SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 9


__ADS_3

Mike merebahkan tubuhnya ketika tiba di kost. Pikirannya masih menerawang jauh memikirkan Tania, gadis yang ia temui barusan di taman, yang duduk sendirian di tempat biasa dia dan Mega biasa menghabiskan waktu mereka.


Mike terus memikirkannya - tatapan matanya yang tajam, sentuhan lembut tangannya kala menjabat tangan Mike dan juga tawanya ketika menyadari tingkah Mike yang aneh kala menawarinya tumpangan meski baru pertama kali bertemu.


"Sepertinya malam ini aku tidak akan bisa tidur karena memikirkan Tania."


Sama sekali tak ada lagi bayangan Mega saat ini. Tambah lagi, Mega sama sekali belum menghubunginya. Mike mengetahui ide gilanya pun dari adiknya Tania.


Kini, sudah ada tiga gadis bernama Tania di hidupnya; keponakan Tante Mery, adik Mega, dan gadis yang baru saja ia temui dan kini mulai menghantui pikirannya.


"Besok aku harus kesana lagi setelah pulang kerja," gumamnya nekat dalam hati. "Tapi kali ini aku harus memberikan sesuatu yang berkesan untuk Tania."


Mike beranjak dari ranjang, mengambil secarik kertas dan pena, lalu jarinya mulai menari-nari di atas kertas sambil membayangkan wajah Tania.


TANIA


*gadis di bawah terang rembulan


pada sebuah malam di taman


todongan cinta mengancamku


bangku taman saksinya


engkau kini mengembara dalam ingatanku


tak kuasa lagi aku meronta menahannya


bila rembulan mengizinkan dan malam merestui


kuingin kau disini malam ini


agar kukisahkan pada dunia


aku memulai kisahku disini - bersamamu


aku yang mengagumimu - Mike*


Mike tersenyum kecil. Ia menyalakan pemantik api lalu membakar ujung - ujung kertas agar menghasilkan selembar kertas puisi yang menakjubkan. Ia meletakkan kertas yang sudah ia bakar itu diatas mejanya.


Mike berdiri menjauh dari mejanya, berjalan menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya lalu kembali lagi dan merebahkan tubuhnya.


"Semoga Tuhan merestui niatku," gumamnya sambil memejamkan mata.

__ADS_1


*****


Waktu kerja Mike selesai. Seperti tekadnya malam tadi, ia harus ke taman malam ini. Ia berharap ada Tania disana. Mike tak mau membiarkan bayangan wajahnya yang mulai menghantui pikirannya sejak malam tadi berlalu sia-sia begitu saja.


Dengan penuh hati-hati mengendarai sepeda motornya, Mike melaju menuju taman. Ia sengaja tidak membeli minuman.


Setalah memarikir sepeda motor dengan aman, ia memberi salam pada seorang bapak separuh baya yang bertugas menjaga parkiran disitu. Lalu kembali melangkah masuk ke taman.


Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Dia melirik jam tangannya, ia mendapati sudah pukul 20.47 WIB. Semoga saja Tania sudah ada disana. Semoga saja dia kembali kesini lagi malam ini, harapnya.


Mike melangkah gontai. Kali ini ia tidak menuju tempat biasa. Ia mengambil jarak duduk sedikit agak jauh. Tempat disana masih kosong. Tidak ada satu pun orang yang duduk disana.


Mike bergumul dengan pikirannya - mencemaskan situasi dan pemandangan yang ia lihat, Tania tidak ada disana.


"Apakah dia tidak datang malam ini ?" Tanyanya gusar dalam hati. Bagaimana jika Tania benar - benar tidak datang ? Apa yang harus ia lakukan ?


Mike memutuskan untuk menunggu sesaat. Mengeluarkan handphone dari tas sampingnya lalu membuka whatsapp dan membaca beberapa pesan di grup.


Tak ada sama sekali pesan dari Tania, adik Mega. Mike tidak terlalu mempedulikan itu saat ini. Lalu ia meletakkan handphonenya diatas meja batu, mencoba melirik ke tempat biasa namun belum ada satu pun orang disana.


Baru saja ia memalingkan wajahnya dan menyentuh handphonenya lagi, terdengar suara tertawa dua orang gadis menghampiri tempat biasa. Jantungnya berdegup kencang. Ia mulai keringatan.


Mike memberanikan dirinya untuk menoleh ke samping untuk memastikan siapa yang datang dan matanya membelalak kaget melihat siapa yang datang disana.


Di atas meja ada dua buah tas samping berbahan kulit yang juga berwarna hitam pekat. Mike dapat mengenali dengan jelas gadis yang sedikit lebih pandak itu adalah Tania. Ia datang bersama temannya. Mungkin mereka baru selesai menghadiri sebuah acara resmi dan singgah di taman ini.


Matanya berputar cepat mencari penjual yang menjajakan dagangan berupa minuman di tangan. Mike menemukan seorang bocah berusia sekitar dua belas tahun. Ia memanggilnya berpura-pura membeli sebotol teh pucuk. Hehehe, Mike hanya sanggup membeli minuman semahal itu untuk saat ini.


Mike mengajak ngobrol bocah itu. Ia memberinya satu lembar uang sepuluh ribu. Mike dengan cepat menawarinya pekerjaan sebelum ia hendak mengembalikan uang kembalian.


"Tidak usah dikembalikan. Tapi ada syaratnya," kata Mike pada bocah itu. Bocah itu tampak kebingungan.


"Syaratnya apa, bang ?" Tanya bocah itu sopan.


"Kamu lihat dua gadis itu ?" Tanya Mike membisik sambil menunjukan kedua gadis yang duduk disana.


"Ya, aku lihat bang," jawab bocah itu cepat setelah matanya mengenai dua gadis yang ia tunjukkan.


"Tolong kamu bawakan kertas ini, berikan pada salah satu dari mereka yang bertubuh sedikit lebih pandak," Mike menjelaskan kerjanya pada bocah itu. Bocah itu mengangguk lalu mengambil kertas dari tangan Mike, berjalan menuju dua gadis yang duduk tak jauh darinya sambil berteriak menjajakkan dagangannya.


Mike memperhatikan bocah itu. Ia menghampiri kedua gadis itu, memberikan kertasnya lalu tampak mereka mengobrol sejenak sebelum akhirnya bocah itu melesat pergi.


Mike dapat melihat dengan jelas reaksi Tania ketika menerima kertas itu. Ia melihat Tania tersenyum kecil, diikuti tawa temannya yang mengejeknya. Dia tampak tenang, tapi matanya lekat memandangi kertas itu.

__ADS_1


Mike membiarkan Tania membacanya sampai selesai. Lalu tampak Tania mendongakkan kepala, memandang sekitarnya mencari-cari Mike. Mike dengan segera memalingkan wajahnya dan menunduk memainkan handphone agar Tania tidak dapat mengenalinya.


Mike membiarkan mereka berdua bercerita disana. Sesekali mereka tertawa bersama tetapi Mike dapat melihat kegusaran yang dialami Tania.


"Mungkin saja dia berpikir bahwa aku adalah lelaki gila yang pernah ia temui. Tapi tunggu, bisa jadi ia baru pertama kali mendapatkan puisi dari seorang lelaki sehingga wajahnya memerah ? Hehehe."


Mike memalingkan wajahnya ke arah mereka kembali. Kakinya tiba-tiba bergerak sendiri, berdiri dan dengan cepat berjalan ke arah Tania dan temannya ketika ia melihat mereka mengambil tas dan berdiri hendak pulang.


Tanpa basa - basi Mike mendekati mereka. Nekat.


"Tadi malam katanya lain kali saja. Aku harap, malam ini kesempatan itu ada untukku. Bolehkah aku mengantarmu pulang, Tania?" Tanya Mike tiba-tiba sehingga membuat mereka berdua kaget bersamaan. Tampak ada kebingungan dari raut wajah temannya. Tania menunjukkan rona merah pada wajahnya. Ia juga kaget bukan kepalang melihat Mike tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


Tania masih bengong. Wajahnya memerah. Mike mengira dia akan marah.


"Uppss, maaf. Aku tak mau merusak momen kalian. Aku pergi duluan. Bye," kata teman Tania cepat ketika menyadari Tania mengenali Mike. Dia tahu bahwa Mike adalah pemilik kertas puisi itu. Tania masih mematung. Dia gugup. Temannya melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


"Eiitt, tunggu. Kita pulang sama-sama," terika Tania pelan berusaha menahan temannya tapi Mike mendehem lalu memberikan senyum pada Tania ketika Tania dengan cepat melirik ke arahnya.


Tania diam. Lalu memalingkan wajahnya ke arah Mike lagi. Tatapannya tajam. Jantung Mike tiba-tiba berdegup kencang.


"Apa yang akan ia lakukan jika Tania marah dan menolak tawarnnya lagi ?"


Mike membalas menatapnya. Mata mereka beradu pandang. Lagi-lagi Mike merasakan ada getaran yang sama. masuk ke dalam tubuhnya lewat sorotan mata Tania.


"Apa yang kamu lakukan malam ini sangat mengesankan," kata Tania pelan. Nadanya datar tapi kedengarannya sedikit romantis. Mike tersenyum tetapi Tania masih menatapnya tajam. Ia tiba-tiba menjadi gugup.


"Maafkan aku. Bolehkah aku mengantarmu pulang ?" Tanya Mike sekali lagi tidak pedulikan apa yang dikatakan Tania barusan.


"Mengapa kamu sangat ingin mengantarku pulang ?" tanya Tania tiba-tiba. Mike semakin gugup tapi berusaha tetap tenang agar kelihatan sedikit cool.


"Aku hanya ingin memastikanmu pulang dengan selamat," sahut Mike tenang. Spontan. Ia tidak memikirkan lagi siapa dirinya bagi Tania sehingga berani berkata seperti itu. Yang ia mau sekarang hanyalah bagaimana caranya agar Tania menjadi bagian dalam hidupnya dan ia akan berusaha dengan segala caranya.


"Kita baru saja bertemu tadi malam," jawab Tania datar. Mungkin ia tidak suka jawaban Mike yang terkesan sedikit berlebihan barusan.


"Nanti saja kita bicarakan ini," balas Mike santai sambil membungkukan sedikit tubuhnya, menunjukan tangannya kedepan dan mempersilahkan Tania berjalan. Malam ini ia layaknya seorang pengawal putri raja.


Tania hanya diam dan menuruti apa yang Mike katakan. Dia berjalan meninggalkan tempat yang sudah menjadi saksi pertemuan pertama mereka lalu Mike mengikutinya sambil tersenyum kecil. Tania masih diam. Ia tidak melihatkan senyum manisnya.


🌹Pembaca yang budiman. Terima kasih sudah membaca karyaku. Mohon dukungannya untuk like, komentar untuk perbaikan dan jangan lupa vote.


Jagalah kesehatan, stay home dan patuhi setiap peraturan yang telah ditetapkan pemerintah selama masa pandemi ini.


Tuhan memberkati.🌹

__ADS_1


__ADS_2