SALAM TERAKHIR

SALAM TERAKHIR
Episode 30


__ADS_3

" Genggam erat tanganku dan jangan kau lepas. Aku akan semakin mencintaimu setelah ini. Percayalah."


.


.


.


Pagi-pagi sekali Tania sudah bangun, membantu Ibu Icha memasak di dapur. Selain menyiapkan sarapan untuk pak Ujad suami ibu Icha dan Adhari anaknya, mereka juga masak untuk bagi pelanggan bu Icha yang bekerja di pabrik.


Rasanya sudah lama sekali Tania tidak melakukan aktivitas itu lagi. Selama hidup di Jakarta, ia tak pernah memasak sebanyak ini. Makan pun selalu dibeli dari warung, sesekali memasak sendiri di kost tapi itu juga hanya sayur dan ikan.


Tania tak lupa juga mengabari Novy, temannya bahwa hari ini ia akan melakukan penelitiannya. Semalam setelah sampai, ia lupa mengabari Novy karena saking seriusnya mengobrol dengan keluarga barunya.


"Eneng, hampura ibu teh teu bisa temanin eneng," kata bu Icha di sela-sela menyediakan sarapan ke atas meja.


Tania hanya mengangguk kecil. Ia memang tak harus memaksakan bu Icha. Ia harus bisa melakukannya sendiri.


"Tidak apa-apa bu, Tania bisa sendiri. Kalau ibu temani Tania, takutnya merepotkan ibu," sahut Tania.


Tania kembali ke kamarnya - sebuah kamar yang berukuran sangat kecil milik Adhari, anak itu akan tidur dengan ayah dan ibunya sampai Tania selesai malukan penelitian.


Tania menyediakan buku-buku dan beberapa perlengkapan lainnya yang akan ia bawa selama penelitian hari ini. Ia berpamitan dengan bu Icha yang sedang sibuk di dapur.


Ibu Icha memintanya untuk sarapan terlebih dahulu namun Tania menolak. Katanya nanti saja, sekalian makan siang. Sudah cukup dengan singkong rebusnya tadi yang dinikmati bersama segelas teh tawar.


Tania melangkahkan kakinya ke luar rumah. Udara pagi itu terasa sangat sejuk. Rasanya jauh berbeda dengan yang selama ini ia rasakan di ibukota.


Tania mengenakan jas almamaternya sehingga cukup baginya untuk menahan hawa dingin pagi itu.


Langkah kakinya terhenti pada sebuah rumah paling ujung dekat jalan utama desa. Ia akan memulainya dari rumah itu, sebuah rumah yang berukuran kecil, hanya berdindingkan bambu anyam.


Ia menyalami pemilik rumah itu yang adalah seorang ibu yang sudah tua, suaminya baru saja meninggal. Ia tinggal bersama tiga orang anaknya. Putri sulungnya seorang janda, namanya Siti Khadija.


Teh Ida - begitulah orang biasa memanggilnya, ditinggal nikah suaminya. Ia menikah pada usia 19 tahun setelah tamat SMA. Ia ditinggalkan suaminya yang menikah lagi dengan dua orang anak. Yang sulung berusia 7 tahun, dan satunya lagi masih berusia dua tahun.


Tania memperkenalkan dirinya dan menjelaskan maksud dan tujuannya untuk datang ke desa Margaluyu - lalu ia mulai dengan penelitian pertama di rumah berukuran kecil itu.


* * * * *

__ADS_1


Kevin memanaskan mesin motornya. Sesuai permintaan Mega, hari ini sepasang kekasih itu akan pergi shopping. Untuk pertama kalinya setelah pacaran, Kevin diajak kekasihnya itu untuk pergi berbelanja.


Tentu saja ia tahu, kekasihnya itu akan mencari kado untuk Tania, kekasih Mike. Eitss, belum sah menjadi kekasih Mike karena Mike belum mengutarakan perasaannya.


Kevin menjemput Mega di kostnya lalu mereka menuju ke Atrium Senen, sebuah pusat perbelanjaan yang boleh dibilang sangat besar dan selalu ramai.


Mereka melangkah keluar dari lift dan masuk ke dalam mall besar itu setelah naik dari area parkir bawah tanah. Mega menggiring Kevin menuju sebuah tempat pusat penjualan boneka.


"Kamu akan membeli boneka untuk Tania ?" Tanya Kevin setelah sampai di tempat penjualan boneka. Mega mencari-cari boneka yang ia sukai.


"Menurutmu apa lagi yang paling disukai para gadis ?" Mega berbalik bertanya.


Kevin hanya memainkan alis matanya dan mengangkat kedua bahunya. Ia berjalan mengikuti Mega yang sibuk mencari-cari boneka.


"Menurutmu Tania akan suka dengan boneka ini ?" Tanya Mega sambil menunjukan sebuah boneka doraemon yang ia pegang ke arah Kevin.


"Tidak jelek. Semoga Tania suka," jawab Kevin sekenanya. Matanya pun sedang mencari-cari sebuah boneka yang cantik yang akan ia bayar untuk Mega. Sekalian saja aku membeli satu lagi untukmu, gumamnya.


Mega meletakkan kembali boneka doraemon itu. Matanya kembali tertuju pada sebuah boneka panda yang berukuran sedang dan sangat lucu.


"Kalau ini ?" Tanya Mega. Kali ini boneka panda.


"Tidak buruk. Terserah kamu saja mau memilih yang mana," jawab Kevin seadanya.


"Aku akan membayarnya Kevin," kata Mega sambil melangkahkan kaki menuju kasirnya. Kevin masih berdiri disitu. Ia belum beranjak.


"Aku beli lagi satu yang sama untuk Mega" gumamnya. Ia mengambil satu lagi boneka panda yang sama lalu berjalan ke arah kasir.


"Kamu suka boneka juga ? Kenapa belinya yang sama dengan ini ?" Tanya Mega pelan setelah menyadari Kevin berdiri di sampingnya dengan memegangi sebuah boneka panda yang sama dengan yang ia belikan untuk Tania.


"Aku membeli satu lagi untukmu," jawab Kevin tenang. Mega terdiam sejenak lalu tersenyum.


"kamu membelinya untukku ?"


"Kalau bukan untukmu, untuk siapa lagi ?" Kevin menyambar cepat sambil tertawa kecil.


"Uhh sayangku, terima kasih," Mega mengucapkan terima kasih sambil kedua tangannya memegangi lengan Kevin. Kevin hanya tersenyum lalu membrikan boneka itu kepada petugas kasir untuk di cek harganya.


"Boleh dibungkus langsung, kak ?" Tanya Kevin lembut pada petugas kasir.

__ADS_1


"Dua-duanya ya tapi dibungkus masing-masing," kata Kevin lagi setelah petugas kasir mengiyakannya.


Mega menatap Kevin yang berdiri di sampingnya. Ia mengagumi lelaki yang kini menjadi kekasihnya itu. Mereka jarang bertemu, apalagi berbelanja berdua.


Kevin sibuk dengan kuliahnya, begitu juga Mega. Kevin selalu menghabiskan waktunya bersama-sama dengan teman-temannya dan bermain musik.


Kevin hanya sesekali saja datang menemui Mega, itu juga hanya sebentar saja karena ia tak boleh masuk ke dalam kamar Mega.


"Bayarnya mau digabung juga atau masing-masing, kak ?" Tanya salah seorang petugas kasir sehingga mengagetkan Mega dari lamunannya yang sedari tadi memandangi Kevin.


"Dua-duanya saja kak," jawab Kevib cepat sebelum Mega. Mega akhirnya hanya diam.


Kevin mengeluarkan sebuah ATM card dari dompetnya dan menyerahkannya pada petugas kasir. Petugas kasir itu memainkan jarinya sebentar lalu meminta Kevin memasukan passwordnya.


Mega hanya diam menatap Kevin. Dalam hatinya ia merasakan sebuah rasa yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Tentu saja rasa semakin cinta dan menyayangi Kevin.


Kevin menerima kembali ATM cardnya dan juga kedua bungkusan boneka itu dari petugas kasir. Mega hendak mengambilnya namun Kevin menolaknya.


"Biar aku saja yang bawakan ini. Kamu menggandengku saja," kata Kevin dengan nada sedikit manja sambil meberikan tangannya dan meminta Mega menggandengnya.


Mega hanya tersenyum dengan ide kekasihnya itu. Ternyata romantis juga Kevin, pikirnya.


Mega menggandeng tangan Kevin lalu meninggalkan meja kasir. Sesekali Mega mengeratkan genggamannya. Mereka menggunakan tangga eskalator untuk turun ke lantai satu.


Mega hanya mengikuti langkah Kevin karena tangannya menggenggam tangan lelaki itu.


"Kita sekalian makan ya. Aku belum sarapan tadi," pinta Kevin setelah memasuki sebuah tempat makan.


Mega hanya mengangguk tanda setuju. Dalam hatinya ia semakin mencintai kekasihnya itu.


Kevin mengeluarkan handphonenya lalu merangkul Mega, mengajak kekasihnya itu untuk selfie. Jarinya bermain-main sebentar di layar handphonenya.


"Semangat kerjanya bro. Besok siap meluncur ke Sukabumi." Kevin mengirim caption dan foto selfienya bersama Mega kepada Mike yang tentu saja sedang bertugas di tempar kerjanya.


Mega hanya tersenyum kecil melihat kelakuan kekasihnya.


"*Aku tidak salah memilihmu. Setelah ini aku pastikan aku akan semakin mencintaimu"


🌹Terima kasih untuk tetap setia membaca "Salam Terakhir".

__ADS_1


Dukung terus dengan like, comment, dan jangan lupa vote.


Tuhan memberkati.🌹*


__ADS_2