SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 66-2


__ADS_3

^^^"Aku sadar perlahan-lahan aku mulai terbiasa dengan kesendirianku namun kehadiranmu masih sangat kurasakan."^^^


...----------------...


Tania membuka pintu kamar dan seketika aroma khas parfum yang sangat ia kenal menyengat hidungnya. Ia menyadari satu hal bahwa itu adalah wangi parfum milik kekasihnya, lebih tepatnya calon suaminya yang sehari sebelum pernikahan, maut telah lebih dahulu merenggut salah satu dari mereka.


Tania mengabaikan wangi parfum itu. Ia tahu betul Mike ada di dekatnya. Ia meletakkan tasnya ke atas meja, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Lalu apa ? apakah aku harus menangis, meratapi keadaan saat ini dan meminta Mike untuk menunjukkan auranya di hadapanku ?"


Tania duduk di tepi ranjang setelah selesai berpakaian. Sejenak terlintas dalam ingatannya perkataan salah seorang rekan kerjanya tadi siang.


"Seseorang tadi mencarimu. Dia pergi begitu saja ketika aku mengatakan Bu Tania sedang keluar untuk makan siang."


"Siapa ? Apakah dia seorang pasien ?" tanya Tania penasaran.


"Aku tak tahu pasti. Tapi rasanya aku mengenalnya."


"Maksudmu ?" tanya Tania lagi semakin penasaran.


"Ya, aku merasa tidak asing dengan wajahnya. Tapi entahlah, dimana aku melihat atau bertemu dengannya," terang Nur, rekan kerja Tania di klinik.


Tania berusaha mengabaikan itu. Hal-hal aneh yang ia alami saat ini sama sekali tak mengganggu konsentrasinya. Bagaimanapun juga ia harus membiasakan dirinya dengan hal-hal yang mengundang tanda tanya seperti itu. Ia telah berjanji dengan kedua orangtuanya bahwa ia akan baik-baik saja.


Ia meraih handphoenya lalu dengan segera menelepon ibunya, hendak mengabari bahwa hari pertamanya di Jakarta ia sudah langsung bekerja kembali di klinik lamanya.


Ayah dan ibunya senang mendengar apa yang diceritakan oleh Tania.


"Puji Tuhan, Nak. Tetap semangat, ya," pesan ibunya.


Setelah beberapa menit mengobrol bersama kedua orangtua dan Bimo, adiknya, Tania kemudian menyempatkan dirinya untuk menelepon ibunda Mike.


Hal yang sama dirasakan oleh ibunda Mike setelah mendengar cerita Tania bahwa ia langsung kembali bekerja di klinik lama.

__ADS_1


Tania kini terlihat sudah bebas. Bebas dari penderitaan batinnya. Meskipun baru hari pertama, sepertinya ini usaha yang boleh terbilang sukses. Ayah, ibu, serta ibunda Mike pun tak menanyakan hal lain selain mendengar cerita Tania dan memberikan satu dua pesan padanya. Ia pun sudah mulai tertawa riang.


"Doakan aku, Ma," pinta Tania pada ibu Mike yang dipanggilnya Mama.


"Semoga aku bisa melewati semua ini."


"Tentu saja, Nak," sahut mama lembut.


...****************...


Tania berlari seorang diri dan berusaha melewati kerumuan banyak orang. Tak sedikit orang yang ia tabraki berteriak memaki dan mengumpatnya namun ia tak pedulikan mereka. Ia terus berlari sekuat tenaganya menembusi malam yang gelap.


Deru napasnya yang sudah hampir habis memaksanya untuk berhenti di depan sebuah bangunan tua. Ia tak tahu bangunan apa itu, ia tak pernah melihat sebelumnya. Ada sebuah pohon besar berdiri kokoh di samping bangunan itu, menjadikannya terlihat seram dan menakutkan.


Dari kejauhan, dua lelaki bertubuh sangat besar dan tinggi yang mengejarnya terlihat semakin dekat. Kehabisan akal, Tania berteriak meminta pertolongan. Namun itu tampak sia-sia. Tak ada satu pun orang yang melintas disitu. Suasananya benar-benar mencekam. Gelap gulita. Kendaraan roda dua ataupun roda empat juga tak ada satu pun yang melintasi jalan sepi di depan bangunan itu.


Bunyi jangkrik menambah rasa seram di tempat itu kian bertambah.


"Dimana aku sekarang ?" tanya Tania pada dirinya sendiri.


"Tempat apakah ini ? Mengapa tak ada seorangpun disini ? Harus kemana lagi aku ?"


Dengan cepat ia memutar kedua bola matanya, mencari-cari barangkali di sekitarnya ada sebuah tempat yang tidak akan diketahui oleh kedua orang itu bila ia menyembunyikan dirinya.


Matanya menemukan sebuah gundukan semak. Perlahan-lahan ia merangkak mendekati semak di pojok bangunan itu. Hanya itu tempat yang barangkali aman baginya saat ini. Jika di balik pohon, itu akan sangat mudah bagi mereka menemukannya, pikirnya.


Tanpa berpikir panjang, Tania lalu merebahkan tubuhnya di dalam semak itu. Dengan sangat jelas dari balik semak ia melihat kedua pria bertubuh besar itu telah berada di dekatnya. Mereka mengarahkan pandangan ke setiap sudut bangunan, mencari-cari keberadaan dirinya.


"Kita harus menemukannya. Kali ini dia tidak boleh lolos," kata seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam. Pada lehernya melingkar sebuah rantai putih dilengkapi dengan sebuah gantungan berbentuk jangkar.


Napas Tania kedengaran mulai tak beraturan lantaran rasa takut yang menguasainya. Ia nenutup mulutnya ketika seseorang di antara mereka mulai berjalan mengitari area sekitar bangunan dan menyalakan lampu senter.


"Mau apa mereka pada diriku ? Siapa mereka ?" tanya Tania dalam hatinya. Jantungnya berdegup sangat kencang karena orang itu semakin dekat dengan semak tempat ia berbaring dan pasrah.

__ADS_1


Kakinya mulai terasa gatal. Entah dimana ia melepaskan sepatu high hillsnya, yang ia pikirkan adalah keselamatan dirinya. Sepatu itu bisa dibeli lagi.


"Tom, kamu lewat sebelah. Aku lewat sini."


Seseorang memerintahkan rekannya yang lain. Tania semakin ketakutan. Rasa-rasanya ia ingin mengakhiri saja hidupnya sebelum mereka menemukannya.


Ia tak tahu apa maksud mereka mencarinya. Yang pasti, mereka itu orang jahat. Tidak mungkin niat mereka baik jika seperti ini cara mereka mencarinya.


Jantungnya berdegup semakin kencang ketika salah seorang dari mereka berdiri tepat di samping semak tempat ia berbaring. Ingin sekali ia berteriak, lalu bangkit dan mengajak lari kedua orang jahat itu.


"Belum, kami masih mencarinya."


Tania mendengar dengan jelas apa yang dikatakan pria itu barusan. Entah siapa yang meneleponnya, yang pasti mereka semua orang jahat.


Lagi-lagi Tania melihat dengan jelas tubuh pria yang semakin dekat dengannya, namun wajahnya tidak bisa ia ketahui karena pria itu membelakanginya.


Lama kelamaan pria itu semakin dekat. Satu per satu langkah mundurnya hampir menyentuh bagian pinggangnya. Nyala lampu senter pria itu mengitari seluruh sudut bangunan, terkadang ke atas pohon lalu kembali ke sudut bangunan.


Tanpa berpikir panjang karena saking merasa takut diketahui persembunyiannya, Tania memejamkan matanya lalu dengan sisa-sisa tenaganya ia menyebutkan nama Mike.


Merasa berada di lubang maut bila saja mereka menemukannya, Tania akhirnya kehilangan akal.


"Mikeeeeee... ."


Tania berteriak sangat kencang sehingga pria yang berdiri di sampingnya itu pun terkejut dan menjatuhkan senternya. Tania bangkit lalu berusaha dengan sisa-sisa tenaganya berlari sekencang-kencangnya agar terhindar dari penglihatan kedua pria itu.


Namun usaha Tania gagal. Ia tak tahu jika salah seorangnya berdiri lima meter di hadapannya. Pria itu menangkapnya lalu dengan cepat langsung mencekik lehernya.


Tamatlah riwayatku hari ini, pikir Tania. Jantungnya lagi-lagi berdegup dengan sangat kencang. Napasnya kian tak teratur, ditambah lagi cekikan keras pria itu membuatnya semakin tak berdaya. Ia pasrah, tubuhnya lunglai tak berdaya.


"Mikeeeeee, to,,, to,,, tolong aku, Mikeeee,,, ."


"Penasaran bagaimana kelanjutannya ? Ikuti terus dan jangan lupa like dan vote sebanyak-banyaknya karena performa novel ini akan dibantu oleh support pembaca sekalian. Bagi yang belum membaca seri pertama, jangan lupa mampir disana ya, like dan votenya jangan lupa untuk seri pertamanya.

__ADS_1


Tuhan memberkati."


__ADS_2