
Setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan, Tania akhirnya sampai di tempat tujuannya, Desa Margaluyu. Waktu kira-kira pukul 16.37 WIB.
Berkat bantuan salah seorang temannya yang merupakan putri kelahiran Desa Margaluyu, Tania akhirnya bertemu dengan Kepala Desa setempat dan dia akhirnya diantar oleh istri bapak Kepala Desa menuju rumah Ibu Icha Nur Aida, salah satu tetangga dari Novi, temannya.
Perjalanan yang melelahkan namun terbayar lunas dengan sambutan hangat dari keluarga Ibu Icha. Ibu Icha adalah seorang ibu rumah tangga, usianya 56 tahun. Ia tinggal bersama suami dan seorang anak laki-lakinya yang masih duduk di bangku SMA. Suaminya bernama pak Ujad Sudrajad.
Mereka memiliki sebuah warung nasi yang menjadi tempat langganan para karyawan pabrik susu, PT. Nusantara Agri Sejati Dairy Farm. Jarak pabrik susu itu tak jauh dari rumah ibu Icha - hanya melangkahkan kaki sekitar tujuh langkah, kita sudah menginjakkan kaki di area pabrik susu itu.
Pabriknya masih sangat baru, baru berjalan sekitar tiga tahun. Dengan hamparan perkebunan teh yang membentang dengan sangat hijau, pemandangan di sekitar area pabrik tak kalah indahnya dengan pemandangan selama perjalanan Tania.
Tania melewati pemandangan alam yang membentang dengan sangat indah. Udaranya yang dingin disertai sedikit kabut yang menutupi sebagian perkebunan teh memang sangat indah dipandang mata.
Sejak membukakan matanya setelah bus keluar dari Tol Jagorawi, ia sudah dimanjakan dengan pemandangan alam yang begitu indah.
Tania mengakhiri perjalanan dengan bus Marita di perempatan Rancagoong mengikuti instruksi dari Novi. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya, dua kali naik angkot dan satu kali naik ojek dengan biaya Rp. 10.000,00 menuju Desa Margaluyu.
Tania lanjut menjelaskan maksud dan tujuan dia datang ke Desa Margaluyu kepada Ibu Icha dan keluarga setelah sedikit sudah dijelaskan oleh istri Kepala Desa, Ibu Nissa.
"Alhamdulillah, dulu ibu teh kepengen pisan punya anak gadis tapi teu kesampaian, cuma punya anak cowo hiji ewang," kata Ibu Icha dengan logat Sundanya yang khas setelah mendenar penjelasan Ibu Nissa dan Tania sendiri.
Tania hanya tersenyum. Dalam hatinya ia merasa bahagia diterima dengan baik oleh keluarga Ibu Icha. Dia pernah mendengar orang mengatakan bahwa orang Sunda itu semuanya baik, ramah dan santun. Kini, ia merasakannya sendiri.
"Pokona mah ibu siap nemenin si eneng kamana wae, siap dah ibu mah. Bahagia pisan ibu, akhirnya aya anak gadis di rumah ibu," lanjut Ibu Icha dengan penuh bahagia. Tania hanya tersenyum berusaha mengerti apa yang dikatakan oleh Ibu Icha.
Tania tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Ibu Nissa yang sudah mengantarnya sebelum Ibu Nissa hendak pamit pulang ke rumahnya.
Ibu Icha menghidangkan segelas teh manis dan juga sepiring singkong rebus ke atas meja untuk Tania.
"Sok atuh eneng, jangan malu-malu. Anggap aja rumah sendiri, jangan malu-malu ya," kata Bu Icha menyilakan Tania mencicipi hidangannya.
"Iya terima kasih Bu. Maaf kalau beberapa hari kedepan Tania merepotkan Ibu selama Tania berada di rumah Ibu," kata Tania mulai berusaha untuk akrab dengan Ibu Icha.
"Tenang wae eneng, Ibu malah senang," jawab Ibu Icha cepat.
Pak Ujad, suami Ibu Icha hanya sesekali berbicara menyambung apa yang dikatakan istrinya. Ia duduk tak jauh dari istrinya, berhadapan dengan Tania sambil menyulut sebatang rokok sampoerna kretek.
Setelah asyik mengobrol beberapa saat, Pak Ujad pamit untuk Sholat Maghrib. Ia meninggalkan Tania dan istrinya sendirian, sedangkan anak Ibu Icha, Adhari Fauzi sudah terlebih dahulu memgambil wudhu. Mereka bergantian karena kran air di kamar mandi cuma satu.
Rumah Ibu Icha masih setengah tembok, berdinding bambu anyam. Ukurannya tak seluas rumah Tania di kampung. Suasananya hening, sesekali terdengar bunyi sapuan angin yang mengenai dedauan yang tumbuh di belakang rumah.
Hawanya selalu dingin karena rumah Ibu Icha tepat di bawah kaki gunung Gede yang merupakan sebuah gunung api bertipe stratovolcano yang berada di Pulau Jawa.
__ADS_1
Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede Pangrango, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980.
Hamparan perkebunan teh yang membentang luas mengelilingi kaki gunung, sudah sangat jelas memberi tanda kepada Tania untuk selalu mengenakan jaket apabila tidak kuat menahan dingin.
Tania meraih handphonenya ketika ia ditinggal sendirian oleh seisi rumah yang sedang sholat. Ia mengirim pesan kepada Mike, mengabari lelaki itu bahwa ia telah tiba dan diterima dengan sangat baik oleh keluarga angkatnya.
*****
Mike membuka sepatunya dan meletakkannya di bawah kolong meja ketika masuk ke kamar kostnya. Setelah beristirahat sejenak, ia melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Pikirannya masih tertuju pada Tania. Gadis itu sudah tiba disana dan ia sangat senang diterima dengan baik disana. Mike sudah membaca pesan dari Tania tadi di tempat kerja.
Mike meraih handohonenya yang ia letakkan di atas meja dan langsung mencari kontak Mega untuk menelepon sahabat sekaligus saudarinya itu.
"Halo, Mike. Bagaimana ? Sudah ada kepastian ?" Tanya Mega langsung to the point.
"Halo, Mega. Maaf mengganggumu lagi. Tolong kamu menghubungi Tania. Hari Sabtu kita akan berangkat ke Sukabumi," perintah Mike tegas. Mega hanya tersenyum disana menyadari tingkah Mike yang begitu semangat beberapa hari ini.
"Itu urusan sepeleh. Bagaimana dengan kerjamu ?" Tanya Mega. Ia tahu Mike tak pernah lalai dalam urusan pekerjaan.
Akan menjadi sesuatu yang luar biasa jika dia mengabaikan pekerjaannya sehari saja demi seorang gadis.
"Baiklah Mike. Akan aku kabari Kevin," sahut Mega cepat.
Mike diam. Begitu juga Mega. Mike menarik kursinya lalu duduk.
"Apa yang akan kamu lakukan disana, Mike ?" Tanya Mega memecah keheningan.
"Biarlah itu menjadi rahasiaku. Kalian akan tahu nanti. Kalau aku memberitahumu, kesannya pasti akan kalah sama rencana Kevin untukmu."
"Maksudmu, kamu dan Kevin merencanakan semuanya waktu itu ?" Tanya Mega tajam menyambar perkataan Mike. Lelaki itu hanya diam.
"Mike, apakah semua ini rencanamu mempertemukan aku dengan Kevin, agar Kevin jatuh cinta denganku ? Lalu kamu bebas mengejar Tania ? Begitu ?" Tanya Mega tajam. Suaranya menukik.
Mike membungkam. Dia menyadari dia telah salah berbicara. Seharusnya ia tidak membocorkan semua yang telah terjadi.
"Mega, tolonglah mengerti. Semuanya sudah berlalu. Kamu sudah menjadi kekasih Kevin sekarang. Tolong mengertilah," kata Mike memelas.
"Ide kalian berdua memang luar biasa. Kalian begitu mudahnya membuatku tersanjung dengan apa yang kalian perlihatkan di depanku," lanjut Mega lagi.
"Mega, apa maksudmu ? Kamu juga mencintai Kevin, bukan ?" Tanya Mike.
__ADS_1
"Ya, aku mencintai Kevin. Aku tidak marah bahwa ini rencanamu agar kamu bebas mendekati Tania. Luar biasa, aku benar-benar tersanjung dengan apa yang Kevin lakukan waktu itu," kata Mega dengan nada dongkol. Ia tak menyangka bahwa Mike-lah yang merencanakan semuanya.
"Mega,,,,, "
"Aku tidak apa-apa Mike. Justru aku tidak bisa membayangkan betapa tersanjungnya Tania dengan apa yang akan kamu lakukan nanti. Rasanya aku sudah tak sabar ingin melihatnya," kata Mega pelan.
"Maafkan aku Mega. Aku tak bermaksud untuk,,,,"
"Sudahlah Mike, tak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Sebaiknya aku tidak mencari tahu lagi apa yang akan kamu lakukan untuk menaklukkan Tania," Mega berhenti sejenak. Mike diam disana.
"Aku tak menyalahkan atau marah sedikitpun denganmu. Aku hanya tak menyadari bahwa kamu ikut terlibat dalam momen yang mengesankanku waktu itu," lanjut Mega. Dia menebar senyum pada bibirnya.
"Aku sudah menjadi milik Kevin sekarang. Aku menyadari itu. Aku rasa aku harus berterima kasih kepadamu,"
"Mega, apa maksud dari semua perkataanmu itu ? Kamu marah, atau kamu menyukai kejutannya ?" Tanya Mike menyambar perkataan Mega.
"Sudah aku katakan aku tersanjung. Ide dua sahabat lama yang benar-benar wow, aku jadi tak sabar ingin menyaksikan reaksi Tania," kata Mega.
"Aku belum mengerti apa yang kamu katakan, Mega. Tolong jangan membingungkanku,"
"Kamu melakukan itu agar aku bahagia, bukan ? Lalu apa yang masih membingungkanmu ? Aku sudah mengatakannya bahwa aku tersanjung, hehehehe," lanjut Mega sambil terkekeh.
Ia membayangkan wajah Mike yang sedang kebingungan disana. Sebenarnya ia tidak apa-apa, hanya saja ekspresi kaget dan pertanyaan-pertanyaannya yang bertubi-tubi menyerang Mike itulah yang membingungkan Mike.
"Sudahlah, Mike. Jangan dipikirkan lagi. Apapun yang kamu lakukan akan aku dukung. Aku tidak apa-apa. Aku hanya kaget setelah tahu bahwa moment kemarin itu adalah rencana kalian berdua," kata Mega pelan. Ia berusaha memelankan nada bicaranya agar Mike tidak lagi kebingungan.
"Ah, kau ini. Aku pikir kamu marah denganku," kata Mike kesal.
"Apa salahmu sehingga aku harus marah ? Kamu melakukannya demi aku, bukan ?" Tanya Mega pasti.
"Sudahlah, Mega. Kamu tahu jawabannya. Aku akan meneleponmu lagi nanti. Jangan lupa kabari Kevin," kata Mike mengakhiri pembicaraannya dengan Mega.
Mega menepuk dahinya membayangkan kembali perasaan tersanjungnya ketika Kevin menyatakan perasaan padanya.
*Terima kasih telah mempertemukan aku dengan Kevin. Aku mencintainya.
🌼 Dukung terus "Salam Terakhir" ya.
Jangan lupa like dan vote. Komentar dari Anda sekalian sangat aku butuhkan demi perbaikan karyaku. Viele danke.
Tuhan memberkati. 🌼*
__ADS_1