
"Mendoakanmu adalah caraku memelukmu dari kejauhan"
.
.
.
Mike tengah duduk di meja piketnya. Ia meraih handphonenya dan membaca sebuah pesan dari Kevin - sebuah foto selfie dirinya dan Mega sedang duduk di meja makan.
Mike tersenyum membaca caption yang ditulis sahabatnya itu. Pikirannya menerawang jauh ketika memandang bangunan tinggi lainnya di seberang jalan.
Sebentar lagi Tania berulang tahun. Hanya tersisa hitungan jam saja namun gadis itu sedang tak berada di Jakarta. Mereka dipisahkan oleh jarak dan waktu.
"Apa kabarmu hari ini, Tania ? Semoga harimu menyenangkan. Semangatlah, kamu tidak sendiri. Doaku selalu bersamamu. Aku merindukanmu."
Mike memainkan jarinya pada layar lalu mengirimi Tania sebuah pesan. Dengan begitu percaya dirinya ia mengungkapkan kerinduannya padahalnya, gadis itu masih belum resmi kekasihnya. Sebentar lagi. Tunggu saja.
Mike lalu menelepon Kevin, sahabatnya yang sedang berdua bersama kekasihnya, Mega.
"Halo, bro. Jangan iri ya. Kami tidak bisa mengajakmu, semangatlag bekerja," canda Kevin setelah menjawab telepon dari Mike.
"Maaf mengganggu waktu kalian. Tolong katakan pada Mega untuk tidak lupa menghubungi Tania. Pastikan dia mendapatkan alamat Tania yang akurat," titah Mike tanpa basa-basi.
Kevin hanya tertawa kecil.
"Mega akan mendapatkannya untukmu bro," sahut Kevin.
"Baiklah. Lanjtulah berpacaran bro," kata Mike cepat lalu mematikan telepon.
Mike meletakkan handphonenya ke meja lalu termenung sendiri. Pikirannya kembali tertuju pada Tania dan rencananya untuk menemui Tania besok.
"Semoga semesta merestui. Sekali kamu menerimaku untuk menjadi kekasihmu, kamu tak akan kulepas lagi, Tania," gumam Mike dalam hatinya.
* * * * *
Tania masih berada di rumah teh Ija. Memang ia membutuhkan waktu yang sedikit lama dalam penelitiannya karena Tania menggunakan metode kualitatif.
Ia merekam wawancaranya bersama teh Ija mengenai perkembangan gizi anaknya yang masih berusia 2 tahun itu. Tania juga memeriksa kartu KMS milik anak teh Ija lalu membuat perbandingan isi kartu dengan apa yang telah dijelaskan oleh ibu anak itu.
Hampir dua jam lebih ia berada disitu sebelum berpindah ke rumah yang lainnya.
Teh Ija juga menyuguhkan Tania segelas teh manis dan juga sepiring singkong goreng.
Tania berpamitan dengan teh Ija setelah selesai mewawancarai teh Ija. Ia menjanjikan akan datang lagi jika masih ada yang perlu ditanyakan lagi.
Waktu yang akan Tania butuh paling cepat satu bulan. Itu artinya ia akan tetap jauh dengan Mike. Sesekali mungkin ia akan kembali ke Jakarta jika ada urusan ke kampus.
__ADS_1
Tania hendak mengunjungi rumah berikutnya namun disitu tak anak balita. Ia berbasa-basi sejekan lalu berpindah lagi ke rumah berikutnya.
Ketika hendak melangkahkan kakinya, ada sebuah pesan dari Mike. Ia dengan cepat lalu membaca pesan itu.
"Apa kabarmu hari ini, Tania ? Semoga harimu menyenangkan. Semangatlah, kamu tidak sendiri. Doaku selalu bersamamu. Aku merindukanmu."
Tania hanya tersenyum tanpa membalas pesan dari Mike.
"Kamu merindukanku tetapi belum menyatakan perasaanmu padaku. Kau tahu ? Aku menunggu saat itu tiba"
Tania melanjutkan penelitiannya dengan melakukan hal yang sama seperti yang telah ia lakukan di rumah teh Ija.
Ketika selesai tiga rumah, Tania mulai merasakan perutnya keroncongan. Ia melirik jam di tangnnya, pantas saja ia mulai merasa lapar. Waktu sudah menunjukan pukul 12.10 WIB.
Tania meneruskan langkahnya menuju rumah ibu Icha. Besok saja akan aku lanjutkan lagi, setelah makan aku pelajari saja dulu data yang ada, gumamnya.
Tania mendapati rumah ibu Icha sudah ramai dengan pelanggannya. Tania memberanikan dirinya untuk tetap masuk meskipun ia malu-malu.
"Permisi, numpang lewat ya," sapa Tania santun pada beberapa pekerja yang duduk di teras rumah.
Tania langsung masuk ke kamarnya, menyimpan buku-bukunya lalu keluar dan menuju ke dapur.
"Aku pulang, bu," kata Tania ketika ia sudah berada di dapur. Ada beberapa lagi pelanggan yang sedang berada di dapur dan sedang bercanda bersama ibu Icha.
"Aya awewe anyar ieu bu," kata seorang pelanggan ibu Icha dengan bahasa logat Sundanya.
"Iya bu," jawab Tania.
"Ieu mah orang jauh. Lagi ada tugas kuliah didieu," lanjut ibu Icha menjawabi pelanggannya tadi.
Tania lalu duduk dan makan bersama dengan ibu Icha yang sudah menunggunya.
"Hayu eneng, sok dicoba. Khas sunda," kata ibu Icha sambik nenyodorkan semangkuk semur jengkol buatannya.
"Apa ini bu," tanya Tania. Ia memang harus bertanya karena di daerahnya di Timur Indonesia, tak ada makanan seperti itu.
"Itu jengkol eneng. Belum pernah coba ya. Sok atuh dicoba, enak pisan. Pasti ketagihan kalo udah makan satu," kata ibu Icha meyakinkan Tania.
"Aku baru tau ini bu. Di tempatku tak ada seperti ini," jelas Tania jujur. Lalu ia mengambil satu biji, meletakkannya di piringnya dan mencoba memakannya.
"Enak bu. Tapi bau yah," kata Tania polos setelah merasakan bau di hembusan napasnya.
"Hehehehe, gak apa-apa kali eneng. Enak kok, bau mah bisa hilang. Eneng kan baru kali ini mencobanya. Nanti juga ketagihan," kata ibu Icha lagi sambil tertawa.
Tania ikut tertawa lalu melanjutkan makannya. Benar, ia menambah lagi setelah habis satu biji. Pengalaman baru dengan jenis makanan baru khas Sunda.
* * * * *
__ADS_1
Kevin menghentikan sepeda motornya tepat di depan kost Mega. Setelah berbincang sejenak, Kevin lalu meninggalkan kekasihnya.
"Jangan lupa telpon Tania ya," katanya sebelum pergi.
Mega masuk ke kamarnya, meletakkan kedua boneka itu di ranjangnya lalu mengambil salah satu bungkusan boneka dan membukanya.
Boneka dari Kevin. Sama dengan yang ia belikan untuk Tania.
Mega tersenyum, lalu memeluk boneka itu. Terima kasih sayangku, gumamnya.
Ia menaruh boneka itu di atas meja belajarnya agar ia selalu terus-terus memandangi boneka itu ketika belajar. Ia tak mau menjadikan itu sebagai bantal gulingnya.
Mega mengekuarkan handphonenya setelah boneka untuk Tania ia letakkan diatas lemarinya. Ia mencari kontak Tania lalu menelepon temannya itu.
Mega sudah mempersiapkan beberapa trik untuk bisa mendapatkan alamat Tania. Tentu saja ia pun tak mau Tania tahu atau mencurigai bahwa Mike akan menemuinya besok.
"Halo, Mega. Uhh, aku rindu. Disini dingin sekali Mega," sahut Tania ketika menjawab telepon dari Mega. Mega hanya tertawa.
"Semangat Tania. Kamu pasti bisa melewatinya. Kalau hanya cuaca yang dingin itu masalah mudah, bukan ?" Tanya Mega sambil terkekeh.
"Hehehe, siap. Aku baru selesai mengunjungi beberapa rumah dan sekarang sudah di rumah," kata Tania.
"Apakah aku mengganggu istirahatmu, Tania?" Tanya Mega.
"Tidak Mega. Aku baru selesai makan," jawab Tania santai.
"Syukurlah Tania. Lalu bagaimana dengan tugas penelitianmu, apakah disitu kondisinya memprihatinkan ?" Tanya Mega lagi.
"Belum bisa dipastikan Mega. Aku baru mengunjungi tiga rumah, ada sedikit saja permasalahan gizi namun bisa diatasi. Aku sudah memberitahu mereka caranya. Akan aku kunjungi lagi untuk melihat perkembangan anaknya," jelas Tania.
"Baiklah Tania. Semangat ya," Mega menimpali. Lalu mereka diam sesaat.
"Aku dan Kevin berencana ke Sukabumi, tapi belum tau kapan. Semoga kita bisa ketemu disana ya," kata Mega lagi setelah terdiam sesaat.
"Oh ya ? Serius ? Kunjungi aku ya," rengek Tania.
"Tentu saja, Tania. Asal kami tahu alamatmu, kami akan mengunjungimu," jawab Mega santai. Ia tersenyum berharap Tania mengerti maksudnya bahwa ia ingin mendapati alamatnya.
"Tentu saja Mega, nanti aku kirimi ya, aku tanya dulu sama ibu," jawab Tania girang.
Mega tersenyum. Ia berhasil mendapatkan alamat gadis itu. Tania telah berjanji akan memgirimkannya.
"Tidak sulit," gumam Mega dalam hati.
Lau mereka berpamitan.Mega memilih untuk rebahan dan Tania masih melanjutakn mempelajari data-data yang telah ia dapatkan. Ia mendengar kembali rekamannya sambil tangannya membuka-buka berkas penelitiannya.
"Hari pertama yang melelahkan tapi harus aku selesaikan," gumamnya.
__ADS_1