SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 64-2


__ADS_3

^^^"Aku tahu aku akan menghadapi masa-masa sulit ketika aku akan memulai kembali semuanya. Namun aku tahu, cintamu begitu luar biasa untukku.^^^


^^^Jangan biarkan aku berlama-lama larut dalam kesedihanku."^^^


...----------------...


Tania menoleh ke belakang dan mendapati ayahnya sedang memeluk ibunya. Tania berhenti sejenak memandangi ibunya lalu dengan kuat hati berbalik dan terus berjalan melewati ruang tunggu. Sebentar lagi ia akan berangkat dan meninggalkan kedua orang tuanya, Bimo dan segala kesedihan yang sepanjang jalan menuju bandara telah menemaninya.


"Ibu tahu kamu berpura-pura tegar, Nak. Ibu tahu persis apa yang kamu rasakan saat ini. Ini tidak mudah bagimu. Tapi Ibu pun tak bisa melarangmu. Doa ibu menyertaimu," kata ibu Tania memecah keheningan di dalam taksi ketika dalam perjalanan dari rumah menuju bandara.


Tania hanya diam dan memeluk erat ibunya. Air matanya hampir saja jatuh jika ia tak berusaha agar itu tidak terjadi.


"Tania akan baik-baik saja, Bu. Aku akan segera mengabari Ayah dan Ibu jika sudah tiba disana."


Tania mendaratkan sebuah ciuman di pipi ibunya, lalu melayangkan pandangan pada wajah ayahnya yang sedari tadi belum mengatakan apapun. Tania tentu tahu bagaimana perasaan ayah dan ibunya saat ini.


Namun ia biarkan saja, berusaha menyembunyikan semua isi hatinya saat ini.


"Aku rapuh, Bu. Aku rapuh. Tapi biarkan aku pergi. Aku akan baik-baik saja walau harus melewati ini seorang diri."


...****************...


Hari ini Tania kembali menginjakkan kaki di kota seribu kenangan pahit dan manisnya. Menghabiskan waktu liburnya sejak kepergian Mike, Tania telah melakukan sebuah perjalanan yang sangat jauh. Jakarta ke Flores, ketika ikut mengantarkan jenazah Mike, setelah itu kembali ke Ambon. Dari Ambon ia kembali ke Flores untuk mengunjungi pusara Mike, lalu kembali ke Ambon lagi. Dan hari ini, ia kembali ke Jakarta ketika pagi tadi ia berangkat dari Ambon.


"Bu, Tania sudah tiba di Jakarta. Puji Tuhan, Tania baik-baik saja dalam perjalanan."


Tania mengirimkan sebuah pesan whatsapp untuk ibunya lalu merebahkan tubuhnya. Tak ada yang berubah dengan isi kamar kostnya. Hanya ada sebuah penambahan pada dinding kamar; sebuah bingkai foto praweddingnya dengan Mike.


Sebuah babak baru kehidupan telah dimulainya hari ini. Menapaki jalan kehidupan seorang diri, ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Beruntungnya, klinik tempat ia bekerja masih mau menerimanya kembali sehingga besok ia akan kembali beraktivitas seperti sediakala dan berharap kesibukannya dapat sejenak membuatnya lupa akan kepedihan hatinya yang ia rasakan.


Mega dan Kevin mengetahui kepulangan Tania ke Jakarta. Mereka berdua berencana akan pergi ke kostnya untuk mengunjunginya. Namun Tania meminta untuk nanti malam saja datangnya. Ia ingin mengistirahatkan sejenak tubuhnya dari lelah perjalanannya.

__ADS_1


"Baiklah, Tania. Sampai nanti," balas Mega singkat melalui sebuah pesan whatsapp.


Hubungan Mega dan Kevin masih baik-baik saja. Keduanya pun telah memutuskan untuk melangkah lebih jauh ke jenjang lebih serius.


Mega menghabiskan waktunya sebagai seorang guru pada sebuah sekolah dasar di daerah Jakarta Pusat, sedangkan Kevin, berkat pinjaman modal dari orangtuanya, ia sibuk mengembangkan usahanya. Ia sekarang memilik sebuah cafe live music.


"Tania telah kembali kesini. Aku berencana menemuinya nanti malam. Apakah kamu mau menemaniku, sayang ?"


"Ajak dia ke cafe kalau dia tidak keberatan," jawab Kevin membalas pesan whatsapp dari Mega.


"Jangan, kita saja yang datang ke kostnya. Dia masih kelelahan. Kasihan dia."


"Baiklah. Aku akan menjemputmua nanti malam."


Kevin tak pernah lagi bermain bebas seperti sebelumnya. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di cafe, karena ia dan grup bandnya-lah yang mengisi live musicnya.


Sesekali setiap akhir pekan dalam sebulan, ia mengajak Mega untuk berkencan, menghabiskan waktu jalan-jalan ke luar kota. Kedua orang tua mereka pun telah mengetahui hubungan mereka. Ketakutan Mega akan kehadirannya di keluarga Kevin tampaknya tak menjadi masalah yang berarti. Mega pernah mengobrol langsung dengan ayah dan ibu Kevin via video call whatsapp.


"Siapapun gadis pilihanmu, Ayah dan Ibu tidak akan melarangnya. Kalau dia baik menurutmu dan pantas untuk kamu miliki, jangan takut untuk menikahinya," pesan ayah dan ibu Kevin pada sebuah percakapan melalui telepon.


...****************...


Tania menyilakan Mega dan Kevin untuk masuk ke dalam kamar kostnya. Ukuran kamar kostnya memang tidak terlalu besar tapi masih bisa menampung kedua sahabatnya itu.


"Maaf, kamarku kecil. Kita duduk bersila saja di lantai."


"Tidak masalah, Tania. Yang penting kami bisa menemuimu," sahut Mega sambil memeluk Tania.


Tak ada sama sekali tampak kesedihan pada raut wajah Tania. Berpura-pura kuat dan menyembunyikan segala kepedihan hatinya saat ini, Tania memberikan senyum nan merekah di bibirnya untuk Mega dan kekasihnya, Kevin.


Mega dan Kevin pun tak berani untuk menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan Mike. Mereka tahu itu akan melukai hati Tania.

__ADS_1


"Kalian mau minum apa ?" tanya Tania memulai percakapan.


"Tidak usah. Tidak usah repot-repot. Nanti kami mengambilnya sendiri kalau ingin minum. Air putih saja sudah cukup," sahut Mega cepat.


Tak sengaja, mata awas Mega mendapati bingkai foto pada dinding kamar Tania. Disana Mike berdiri sambil tersenyum di samping Tania. Ia tampak sangat bahagia. Tania memergoki Mega yang sedang memandangi foto prawedding mereka yang ada di dinding kamar.


"Minggu kemarin aku ke Flores mengunjungi makam Mike."


Mega mengalihkan pandangan ke mata Tania. Raut wajah yang sedari tadi berusaha menyembunyikan suasana hatinya kini mulai berubah. Matanya menampung banyak sekali air mata yang harusnya sudah jatuh tanpa permisi.


"Ibu Mike memberiku sebuah sarung tenun. Aku membawanya kesini," lanjut Tania cepat agar dapat menyembunyikan kesedihannya.


Dengan cepat Tania berdiri dan mengambil sarung tenun itu dan menunjukkannya pada Mega. Mega menerimanya dan melihat-lihat kain sarung itu.


Suasana hening seketika. Kevin dan Mega melihat-lihat bersamaan kain tenun pemberian ibu Mike.


"Kain ini mahal harganya, Tania. Kamu bersyukur bisa mendapatkannya secara cuma-cuma."


Tania hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Kevin. Ia tahu hal itu, ibu Mike telah menjelaskan padanya.


"Biasanya, perempuan disana termasuk yang masih muda dan belum berkeluarga pun mengenakannya ketika menghadiri pesta atau upacara adat, juga kalau ke gereja," lanjut Kevin menjelaskan.


"Apakah aku pun akan mendapatkannya jika kamu membawaku ke Flores nanti ?" tanya Mega tiba-tiba.


"Tentu saja sayang, dan pastinya akan lebih banyak dari ini," jawab Kevin pada Mega.


Mega tersenyum dan mengembalikan sarung itu ke Tania. Tania meraihnya lalu menyimpannya kembali. Tania lalu mengambil sebuah kertas putih yang masih berada di dalam tasnya lalu memberikannya kepada Mega.


Mega meraih kertas putih itu dengan wajah penuh tanda tanya. Ia melirik ke arah Kevin, seolah-olah bertanya pada Kevin kertas apa yang ia pegang saat ini. Disana, Tania duduk dan melayangkan pandangannya pada bingkai foto pada dinding kamar.


"Dia ada disini, Mega."

__ADS_1


"Jangan lupa like dan vote ya. Dukungan kalian akan sangan membantu karya ini. Bagi yang belum sempat membaca Seri Pertama Salam Terakhir, disarankan untuk membacanya agar dapat mengetahui jalan sama ceritanya dari awal. Jangan lupa juga untuk like dan vote Seri Pertamanya. Tuhan memberkati. "


__ADS_2