SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 28


__ADS_3

🙏 Selamat Menjalani Ibadah Puasa bagi sanak saudara pembaca nan budiman yang beragama Islam 🙏


.


.


.


Mike PoV


Mike telah siap di meja piketnya dan akan menjalankan tugasnya seperti biasa sebagai seorang security. Wajahnya tak menunjukan sama sekali ada keceriaan disana - ia masih memikirkan rencananya yang sudah gagal dan juga tantangan yang Tania berikan padanya.


Tak berpikir panjang lebar, ia merogohkan tangan ke dalam sakunya lalu mengeluarkan handphonenya. Ia mencari nama Mega pada kontak lalu menelepon Mega.


"Halo, Mike. Ada apa ?" Tanya Mega setelah menjawab telepon dari Mike. Mega tak menunggu waktu lama untuk menjawab telepon dari Mike karena handphonenya sedang berada di tangannya.


"Mega, apakah aku mengganggumu ?" Tanya Mike cepat.


"Tidak, Mike. Ada apa ?" Tanya Mega balik.


"Sepertinya rencana kita telah gagal, Mega. Tania akan pergi ke Sukabumi beberapa hari ke depan," kata Mike dengan suara datar.


"Berarti ulang tahunnya dia tidak di Jakarta ?" Tanya Mega sambil mengernyitkan dahinya.


"Ya, Mega. Aku tak tahu lagi harus bagaimana," jawab Mike masih dengan suara datar.


"Apakah kamu sudah mencoba membujuknya ?" Tanya Mega lagi.


"Aku sudah mencoba memintanya untuk menunda kepergiannya setelah ulang tahunnya tetapi dia kekeh untuk tetap pergi. Katanya dia tak mau menunggu lagi," jawab Mike menjelaskan.


"Lalu ? Bagaimana dengan rencanamu ?" Tanya Mega lagi dengan pertanyaan berbeda.


"Dia menantangku, Mega. Dia memintaku menyusulinya jika aku mau," jawab Mike.


Mereka diam sejenak. Mega terlihat berpikir keras. Mike menyenderkan tubuhnya pada kursi.


"Apakah kamu mengiyakannya ?"

__ADS_1


"Itu dia masalahnya sekarang, Mega. Aku meneleponmu meminta bantuanmu. Apa yang harus aku lakukan ?" Mike meminta pendapat Mega.


"Aku akan membantumu, Mike. Apapun yang kamu inginkan akan aku lakukan. Aku akan memberitahu Kevin. Kita bisa berangkat bertiga jika kamu menginginkannya," kata Mega seketika.


Mike diam sesaat, berpikir keras. Dia sedang berpikir keras karena hari dimana Tania berulang tahun, ia mendapat jatah shift pagi. Biasanya jam setengah sembilan baru ia akan pulang.


"Halo, Mike. Bagaimana keputusanmu ?" Tanya Mega setelah lama Mike tak menjawab.


"Aku tak tahu Mega. Aku mau pergi ke Sukabumi, tapi hari itu jadwal aku masuk kerja pagi," jelas Mike.


"Begini saja Mike. Kamu coba meminta salah satu temanmu untuk mengisi waktumu, jika bisa. Kabari aku lagi jika semuanya sudah pasti," usul Mega.


Mike mengernyitkan dahinya memikirkan usulan Mega. Ada benarnya juga. Besoknya hari Minggu dia tidak ke kampus, akan ia pakai waktu hari Minggu untuk masuk kerja menggantikan temannya.


Apapun akan aku lakukan demi dirimu, Tania.


"Kamu benar Mega. Itu ide terbaik saat ini. Aku mencoba menanyakan dulu temanku. Aku akan mengabarimu segera. Pastikan Kevin juga siap, kita akan berangkat bertiga," kata Mike bersemangat.


"Terima kasih Mega. Aku tutup teleponnya ya. Sampaikan salamku pada Kevin," lanjut Mike. Ia mematikan teleponnya setelah Mega mengiyakan.


Kamu memintaku untuk mencintaimu sebagai sahabat san saudarimu, ini yang aku lakukan sebagai sahabat dan saudarimu Mike.


*****


Tania PoV


Tania telah selesai merapikan kopernya yang telah ia isi dengan beberapa potong pakaian yang akan ia kenakan selama berada disana. Ia berharap penelitiannya lancar dan tidak memakan waktu lama disana.


Tania mengambil sebuah amplop yang berisi surat pengantarnya mengadakan penelitian dan memasukkannya kedalam tasnya. Semuanya sudah siap, gumamnya.


Ia meraih handphonenya dan memainkan jarinya sesaat di layar handphonenya - mengirim pesan kepada Mike.


Tania lalu melangkahkan kakinya menuju sebuah pojok doa yang ia buat sendiri di kamarnya. Ia menyalakan sebatang lilin, lalu dengan khusuk mengatupkan kedua tangan di dadanya dan berdoa memohon pertolongan Tuhan atas segala yang akan ia lakukan.


Tak lama setelah itu, terdengar bunyi klakson mobil di lorong depan kostnya. Handphonenya berdering, ada telepon dari nomor yang tak dikenal, tentunya driver taksi online.


"Halo, mba. Aku sudah sampai di titik pesanan," kata driver itu.

__ADS_1


"Oke baik pak. Aku segera kesana," jawab Tania cepat lalu mematikan teleponnya. Ia mengambil tas ranselnya lalu mengenakannya, tangan kanannya meraih koper dan menariknya ke luar kost.


Tania menarik kopernya menuju mobil berwarna abu-abu yang telah siap tak jauh dari kostnya. Ia menyalami drivernya lalu membukakan pintunya sendiri dan memasukan koper dan tasnya.


"Terminal Kampung Rambutan ya ?" Tanya driver itu setelah Tania telah siap di belakang.


"Ya, pak. Terima kasih ya," jawab Tania santun.


Driver taksi online itu mengangguk lalu mereka meninggalkan lorong kost Tania menuju Terminal Kampung Rambutan.


Jalanan agak ramai sehingga mereka terjebak macet. Tania menikmati perjalanannya. Sudah biasa baginya jika berada dalam suasana macet seperti itu. Bukan Jakarta kalau tidak macet.


Pikirannya tertuju pada Mike. Tania memikirkan lelaki itu. Tangannya menyentuh sebuah kalung berwarna putih di lehernya. Kalung dari Mike, hadiah ulang tahunnya tahun kemarin.


Sebentar lagi, tanggal 2 Mei, hari dimana ia dilahirkan ke dunia ini, hari dimana tangisan pertamanya menyapa dunia. Ia akan sendirian dan merayakan ulang tahunnya tanpa Mike dan juga teman-temannya.


*****


Tania memilih memejamkan matanya sebentar ketika bus yang ia tumpangi mulai memasuki jalan Tol Jagorawi.


"Aku akan membuka mataku ketika bus sudah keluar dari tol dan mulai memasuki daerah puncak. Katanya pemandangan sepanjang jalan menuju puncak sangat indah, sayang jika dilewatkan," batin Tania sambil mengeratkan pelukannya pada tas ranselnya yang ia letakkan di atas kedua pahanya.


"Maaf aku tidak bisa mengantarmu, Tania. Hati-hati di jalan. Tolong jaga keselamatanmu untukku. Kabari aku jika kamu sudah sampai," isi pesan dari Mike setelah Tania sudah berada di dalam sebuah bus Marita tujuan Jakarta - Cianjur.


Dia sengaja menaiki mobil jurusan itu karena ia ingin sekaligus menikmati perjalanan, melihat-lihat indahnya suasana puncak dengan hawa dinginnya, alamnya yang hijau dikelilingi perkebunan teh dan juga kabut yang menyelimuti alam puncak.


Tania tersenyum membaca pesan dari Mike. Ia sengaja tak membalasnya. Nanti saja setelah sudah tiba disana, gumamnya.


Tania memgambil posisi duduk paling pinggir agar bisa melihat langsung dari dalam bus alam Indonesia yang begitu indah. Puncak Bogor memang memiliki daya pikat yang begitu tinggi sehingga banyak orang menjadikan sepanjang jalan dari Cisarua sampai Cipanas adalah tempat wisata yang wajib dikunjungi.


Akan terasa lebih indah jika saat ini ada kamu di sampingku.


🌼Pembaca nan budiman.


Terima kasih telah menjadi pembaca setia "Salam Terakhir". Dukung terus novel ini dengan like, komen dan vote.


Semoga Tuhanku dan Tuhanmu membalas semua kebaikan Anda sekalian. 🌼

__ADS_1


__ADS_2