SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 17


__ADS_3

Mike memarkirkan sepeda motornya disamping sepeda motor para pengunjung yang lain. Penjaga parkiran, seorang bapak setengah tua menyalaminya. Dia mengenali Mike karena sudah beberapa kali mampir kesini.


"Baru muncul lagi nih bang," kata bapak setengah tua penjaga parkiran itu menyapa Mike dengan dialeg Jakartanya. Mike membalas sapaannya sambil memberikan senyuman pada bapak setengah tua itu. Mega masih berdiri menunggunya.


Mike dan Mega kembali ke taman - Mike menjemputnya di kostnya menepati janjinya tadi pagi. Setelah hampir sebulan tidak bertemu dengannya, malam ini Mega dan Mike kembali bertemu di taman ini - taman yang pada malam-malam sebelumnya Mike bersama Mega menghabiskan waktu mereka, hanya berdua, sekedar melepas lelah setelah pulang dari kampus.


Mike melangkah menuju trotoar jalan tempat Mega berdiri setelah memastikan sepeda motornya sudah diparkir dengan aman, menyapa penjaga parkir itu lagi lalu melangkah masuk ke dalam taman bersama Mega.


Seperti biasa, langkah Mega dan langkah Mike berjalan menuju tempat biasa - sepasang bangku coklat yang diletakkan berhadapan, di tengahnya ada meja batu.


Tapi malam ini Mereka membelok arah, mengajak Mega mencari tempat duduk lain. Matanya dengan cepat melihat disana sudah ada orang. Mega menurutinya karena ia pun melihatnya, disana sudah ada dua orang gadis, Mike dapat memastikan itu adalah Tania dan temannya yang waktu itu ia temui.


Mike berjalan sambil matanya mencari tempat kosong dan menemukan satu bangku kosong di bawah sebuah pohon. Dengan sangat berhati-hati agar Tania tidak melihatnya, Mike mengambil posisi duduk membelakangi Tania dan temannya yang duduk agak jauh dari tempat Mike dan Mega.


Malam ini mereka tidak menikmati minuman atau cemilan jenis apapun. Mega duduk di sampingnya, posisi mereka membelakangi tempat dimana Tania berada, di tempat biasa Mike dan Mega selalu berada disana.


"Ada yang aneh ?" Tanya Mega seketika, membuat jantungnya hampir copot. Mega menyadarinya ketika Mike selalu mencuri pandangan, menoleh ke arah Tania dan temannya.


"Oh, tidak. Aku hanya melihat tempat biasa kita," jawabnya sedikit gugup. Mike berusaha mengatur nafasnya agar Mega tidak menyadari kegugupannya.


"Apakah rasanya berbeda duduk disini dengan disana, Mike ?" Tanya Mega lagi memecah keheningan. Rasa-rasanya darah di tubuhnya berhenti mengalir. Dia memang ketakutan.


"Apakah Mega menyadari bahwa aku mengenali perempuan yang duduk disana ? Mengapa dia menyerangku dengan pertanyaaan-pertanyaan seperti ini ?"


Mike mulai salah tingkah. Jantungnya beredegup sangat kencang, memikirkan apa yang akan terjadi jika Mega tahu ia memang mengenali gadis yang duduk disana.


"Menurutmu bagaimana ?" Kali ini Mike berbalik menyerangnya.


"Aku bertanya padamu, Mike," kata Mega lagi. Kali ini agak sedikit diberi penekanan.


"Tidak, tidak berbeda. Apakah kamu merasa demikian Mega ?" Mike berbalik bertanya lagi tak mau kalah. Mega diam sesaat memandanginya tajam. Ia semakin gugup.


"Tidak, aku pikir kamu yang merasakan itu, Mike," sahut Mega tenang. Jantungnya lagi-lagi berdegup kencang.


"Oh ya, bagaimana tawaranku tadi pagi. Apakah kamu tertarik ?" tanyanya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Mega hanya diam, menunduk sejenak memainkan jari-jari tangannya.


"Aku belum memutuskannya. Tapi aku akan memikirkannya kembali. Itu ide bagus," Mega menjawab setelah terdiam beberapa saat.


"Aku hanya ingin agar kamu bisa memanfaatkan kemampuanmu dalam bentuk lain," kata Mike pada Mega sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya.


Ia mencari foto Kevin beberapa saat lalu menunjukan pada Mega setelah ia menemukan foto Kevin bersama alat musiknya. Kevin sengaja menyimpan foto-foto itu dari Facebook Kevin.


"Namanya Kevin. Dia sangat hebat bermain musik sejak masih berusia Sekolah Dasar. Aku pikir kamu tidak akan kesulitan jika menerima tawaranku," lanjut Mike sambil menunjukan foto Kevin. Mega hanya terdiam. Dia tidak mengatakan apa-apa.

__ADS_1


"Jika kamu tertarik, aku akan menghubunginya. Dia teman sekolahku dulu dan sekarang dia ada di Jakarta. Aku baru bertemu dengannya kemarin. Ia datang ke kostku," kata Mike lagi menjelaskan pada Mega.


Mega masih diam. Dia menatap Mike sesaat. Tapi belum mengatakan apa-apa. Mike menyadarinya namun tidak menghiraukannya.


"Mike, bagaimana perasaanmu padaku ? Kenapa kamu tidak bertanya padaku soal handphoneku yang sengaja aku tinggalkan... "


"Agar aku bisa membaca sendiri isi hatimu yang kau goreskan dalam puisi-puisimu ?" Aku memotong cepat pembicaraan Mega.


Mike pernah ingin membahas soal ini tetapi ia belum mendapatkan kesempatan itu. Mega malah berbalik menyerangnya waktu itu ketika Mike marah dan membahas ide gila Mega itu.


Malam ini Mega bertanya lagi tentang idenya itu. Mega lalu membisu, menatap pada Mike. Mike mengarahkan pandangannya pada Mega.


"Aku tidak ingin engkau kecewa, Mega. Aku tidak tahu harus dengan cara apa untuk meyakinkanmu. Aku tidak ingin kamu pergi dari hidupku," katanya lagi dengan tenang sambil menarik napas.


"Aku tidak akan pergi dari hidupmu, Mike. Bagaimana mungkin kamu berpikir seperti itu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu," Mega menyambar perkataan Mike. Matanya berkaca-kaca. Mike meraih kedua tangannya, lalu menggenggamnya.


Jantungnya berdegup kencang. Antara ragu-ragu dan terpaksa, takut kalau ini semakim membuat Mega merasa nyaman.


"Mega, maafkan aku. Aku tidak mau kamu hilang dari hidupku. Maksudku, apabila suatu saat nanti, ketika hubungan kita berakhir, entah karena masalah apapun, lalu kita saling memusuhi atau mengutuk diri sendiri untuk tidak akan saling menemui lagi. Aku takut itu akan terjadi," Mike diam sejenak.


"Aku ingin kamu tetap menjadi sahabatku, saudariku, agar sampai kapanpun kamu selalu ada untukku dan tidak ada perasaan aneh ketika bertemu denganku," Mike berusaha meyakinkannya. Ia masih belum melepaskan tangannya pada tangan Mega. Mega menunduk, tapi tidak menangis.


"Maafkan aku, Mega. Kamu pasti mengerti itu Mega. Kamu tahu, bukan ? Aku menyayangimu hanya sebagai sahabat, sebagai saudari bagiku. Tidak lebih. Dan sampai kapanpun aku tidak akan bisa melanggar itu," katanya lagi sedangkan Mega masih terdiam tidak berkata apa-apa.


Mike tahu ini sulit untuk diterimanya, apalagi dengan alasan bahwa suatu saat nanti jika hubungan mereka berakhi, ia tidak ingin mereka saling bermusuhan.


"Cinta tak selamanya harus memiliki, bukan ? Ahh. Aku harus bagaimana ?"


Mega masih menunduk. Diam. Tidak mengatakan apa-apa. Kedua tangannya masih ia biarkan berada dalam genggaman Mike.


Entah apa yang ia pikirkan, tapi Mike tahu ia pasti berusaha menerima kenyataan dan sakit di hatinya saat ini. Mike menolak cintanya untuk kesekian kalinya.


"Mike, kamu tahu ?" Kata Mega pelan. Ia masih menunduk. Suaranya mulai gemetar.


"Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu. Aku semakin yakin dan akhirnya berani mengutarakan perasaanku padamu setelah aku tahu, di hatimu belum ada siapapun," lanjut Mega.


Suaranya mulai terdengar sedikit parau. Air matanya mulai jatuh. Mega menangis untuk pertama kalinya di taman ini.


"Katakan padaku, Mike. Apakah aku salah ketika memutuskan untuk mencintaimu ? Atau karena kamu merasa risih, seorang gadis terlebih dahulu mengungkapkan perasaan pada seorang lelaki ?"


Mega diam lagi.


Mike semakin merasa bersalah padanya. Tapi Mike sama sekali tidak mempersoalkan dia yang terlebih dahulu menyatakan perasaannya. Sama sekali tidak.

__ADS_1


Bagi Mike itu hal biasa jika seorang gadis mengungkapkan perasaan cintanya pada lelaki yang ia cintai. Mike pun terdiam. Hanya suara isak Mega yang terdengar.


"Katakan padaku, Mike. Apakah aku salah ? Jika ya, malam ini aku akan menghapus semua perasaanku padamu, membunuhnya, dan menguburnya dalam-dalam. Aku tidak akan lagi menjadikan dirimu sebagai tuan atas puisi-puisiku," lanjut Mega lagi.


Kali ini suaranya semakin naik. Suara isaknya semakin jelas terdengar tapi tidak sampai ke tempat lain, hanya Mike saja yang mendengarnya. Dia menjadikan Mike tuan atas puisinya sedangkan Mike menjadikan gadis lain sebagai tuan atas puisinya. Ahh, sekejam ini kah aku, batinnya.


Mike tiba-tiba memeluknya dengan erat. Tangan kanannya merangkul erat bahu Mega. Ia membiarkan kepala Mega bersandar di bahunya lalu membiarkan dia menangis di pelukannya. Mike membiarkan dirinya merasakan apa yang Mega rasakan saat ini.


Kekecewaan yang Mega rasakan saat ini, sama seperti apa yang dirasakan Kevin kepada Cindy. Ah, semoga saja, mereka bisa saling mencintai satu sama lain setelah sama-sama merasakan kekecewaan ketika mencintai dengan sungguh.


Mike memejamkan mata, membiarkan Mega menangis di pelukannya. Mike berusaha menenangkannya tetapi rasanya tidak mungkin. Mega mencintai Mike dan saat ini ia berada dalam pelukan Mike.Tentu saja memeluknya seperti ini akan membuatnya semakin merasakan cintanya yang semakin kuat.


"Tapi tidak. Mike harus mengakhiri semuanya. Apapun yang terjadi."


"Mega, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu menangis. Aku hanya bisa mencintaimu sebagai sahabatku, sebagai saudariku," katanya berbisik pada telinga Mega.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku tahu ini berat bagimu, tapi aku minta satu hal padamu," Mike melepaskan pelukannya, lalu memegang pipi Mega, mengarahkan pandangan Mega padanya.


"Mega, jika kamu benar-benar mencintaiku maka lepaskanlah aku Mega. Tetaplah menjadi hanya sebagai saudari, sahabat dan biarkan aku mencintaimu sebagai sahabatku, sebagai saudariku," kata Mike pasti sambil kedua matanya menatap lekat pada mata Mega. Air mata Mega masih mengalir di pipinya. Kedua ibu jari Mike mencoba memgusapnya.


Mega melepaskan kedua tangan Mike pada pipinya. Ia menyeka air matanya lagi. Lalu menunduk, diam.


"Ini berat bagiku, Mike. Aku tidak tahu apakah aku bisa melewati ini atau tidak sama sekali," kata Mega kemudian setelah berhasil menyeka air matanya.


"Aku akan berusaha sebisaku. Tapi ingat, Mike. Aku merelakanmu karena aku mencintaimu," sambung Mega lagi. Kali ini ia memberanikan diri menatap wajah Mike.


Mike tertegun mendengar apa yang Mega katakan.


" Ah, tatapannya membuatku seketika merasa iba padanya."


Mike diam tidak berkata apa-apa. Mega menunduk.


"Mike, bolehkah aku memelukmu ?" Tanya Mega seketika, memecah keheningan. Mike tertegun lagi sesaat mendengarnya. Jantungnya berdegup kencang.


"Tentu saja," jawab Mike singkat sambil memainkan ekor matanya. Mega tersenyum lalu dengan cepat melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Mike. Ia membiarkan kepalanya menyender di bahu Mike. Lama. Mike membiarkannya.


"Kamu akan selalu memelukku seperti ini kapan saja Mega jika kamu selamanya menjadi sahabat dan saudari bagiku," Mike berbisik di telinganya lalu mendaratkan sebuah kecupan, tepat di atas ubun -ubun kepala Mega.


Mega hanya diam meski menyadari apa yang Mike lakukan. Ia benar-benar merasakan kenyamanan dan cinta tulus dari Mike padanya sebagai saudari dan sahabatnya.


"Aku menyayangimu sebagai sahabat dan saudari, Mega. Tidak lebih. Maafkan aku."


🌹Pembaca yang budiman. Terima kasih sudah membaca karyaku. Mohon dukungannya untuk like, komentar untuk perbaikan dan jangan lupa vote.

__ADS_1


Jagalah kesehatan, stay home dan patuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah selama masa pandemi ini.


Tuhan memberkati.🌹


__ADS_2