pernah mencintai Mike, tapi aku sudah mengikhlaskannya. Yang kucintai sekarang adalah dirimu,,,,"


"Sssssttttt,,, jangan katakan itu lagi. Aku mengerti. Maaf jika aku berlebihan," potong Kevin sambil menempelkan jari telunjuknya pada mulut Mega.


Mega tersenyum dan kembali memeluk Kevin. Kini ia sadar, bahwa cinta selalu punya caranya sendiri membawanya kepada lelaki yang mencintai dirinya sama seperti ia mencintai lelaki itu.


* * * * *


Dengan cepat, ia memainkan jarinya dan menempelkan handphone pada telinganya. Ia menelepon Mike.


Setelah mencoba hingga tiga kali, akhirnya Mike menjawab teleponnya.


"Halo, Tania," jawab lelaki itu.


"Selamat pagi, Mike. Apakah kamu sudah bangun ?" tanya Tania.


"Kamu baru saja membangunkanku, Tania. Kami baru tiba beberapa jam yang lalu karena terjebak hujan," jelas Mike.


"Ya ampun, Mike. Ayo bangunlah, kamu harus kerja, bukan ?" tanya Tania kaget.

__ADS_1


"Ya, terima kasih sudah membangunkanku," sahut Mike sambil melangkah menuju tempat dispenser dan mengisi air segelas lalu meneguknya dengan cepat.


"Aku langsung mandi, jika tidak aku akan terlambat. Terima kasih sudah membangunkanku," kata Mike cepat kepada kekasihnya dan meminta kekasihnya untuk menutup teleponnya.


"Nanti saja setelah aku sudah di tempat kerja. Aku akan menghubungimu lagi," pinta Mike.


Tania mengangguk lalu menutup teleponnya. Ia tersenyum bahagia, di hari pertama setelah jadian dengan Mike, ia sudah menjadi alarm bagi Mike. Namun di satu sisi, Tania masih tersanjung dengan apa yang dilakukan Mike. Lelaki itu rela meninggalkan pekerjaan dan pergi menemui dirinya dan hari ini, ia harus memaksakan dirinya untuk pergi bekerja, melawan kantuk dan lelah yang ia rasakan saat ini.


Tania meletakkan kembali handphonenya dan melangkah menuju dapur. Seperti biasa, disana ibu Icha, ibu angkatnya selama penelitian tugas skripsinya, telah sibuk menyediakan sarapan untuk mereka dan juga para langganannya.


Tania menyalami ibu Icha lalu membantu apa yang harus ia kerjakan sebelum waktunya tiba untuk melanjutkan penelitiannya.


* * * * *


Mike telah standby di meja piketnya. Hari ini seharusnya dia mendapat giliran off, namun ia telah meminta salah seorang rekannya menggantikan posisinya kemarin sehingga ia harus masuk hari ini menggantikan rekannya, berusaha melawan kantuk dan lelah yang ia rasakan.


Ia tersenyum sendiri menyaksikan video yang dikirim Mega padanya tadi pagi - sebuah video yang dengan jelas merekam moment indah yang telah berlalu kemarin sore.


Setelah menontonnya berulang-ulang kali, ia memainkan jarinya sesaat dan mengirimkan pesan pada Tania.


"Aku sudah di tempat kerja. Terima kasih telah menjadi alarm bagiku hari ini. Terima kasih telah menjadikanku kekasihmu meskipun telah lama kita menantinya. Terima kasih, Tania. Aku dan nafasku merindukanmu."


Mike memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku celananya setelah mengirim pesan pada Tania.Seperti biasa ia tak menunggu balasan dari kekasihnya karena sudah pasti Tania lama membalasnya lantaran kesibukannya.


Mike telah bersiap dan menjalankan tugasnya hari ini - memeriksa keamanan mobil dan juga setiap tamu hotel yang datang dan pergi.


Mike mencintai pekerjaannya. Dari pekerjaan inilah, ia bertahan hidup di Jakarta. Ia juga bisa membiayai kuliahnya sendiri dari penghasilannya itu.


Kuliahnya sejauh ini baik-baik saja. Masih butuh waktu dua tahun lagi untuk menyelesaikannya. Kepandaiannya mengatur waktu, membuat kerja dan kuliahnya tidak terganggu sama sekali.


Tambah lagi, kini ia telah memiliki kekasih. Sama halnya dengan remaja lainnya tentu saja urusan cinta pun harus dipikirkan. Antara kerja, kuliah dan ngedate pun kini ia harus pandai membagi waktunya.


"***Semoga saja Tania memahami kondisiku. Yang terpenting adalah menjaga komunikasi agar tidak putus."

__ADS_1


😍 Terima kasih untuk semua dukungan dari pembaca semua. Dukung terus "Salam Terakhir". Jangan lupa like, share, vote dan komentar di setiap episodenya. Kritik dan saran dari pembaca akan sangat berharga bagi perbaikan penulisan novel saya.


Stay home dan jaga kesehatan. Tuhan memberkati. 😍***


__ADS_2