
Mike segera membuka pintu kamar kostnya ketika mendengar suara sepeda motor berhenti di lorong gang tepat di depan kost.
Dengan jelas ia melihat seseorang sedang menghentikan sepeda motornya lalu mengambil handphone dari sakunya.
Mike sengaja membiarkan - menyaksikan orang itu kebingungan mencari kostnya. Lalu seketika itu juga Mike mendengar handphonenya berdering di dalam kamar. Mike membiarkannya tanpa mempedulikannya.
Mike masih berdiri menatap Kevin sambil tertawa kecil. Ia terus memperhatikannya dari depan kostnya. Dia menurunkan handphone dari telinganya lalu mengarahkan pandangannya mencari ke sekeliling.
Tentu saja Kevin kebingungan. Alamat yang telah Mike kirimkan memang benar dan dia telah sampai tetapi yang mana kamar kost Mike, dia tentu tidak mengetahuinya. Mike tersenyum kecil memandanginya.
"Hahaha, kamu sengaja tidak menjawab teleponku ya. Dasar," celoteh Kevin ketika pandangan matanya menemukan Mike sedang berdiri memandanginya. Ia sama sekali tidak melupakan Mike meskipun telah lama tak bertemu.
"Hahaha, akhirnya kau sampai juga," balas Mike terkekeh sambil berjalan menuju gerbang dan membukakan pintu gerbangnya. Mike berjalan mendekati Kevin. Kevin memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku jaket kulitnya lalu mendorong sepeda motornya ke arah Mike.
"Apa kabarmu, kawanku. Lama tidak bertemu," katanya segera ketika mendekati Mike. Ia mengulurkan tangannya menyalami Mike. Mike meraih tangannya, membalas menjabat tangan Kevin.
"Hahahaha, aku tak menyangka kamu ada disini juga," kata Mike sambil tertawa kecil.
Mike mengarahkan Kevin untuk mendorong sepeda motornya masuk ke dalam halaman kostnya. Ia berjalan mengikuti Kevin lalu langsung masuk ke kamar kostnya.
Kevin melangkah menuju kamar kost Mike setelah memarkir sepeda motornya di samping sepeda motor Mike.
"Boleh masuk ?" Tanya Kevin berpura-pura. Dia memang salah satu teman Mike yang suka bercanda.
"Tidak, kamu di luar saja," balas Mike setengah terkekeh. Kevin ikut tertawa sambil membuka helmnya dan meletakkannya di atas meja Mike di dalam kamar.
"Disinilah aku tinggal. Maaf kalau kekecilan," kata Mike merendah pada Kevin.
"Hahaha, santai. Punyaku lebih parah, berantakan penuh dengan peralatan musik," balas Kevin sambil melayangkan pandangan memperhatikan isi kamar Mike.
Kevin memang pandai bermain musik. Semasa sekolah, ia banyak digandrungi primadona sekolah karena bakatnya bermain musik. Wajar saja jika kamarnya penuh dengan alat musik. Dia pasti memiliki semuanya karena orang tuanya pun tergolong orang mampu. Ayah dan ibunya sama-sama berprofesi sebagai guru dan mengajar di SMA mereka dulu.
"Kamu sendiri ?" Tanya Kevin seketika membingungkan Mike.
"Menurutmu, ada siapa lagi ?" Tanya Mike santai.
"Aku pikir ada istrimu," lanjut Kevin sambil tertawa.
__ADS_1
"Hahaha, belum terpikirkan sampai kesitu. Nikmati dulu masa muda," jawab Mike sekenanya.
Kevin membuka jaket kulitnya lalu meletakkannya di atas meja sebelum Mike menyuruhnya untuk memindahkan jaketnya ke atas gantungan di samping lemari pakaian Mike. Mike menyilakannya duduk bersila di lantai.
"Mau kubuatkan kopi, susu, atau teh ?" Mike bertanya menawarkan minuman pada Kevin.
"Ketiganya boleh ?" tanya balik Kevin dengan nada bercanda. Mike hanya tertawa kecil. Mike tahu betul temannya yang satu ini tidak suka memilih. Apapun yang disediakan pasti ia nikmati dengan senang hati. Ia memberikannya air putih segelas sebelum menyodorkan padanya segelas susu putih. Mike memutuskan menyeduh dua gelas susu putih untuk mereka berdua.
"Minumlah, aku hanya punya ini," kata Mike pelan sambil meletakkan kedua gelas susu ke atas lantai. Mike ikut duduk bersila bersamanm Kevin, mereka melantai karena kursi di kamar Mike hanya ada satu, khusus untuk dirinya.
"Aku pikir kita tidak bertemu lagi," tanya Mike seketika memulai percakapan kembali. Kevin hanya tersenyum. Orangnya memang seperti ini. Berbicara seperlunya saja tetapi setiap perkataannya pasti ada humornya.
"Kecuali satu di antara kita sudah meninggal," sahut Kevin sambir tertawa kecil. Mike pun ikut tertawa. Dalam sekejap, rasa penat, kantuk yang tadinya menguasainya perlahan menghilang teratur.
"Bagaiama kabarmu, apa yang kau lakukan disini ?" Mike bertanya lagi setelah hening sesaat. Ia menenggak susu buatannya tadi sambil mengajak Kevin untuk ikut menenggaknya.
"Aku kuliah bro. Puji Tuhan, sebentar lagi selesai," jawabnya pelan sambil meneguk susunya.
"Aku baru saja memulai dan kamu sudah hampir selesai."
"Kemana saja dirimu bro. Bukannya kamu sudah lama di Jakarta ?" tanya Kevin pada Mike setelah Mike mengatakan baru saja memulai kuliahnya.
"Itu yang paling aku banggakan dari dirimu. Sejak dulu kamu selalu mandiri, tidak mau membebankan orang tua," kata Kevin memuji Mike. Dia memang tau betul karakter Mike. Dulu semasa SMA pun Mike terkadang bolos study sore hanya karena pergi bermain sepak bola. Bayaran yang ia dapatkan memang tidak seberapa tapi cukup untuk mengurangi beban orang tua.
"Ya seperti itulah. Ibuku sendirian mengurus peternakan ayam peninggalan ayahku. Aku tidak mau merepotkannya," kata Mike menjelaskan.
"Semangat bro. Aku yakin kamu pasti sukses dengan hasil keringatmu sendiri," Kevin lagi-lagi memujinya. Dia memang seperti ini orangnya. Hemat bicara, tapi apa yang dikatakannya hanya dua, mengandung humor atau motivasi. Dia selalu begitu.
"Jangan lupa mencari pacar, pasti banyak yang mau dengan laki-laki pejuang sepertimu bro," sela Kevin bercanda lagi. Ah, dia selalu begitu.
"Hahaha, nanti sajalah. Akan ada waktunya untuk semua itu," jawab Kevin sambil terkekeh.
"Kamu, apakah sudah punya kekasih ?" Mike berbalik bertanya.
"Sudah, kamu pasti tau bro. Kekasihku sejak aku masih berusia anak SD pun aku sudah milikinya, " jawab Kevin dengan nada lagi-lagi bercanda. Ya tentu saja yang ia maksudkan adalah musik. Musik adalah kekasihnya. Mike hanya terkekeh mendengar apa yang dikatakan Kevin.
Sejenak melintas di pikirannya. Mega, ya Mega. Mungkin ia bisa mengenalkan Mega pada Kevin agar Mega tak lagi mengejarnya.
__ADS_1
"Hahaha, kamu masih setia dengan kesendirianmu. Sebentar lagi kuliahmu akan selesai. Apakah kamu tidak berniat mencari sosok pendamping hidupmu ? Atau kamu akan menikah dengan musik ?" Mike menyerangnya dengan pertanyaan mematikan. Kevin hanya diam, menenggak susunya kembali.
"Boleh aku merokok, bro ?" tanyanya tiba-tiba sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong celananya. Mike berdiri merobek selembar kertas putih miliknya dan melipat membentuk sebuah kotak untuk dijadikan asbak.
"Aku sudah berhenti merokok jadi tidak ada asbak. Pakai ini saja," kata Mike sambil memberinya selembar kertas. Ia meraih lalu melipat-lipat lagi merapikan kertas itu membentuk asbak yang sempurna.
"Aku tidak tahu sampai kapan aku akan mencintai musik. Aku masih menunggu sosok gadis yang mampu membuatku jatuh cinta padanya melebihi musik," kata Kevin tiba-tiba sambil membakar sebatang rokok. Pikiran Mike langsung tertuju pada Mega lagi. Dia pintar dan juga tak kalah cantik. Pandai merangkai puisi, mungkin saja mereka bisa berkolaborasi menciptakan sebuah musikalisasi puisi yang indah dan menghipnotis banyak remaja milenial saat ini.
"Kamu terlalu fokus dengan musikmu sampai lupa memikirkan hal itu. Padahal dulu kamu selali digandrungi banyak cewe di sekolah," kata Mike pelan lalu diam dan kembali menenggak susu di gelasnya yang sudah hampir habis. Kevin hanya diam menyemburkan asap rokoknya.
"Andai saja dulu Cindy tidak mengecewakanku," kata Kevin berbisik. Kata-katanya tidak selesai. Matanya memandang ke langit-langit kamar Mike. Mike melihat dengan jelas kekecewaan dari matanm Kevin. Ingatannya pun kembali pada masa itu, masa putih abu-abu. Kevin memang pernah memiliki kekasih waktu SMA. Cindy, gadis yang menjadi salah satu primadona di sekolah mereka dulu.
Hubungan Cindy dengan Kevin baik-baik saja sampai mereka lulus SMA. Namun tepat seminggu setelah perpisahan sekolah, Kevin menyaksikan dengan matanya sendiri Cindy diboncengi cowok lain, berpelukan mesra ketika lewat di hadapannya.
"Kamu sudah mencari tahu siapa lelaki itu ?" Mike bertanya dengan hati-hati.
"Dia tidak menjelaskan apa-apa. Dia hanya meminta padaku untuk tidak mengharapkannya lagu," suara Kevin parau. Mike dapat merasakan sakit yang masih Kevin rasakan hingga hari ini.
"Sudahlah, lupakan saja. Percayalah dia bukan yang terbaik untukmu," kata Mike pelan menguatkannya. Kevin hanya diam lalu mematikan rokoknya. Ia menenggak dengan cepat sisa susu di gelasnya.
"Aku harus pergi bro. Lain kali aku akan main kesini lagi. Terima kasih untuk reuni singkatnya," kata Kevin sambil tersenyum. Dia berdiri lalu dengan buru-buru mengambil jaketnya, mengenakannya lalu langsung melangkah keluar. Mike bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba langsung ingin pergi. Seketika Mike merasa bersalah, mungkin pertanyaannya memaksanya kembali mengenang luka yang Kevin rasakan.
"Bro, maaf jika pertanyaanku memaksamu mengenang kembali,"
"Hahahahaha, santai bro," Kevin terkekeh memotong pembicaraan Mike.
"Aku ada urusan lain, bukan soal itu. Aku ada janji bertemu dengan seseorang jadi aku harus pergi," katanya cepat. Mike membisu memperhatikan Kevin, temannya yang hemat sekali berbicara ini. Rasanya dia berubah, dia semakin cerewet atau karena ingin menemui seseorang sehingga ia bersemangat seperti ini ? Apakah seseorang itu gebetannya ?
"Lain kesempatan aku akan datang lagi. Jangan kaget bro jika tiba-tiba aku sudah berada di dalam kamarmu. Aku tidak perlu harus menunggu persetujuanmu untuk aku datang, bukan ?" Kata Kevin seketika dengan nada bercanda lagi. Ia sudah diatas sepeda motornya.
"Pintu terbuka lebar untukmu bro. Datanglah kapan saja jika kamu mau," balas Mike cepat sambil menepuk bahu Kevin. Kevin hanya tersenyum lalu menarik gas sepeda motornya dan pergi. Mike berjalan ke arah gerbang, menutup pintu gerbannya lalu kembali ke kamar.
Pikirannya kembali pada Mega. Ya, ia harus mengenali Mega kepada Kevin. Ia memegang dahinya, berpikir keras. Pikirnya, Mega akan berhenti mengejarnya jika Mega pun menyukai Kevin.
Mike kembali meraih handphone dan melirik jam pada layar handphonenya. Sudah hampir pukul dua belas. Waktunya tidur karena ia harus mengumpulkan tenaga untuk masuk kerja shift malam keduanya.
🌹Pembaca yang budiman. Terima kasih sudah membaca karyaku. Mohon dukungannya untuk like, komentar untuk perbaikan dan jangan lupa vote.
__ADS_1
Jagalah kesehatan, stay home dan patuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah selama masa pandemi ini.
Tuhan memberkati.🌹