
"Jika sudah terlalu dalam mencintai, cemburu itu bisa kepada siapa saja. Bahkan kepada sahabat sekalipun."
.
.
.
Tak ada pilihan lain. Belum ada tanda-tanda hujan akan mereda. Di bawah sebuah pohon, Mike, Kevin dan Mega mencoba berteduh.
Kevin menanggalkan jaketnya lalu menutupi tubuh kekasihnya dengan jaketnya. Mega memang tak kuasa menahan dingin.
"Aku kedinginan," kata Mega dengan suara bergetar. Kevin mencoba memeluknya namun sia-sia.
"Kita harus mencari villa untuk berteduh sejenak, Bro," kata Mike tiba-tiba.
Tanpa berpikir panjang Kevin mengangguk dan mengajak Mega berlari menuju sepeda motor. Mereka tak mungkin juga berteduh pada warung-warung di sekitar karena sudah penuh dengan orang-orang. Dengan cepat mereka bergerak dan melaju bersama sepeda motor mencari villa.
Baru sekitar seratus meter, Kevin menghentikan sepeda motornya. Ia mengobrol sesaat dengan seorang bapak yang berdiri di pinggir jalan dan memegang papan bertuliskan "villa sewa kamar".
Bapak itu menstarter motornya dan malaju menuju villa yang ia tawarkan. Ia berdiri disitu menawarkan villa namun villa yang ia tawarkan masih berjarak sekitar dua ratus meter lagi.
Mike dan Kevin melaju mengikuit bapak itu. Di belakang Kevin, Mega menutup tubuhnya dengan jaket Kevin. Ia benar-benar tak kuasa menahan dingin saat ini. Apalagi baju dan celananya sudah mulai basah.
* * * * *
Tania sudah masuk kembali ke kamar setelah selesai makan dan duduk bercerita sejenak bersama ibu Icha dan pak Ujad.
Ia meraih boneka panda dari Mega dan memeluknya erat. Ia mencoba memejamkan matanya namun pikirannya tertuju pada kekasihnya dan juga sahabat-sahabatnya.
Ia mencoba meraih handphone dan hendak menelepon Mike namun ia urungkan niatnya. Pikirnya Mike tak akan menjawab teleponnya. Mereka pasti sedang dalam perjalanan dan mereka pasti akan mengabarinya jika mereka telah tiba di Jakarta.
Ia meletakkan kembali handphonenya lalu tangannya menggenggam kalung pemberian Mike pada ulang tahunnya yang sebelumnya. Ia tersenyum sendiri.
Lalu kembali tangannya membuka kertas yang berisi ungkapan hati Mike. Ia membacanya dan tersenyum lagi.
"Aku tak menyangka, Mike. Kamu benar-benar melakukan ini untukku," gumamnya.
Tania memiringkan badannya, memeluk lagi dengan erat boneka panda hadiah ulang tahun dari Mega.
"Aku merindukanmu, Mike. Aku ingin malam ini kamu masih disini bersamaku dan biarkan aku tertidur di dadamu," batin Tania lalu memejamkan matanya.
__ADS_1
* * * * *
Kevin, Mega dan Mike masuk ke dalam sebuah villa yang ditunjukkan oleh bapak tadi. Mike membuka jaketnya dan menggantungnya pada sebuah kursi.
Bapak yang mengantar mereka menunjukan kamar tidur, kamar mandi dan juga tempat pendiangan. Namun yang mereka butuhkan saat ini bukan kamar. Pendiangan-lah yang mereka butuhkan. Mereka hanya berteduh sejenak.
"Bapak menunggu di bawah ya, pembayarannya nanti pas kalian pulang," kata bapak itu lalu meninggalkan mereka.
Kevin mendekati Mega, membuka jaketnya pada tubuh Mega dan juga jaket yang dipakai Mega. Ia menggantukngkan kedua jaket itu pada kursi dan menggeser kursi itu mendekati pendiangan.
Dengan cepat Kevin mengatur kayu bakar yang terisi di dalam pendingan dan menghidupkan apinya.
Mega berjalan mendekati pendiangan setelah Kevin berhasil menyalakan apinya. Ia benar-benar merasa kedinginan. Baju-bajunya telah basah kuyup namun tentu saja ia tak akan menanggalkannya dan menjemur pakaiannya itu.
Disana Mike telah telanjang dada. Bajunya telah ia tanggalkan dan ia gantung ke atas kursi. Kursi itu ia geser mendekati pendiangan agar cepat kering.
"Bro, uangku di dompet tidak cukup," kata Mike membisik pada Kevin.
"Aku juga tak cukup. Nanti saja kalau hujan sudah reda, aku akan ke ATM untuk memgambilnya," balas Kevin sambil menggosokkan kedua tangannya.
Mike mengangguk lalu berdiri mengitari pendiangan. Kevin berdiri dan meraih pundak Mega dan menuntun gadis kekasihnya itu mendekatinya. Ia memeluk kekasihnya itu dan membiarkan kekasihnya meletakkan kepala pada bahunya.
"Masih, Vin. Bajuku basah," jawab Mega pelan.
Mike mematung di sebelah Kevin. Dalam benaknya, ia ingin mengabari Tania bahwa mereka terjebak hujan dan menyewa sebuah villa sampai hujannya reda. Namun ia tak mau kekasihnya itu memikirkan mereka. Ia memilih tak mengabari dan terus berdiri menghangatkan tubuhnya pada pendiangan.
Hampir dua jam lebih dan hari sudah tengah malam. Mike sama sekali tak khawatir karena ia tetap pada komitmennya, apapun yang terjadi ia akan tetap bekerja.
"Bro, hujannya sudah reda. Aku titip Mega,ya. Aku akan keluar dan mencari ATM terdekat," kata Kevin setelah menyadari hujan sudah reda.
Mike mengangguk. Kevin bergerak cepat dan meninggalkan Mega dan Mike.
Seharusnya ia tak perlu meninggalkan Mega dan Mike. Mereka bisa langsung pergi dan menunggu bersama bapak penjaga villa di pinggir jalan ketika ia pergi mencari ATM. Tapi karena ia memikirkan Mega yang masih kedinginan, ia membiarkan Mega untuk tetap disitu dan menghangatkan tubuhnya.
"Mike, aku kedinginan," kata Mega seketika setelah Kevin meninggalkan mereka. Tubuhnya gemetar. Mega memang sensitif dengan cuaca dingin. Jangankan cuaca, AC mobil pun ia tak bisa.
Mike mematung, tak mengatakan apa-apa. Namun tubuh Mega semakin bergetar. Dengan penuh ketakutan - takut akan terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Kevin - Mike mendekati Mega dan memeluk sahabatnya itu.
"Terima kasih, Mike," kata Mega pelan. Ia menyenderkan kepalanya pada dada bidang Mike dan membiarkan Mike memeluknya.
Mike tak mengatakan apa-apa. Ia membisu dan membiarkan itu terjadi hingga Kevin kembali. Ia telah mendengar bunyi sepeda motor Kevin dan bisa saja ia langsung melepaskan pelukannya pada Mega yang sedang kedinginan namun ia tak mau terlihat munafik.
__ADS_1
Kevin membuka pintu dan langsung berhenti tepat di depan pintu.Dengan sangat jelas ia melihat di depan matanya sendiri, Mega, kekasihnya itu membiarkan kepalanya menyender pada dada sahabatnya dan sahabatnya itu memeluknya. Apalagi, Mike tak mengenakan baju.
Mike menyadari kedatangan Kevin. Namun ia masa bodoh. Pikirnya tak apa-apa, toh Mega dan dirinya hanya sahabat. Ia telah menganggap Mega seperti saudarinya.
Kevin berdehem keras. Mega mendengar suara itu lalu mengangkat kepalanya dan melihat ke arah kekasihnya. Ia hendak menempelkan kembali kepalanya pada dada Mike namun Mike tiba-tiba melepaskan pelukannya.
Mega langsung mengerti dengan reaksi Mike yang tiba-tiba. Ia lalu berusaha berdiri tegak dan memandang ke arah Kevin.
"Aku sudah membayarnya, kita bisa langsung pergi kalau sudah harus pergi," kata Kevin setelah berdiri di samping Mega.
"Baiklah bro, terima kasih. Aku akan mengembalikan uangmu setelah kita tiba di Jakarta," kata Mike pelan.
"Santai bro, tidak perlu dikembalikan," kata Kevin mencegah niat Mike.
Mike menatap wajah sahabatnya itu. Lelaki itu menatap kosong pada nyala api. Ia tahu sahabatnya itu pasti cemburu dengan apa yang baru saja ia lihat.
Namun Mega tampak biasa-biasa saja. Mega mengira Kevin tak akan cemburu karena Mike adalah sahabatnya.
"Bro, maaf. Yang kamu lihat tadi.... "
"Aku tidak apa-apa bro. Santai," jawab Kevin cepat memotong pembicaraan Mike.
Mega melotot dan memandangi Kevin. Ia tak menyangka kekasihnya itu cemburu dengan apa yang baru saja terjadi. Ia berjalan mendekati Kevin dan langsung memeluk kekasihnya itu.
"Kamu cemburu ?" tanya Mega lembut.
Mike semakin merasa bersalah. Ia terdiam dan menunduk.
"Aku yang memintanya karena tubuhku gemetaran, maafkan aku," lanjut Mega lagi.
"Aku tidak cemburu Mega. Santai saja," jawab Kevin pelan dan menatap wajah Mega.
Dalam hatinya ia menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Ia merasa wajar jika ia cemburu. Ia sudah sangat mencintai Mega dan tak mau kehilangan Mega.
"Cemburu itu wajar dan boleh kepada siapa saja. Tidak harus kepada orang lain."
Mike merasa malu dan bersalah. Ia meraih bajunya dan mengenakannya kembali. Begitu pula jaketnya. Ia berjalan menjauhi Mega dan Kevin dan berdiri dekat pintu.
Kevin masih berdiri dan membiarkan Mega memeluknya.
💟 Terima kasih masih setia membaca Salam Terakhir. Tetap Jaga Kesehatan. God bless us 💟
__ADS_1